IMG-LOGO
Daerah

Lazisnu Klaten Arahkan Pengelola Zakat Produktif

Rabu 18 November 2015 23:3 WIB
Bagikan:
Lazisnu Klaten Arahkan Pengelola Zakat Produktif

Klaten, NU Online
Lembaga Zakat, Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) kabupaten Klaten mengadakan pelatihan pengelolaan program zakat produktif, Senin (16/11). Kegiatan yang diikuti puluhan calon penerima zakat ini diadakan di aula kantor PCNU Klaten.
<>
Ketua Lazisnu Klaten Muh Cahyanto menjelaskan, kegiatan pengarahan ini penting dalam rangka pendampingan kepada para mustahiq.

“Pengarahan dan penjelasan mengenai program zakat produktif kepada 25 calon penerima zakat ini penting, supaya mereka dapat memahami dan dapat melaksanakan program ini sesuai dengan petunjuk yang diberikan,” terang Cahyanto.

Cahyanto berharap, program ini nantinya dapat meningkatkan pendapatan mustahiq dan membinanya menjadi seorang wirausaha.

“Di samping kami beri penjelasan bagaimana mengelola usaha dan keuangannya, mereka juga kami beri motivasi dengan memutarkan film usahawan yang memulai usahanya dengan modal kecil,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, kegiatan pengarahan dilakukan bersama pendamping program, yang nantinya akan mendampingi mereka dalam mengelola dana zakat produktif ini.

“Zakat ini merupakan pokok agama sangat penting dan strategis dalam Islam. Jika sholat membentuk kesalehan pribadi, zakat akan membentuk kesalehan sosial seorang muslim,” pungkas Cahyanto. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Bagikan:
Rabu 18 November 2015 20:30 WIB
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim

Sidoarjo, NU Online
Pelajar NU Sidoarjo kembali menggelar acara rutinan setiap bulan sekali yakni Maulid Diba' wa Ta'lim yang ke XI di Masjid Maslakhul Huda Desa Wonoayu pada Ahad, 15 November 2015. Acara ini dihadiri oleh PAC/PKPT IPNU-IPPNU se-kabupaten Sidoarjo. 
<>
Gema sholawat berkumandang dengan merdunya sejak acara dimulai pada pukul 08.00-11.30. 

"Acara ini merupakan momentum untuk menjaga budaya shalawat tetap terjaga di kalangan pelajar Nahdliyin," tutur Mohammad Hendra selaku ketua PAC IPNU-IPPNU dalam sambutannya. 

KH Ahmad Imam Jazuly dalam mauidhoh hasanah mengajak hadirin untuk mempertahankan tradisi dan amaliyah yang baik agar mendapat manfaat yang baik (Zamroni/Mukafi Niam)

Rabu 18 November 2015 20:5 WIB
Pelantikan IPNU-IPPNU NTB Berlanjut Lakmud
Pelantikan IPNU-IPPNU NTB Berlanjut Lakmud

Lombok, NU Online
Wakil Ketua Umum PP IPNU Farid Afif melantik Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU NTB masa khidmat 2015-2018. Usai pelantikan, sebanyak 50 kader pelajar NU perwakilan pesantren NU se-Lombok, mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) di pesantren Abhariyah Jerneng Labuapi Lombok Barat, Ahad (15/11).
<>
Hadir dalam pelantikan ini Kepala Kementrian Agama Nusa Tenggara Barat Drs H Sulaiman Hamid yang juga Ketua Pembina IPNU NTB. Selain itu tampak hadir Ketua DPD KNPI Lombok, dan sejumlah pembina IPNU-IPPNU NTB serta ratusan santri.

Rais Syuriyah PCNU Lombok Barat Tgh Ulul Azmi memimpin doa dalam acara ini.

"Kami apresiasi kegiatan pelantikan ini karena dirangkaikan dengan Lakmud," kata Afif.

Ia berpesan kepada pimpinan wilayah dan cabang IPNU di NTB agar aktif berkoordinasi dan komunikasi dangan NU wilayah maupun cabang setempat. "Kami di pusat sering dapat teguran dari orang tua NU karena IPNU-IPPNU yang ada di wilayah maupun cabang tidak ada komunikasi yang baik," katanya.

Karena itu, komunikasi harus dilakukan dengan baik di samping menjalankan kaderisasi organisasi.

Sementara itu H Sulaiman berharap agar IPNU-IPPNU memiliki rancangan yang jelas baik program jangka pendek maupun jangka panjang. "Agar satu priode ini target dan capaian-capaiannya jelas," harapnya. (Hadi/Alhafiz K)

Rabu 18 November 2015 18:1 WIB
NU Trangkil Bahtsul Masailkan Islam Nusantara
NU Trangkil Bahtsul Masailkan Islam Nusantara

Pati, NU Online
Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Trangkil Pati, Jawa Tengah mengadakan bahtsul masail atau forum kajian keagamaan yang mengkaji tentang Islam Nusantara di Masjid Al-Huda desa Pasucen Trangkil Pati, Selasa (17/11). Bahtsul Masail ini dipimpin oleh KH Abdul Madjid selaku Wakil Rais Syuriyah MWCNU Trangkil.<>

Peserta terdiri dari para kiai utusan ranting se-Kecamatan Trangkil, Pengurus MWCNU Trangkil, Ranting dan tokoh masyarakat juga aktif mengikuti, seperti Rais Syuriyah KH. Badruddin Syathibi, Ketua MWCNU Taifur Alam, SAg, Sya’roni, MPd, dan para kiai setempat. 

Dalam Bahtsul Masail ini beberapa akademisi datang, yaitu Dr H. Abdul Karim, H. Zumradi, M.Ag, dan Dr. Jamal Ma’mur, MA. Dalam perdebatan sengit tentang Islam Nusantara akhirnya disepakati bahwa Islam Nusantara adalah Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah dengan sifat tasawwuth (moderat), tasamuh (toleran), infithah (inklusif), tawazun (seimbang), dan i’tidal (tegak lurus, adil) yang dipraktikkan oleh Walisongo dan para ulama pendiri NU, seperti Hadlratussyekh KH M Hasyim Asy’ari.

Adapun metodologi yang digunakan Islam Nusantara adalah sebagai berikut: Pertama, berorientasi kepada tujuan hukum syariat (maqasidus syariah), yaitu menjaga agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan. Kedua, menggunakan sumber-sumber hukum utama dan pengembangannya, seperti al-Qur’an, hadis, ijma’, qiyas, maslahah, istihsan, ‘urf, dan saddu al-dzari’ah. Ketiga, melakukan kontekstualisasi teks-teks fiqh. Keempat, verifikasi mana ajaran yang ushul (pokok) yang tidak berubah dan mana ajaran yang furu’ (cabang) yang bisa berubah. Kelima, menjadikan fiqh sebagai etika sosial, bukan hukum positif Negara. 

Para peserta bahtsul masail dihimbau untuk mengembangkan manhaj istinbath hukum, dari qauli (tekstual) menjadi manhaji (metodologis) sesuai keputusan Munas Lampung tahun 1992 yang memperbolehkan bermadzhab secara manhaji dengan aplikasi kaidah fiqh (qawaid fiqhiyyah) dan kaidah ushul fikih (qawaid ushuliyyah) jika tidak ada pendapat ulama yang mampu menjawab masalah. Referensi yang digunakan juga harus bersifat jama’i (kolektif) yang saling melengkapi dalam satu rumusan yang komprehensif, karena masalah yang dijawab bersifat jama’i, tidak hanya berkaitan dengan satu hal saja.

Dalam bahtsul masail ini para peserta menjadi sadar bahwa mendakwahkan Islam harus mempertimbangkan konteks sosial yang ada supaya Islam bisa diterima dengan legowo. Para Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Muria, sangat lihai membaca budaya lokal sebagai pintu masuk mendakwahkan ajaran-ajaran Islam. Budaya lokal tidak dijadikan penghalang dalam berdakwah, justru sebagai senjata dalam berdakwah dengan memberikan sentuhan nilai-nilai Islam sehingga masyarakat tertarik dan masuk Islam tanpa paksaan, tapi dengan kesadaran dirinya sendiri. 

Tradisi slametan, manaqiban, tahlil, halal bihalal, dan lain-lain merupakan karya sosial religius Walisongo yang harus dilestarikan karena mampu menggabungkan dimensi keislaman dan budaya lokal sebagai kekayaan bangsa yang luar biasa. Bisa dibayangkan jika Walisongo datang kemudian melarang praktik-praktik budaya lokal yang ada, maka kemungkinan yang terjadi adalah perlawanan sengit masyarakat terhadap ajaran yang dibawa Walisongo. Islamisasi budaya yang menjadi strategi dakwah Walisongo terbukti efektif mengislamkan orang-orang Jawa yang sebelumnya memeluk ajaran Hindu-Budha. Walisongo mengikuti cara dakwah Nabi yang mengedepankan keteladanan dan kelembutan, tidak dengan paksaan dan permusuhan. (Jamal Mamur/Fathoni)







IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG