IMG-LOGO
Fragmen

NU Pernah Haramkan Donor Darah, Apa Pasal?

Selasa 10 November 2015 9:0 WIB
Bagikan:
NU Pernah Haramkan Donor Darah, Apa Pasal?

Menolong orang yang kekurangan darah adalah sebuah hal yang mulia. Maka tak heran saat ini kegiatan donor darah menjadi sebuah hal yang populer, pun di kalangan Nahdliyin. Setiap kali ada even macam harlah (hari lahir) organisasi, kerap kali disertakan acara donor darah sebagai salah satu wujud amal atau kepedulian sosial kita kepada sesama. <>

Namun, tahukah anda kegiatan sosial ini pernah dilarang bahkan diharamkan oleh Nadlatul Ulama (NU)? Keputusan pengharaman donor darah dari NU ini dikeluarkan pada saat Kongres Muslimin Indonesia (KMI) ketiga yang digelar 5-8 Juli 1941 di Solo, Jawa Tengah.

KMI merupakan sebuah pertemuan kongres yang diselenggarakan MIAI (al-Madjlisul Islamil ‘Ala Indonesia), yang di dalamnya terdapat beberapa organisasi yang menjadi anggotanya, antara lain NU, Muhammadiyah, Al-Islam, PUI, Al-Irsyad, PSII, Persis dan lain sebagainya.

Ketika itu, NU melarang bloedtransfoesie, istilah donor darah dalam bahasa Belanda, dengan beberapa pertimbangan. Di antaranya apabila bloedtransfoesie itu digunakan untuk kepentingan membantu peperangan Belanda, yang notabene merupakan penjajah dan motif peperangan bukan untuk membela agama Allah.

Pada awalnya, sempat terjadi tarik ulur pendapat. Salah satu ormas Islam ada yang bersikap memperbolehkan bloedtransfoesie untuk tentara Belanda, karena hal tersebut merupakan ikhtiar menolong atau mengobati orang sakit.

Namun HB.NO (sekarang PBNU), melalui pembicaranya yakni KH Ahmad Iljas (Konsul NU Pekalongan), memberikan dua alternatif: pertama, pemindahan darah ke lain tubuh yang kekurangan darah guna pengobatan, maka hukumnya seperti pemberian. Kedua, jika karena pemberian itu akan terjadi suatu perkara terlarang, misalnya untuk peperangan yang tidak diridhoi Allah Swt, maka hukumnya terlarang.

Maka akhirnya, peserta kongres menghasilkan keputusan bulat: melarang atau mengharamkan bloedtransfoesie untuk kepentingan membantu peperangan Belanda. (Ajie Najmuddin)

 

Sumber: Buku Peringatan MIAI 1937-1941

Bagikan:
Sabtu 24 Oktober 2015 11:0 WIB
SEKILAS MAJELIS KONSUL
Majelis Konsul dan Resolusi Jihad (3-Habis)
Majelis Konsul dan Resolusi Jihad (3-Habis)

Pada tulisan sebelumnya telah dipaparkan keberadaan Majelis Konsul yang pada masa lalu, menjadi salah satu bagian dari struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU). Sejatinya, konsul ini merupakan kepanjangan tangan dari Pengurus Besar, untuk mempermudah dalam melakukan koordinasi dengan Pengurus Cabang maupun yang ada di bawahnya.<>

Oleh karena itu, beberapa keputusan yang diambil pun tak berbeda jauh dengan apa yang dihasilkan Pengurus Besar. Salah satunya ketika, HBNO (sekarang PBNU-,red) dalam rapat yang dipimpin pleh KH A. Wahab Chasbullah bersama Konsul-konsul se-Jawa dan Madura mencetuskan “Resolusi Jihad” pada tanggal 21-22 Oktober 1945.

Selain terlibat dalam proses rapat sebelum dicetuskan KH Hasyim Asy’ari, para konsul ini juga bertanggung jawab untuk menyebarkan seruan tersebut ke daerah masing-masing. Beberapa nama pengurus Konsul yang hadir pada masa itu, berikut sekilas profilnya, seperti yang tercantum dalam buku Berangkat Dari Pesantren (1984) :

1. KH Saifuddin Zuhri

Mewakili Konsul Kedu, ia berangkat ke Surabaya bersama KH Jamil (Ketua PCNU Purworejo), usai terlibat dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. Selain aktif di NU, ia juga menjadi pimpinan Laskar Hizbullah.

2. KH R. Mukhtar

Kiai Mukhtar berangkat bersama wakil dari Konsul Banyumas lainnya, H. Zuhdi. Keduanya berangkat ke Surabaya dengan menggunakan kereta api. Oleh KH Mahfudz Shiddiq, ia diberi julukan “Syaikh Subakir” (wali yang turun dari Gunung Tidar untuk mengusir setan-setan yang menggoda penduduk Magelang), karena jasanya dalam membuka NU di wilayah Banyumas, Kedu dan sekitarnya.

3. KH Masjkur

Perwakilan dari Konsul Malang. Komandan Barisan Sabilillah. Pernah beberapa kali mengemban Menteri Agama RI. Di kemudian hari, ia juga menjadi Ketua PBNU.

4. KH M Iljas

Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, Muhammad Iljas tak begitu dikenal, padahal ia tergolong pejuang dan kiai besar. Semasa mudanya menjadi kesayangan KH Hasyim Asy’ari, pendiri pesantren Tebuireng. Terbukti dalam usia 18 tahun sudah dijadikan lurah Pondok Pesantren Tebuireng. Sebelum menjadi Wakil Ketua PBNU, ia menjadi Konsul Pekalongan.

5. KH Abduljalil

Nama lengkapnya adalah Abu Hamdan Abdul Jalil bin Abdul Hamid, lahir pada 12 Juli 1905/1323 H di Bulumanis Kidul Margoyoso Tayu Pati Jawa Tengah. Semasa muda ia pernah menjadi santri di pondok Pesantren Jamsaren Solo, Tremas Pacitan, Kasingan Rembang, dan Tebuireng Jombang.

Aktifitas K.H. Abdul Jalil adalah pernah menjadi ketua Pengadilan Agama kabupaten Kudus, Pembantu Khusus Perdana Menteri RI di Jakarta, Anggota DPR / MPR pusat wakil Alim Ulama Fraksi NU, Ketua Lajnah Falakiyah PBNU merangkap anggota Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI, dan penyusun tetap penanggalan/almanak NU. Saat berangkat ke Surabaya, ia mewakili Konsul Kudus.

6. KH Abduhalim Shiddiq

Kakak kandung KH Achmad Shiddiq ini merupakan Konsul NU Besuki yang berkantor di Jl. Telangsari No. 23 Djember.

Selain nama-nama di atas, tentu masih banyak sekali nama yang belum disebutkan, antara lain KH Wahid Hasjim, KH M Dahlan (Konsul Pasuruan), KH Tohir Bakri, KH Sahal Mansur mengingat undangan ditujukan untuk seluruh Konsul serta semua pimpinan Syuriyah dan Tanfidziyah.

Sebagai catatan, pada waktu itu tidak semua konsul dapat mengirimkan wakilnya. Selama zaman Jepang, hubungan dengan luar Jawa terutama Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil (minus Bali) praktis terputus, sebab Angkatan Laut dan Darat Jepang menguasai seluruh wilayah. Baru setelah Jepang menyerah, Jawa, Sumatera dab Bali diduduki Inggris dan sekutu. Sebab itulah rapat PBNU yang dilengkapi konsul-konsul hanya terbatas pada Jawa dan Madura.

(Ajie Najmuddin)

Foto ilustrasi: lukisan yang menggambarkan rapat penyusunan fatwa Resolusi Jihad di Kantor NU, Bubutan, Surabaya, 22 Oktober 2015 dipimpin oleh Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.

Senin 19 Oktober 2015 18:1 WIB
Detik-detik Terpilihnya Seorang Santri Jadi Presiden RI
Detik-detik Terpilihnya Seorang Santri Jadi Presiden RI

Dua bulan menjelang pergantian abad 21, atau tepatnya 20 Oktober 1999, barangkali menjadi sebuah kejutan besar bagi bangsa Indonesia bahkan masyarakat dunia, termasuk penulis yang kala itu ikut menyaksikan lewat layar kaca, ketika seorang dari kalangan santri bernama KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur akhirnya terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia (RI) Ke-4.<>

Penulis buku Biografi Gus Dur, Greg Barton, mengisahkan detik-detik terpilihnya Gus Dur menjadi presiden. Beberapa jam sebelum penghitungan suara dimulai, kebanyakan orang menganggap bahwa Megawati akan melaju untuk meraih kemenangan. Sebab pada Pemilu, partai PDI-P yang mengusung Megawati, meraih suara terbanyak.

Namun kejutan muncul, dimulai ketika Habibie (incumbent) yang diusung Partai Golongan Karya (Golkar) mengumumkan pengunduran dirinya dari calon presiden. Praktis, hanya tersisa Gus Dur dan Megawati.

Pemilihan presiden, kala itu masih menggunakan sistem pemilihan yang dilakukan oleh anggota MPR. Ketika penghitungan mulai dilakukan, Megawati pada awalnya memimpin, namun perlahan namun pasti, perolehan suara Gus Dur yang disokong kubu Poros Tengah dapat mengimbangi perolehan suara Megawati.

Bahkan, keadaan menjadi berbalik ketika pada penghitungan akhir Gus Dur mengumpulkan 60 suara lebih banyak. Gus Dur jadi Presiden! Dengan diiringi lantunan sholawat badar, Gus Dur dibantu berdiri dan dibimbing podium untuk disumpah menjadi presiden.

Pidato perdana

Usai diambil sumpah jabatan sebagai Presiden RI, Gus Dur menyampaikan pidato pertamanya. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan komitmennya untuk menegakkan keadilan dan untuk mendatangkan kemakmuran bagi sebanyak mungkin warga masyarakat.

Selain itu, yang tak kalah penting untuk mempertahankan keutuhan wilayah bangsa. “Karena itu, kita tetap tidak bisa menerima adanya campur tangan dari negara lain atau bangsa lain kepada bangsa dan negara kita. Apa pun akan kita lakukan untuk mempertahankan keutuhan wilayah kita, untuk mempertahankan harga diri kita sebagai bangsa yang berdaulat!” Tegas Gus Dur.

“Demikian pula kita harus meletakkan sendi-sendi kehidupan yang sentosa bagi bangsa kita di masa-masa yang akan datang. Ini bukanlah tugas yang ringan, ini tugas yang berat. Apalagi karena pada saat ini kita tengah didera oleh perbedaan faham yang sangat besar oleh longgarnya ikatan-ikatan kita sebagai bangsa,” lanjutnya.

Pada akhir pidato, Gus Dur berbicara mengenai hakikat demokrasi. Menurutnya, demokrasi hanya dapat dipelihara dan dikembangkan oleh orang-orang yang mengerti tentang hakikat demokrasi.

“Karena itu, saya berharap bahwa kita semua sebagai warga dari bangsa Indonesia sanggup memahami hal ini dan akan tetap menjunjung demokrasi sebagai sendi kehidupan kita menuju masa yang akan datang. Hanya dengan cara seperti itu, kita dapat menegakkan kedaulatan hukum, kebebasan berbicara, persamaan hak bagi semua orang tanpa memandang perbedaan keturunan, perbedaan bahasa, perbedaan budaya dan perbedaan agama,” pungkas dia.

Gus Dur mengemban amanah sebagai presiden hingga Juli 2001. Berbagai tudingan miring dan kasus yang dituduhkan kepada dirinya (meski tidak terbukti sampai sekarang), menjadi alasan pencopotan jabatannya sebagai presiden, yang kemudian digantikan wakilnya, Megawati.

(Ajie Najmuddin)


Sumber: Kepustakaan Presiden dan Greg Barton. 2002. Biografi Gus Dur. Yogyakarta. LKiS.

Rabu 14 Oktober 2015 14:0 WIB
Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE
Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 bertepatan 21 Januari 1973, penulis mendampingi Subchan ZE keliling balad Jeddah. Di dalam mobil, penulis dengan lugu bertanya: "Di koran pak Subchan diberitakan akan kawin. Dengan siapa, Pak?". "Betul, tapi yang mau kawin itu pikiran Subchan dengan pikiran Soeharto", jawabnya. <>

Lalu tanya penulis: "Bagaimana dengan isu miring bahwa Pak Subchan punya hobi ke 'dumang', dunia remang-remang, klub malam. Kan bapak seorang tokoh NU?"

Jawabnya: "Subchan ZE Wakil Ketua MPRS-RI itu selalu berada di tempat tidak jauh dari mobil B 4 parkir. Termasuk di night club itu betul tetapi ingat, sebagai Wakil Ketua MPRS, petinggi NU, dan seorang Muslim pada dasarnya adalah Muballigh, yang harus menyampaikan pesan Rasul walau hanya seayat. Coba siapa dari para kiai dan atau dai yang berani tanpa sembunyi-sembunyi nyambang tempat remang-remang untuk antarkan nasihat, 'nanting' kembali ke jalan yang benar. Bukankah dakwah justru lebih dibutuhkan di tempat seperti itu daripada di mesjid dan surau?”

“Harus diingat,” sambungnya, “bahwa apapun yang kita lakukan, niat adalah hal pokok. Maka bulatkan tekad bahwa segalanya diniatkan untuk ibadah pada Allah dalam berkhidmah melayani kepentingan umat. Serahkan diri artinya niatkan semuanya hanya untuk memperoleh ridlo Allah sehingga kelak bisa menemuiNya dengan hati yang damai.”

Ia lantas mengutip ayat لا ينفع مال و لا بنون الا من اتى الله بقلب سليم laa yanfa'u maalun wa laa banuuna illaa man ata-Llaaha bi-qalbin saliim, yakni: tidak akan berguna harta dan anak keturunan kecuali siapa yang datang menemui Allah dengan hati yang damai. Dan menyampaikan petikan hadits الدين نصيحة Ad-Diinu nashiihah. Agama adalah nasihat.

“Maka nasihatku, jika nanti kamu berniat terjun kiprah di politik, tebalkan terlebih dahulu bantalanmu. Jangan heran dan jangan gamang, jika datang menerpamu isu masuk partai untuk memperkaya diri. Lihatlah nanti setelah saya istirahat panjang, apakah saya masuk NU untuk memperkaya diri ataukah benar untuk berkhidmat bagi kepentingan umat? Kini saatnya, kuingin bangun hotel di Mekkah. Kumau istirahat panjang."

Subhanallah, Pak Subchan ZE ternyata bukan hanya politikus ulung, tetapi juga kiai yang mumpuni. Ketika ditanya, "Kenapa Pak Subchan tidak membalas balik serangan pihak yang mendiskreditkan?" Jawabnya: "Man satara musliman satarahulLaahu fid-dunyaa wal-aakhiroh. Siapa menutupi (cela/aib/keburukan) seseorang Muslim maka Allah menutupi (cela/aib/keburukan)-nya di dunia dan akhirat.”

Dari sejak pagi perjumpaan hari itu, penulis sudah menyampaikan keinginan teman-teman agar Pak Subchan berkenan singgah di gubuk kami di Baghdadiyah Jeddah, dekat Hotel AlAttas. Maka adalah sebuah "barokah", kebetulan ketika itu tak satu pun kamar hotel di Jeddah yang kosong, maka Pak Subchan tidak memiliki alasan untuk tidak singgah ke gubuk tempat kami para kerabat mahasiswa/alumni Timur Tengah kumpul-kumpul.

Selanjutnya, setelah qailuulah atau tidur siang sejenak, kemudian mandi sore dan shalat, seraya mengikat tali sepatu beliau bersenandung, "Yang hilang tak kan kembali..." Serta merta penulis bilang: "Wah, Pak Subchan, bisa-bisa ngalahin Bob Tutupoli!"Sambil tersenyum lebar beliau merespon: "Oh ya? Tapi janganlah.. Kasihan nanti para penyanyi bisa kehilangan job."

Kemudian beliau berpamitan untuk ke Mekkah dan Medinah menggunakan mobil Mercides warna putih milik Pak Abdullah Sumbawa, didampingi Pak Faisal Rochlan (adik beliau) dan Pak Nur (pemilik Percetakan Menara Kudus). Penulis ingat persis, hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 atau tanggal 21 Januari 1973, sudah berselang empat dasawarsa lebih, tapi rasanya seakan baru saja kemarin beliau tiga kali menoleh ke penulis dan teman-teman seraya berucap: "Selamat tinggal... Fii AmaanilLaah!"

Usai maghrib, ketika itu bersama keluarga Cak Bakrin Kafi, penulis sedang menjamu Kepala Inkopad, Pak Brigjen Djoko Basoeki sekeluarga, datanglah sahabat penulis bernama Yazid Ramli dari Mekkah membawa berita dukacita. Di luar pintu Yazid Ramli memeluk lunglai penulis yang dengan suara lirih bertanya: "Kenapa? Pak Subchan?!" Berbareng kami mengucap lirih: "Innaa lilLaahi wa innaa ilaiHi rooji'uun".

Malam itu Cak Bakrin Kafi dan penulis tidak sampai hati untuk menginformasikan berita duka cita itu ke Pak Brigjen Djoko Basoeki, yang pamitan mau terbang ke Amerika untuk suatu tugas, dan keluarga terbang pulang ke Jakarta.

Musim haji tahun 1392/1973 itu Amiirul-Haj Indonesia adalah Pak Jenderal Amir Machmud, Menteri Dalam Negeri RI, Ketua Umum Golkar. Maka tentunya dapat dibayangkan, isu politik seperti apa yang sangat mungkin serta merta dapat mencuat menjelma menjadi malapetaka amat dahsyat di Indonesia. Khususnya di Jawa Timur, belahan Nusantara basis kaum santri dan Nahdliyiin. Karena itu, penulis segera mencoba-yakinkan Cak Bakrin Kafi, putra Kiai Cholil Bangkalan Madura, untuk melakukan tindakan darurat demi keamanan situasi negeri tercinta dengan menangkal kemungkinan hembusan fitnah. 

Alhamdulillah Cak Bakrin tanggap, maka malam itu juga bersama penulis ke Telkom Jeddah (musim haji buka 24 jam) mengirim dua telegram (isi berita sama, yaitu: "kilat":

"Innaa lilLaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, telah berpulang ke rahmatulah SWT almarhum haji Subchan ZE karena kecelakaan murni, ulangi karena kecelakaan murni, di Wadi Fatmah dalam perjalanan darat dari Mekkah ke Medinah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya serta mengampuni segala dosanya dan membangunkan tempat mulia di taman surgaNya, sementara ahli keluarga dan kita yang ditinggalkan tetap tabah, tawakkal dan tulus ikhlash mendoakannya disertai membaca al-faatihah. Demikian, Bakrin Kafi dan Muzammil Basyuni) masing-masing dialamatkan ke Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya - Jakarta Pusat; dan

Keluarga Bapak Subchan ZE. AlMarhum, Jl. Banyumas No.4, Menteng, Jakarta Pusat.

Sopir Pak Subchan ZE, yaitu Syauqi Thohir Rochili, putra Pengasuh Ponpes AtTahiriyah  Kampung Melayu, Jatinegara, sempat ditahan di penjara, lalu dibebaskan atas permohonan keluarga AlMarhum. 

Subhanallah, Maha Suci Allah. Waktu itu dua sesepuh: Al-Mukarram KH. Bisri Syamsuri, Rais 'Aam NU (yang mengskors Pak Subchan ZE dalam kepengurusan struktural PBNU); dan Al-Mukarram KH Ali Maksum, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogya, guru besar penulis, juga menunaikan haji bersama keluarga.

Sungguh amat mengharukan ketika di acara Tahlil di Bait Indonesia Jiyad Mekkah, Al-Mukarram Rais 'Aam NU meminta kesaksian para hadirin atas pernyataan beliau merehabilitasi nama harum Pak Subchan ZE rahimahullaah, dan secara eksplisit juga menyatakan mencabut keputusan skorsnya tersebut di atas. 

Dan penulis bersyukur bahwa pada malam itu Al-Mukarram KH Ali Maksum telah berkenan untuk melakukan Talqiin keesokan harinya bakda dluhur, pada acara pemakaman Almarhum di Ma'la Mekkah.

Allah Maha Besar lagi Maha Mendengar, Pak Subchan ZE telah memperoleh restuNya membangun "hotel"-nya di Ma'la Mekkah dan istirahat panjang.

 

                          يا ايتها النفس المطمئنة ارجعي الى ربك راضية مرضية فادخلي فى عبادي و ادخلي جنتي

"Yaa ayyatuhan-nafsul-muthmainnah. Irji'ii ilaa Rabbiki râdliyatan mardliyyah.. fadkhul fî 'ibâdî wadkhulî jannatî."

 

 

Muzammil Basyuni

Dubes RI untuk Rep. Arab Suriah 2006-2010.

Arinda, 21 Januari 2011.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG