IMG-LOGO
Internasional

Pengungsi Suriah Takut Perubahan Opini Publik di Eropa

Rabu 18 November 2015 1:30 WIB
Bagikan:
Pengungsi Suriah Takut Perubahan Opini Publik di Eropa

Berlin, NU Online
Pengungsi Suriah dan Irak di Jerman takut serangan teror di Paris akan semakin menggeser opini publik terhadap kebijakan menerima pencari suaka yang ditempuh pemerintah Berlin.
<>
Segerombolan pria, sambil merokok, membicarakan serangan paling mematikan di Eropa sejak 2004 itu di luar bandara Tempelhof, Berlin, yang adalah bangunan kreasi Hitler untuk memamerkan kekuasaan Nazi yang kini berfungsi sebagai tempat menampung para pencari suaka.

Latar belakang diskusi mereka itu adalah tuntutan ramai para politisi sayap kanan Eropa untuk dihentikannya arus migran ke Eropa yang menurut beberapa dari mereka dianggap sebagai selubung ideal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) untuk menyelundupkan kaum militan, kendati belum ada bukti mengenai hal itu.

Nabil (27), seorang warga Suriah dari Raqa yang menjadi ibu kota ISIS, sulit mempercayai ada paspor Suriah di dekat jenasah salah seorang penyerang Paris. Dia meyakini itu adalah konspirasi yang sudah menjadi ungkapan umum di dunia Arab.

"Dan Prancis terkenal dengan para ekstremis. Saya mengkhawatirkan opini publik," sambung dia sembari memasukkan kedua tangnnya ke saku jaket warna merahnya pada malam yang dingin itu, sedangkan dua anak berusia sekitar enam tahun lewat di depannya mengenakan celana pendek dan T-shirt.

Nizar Basal, warga Suriah yang berasal dari Hama, malah berterus terang.

"Tentu saja ada bom waktu masuk bersama pengungsi," kata pria berusia 49 tahun yang bekerja sebagai guru les ilmu komputer di Abu Dhabi sebelum masuk Jerman bulan lalu.

"Tetapi pertanyaannya adalah apa yang akan terjadi pada kami? Apa pandangan orang terhadap kami? Mereka akan menganggap kami musuh."

Pemerintah Jerman mengatakan setelah serangan Paris yang menewaskan paling sedikit 129 orang Jumat malam pekan lalu itu, dinas-dinas keamanannya telah mengintensifkan pengawasan para aktivis sayap kanan radikal karena mengkhawatirkan kemungkinan serangan balas dendam terhadap pengungsi.

Media Jerman juga melaporkan bahwa pemerintahnya hendak memperkuat keamanan di tempat-tempat penampungan pengungsi.

Polisi Jerman telah menahan seorang warga Aljazair karena berkaitan dengan serangan Paris, kata para pejabat setempat.

Sejauh ini selama tahun ini sudah terjadi sekitar 690 aksi pembakaran dan serangan-serangan lainnya ke kamp-kamp pengungsi manakala Jerman bersiap menerima sekitar satu juta orang pencari suaka.

Banjir manusia ini meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk membatalkan kebijakan menerima pengungsi, selain merenggangkan koalisi pemerintahan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Mohammad (31) yang bekerja di toko makanan di Suriah sebelum perang meletus di sana, khawatir terhadap mengerasnya opini publik di Jerman.

"Kami telah melarikan diri dari kematian, kami tidak ingin siapa pun mati. Ini masalah yang akan mempengaruhi pengungsi," kata dia.

Falah (48) yang memiliki toko jam tangan di Baghdad sebelum kabur ke Turki, berusaha bijak.

"Ada bom bunuh diri setiap 15 menit di Irak," kata dia. Dia kemudian menunjuk foto Merkel pada selponnya seraya berkata, "Dia harapan kami."

Basal si guru mengatakan dia akan menghadiri aksi solidaritas di Berlin akhir pekan ini demi menghormati korban serangan teror di Paris.

"Kami tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Tidak ada air mandi di sini, kami sudah dua minggu tidak mandi," kata dia seperti dikutip Reuters. (Antara/Mukafi Niam)

Bagikan:
Rabu 18 November 2015 19:2 WIB
Lewat Karya, Siswa Madrasah Ini Sabet Medali Emas di Kroasia
Lewat Karya, Siswa Madrasah Ini Sabet Medali Emas di Kroasia

Jakarta, NU Online
Siswi kelas 7 MTs Surya Buana Kota Malang Khanza Iliyina Syafa terpilih sebagai peraih medali emas pada event internasional di Kroasia. Khanza mempresentasikan karya ilmiahnya terkait lingkungan hidup di forum 40th International Invention Show, 11th Invention and Prototype Show and Student Business Plan Competition di Karlovac Croatia, Kamis-Sabtu (5-7/11).
<>
Karena ilmiahnya, Khanza mendapatkan penghargaan istimewa dari Polandia dan Taiwan, serta medali emas dari Inova Croatia. Satu-satunya wakil asal Indonesia ini mempresentasikan karyanya berjudul The Utilization of Food Waste as An Alternative to feed Cats.

“Karya ilmiah itu dipresentasikan Khanza dengan baik, sehingga menarik perhatian para juri, baik yang dari Kroasia maupun dari Taiwan. Mereka heran, anak kelas 7 MTs sudah memiliki gagasan yang cemerlang untuk melindungi dan merawat lingkungan,” kata pimpinan Yayasan Bahana Cita Persada Malang yang menaungi MTs Surya Bahana Sri Istuti Mamik, Selasa (17/11).

Apresiasi berdatangan atas gagasan-gagasan yang ditawarkan karya Khanza terkait ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Menurut Mamik, Khanza dan pelajar Mts Surya Bahana pada umumnya terlatih menuangkan gagasan dalam karya ilmiah.

“Setiap akhir semester mereka diharuskan menulis satu karya ilmiah dan dipresentasikan di hadapan guru dan siswa. Jika karya ilmiah itu telah memenuhi ketentuan, maka karya itu akan diajukan pada forum kompetisi-kompetisi ilmiah. Salah satu yang berhasil adalah karyanya Khanza,” jelas Mamik, yang pernah menjadi Kepala MTsN 1 Malang periode 2000-2007. 

Mamik yang mendampingi Khanza di Kroasia diberikan kesempatan oleh otoritas setempat untuk bertemu dengan Presiden Kroasia. (Red Alhafiz K)

Sumber kemenag.go.id

Selasa 17 November 2015 23:30 WIB
Perlukah Serangan Teror Diceritakan pada Anak-anak?
Perlukah Serangan Teror Diceritakan pada Anak-anak?

Paris, NU Online
Seiring dengan banyaknya pemberitaan mengenai serangan teror di Paris maka banyak orang tua yang kebingungan bagaimana cara menjelasakan kejadian tersebut kepada anak-anak yang juga mengetahui kejadian itu melalui media. 
<>
Kebanyakan ahli psikologi anak percaya anak-anak harus diberitahu, namun orang tua pun harus berhati-hati dalam menyampaikannya agar tidak menimbulkan kecemasan. Di atas itu semua, orang tua pun dituntut untuk menjelaskan tanpa menunjukkan emosi atau rasa menderita di hadapan anak.

Bernard Golse, kepala psikologi anak sebuah rumah sakit anak-anak terkemuka di Prancis, Necker, menjelaskan bahwa orang tua bisa memulai pembicaraan kepada anak-anak mulai dari usia tiga tahun. 

"Mereka merasakan penderitaan dan kecemasan dari orang dewasa. Namun tidak mengatakan apa-apa justru lebih mengkhawatirkan bagi mereka karena mereka akan membayangkan hal yang lebih buruk," kata Bernard Golse kepada AFP, Senin.

"Tidak ada yang salah berbicara tentang hal itu. Tapi tidak berbicara tentang hal ini akan selalu menjadi buruk," tambah Golse.

Namun ahsi psikologi Jeanne Siaud-Facchin menjelaskan bahwa anak yang berusia di bawah enam tahun lebih baik "tidak diceritakan " karena sampai usia tersebut anak-anak belum memiliki kemampuan untuk memahami.

"Tidak ada aturan," katanya, "Tapi saya pikir penting untuk membiarkan mereka pada dunia anak dan tidak menceritakan pada melalui gambar atau kata-kata karena mereka hanya akan mengambil emosinya tanpa memahami maknanya," kata Siaud-Facchin.

"Satu-satunya hal yang mereka mengerti adalah kekhawatiran dan rasa takut," katanya.

Namun jika mereka mengajukan pertanyaan, orang tua tidak boleh berbohong, lanjut Siaud-Facchin.

"Lebih baik untuk agak dikaburkan. Katakanlah bahwa 'pejuang telah menyerang negara' atau Anda cemas ada hal-hal serius terjadi di dunia orang dewasa yang tidak berkaitan dengan dunia mereka,"tambahnya.

"Beberapa orang tua mengatakan kepada diri mereka sendiri bahwa mereka salah untuk benar-benar jujur kepada anak. Tapi anak-anak tidak harus kami ajak bicara mengenai hal-hal tertentu." katanya.

Di sisi lain, anak-anak berusia enam tahun ke atas sangat penting untuk diceritakan, lanjut Siaud-Facchin, terutama jika kemungkinan mendapatkan cerita dari pihak lain di sekolah, seperti guru atau di taman bermain.

Ciptakan rasa aman

Jika memang ingin menjelasakan kepada anak, orang tua hendaknya menghidari kata-kata sadis seperti "pembantaian", "pembunuhan" atau "pertumpahan darah". 

"Kata-kata itu akan menciptakan rasa takut lebih dari yang gambar lakukan. Mereka membawa kekerasan emosional," kata Caroline Gaertner, jurnalis dari koran mingguan anak-anak terkemuka di Prancis.

Dia juga mempertanyakan apakah orang tua perlu menggunakan kata-kata seperti "perang" dan "terorisme", dengan alasan bahwa pengertian perang bagi seorang anak adalah "pertempuran di mana-mana".

Namun menurut Siaud-Facchin, "perang" adalah kata yang paling berarti untuk anak-anak.

"Mereka telah mendengar pembicaraan tentang ini ketika masih belia, kemudian ada juga di kelas sejarah mereka. Anda bisa mengatakan mereka bahwa terorisme adalah jenis baru dari perang, prajurit yang ingin melawan kami, tapi tidak perlu masuk ke rincian," katanya.

Dalam masyarakat yang disesaki informasi, memang sulit menyembunyikan berita utama namun Siaud-Facchin mengatakan orang tua harus berperan sebagai pelindung ketia informasi tentang kekerasan menyebar.

"Jika mereka mendengar atau melihat hal-hal yang membuat takut, orang tua ada untuk bertindak sebagai penyaringnya," kata psikolog.

"Jika anak-anak takut, katakan bahwa Anda juga merasakannya. Tapi yakinkan dengan mengatakan bahwa mereka tidak dalam bahaya, ada tindakan perlindungan yang dilakukan di Prancis dan Anda berada di sana untuk melindungi mereka," katanya.

Golse dari rumah sakit anak-anak Necker mengatakan berbagi emosi juga baik untuk semua orang. Namun tidak untuk menyampaikan kecemasan mengenai masa depan anak-anak yang hidup di masa sekarang.

"Sebagai orang tua, Anda harus memiliki beberapa sudut pandang tertentu," (Antara/Mukafi Niam)

Selasa 17 November 2015 21:30 WIB
Inilah Daftar Pembunuh dan Buron Pembantaian di Paris
Inilah Daftar Pembunuh dan Buron Pembantaian di Paris

Jakarta, NU Online
Prancis, yang bersama dengan Belgia tengah melancarkan perburuan besar-besaran terhadap orang-orang yang terlibat dalam serangan yang menewaskan paling sedikit 129 orang di Paris Jumat malam pekan silam, tengah berjuang mengungkapkan identitas para penyerang dan tersangka utama teror itu.
<>
Berikut daftar beberapa dari tujuh pelaku serangan yang mati, selain juga beberapa nama yang masuk penyelidikan, seperti dikutip Reuters.

Para Pembunuh yang Mati:

- Ismael Omar Mostefai (29), lahir pada 21 November 1985), warga Prancis keturunan Aljazair yang terlibat dalam serangan ke balai konser Bataclan, tinggal di kawasan Chartres, sebelah barat daya Paris. Lahir di Courcouronnes, selatan Paris. Sumber: Kantor kejaksaan Prancis.

Nama ini sudah masuk pengawasan dinas intelijen Prancis dengan kategori "awas S" pada 2010 karena telah teradikalisasi. Dia diyakini pernah pergi ke Turki pada akhir 2013, dan para penyidik kemudian menduga dia telah pergi ke Suriah. Seorang pejabat pemerintah Turki mengatakan Turki pernah mengontak Prancis mengenai Mostefai pada Desember 2014 dan Juni 2015 namun baru setelah serangan Paris ini pihak Prancis meminta keterangan mengenai Mostefai.

- Samy Amimour (28), lahir pada 15 Oktober 1987, terlibat dalam serangan ke Bataclan. Warga Prancis dari Drancy, Saint Denis, utara Paris. Sudah menjadi daftar perintah penangkapan internasional sejak akhir 2013. Sudah menjadi objek penyelidikan resmi sejak Oktober 2012 karena dicurigai terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan terorisme dengan berencana pergi ke Yaman.  Sumber: Kantor kejaksaan Paris. Seorang sumber kejaksaan menyebutkan Amimour diyakini pergi ke Suriah pada akhir 2013.

- Brahim Abdeslam (31), lahir pada 30 Juli 1984, kakak dari Salah Abdeslam, tersangka kunci yang masih buron. Warga Prancis yang tinggal di Belgia. Meledakkan diri di cafe Comptoir Voltaire, Paris. Sumber: Pengadilan Prancis.

- Bilal Hadfi (20), lahir pada 22 Januari 1995. Terlibat dalam serangan di Stadion Stade de France. Sumber: Pengadilan Prancis.

- Lainnya: Pembom bunuh diri yang terlibat dalam serangan ke Stadion Stade de France. Paspor ditemukan di samping jenasah pembom bunuh diri bernama Ahmad Al Mohammad (25), kelahiran 10 September 1990, berasal dari Idlib, Suriah barat daya. Paspor ini telah diperiksa namun sidik jarinya sesuai dengan cetakan sidik jari terdaftar dengan nama yang sama di Yunani pada Oktober 2015. Sumber: Kantor kejaksaan Prancis.

Tersangka Utama yang Masih Buron:

- Abdelhamid Abaaoud, warga Belgia, tersangka perancang serangan, tampaknya di Suriah. Sumber: Pengadilan Prancis.

Radio RTL menyebutkan bahwa Abaaoud adalah warga distrik Molenbeek di Brussels. Media di Belgia menyebut Abaaoud terlibat dalam serangkaian serangan terencana di Belgia yang digagalkan polisi Januari silam. Media juga melaporkan tahun lalu bahwa pria berusia 27 tahun itu adalah abang dari bocah berumur 13 tahun yang meninggalkan Belgia untuk menjadi petempur di Suriah.

- Salah Abdeslam (26), warga Prancis kelahiran Brussels, 15 September 1989. Sumber: surat perintah yang dikeluarkan polisi Prancis, sumber polisi.

Tersangka Penyewa Kendaraan VW Polo Hitam untuk Serangan Paris.

Di Belgia:

Dua dari tujuh orang ditangkap pada penggerebekan 14 November kini ditahan atas tuduhan terorisme. Mohammad Abdeslam, kakak satunya lagi dari Salah dan Brahim (mati), adalah di antara lima orang yang dibebaskan setelah menghadapi pertanyaan awal polisi. Yang menjadi pusat perhatian kini adalah Molenbeek, sebuah distrik miskin di Brussels yang menjadi tempat tinggal banyak imigran muslim.

Di Prancis:

Polisi menangkap 25 orang dalam penggerebekan besar-besaran terhadap para tersangka militan islamis Ahad malam lalu. (Antara/Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG