IMG-LOGO
Daerah

Ribuan Warga Jatim Ziarahi Makam KH Ali Mas'ud

Jumat 13 November 2015 10:3 WIB
Bagikan:
Ribuan Warga Jatim Ziarahi Makam KH Ali Mas'ud

Sidoarjo, NU Online
Ribuan peziarah dari berbagai kota di Jawa Timur baik dari Sidoarjo, Madura, Nganjuk maupun dari daerah luar Sidoarjo saling berdatangan silih berganti memenuhi makam KH Ali Mas'ud atau yang biasa dikenal Mbah Ud di Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (12/11) malam.
<>
Warga Sidoarjo dan sekitarnya meyakini Mbah Ud sebagai salah satu ulama kharismatik, bahkan waliyullah, yang berjasa dalam pengembangan dakwah Islam di daerah setempat. Mbah Ud juga masih memiliki garis keturunan sampai ke Rasulullah.

Siti Zakiyah Zamani, salah satu peziarah asal Desa Kalidawir RT 7 RW 2, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo menuturkan, dia bersama suaminya kerap berziarah ke makam Mbah Ud untuk bermunajat kepada Allah SWT. Bahkan, dia juga ikhlas berziarah meski harus membawa anaknya yang masih balita berusia sekitar 5,5 bulan.

Di makam, Zakiyah bersama suaminya membacakan surat Yasin, shalawat nariyah, tahlil dan amalaliyah lainnya untuk mengharap ridho dari Allah SWT. "Kami ke sini untuk mencari barokah agar hidup atau rumah tangga menjadi tentram, sehingga ketika menghadapi problem rumah tangga tetap diberikan Allah kesabaran," tutur Zakiyah.

Zakiyah mengaku bahwa setiap hari Kamis malam Jumat terutama malam Jumat legi, dirinya bersama suami dan anaknya tidak pernah lepas berziarah ke makam Waliyullah ini. Bahkan, semenjak dirinya mengandung hingga lahir putra pertamanya itu tidak pernah lepas berziarah ke makam para waliyullah.

"Kami tidak hanya sekadar berziarah, melainkan bisa bersilaturahmi sesama sahabat, keluarga dan kerabat yang kebetulan juga berziarah ke makam Mbah Ud untuk menjalin tali ukhuwah Islamiyah. Semoga anak saya ini dijadikan Allah menjadi anak sholeh, dijauhkan dari perbuatan maksiat," doanya penuh harap.

Lebih jauh Zakiyah menjelaskan, nenek suami Zakiyah merupakan teman Mbah Ud. Pada masa hidupnya, mbah Us sering silaturahmi di desa Ketapang, Tanggulangin Sidoarjo.

Sementara itu Ika Hariyati asal Desa Bandung, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk mengatakan, dirinya sengaja datang ke makam Mbah Ud untuk berziarah memohon barokah para wali dan mengharap Ridho dari Allah. Menurutnya, makam Waliyullah di Sidoarjo yang dekat dengan akses jalan raya yaitu di makam Mbah Ud Pagerwojo Buduran Sidoarjo.

"Melalui barokah doa yang saya panjatkan di sini, semoga saya dijadikan Allah manusia baik, mampu meniru tauladan Rasulullah dan para wali, dipertemukan jodoh yang baik, sholeh dan punya kepribadian seperti akhlaknya Rasulullah," harap Ika. (Moh Kholidun/Mahbib)

Bagikan:
Jumat 13 November 2015 21:0 WIB
GP Ansor Bolmut Gelar Seminar Kerukunan Antarumat Beragama
GP Ansor Bolmut Gelar Seminar Kerukunan Antarumat Beragama

Bolmut, NU Online
Bertempat di lapangan Desa Mokoditek, Jumat (13/11), GP Ansor Kabupaten Bolang Mongondow Utara (Bolmut) bekerja sama dengan Pemuda Gereja Sion Mokoditek menggelar Seminar kerukunan antarumat beragama bertema ‘Mewujudkan Kerukunan Antarumat Beragama yang Harmonis untuk Menjaga NKRI’.<>

Ketua GP Ansor Bolmut, Donal Lamunte dalam sambutannya menyampaikan, bahwa pemuda  harus punya peran dalam menjaga kerukunan antarumat beragama, dan Gerakan Pemuda Ansor harus menjadi garda terdepan dalam hal ini. “Dan untuk rukun kita harus ada dialog intens,” ucapnya.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah kader Ansor, aktivis pemuda gereja, para kepala desa, aktivis pemuda, dan tokoh masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.

Seminar ini mengusung sejumlah materi diantaranya: Peran Kementerian Agama dalam kerukunan yang disampaikan oleh Kepala Kemenag Bolmut. Peran Pemuda gereja dalam  menjaga kerukunan beragama oleh ketua BAMAG Dicky Polii, dan materi Strategi merawat kerukunan, disampaikan oleh Ketua PCNU Bolmut, Supriyadi Goma, SPdI.

Dalam kegiatan ini, juga dibacakan Deklarasi kerukunan antarumat beragama Pemuda Kabupaten Bolmut yang berisi butir-butir pernyataan sebagai berikut:

1. Sanggup menjaga kerukunan di Kabupaten Bolmong Utara.

2. Sanggup menciptakan suasana damai, menghargai perbedaan keyakinan serta ajaran agama dalam kerangka NKRI.

3. Menolak semua bentuk paham radikalisme yang mengatasnamakan Agama yang mengancam kerukunan.

Sebelumnya, acara seminar ini diawali dengan sambutan Bupati yang disampaikan oleh Asisten I sekaligus membuka acara. (Ridwan/Fathoni)

Jumat 13 November 2015 19:1 WIB
Nahdliyin Berhadapan Dua Kutub Ekstrem Ideologis
Nahdliyin Berhadapan Dua Kutub Ekstrem Ideologis

Samarinda, NU Online
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Kalimantan Timur (Kaltim) Asman Azis mengatakan spirit Resolusi Jihad masih relevan untuk didengungkan karena saat ini Nahdliyin berhadapan dengan dua kutub ekstrem ideologis.
<>
Pertama, kata dia, mengentalnya fundamentalisme agama dengan wajahnya islam radikal dan puritan. Kedua, lemahnya negara yang disusupi oleh ideologi ekonomi pro pasar bebas dan pro eksploitasi sumberdaya alam.  

“Di Kaltim, jelas dia, fundamentalisme pasar ini mengambil wujud masuknya investor dan tambang asing yang bercokol dan mengeksploitasi sumberdaya alam,” katanya pada seminar bertema Meneguhkan Kembali Resolusi Jihad, Mendayung diantara Arus Fundamentalisme Agama dan Pasar tersebut di Auditorium Kampus Universitas Mulawarman, Samarinda pada 10 November lalu.

Ia menambahkan, investor asing tersebut meninggalkan kerusakan lingkungan seperti banjir, rusaknya hutan alam, lubang bekas tambang yang mencabut nyawa anak-anak dan pencemaran udara dan air.

“Jadi dari segi ekonomi dan sumberdaya alam kita masih dijajah, maka jihad masih diperlukan,” pungkasnya pada kegiatan yang digelar Lakpesdam PW NU Kaltim tersebut.

Soal peringatan Hari Santri, Ketua PBNU KH Farid Wadjdy mengatakan peringatan yang disandingkan dengan hari Pahlawan ingin menegaskan peran santri dan kaum Nahdliyin dalam perjuangan bangsa ini merebut kebangsaan.

“Terbukti bahkan seorang Soekarno pun harus meminta pendapat ulama NU yang akhirnya melahirkan Resolusi Jihad,” ujar dan Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kaltim.

Resolusi tersebut, kata dia, menjadi motivasi perjuangan di peristiwa perjuangan fisik 10 November di Surabaya saat itu.

Narasumber seminar adalah Pengasuh Ponpes Syechona Cholil Samarinda KH Buchori Noor dan Ketua Program S2 IAIN Samarinda Hj. Siti Muriah. Keduanya mengingatkan bahwa definisi dan kategori santri tidak hanya yang berada di Pondok Pesantren saja, akan tetapi menjadi kriteria moral dan integritas.

“Kalau ada santri bahkan kiai yang masih bisa disogok dan korup maka ia bukan santri,” ujar KH Buchori Noor Mengingatkan Hadirin dan Peserta Seminar.

Sementara Siti Muriah menjelaskan peran kaum perempuan pesantren dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Ia juga mengingatkan bahwa kaum santri jangan terlena hanya karena terbit Kepres (Keputusan Presiden) tentang hari santri.

“Jangan terjebak formalitas, percuma dapat hari santri jika hak-hak dan peran kaum santri secara hukum dan politik belum dipulihkan,” katanya.  

Kita semua tahu, lanjut dia, bahwa hingga saat ini penulisan sejarah masih belum direvisi, peran santri disembunyikan dari narasi ilmiah begitu juga ijazah alumnus pesantren dalam sistem pendidikan kita mestinya juga sudah setara.

“Kaum santri tak boleh dianggap sebagai warga negara kelas dua,” ujar guru besar ilmu pendidikan islam ini menutup presentasinya.

Pada kegiatan tersebut hadir ratusan warga Nahdliyin Kalimantan Timur yang terdiri dari santri, mahasiswa dan pengurus NU. [MJI/Abdullah Alawi]


   

     

Jumat 13 November 2015 16:1 WIB
Anak Sulung, Ansor Penting Bagi Masa Depan NU
Anak Sulung, Ansor Penting Bagi Masa Depan NU

Muara Dua, NU Online
Gerakan Pemuda Ansor sebagai anak sulung Nahdlatul Ulama (NU) ialah penting bagi masa depan organisasi didirikan KH Hasyim Asyari pada 1926. Demikian disampaikan Kiai Mohammad Syakur Tarmidzi, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, Kampung Karet Jaya, Kecamatan Buay Pemaca, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan.<>

"Saya berharap, Pendidikan Kepemimpinan Dasar atau PKD PC GP Ansor OKU Selatan ini menghasilkan pemimpin mendatang yang sukses, yang handal, yang bertanggungjawab terhadap Aswaja," kata Kiai Syakur, di Muara Dua, Jumat (13/11). 

Di tangan para pemuda, kata Kiai kelahiran Tulungagung, Jawa Timur 1971 tersebut melanjutkan, masa depan umat itu berada. "PKD ini, semoga bisa melahirkan anak-anak muda NU yang handal," kata dia lagi.

Pada kegiatan PKD I PC GP Ansor OKU Selatan berlangsung Kamis-Jumat  (12-13/11) bertema ‘Bersinergi Menyatukan Hati Menolak Radikalisme dan Ekstrimime di Bumi Serasan Seandanan’, Kiai Syakur meminta Sekretraris PW GP Ansor Lampung Muhyidin Thohir yang merupakan instruktur nasional bisa mentransfer materi dengan baik tanpa ada gangguan sinyal.

"Jangan sampai hanya sekedar pelatihan tanpa ada hasil. Jangan tanggung-tanggung memberi materi bagi kader-kader muda NU yang jika diumpakan masih 'babad alas' di daerah ini," kata dia. (Gatot Arifianto/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG