IMG-LOGO
Pendidikan Islam
PESANTREN IHYAUSSUNNAH

Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf

Rabu 11 November 2015 13:1 WIB
Bagikan:
Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf

Probolinggo, NU Online
Pondok Pesantren Ihayussunnah di Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo berdiri 87 tahun lalu, tepatnya tahun 1927 oleh KH Abdul Karim. Saat ini pesantren ini diasuh oleh cicit sang pendiri KH Moh Nashih. Dari pesantren ini banyak lahir ulama yang eksistensinya sangat dibutuhkan oleh masyarakat.<>

Letak Pondok Pesantren Ihyaussunnah sangat strategis dan mudah dijangkau oleh kendaraan umum. Dari batas Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo hanya butuh waktu 10 menit ke arah selatan untuk menuju ke pesantren ini.

Pengasuh Pondok Pesantren Ihyaussunah KH. Moh Nashih mengisahkan, dulunya pesantren tersebut didirikan oleh KH. Abdul Karim, kakek buyutnya. Dimana Kiai Karim ini merupakan menantu dari KH Rifa’i Tabrani, Pengasuh Pondok Pesantren Rofi’atul Islam di desa yang sama. 

“Jadi, kami terikat tali persaudaraan dengan KH Munir Kholili, Pengasuh Pondok Pesantren Rofi’atul Islam. Dimana Kiai Munir saat ini dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan,” katanya.

Menurut Kiai Nashih, sebelum berdiri menjadi pondok pesantren, Kiai Karim mengawali dengan memberikan pengajian kitab dan Al Qur’an. Namun lambat laun pengajian kitab ini merubah menjadi Madrasah Diniyah (Madin).

Berkat dukungan masyarakat, Madin ini akhirnya berubah menjadi sebuah pondok pesantren yang sederhana. Berbeda dengan Pondok Pesantren Rofi’atul Islam yang tidak menerima santri putri, pesantren ini sejak awal telah menerima santri putri dan putra. “Alhamdulillah, semakin lama pesantren ini semakin maju,” jelasnya. 

Kiai Karim mengasuh pesantren ini hingga tahun 1947. Ketika diasuh Kiai Karim, santri mukim hampir mencapai 100 orang. Kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan menantunya KH. Bahrawi hingga tahun 1950. Pada masa kepemimpinan Kiai Bahrawi, didirikanlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah. “Madrasah ini, selain mengajarkan ilmu agama juga mengajarkan ilmu berhitung dan bahasa Indonesia,” terangnya.

Setelah itu, kepemimpinan pesantren ini bergeser kepada KH. Ma’sum Abdul Karim, putra tertua dari KH. Bahrawi. Saat Kiai Ma’sum memimpin banyak kemajuan yang dicapai. Siswa kelas VI pada MI pada masa ini mulai diikutkan ujian negara.

Pada tahun 1963, Kiai Ma’sum melakukan perombakan pada sistem manajemen. Jika sebelumnya madrasah yang ada hanya ala kadarnya, maka pada tahun itu manajemen disusun dengan cermat. “Namun keputusan yang dilakukan setelah sebelumnya dimusyawarahkan kepada keluarga dan tokoh masyarakat,” akunya.

Lima tahun kemudian Kiai Ma’sum mendirikan Madrasah Mu’allimin yang menggunakan masjid sebagai tempat belajar. Madrasah ini merupakan kelanjutan dari madrasah yang ada. Madrasah ini mengajarkan 70 persen ilmu agama, sedang sisanya untuk ilmu umum. “Pengajarnya sebagian besar dari luar pesantren,” imbuhnya.

Berikutnya, 2 tahun kemudian Madrasah Mu’allimin berganti nama menjadi MTs (Madrasah Tsanawiyah) Al Muttahidah. Madrasah ini menampung siswa dari dua pesantren. Yakni, Pondok Pesantren Ihyaussunnah dan Rofi’atul Islam. Tak lama berselang, pada tahun 1971 KH. Ma’sum Abdul Karim wafat.

“Saat Kiai Ma’sum wafat putranya masih kecil. Sehingga lewat musyawarah keluarga kepemipinan pesantren diamanatkan ke KH. Rofi’i Abdul Karim, abah saya,” tuturnya.

Pada masa Kiai Rofi’i, MI dan MTs Al Muttahidah mulai menerapkan kurikulum Departemen Agama (Depag) pada tahun 1974. Dengan begitu santri yang belajar pada 2 madrasah ini mengikuti ujian Negara.

Kemudian pada tahun 1982, Kiai Rofi’i mendirikan MA (Madrasah Aliyah) Al Muttahidah. Pendirian gedung madrasah ini merupakan bantuan dari Raja Kholid dari Saudi Arabia. “Abah selama 11 tahun belajar dan pernah menjadi wartawan disana. Sehingga mempunyai hubungan baik dengan Pemerintah Arab Saudi,” jelasnya.

Pada  akhir tahun 1996, KH Rofi’i Abdul Karim wafat saat menghadiri undangan pengajian. Kemudian atas musyawarah keluarga yang dipimpin KH. Munir Kholili, pada tahun 1997 diputuskan pimpinan pondok pesantren diserahkan kepada KH. Moh Nashih.

“Sebenarnya masih ada kakak saya yang lebih pantas. Namun beliau bermukim di daerah lain. Hingga akhirnya saya yang diberi amanat oleh keluarga. Saya waktu itu masih mondok di Kencong Jember,” ujar alumni STAI Zainul Hasan ini.

Terapkan Sistem Pembelajaran Salafiyah

Seperti pondok pesantren lain, di Pondok Pesantren Ihyaussunnah diterapkan sistem pendidikan salafiyah. “Santri mulai mengikuti kegiatan sejak pukul 03.00 dengan salat Tahajjud dan salat Subuh. Selanjutnya mengaji kitab kuning hingga pukul 06.00,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Ihyaussunnah KH. Moh. Nashih.

Aktivitas santri dilanjutkan pada pukul 07.00 hingga 13.30, dimana santri belajar di MTs dan MA. “Setelah itu, 30 menit kemudian santri masuk ke MA hingga pukul 16.30,” tuturnya.

Pondok pesantren ini juga menerapkan metode pendidikan salafiyah yang meliputi Madin, pengajian kitab kuning, halaqah diniyah dan Tahfidatul Qur’an. Kegiatan ini dilaksanakan usai salat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al Qur’an. Lalu belajar membaca kitab klasik hingga pukul 21.00. “Santri yang tidak sekolah pada pagi hari, ada pengajian khusus pendalaman kitab klasik,” ujarnya.

Selain kitab yang sudah umum diajarkan di kalangan pesantren, pondok pesantren ini juga mempunyai kitab khusus. Kitab ini merupakan karangan KH. Rofi’i Abdul Karim, yakni Kamus Bahasa Arab Pusha atau kamus bahasa Arab berdasarkan kitab, Kamus Bahasa Arab Amiyah atau kamus percakapan bahasa Arab sehari-hari. Kemudian ada juga Kamus Luar Biasa Bahasa Arab yang diajarkan di Madin. Selain itu ada Silahul Mukmin. Yaitu, kitab yang berisi doa-doa.

Pondok pesantren ini mengutamakan pendidikan akhlak dalam mendidik para santri. Hal itu tergambar dalam usaha yang selalu menekankan pada keutamaan dalam berakhlakul karimah. “Percuma punya santri pintar, tetapi akhlaknya jelek. Apalagi tidak menghormati orang tua. Itu yang tidak kami harapkan,” tegasnya.

Terbagi dalam Tiga Asrama

Kini Pondok Pesantren Ihyaussunnah yang memasuki usia 87 tahun ini mempunyai sekitar 300 santri mukim. Sedangkan yang non mukim sekitar 100 orang yang terdiri dari pelajar di MTs dan MA Al Muttahidah.

Namun, santri sebanyak itu tidak berada di satu pondok atau asrama. Mereka tersebar pada tiga asrama. Yakni asrama pusat Ihyaussunnah, Darul Hayat dan Arrofi’iyah. Masing-masing asrama dipimpin pengasuh berbeda. Asrama Ihyaussunnah diasuh oleh KH. Moh Nashih. Sedangkan Arrofi’iyah berada di Kelurahan Semampir Kecamatan Kraksaan dipimpin oleh KH Moh Hafid dan asrama Darul Hayat dipimpin oleh H. Kamil Abrori, menantu tertua KH Rofi’i Abdul Karim.

Meski berada tiga asrama, semua kegiatan masih terpusat. Yang membedakan hanyalah pada pengajaran agama yang berada di bawah pengasuh masing-masing. Sekolah umum dan kegiatan imtihan tetap disatukan di pondok pusat. “Untuk kegiatan besar masih tetap tersentral,” katanya. (Syamsul Akbar)

Foto: Santri Pondok Pesantren Ihyaussunnah Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo ketika melakukan bakti sosial kerja bakti membersihkan kuburan yang berada di sekitar pesantren.

Bagikan:
Rabu 11 November 2015 22:8 WIB
PESANTREN SUNAN DRAJAT
Melanjutkan Pesan Sunan Drajat untuk Memberdayakan yang Lemah
Melanjutkan Pesan Sunan Drajat untuk Memberdayakan yang Lemah

Walisongo berjasa besar dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan dakwahnya yang dapat diterima oleh masyarakat. Makam para wali tersebut sampai sekarang masih ramai dikunjungi para peziarah. Tetapi dari sembilan wali tersebut, hanya di daerah pemakaman Sunan Drajat yang masih berdiri pesantren yang merupakan kelanjutan dakwah Sunan Drajat. <>Pesantren dengan nama Sunan Drajat ini didirikan dan diasuh oleh KH Abdul Ghofur, salah satu keturunan dari Sunan Drajat. 

Yang istimewa, pesantren ini bukan hanya pesantren tradisional yang mengajarkan para santri dengan ilmu agama dan setiap hari bergelut dengan kitab kuning. Bidang pengembangan ekonomi merupakan salah satu ikon kuat di pesantren ini dengan sejumlah bidang usaha. Kiai Ghofur mengajari para santrinya dari teori, praktek sampai penerapannya di lapangan. Semuanya bisa dipelajari dari berbagai unit usaha milik pesantren.

Apa yang dilakukan oleh KH Abdul Ghoru ini merupakan implementasi dari pesan Sunan Drajat, yaitu

Wenehono teken marang wong wuto
(Berilah tongkat pada orang buta)

Wenehono mangan marang wong luwe
(Berilah makan pada orang yang lapar)

Wenehono busono marang wong wudo
(Berilah pakaian bagi orang yang telanjang)

Wenehono ngiyup marang wong kudanan
(Berilah tempat peneduh bagi orang yang kehujanan)

Dari pesan tersebut, intinya adalah Sunan Drajat ingin agar orang lemah, teraniaya, dan marginal perlu dibantu. Pesan ini selalu diingat oleh Kiai Ghofur dengan mencari santri yang tidak mampu agar mereka belajar di pesantren dan mereka harus membantu pengelolaan unit usaha pesantren. Mereka mendapat dua ilmu sekaligus, ilmu agama dan ilmu berwirausaha yang nantinya sangat bermanfaat diterapkan di masyarakat setelah selesai belajar di pesantren. Pemberdayaan ekonomi marupakan salah satu strategi yang pas karena bisa membuat orang yang sebelumnya tidak berdaya pada akhirnya malah bisa membantu yang lain.

Kiai Ghofur menjelaskan kunci keberhasilannya dalam membangkitkan kembali pesantren Sunan Drajat yang sempat terpuruk selama ratusan tahun yang dimulainya kembali pada tahun 1977 adalah membantu yang lemah dan meminta doanya, membantu yang kuat dan kaya dan menerima sumbangannya, serta menyalurkan hasil sumbangannya untuk kesejahteraan santri dan mengembangkan pesantren. Jaringan pergaulannya dengan menyapa yang lemah dan menghormati yang kuat ini membuatnya dikenal luar masyarakat sekitar sampai para tokoh di Jakarta. Kebiasaan silaturrahmi yang digabungkan dengan insting bisnis yang kuat ini membuat Pesantren Sunan Drajat mampu memanfaatkan berbagai potensi.

Pesantren kini telah memiliki sejumlah unit usaha seperti PT Sunan Drajat Lamongan memproduksi pupuk organik berkualitas tinggi, ramah lingkungan, dan menjaga kelestarian alam dengan merek KISDA. Pengembangan jus mengkudu "Sunan" untuk konsumsi lokal dan diekspor ke Jepang dengan merek "Java Noni". Air minum dalam kemasan dengan merk Aidrat yang dipasarkan ke seputar Lamongan, Gresik, Bojonegoro, dan Tuban dengan pangsa pasar terutama para wali santri, BMT Sunan Drajat untuk membantu keuangan kelompok usaha mikro, Persada TV dan Radio Persada FM sebagai media dakwah berbasis multimedia, Smesco mart yang menyediakan berbagai keperluan santri, koperasi pondok pesantren yang mengelola kedai, warnet, dan unit usaha lainnya.

Unit-Unit usaha tersebut dikelola oleh tenaga-tenaga trampil yang paham benar bagaimana mengelola bisnis dengan baik dan mampu bersaing di pasar karena sesungguhnya, berhasil atau tidaknya sebuah bisnis diuji di pasar. Dan usaha-usaha milik pesantren terbukti bisa bertahan dan bahkan bisa terus berkembang. 

Pesantren sendiri berlokasi di atas tanah seluas 12 hektar sementara yang digunakan untuk usaha berupa gunung kapur seluas 10 ha,  lahan Phosphat seluas 30 Ha, tanah untuk pengembangan agribisnis seluas 30 Ha, tanah wali santri dan alumni yang digunakan untuk pengembangan usaha 300Ha.

Bukan hanya berhasil dalam pengembangan bisnis, manfaat lain dari jus mengkudu yang dibuatnya adalah keberhasilannya dalam menghijaukan lahan tandus menjadi kebun mengkudu yang menyebabkannya diberi penghargaan Kalpataru pada tahun 2006 sebagai pembina lingkungan terbaik. Penghargaan lain yang diterimanya adalah sebagai Pengusaha UKM Terbaik di Jawa Timur tahun 2007 dari harian Bisnis Indonesia dan yang paling baru adalah penghargaan Nahnu Ansorulloh dari GP Ansor pada tahun 2015 atas apresiasinya sebagai kiai yang dinilai memiliki gagasan dan konsep nyata pemberdayaan ekonomi pesantren dan masyarakat, yang bisa menjadi inspirasi kader-kader Ansor maupun bagi masyarakat luas. (Mukafi Niam)

Selasa 10 November 2015 17:22 WIB
Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru
Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Nasruddin Latif, Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatus Syubban ini awalnya hanya sekedar menyalurkan hobi berselancar di dunia maya via. Namun kemudian blog yang dibuatnya dirujuk banyak orang. Khususnya sesama guru MI di berbgai daerah.<>

MI Raudlatus Syubban berada di Desa Wegil Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, cukup jauh dari pusat kota, sekitar 35 Km. Nasruddin Latif (36), mengaku saat pertama kali bertugas di MI Wegil pada 2006 ia menempuh perjalanan 40 menit dengan kendaraan roda dua dari kampung halamannya di Desa Kunir, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak.

Nasruddin prihatin saat awal bertugas di MI Wegil. Letak geografisnya jauh sekali dari kota kecamatan. “Informasi pun sering kali lebih banyak terlambatnya. Mungkin karena akses dan banyak hal lain,” ujar Nasruddin.

Ia mencontohkan, tiap tahun ajaran baru para guru harus merencanakan program madrasah ke depan. Senjata utamanya pakai kalender pendidikan (kaldik). Sementara jika kaldik tersebut tidak segera sampai ke madrasah, tentu menjadi persoalan tersendiri. Dari Kemenag tingkat provinsi, Kaldik turun ke kabupaten/kota, baru ke pengawas kecamatan, diteruskan ke KKM. “Terakhir para kepala madrasah diundang. Nah, baru masuk ke madrasah sini. Zaman dulu begitu,” ungkap Nasruddin.

Karena panjangnya birokrasi yang musti melewati beberapa pintu, belum lagi jika ada keterlambatan di salah satu pintu tersebut, kata dia, dapat dibayangkan bisa jadi sebulan kemudian pihaknya baru mempunyai kaldik.

“Padahal Juli sudah mulai kegiatan. Itu cuman sekedar salah satunya. Belum lagi informasi yang lain, misalnya tentang peraturan. Kan perlu kami ketahui juga agar selalu up to date,” ujarnya.

Karena merasa informasi di tempatnya mengajar sering terlambat, maka Nasruddin mencoba mencari alternatif informasi lain. Yakni menggunakan media online. Kurang lebih dua tahun ia berlangganan informasi melalui e-mail dari salah satu blog yang senantiasa memberikan informasi tentang pendidikan. Blog tersebut dikelola oleh seorang Guru Sekolah Dasar.

“Dari blog tersebut saya senantiasa mendapatkan informasi tentang pendidikan yang banyak saya butuhkan. Meski demikian, saya masih merasa kurang karena blog tersebut yang mengelola adalah seorang guru SD. Jadi, informasi-informasi yang diberikan proporsinya lebih banyak informasi yang dibutuhkan para guru SD. Padahal saya guru MI,” ujarnya.

Sebagai guru MI, Nasruddin tidak hanya membutuhkan informasi terkait pendidikan yang bersifat umum melainkan juga yang khusus berhubungan dengan madrasah. “Kalau ada pendataan yang online kadang-kadang saya kerjakan di rumah. Karena di sekolah kan nggak mungkin. Sebab sinyal internet susah sekali di sini,” kata Nasruddin.

Dari kondisi yang ia alami, ia kemudian berfikir, bisa jadi ada sebagian atau bahkan banyak juga rekan guru madrasah yang bernasib seperti dirinya yang butuh informasi up to date tentang pendidikan. Dalam rangka menunjang tugas-tugas sebagai guru madrasah, info terkini pendidikan menjadi hal penting. Nasruddin lalu membuat akun Facebook. Harapannya dapat berbagi informasi lewat update status di media sosial karya Mark Zukernberg ini.

“Saya bahkan sampai membuat sebuah laman Fanspage Facebook yang saya beri nama Mutiara Pendidikan hingga beberapa waktu. Melalui Fanspage Mutiara Pendidikan ini saya berbagi info dan terkadang berbagi tautan tentang pendidikan,” ungkap sarjana pendidikan Islam lulusan Universitas Wahid Hasyim Semarang ini.

Seiring berjalannya waktu, Nasruddin merasa berbagi informasi melalui Fandpage Facebook masih kurang efektif. Pasalnya, sulit mencari arsip-arsip informasi yang pernah di-update. Selain itu, ia juga berfikir mungkin akan lebih baik jika dia tidak hanya berbagi tautan web atau blog orang lain melainkan dapat berbagi tautan dari web/blog miliknya sendiri.

Mulailah ia belajar membuat blog secara otodidak dengan mengandalkan informasi dari hasil pencarian di google. Membuat blog ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Hanya dengan modal gmail dan petunjuk cara membuat blog dari hasil pencarian google, ia pun punya blog. Nasruddin makin keranjingan blogging sehingga dalam sepekan ia betah hingga dua jam di warnet sepulang mengajar. Ia lalu belajar mengganti template blog, posting artikel, memasang wedget, dan lain sebagainya.

“Sampai di sini saya masih belum berani untuk share. Karena ini baru blog percobaan. Setelah sekitar empat blog saya buat hanya sekedar latihan. Lalu, sekiranya kemampuan dasar blog sudah lumayan terkuasai, maka mulailah saya buat blog yang nantinya siap dipublikasikan,” ujar Nasruddin.

Menurut dia, menentukan nama blog ternyata lebih sulit ketimbang membuat blog itu sendiri. Awalnya karena ia sudah memiliki Fanspage Mutiara Pendidikan, ia pun ingin menggunakan nama yang sama. “Tetapi sebagai guru madrasah, saya ingin memperlihatkan kemadrasahan saya. Lalu, muncul ide nama blog Guru Madrasah. Ternyata sudah ada. Blog Guru Madrasah Ibtidaiyah juga sudah ada meski blog-blog tersebut jarang posting,” paparnya.

Di tengah kegalauan tersebut, terbersit dalam benak adanya kata “Abdi Negara”, dan “Abdi Masyarakat”. Akhirnya, ia memilih nama “Abdi Madrasah” yang disingkat “Abdima”. Hal yang lebih menguatkan Nasruddin memilih nama tersebut lantaran adanya kesadaran betapa pentingnya peran madrasah dalam kehidupan dirinya.

“Sebab, dari madrasah lah saya mulai dikenalkan dengan huruf dan angka. Dari madrasah lah saya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Yakni di MI kemudian melanjutkan ke MTs, terakhir di MA. Jadi, karena merasa dicetak oleh madrasah, maka sedikit banyak ingin bermanfaat bagi madrasah. Tentu, sebatas kapasitas dan kemampuan yang saya miliki,” ujarnya merendah.

Tanpa menunggu lama, pada 19 Desember 2012 secara resmi Nasruddin memiliki blog bernama “Abdi Madrasah” yang beralamat di http://abdima.blogspot.com/. Setelah beberapa hari melengkapi blog dengan berbagai tulisan termasuk wedget dan lain sebagainya, terpublishlah posting perdana pada 31 Desember 2012.

Sejak ia mempunyai blog, baik Mutiara Pendidikan maupun Abdi Madrasah, ia mulai mem-posting tulisan pada 30 Desember 2012. “Otomatis fanspage saya di Facebook saya ubah menjadi Abdi Madrasah karena menyesuaikan blog tadi itu,” kata dia.

Ia berprinsip hanya ingin berbagi tanpa orang lain mengetahui jati dirinya. Ia berharap bisa berbagi tanpa diiringi rasa sombong. “Saya pernah dengar, kalau bisa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Yang penting tujuan saya main blog itu kan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya mantap.

Nasruddin menuturkan, dalam blognya tertulis ‘membagi informasi kepada para sahabat agar hidup ini lebih bermanfaat.’ Makanya, dalam admin itu ia tidak menuliskan database-nya. “Saya hanya menulis sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah yang mulai mengenal huruf dan angka dari madrasah. Oleh karena itu, harus berbuat yang terbaik untuk madrasah,” tegasnya.

Sebagai guru saya ia butuh informasi terbaru, jadi sederhananya Butuh Cari Dapat Bagi (BCDB). Jika ia butuh info, maka ia pun segera mencarinya. Setelah mendapatkannya, lalu ia membagikannya kepada siapa saja. Pada saat Facebook-an, Nasruddin mengaku seringkali melihat sebagian temannya membagikan berita tentang madrasah.

“Saya pun ikut nge-share. Tapi sebelumnya saya buat postingannya. Yang penting di google itu kan nggak boleh copas. Kalau sekedar mengulas kan boleh. Meski ada juga yang copas, tapi saya cantumkan sumber dan link-nya. Misal, dari website direktorat madrasah tentang prestasi atau program apa gitu,” akunya.

Menurut Nasruddin, website Abdima banyak dikunjungi orang lantaran mereka mendapatkan berbagai informasi mengenai madrasah. (Ali Musthofa Asrori)

Selasa 10 November 2015 17:3 WIB
PESANTREN ASSALAM
Warga Sekitar Menjuluki Pesantren Inggris
Warga Sekitar Menjuluki Pesantren Inggris

“Pesantren Inggris” adalah penamaan warga sekitar kepada Pondok Pesantren Assalam yang terletak di desa Pasir Angin, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kata “pasir”, dalam bahasa Sunda berarti bukit. Sesuai namanya, daerah tersebut berbukit-bukit. Dan angin selalu bertiup menebar <>hawa dingin karena tidak jauh dari wilayah Puncak dan gunung Gede.  Begitu pula kawasan Assalam. Kontur tanahnya miring. Hawanya dingin.

Assalam berarea 2 hektar. Telah berdiri satu aula berbentuk rumah joglo tanpa dinding berlantai keramik berukuran 7x7 meter.

Menurut Ali Qohar, pengasuh pesantren, tempat tersebut dibangun dari sumbangan melalui jejaring sosial Facebook. “Update status mau bangun aula. Eh, ada yang nyumbang semen, kayu, keramik, genteng. Al-hamdulillah udah selesai,” ujar pria kelahiran Jakarta 1971 ini.

Di samping aula, berdiri bangunan kayu seluas 5x10 meter. Bangunan terdiri tiga kamar tersebut dibiayai atas sumbangan sekelompok ibu-ibu di Belanda.

Beberapa meter ke arah timur, berdiri rumah pengasuh pesantren. 50 meter ke timur dari rumah itu, terdapat kolam-kolam ikan yang disekat-sekat pematang. Di salah satu kolam berdiri saung bambu beratap rumbia, dua lantai, lengkap dengan toilet.

Ke sebelah selatan dari saung tersebut, di tanah lamping, beridiri New Zealand House. Bangunan mewah dua lantai tersebut terdiri enam kamar dan satu ruang pertemuan tanpa dinding. Dari tempat tersebut, terhampar pemandangan luas bebukitan.

Peletakan batu pertama untuk asrama santri tersebut, disaksikan para habib dan kiai-kiai. Hadir pada kesempatan itu, Habib Muhsin Alatas dari Empang, Bogor. Hadir pula kiai dari Jakarta, dari pesantren Gentur, Cianjur. Juga kiai-kiai pemilik pesantren sekitar Gadog.

Bangunan tersebut merupakan sumbangan dari Kedutaan Besar Selandia baru untuk Indonesia. Diresmikan Duta Besar David Taylor 25 September lalu.

Rumah Singgah Anak Jalanan
Pesantren Assalam merupakan pengembangan dari rumah singgah anak-anak jalanan Puspita di Duren Sawit, Jakarta Timur. Sejak 13 tahun lalu, Puspita yang didirikan Ali Qohar berupaya membina, mengarahkan, dan meyakinkan bahwa anak jalanan juga bisa seperti anak-anak lain.

Ali Qohar, pria yang akrab disapa Aang ini menyulap anak-anak pengemis dan pengamen jadi anak hebat; bisa sekolah, mengembangkan diri, serta memiliki masa depan.

Berkat keuletan Aang dan pengasuh Puspita, sebagaian anak sudah ada yang bekerja; kuliah seperti Wily, Irma dan Fitri dan lain-lainnya. Ada juga yang memiliki keterampilan khusus seperti terampil berbahasa Inggris seperti Tomi.

Aktif di dunia sosial semacam itu telah dilakukan Aang sejak aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IAIN Sunan Ampel tahun 1990-an. “Saya selalu di divisi advokasi sejak di komisariat hingga cabang.”

Karena itu, ia selalu dekat dengan anak jalanan dan pedagang kaki lima. Ketika kembali ke Jakarta, pengalaman di organisasi berlogo perisai berbintang sembilan tersebut diteruskan di tanah kelahirannya.

Karena aktivitasnya itu, ia terhubung dan bertemu banyak kalangan dengan latar belakang beragam. Belasan tahun kemudian, terhubung dengan luar negeri seperti Belanda, Inggris, dan Selandia Baru.

Hingga kini, Puspita masih tetap seperti semula, meyakinkan anak-anak terlantar bahwa mereka juga bisa memiliki masa depan.

Untuk mengembangkan sayap, Puspita dikembangkan di Bogor. Dirintis sejak tahun 2010. Area 2 hektare ditumbuhi ilalang liar, kini sudah berdiri bangunan dan tumbuhan. “Beberapa waktu lalu, sekelompok mahasiswa Atmajaya pernah tanam pohon di sini.  Pernah juga mahasiswa IISIP mengadakan pelatihan jurnalistik di sini,” kata Aang.

Dan, akhir pekan lalu, untuk pertama kalinya Assalam digunakan acara Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) PMII Komisariat Fakultas Dakwah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Hingga akhir November, berturut-turut digunakan Mapaba anak-anak PMII. Setelah PMII Dakwah, minggu terdekat PMII Universitas Djuanda, Bogor. Kemudian PMII STAI Al-Aqidah Jakarta dan PMII Ciputat.”

“Pesantren Assalam sangat terbuka untuk kegiatan keluarga besar NU semisal PMII, Ansor, IPNU, IPPNU, Muslimat, Fatayat, ” ujar putera bungsu KH Muhmmad Ali (pengasuh pesantren Al-Wathon Assalafiyah, Jakarta).

Pesantren Inggris
Penduduk setempat memanggil Assalam sebagai “pesantren Inggris”. Pasalnya, anak-anak sekolah sekitar pasir Angin belajar bahasa Inggris di situ.

“Yang mengikuti program tersebut adalah 30 orang anak SD, SMP dan SMA. Mereka belajar disesuaikan dengan jadwal sekolah masing-masing. Yang sekolah siang belajar pagi, sebaliknya yang sekolah pagi belajar siang.”

Materinya adalah speaking, pronunciation, dan grammar. Pengajarnya santri Assalam, yaitu Kafil Alawy dan Tomy Pudjianto.  

Untuk mempercepat kemampuan didatangkan bule yang fasih berbahasa Inggris. Intensitas kedatanagan mereka, ada yang sesekali ada yang rutin.

“Yang rutin, misalnya Helen Henry asal Selandia Baru. Seminggu dua kali berkunjung. Kadang-kadang Tesa Piper, warga negara Inggris,” ujar jebolan pesantren Buntet, Asembagus Situbondo dan Al-Mathlab ini.

Karena rutin berlatih bahasa Inggris, santri-santri Assalam, jika mendekati waktu Ujian Nasional, sering diundang sekolah sekitar untuk mengjari muris-muridnya. Padahal usia mereka sepantaran. Dan santri Assalam sanggup mengajari mereka. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG