IMG-LOGO
Pendidikan Islam

Untuk Memajukan Pendidikan Islam, Kehadiran Negara Belum Total

Kamis 19 November 2015 9:15 WIB
Bagikan:
Untuk Memajukan Pendidikan Islam, Kehadiran Negara Belum Total

Jakarta, NU Online
Hingga sekarang, pendidikan Islam dengan berbagai bentuk lembaganya masih mengalami diskriminasi, terutama dalam alokasi anggaran negara. Dikotomi anggaran pendidikan oleh negara ini menyebabkan ketimpangan. Sehingga guru-guru yang turut menciptakan generasi berkualitas seperti halnya guru ngaji tidak mempunyai akses atau alokasi anggaran.<>

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, HM Ishom Yusqi dalam acara Diskusi dan Bedah Buku ‘Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam’, Rabu (18/11/2015) di Aula Kantor P3M, Jl Cililitan Kecil, Jakarta Timur.

Dalam acara bedah buku yang diterbitkan oleh Kemenag RI serta ditulis oleh para penulis muda ini, Ishom Yusqi didampingi narasumber lain yaitu editor buku, Abi S Nugroho, dan Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Abdul Waidl.

Ishom Yusqi yang juga Direktur Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta ini selanjutnya menjelaskan, bahwa dengan hadirnya buku ini, Ditjen Pendis Kemenag RI sebagai lembaga yang menaungi pendidikan Islam di seluruh Indonesia ingin mengemukakan para manusia luar biasa di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Mereka mengabdikan dirinya untuk mengajar ngaji maupun menjadi guru madrasah dengan pengahsilan kecil bahkan tanpa pamrih sekalipun.

“Kami ingin menunjukkan kepada para pengambil kebijakan, banyak guru-guru di luar sana yang dengan ikhlas mengabdikan dirinya untuk kemajuan pendidikan anak-anak bangsa walau tanpa upah memadai dan perhatian pemerintah,” ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Artinya, Ishom berharap dikotomi anggaran pendidikan tidak terjadi lagi. Selama ini anggaran yang sangat besar untuk pendidikan yaitu 20 persen, masih berpihak pada pendidikan umum yang secara kuantitas institusi jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan lembaga pendidikan Islam. “Karena pendidikan Islam mencakup RA hingga perguruan tinggi, termasuk pesantren yang di dalamnya pun terdapat berbagai lembaga pendidikan Islam, seperti Ma’had Aly, dan madrasah yang terdiri dari tingkat awaliyah, wustho, ulya,” terangnya.

Bayangkan, kata Ishom, dari anggaran pendidikan sejumlah 445 Trilyun, Kemenag hanya mendapatkan anggaran sebanyak 46 Trilyun, sedangkan Kemendikbud sebesar 53 T. Sejumlah 46 T yang digelontorkan, Kemenag harus mendistribusikannya dari pusat hingga ke daerah, dalam bentuk DAU, DAK, maupun dana BOS. Sedangkan 53 T hanya untuk mendanai Kemendikbud di tingkat pusat.

Jika diprosentase, lanjutnya, anggaran pendidikan Islam hanya 10,5 persen sehingga jika anggaran sesuai UU Sisdiknas 20 persen, Kemenag membutuhkan dana 80 T yang selama ini hanya 46 T. Untuk mendistribusikan dana ke berbagai daerah, Kemendikbud sendiri memperoleh sejumlah 240 T.

“Dari ketimpangan anggaran inilah, kehadiran negara belum total untuk memajukan pendidikan Islam sehingga tujuan kami untuk memajukan, terganjal dengan alokasi anggaran yang minim mengingat pesantren saja mencapai 30 ribu lebih di seluruh Indonesia,” ucap Ishom.

Peran negara

Negara mempunyai tiga peran dalam pendidikan, yaitu rekognisi atau pengakuan, regulasi atau peraturan perundang-undangan, dan fasilitasi dalam bentuk anggaran, sarana prasarana, dan lain-lain.

Untuk ranah rekognisi, kata Ishom, pendidikan Islam juga banyak mengalami diskriminasi. Pondok pesantren yang memiliki peran besar dalam memajukan pendidikan, belum mendapatkan alokasi dana dari APBN. Madrasah setingkat Awaliyah, Wustho, dan Ulya tidak mendapat pengakuan sehingga tidak mempunyai akses anggaran negara.

“Ditjen Pendis terus melakukan advokasi untuk hal ini. Kemenag juga selama ini hanya menjadi semacam subordinat Kemendikbud, karena proses sertifikasi dan pembuatan NUPTK harus kulonuwun (permisi, meminta izin, melalui persetujuan, red) Kemendikbud,” terangnya.

Untuk regulasi, lanjutnya, pendidikan Islam juga seperti dianaktirikan. Sedangkan jika melihat aspek fasilitas oleh negara, unit cost Madrasah Aliyah per siswa Rp 1.200, sedangkan SMA mencapai Rp 1.400.

Dalam paparan terakhirnya, Ishom menjelaskan, terbitnya buku ini memberikan pelajaran, pendidikan anak bangsa harus terus berjalan meski tanpa gaji, tunjangan, BOS, dan lain-lain. Di tengah komersialisasi pendidikan, ternyata masih banyak guru ngaji dan madrasah terus berjuang dan mengabdi tanpa pamrih untuk menciptakan generasi bangsa yang cerdas.

“Mereka digerakkan oleh ruh tarbiyah atau spirit of education. Karena sebagian besar mereka memahami, bahwa zakatnya ilmu adalah mengajar,” tutup Ishom.

Para pejuang yang menginspirasi

Ishom menyampaikan pemaparan materi setelah Abi S Nugroho melakukan presentasi. Abi mengemukakan latar belakang penulisan buku yang berkisah tentang para pejuang pendidikan Islam di berbagai pelosok daerah, bahkan di daerah rawan, para pejuang tersebut mendirikan madrasah. Dalam pandangan Abi, kisah para pejuang ini dapat diklasifikasikan pada ranah wilayah, ekonomi, kepeloporan, dan inspirasi.

Sedangkan Abdul Waidl menjelaskan tentang visi JPPI yang terus melakukan advokasi pendidikan di Indonesia termasuk dana, anggaran, dan lain-lain. Menurutnya, diskusi dan bincang tentang pendidikan merupakan agenda rutin JPPI untuk meningkatkan kapasitas SDM para aktivisnya.

Mengenai buku, Mas Waidl, sapaan akrabnya menilai, bahwa buku ini sangat ringan untuk dibaca dan dipahami karena dikemas dengan tulisan yang menarik. Namun demikian, kata Direktur P3M ini, kontennya perlu diperkuat oleh makna-makna dari kisah para pejuang pendidikan Islam tersebut. (Fathoni)

Bagikan:
Kamis 19 November 2015 14:1 WIB
Pesantren Maslakul Huda Pencetak Pakar Ushul Fiqh
Pesantren Maslakul Huda Pencetak Pakar Ushul Fiqh

Pesantren Maslakul Huda (PMH) Putra Polgarut Utara Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, merupakan peninggalan Almaghfurlah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, Rais Aam Syuriah PBNU tiga periode (1999-2004, 2004-2010, 2010-2014). Kiai Sahal meneruskan kepemimpinan pesantren ini dari paman dan ayahnya.<>

Secara historis, berdirinya Pesantren Maslakul Huda tidak diketahui pasti. Namun, rintisan cikal bakal PMH dapat dipastikan sudah muncul sekitar tahun 1910-an. Waktu itu, Kiai Mahfudh Salam (ayah Kiai Sahal Mahfudh) selesai menimba ilmu dari Makkah. Ia lalu menyempatkan diri tabarukan (belajar ulang) sebentar kepada Hadratusy Syeikh KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Saat itu, Kiai Mahfudh sudah diberikan kesempatan mengajar oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Ketika ia minta diri pulang kampung untuk merintis pesantren di Kajen, beberapa santri yang dulu menjadi muridnya di Tebuireng mengikutinya dan menjadi santri pertama di Maslakul Huda.

Dalam perjalanannya, pesantren ini mengalami tiga kali pergantian pengasuh. Setelah KH Mahfudh Salam wafat, lalu digantikan adiknya, KH Ali Mukhtar. Kemudian, kendali pesantren dipegang KH MA Sahal Mahfudh.

Kiai Sahal dikenal melalui sejumlah karyanya sebagai ulama ushul (ahli Ushul Fiqh). Kiai nyentrik ini merupakan satu dari sedikit ulama yang memberi perhatian khusus bagi perkembangan Ushul Fiqh.

Hal tersebut terlihat dari dua karyanya di bidang Ushul Fiqh: al-Bayanul Mulamma’ ‘An Alfadzil Luma’ yang merupakan catatan tambahan (hasyiah) atas kitab al-Luma’ karya Imam al-Syairazi (w. 476 H) dan kitab Thariqatul Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Karya kedua ini merupakan hasyiah atas kitab Ghayatul Wushul karya Syeikh Zakariya al-Anshari (w. 926 H).

Selain menelurkan dua karya penting di bidang Ushul Fiqh tersebut, Mbah Sahal juga giat menggalakkan pendalaman ilmu ini bagi civitas pesantren. Dalam pelbagai makalahnya yang dibukukan dalam “Nuansa Fiqh Sosial”, misalnya, sangat jelas menunjukkan bahwa bagi pemerhati Fiqih, mendalami Ushul Fiqh merupakan keniscayaan untuk menjaga agar hukum Fiqih tetap dinamis dan kontekstual.

Tanpa Ushul Fiqh, lambat laun Fiqih akan jatuh ke jurang rigiditas dan kejumudan. Melalui Ushul Fiqh dimungkinkan kontekstualisasi dalam melakukan istinbath dan ilhaq hukum Fiqh. Ushul Fiqh merupakan salah satu disiplin ilmu pokok dalam konstelasi keilmuan Islam, khususnya di bidang hukum Islam atau hukum syariah.

Melalui pendalaman ilmu Ushul Fiqh, diyakini mampu membangun konstruksi pemikiran hukum fiqh secara benar, sistematis, dan utuh. Pasalnya, dalam ilmu Ushul Fiqh dikaji landasan-landasan hukum Fiqih, metodologi penggalian hukum (istinbath al-hukm) dan standarisasi elemen-elemen yang terlibat dalam pengambilan hukum Fiqh.

Tidak hanya berkarya soal Ushul Fiqh, Kiai Sahal tiap pengajian Ramadhan juga membaca kitab-kitab Fiqh, misalnya, al-Asbah wa al-Nadzair di bidang Qawaid Fiqhiyah, sebagai perangkat utama mengkaji Fiqh. Para santri sangat antusias menyimak pembacaan kitab tersebut tiap tahunnya. 

Pesantren Takhassus Ushul Fiqh

PMH Putra yang didirikan oleh Kiai Sahal sudah sewajarnya memiliki ikatan keilmuan dan emosional yang sangat kuat terhadap cicit Syeikh Ahmad Mutamakkin ini. Terobosan penting yang digagas pesantren ini agar para santri lebih mengenal pemikiran dan gagasan Kiai Sahal adalah menginisiasi “Pesantren dengan Program Khusus Pendalaman dan Pengembangan Fiqh dan Ushul Fiqh”.

Penerus PMH Putra KH Abdul Ghoffar Rozien mengatakan, pesantren ini hendak menindaklanjuti gagasan dan warisan ide Kiai Sahal tersebut. Pesantren takhassus ini merupakan upaya untuk menggali pemikiran dan meneruskan ide Kiai Sahal tentang gagasan Fiqh Sosial.

Bagi Gus Rozien, sapaan akrabnya, ke depan pesantren perlu mengembangkan kekhasan (distinction) masing-masing karena hampir semua pesantren memiliki potensi tersebut. “Jadi, kekhasan itu bisa di bidang keilmuan, keahlian, pemikiran, atau lainnya,” ujarnya.

Pesantren Maslakul Huda, lanjut Gus Rozien, melihat bahwa Ushul Fiqh di samping menjadi bidang keahlian Kiai Sahal, juga sangat penting untuk para santri melatih cara berpikir logis-sistematis. Pasalnya, mempelajari Ushul Fiqh berarti juga mempelajari ilmu pendukungnya seperti nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, dan qawaid. “Kesemuanya itu sangat rasional,” tegasnya.

Menurut Gus Rozien, menguasai dasar ilmu Ushul Fiqh sama saja membekali para santri perangkat riset keilmuan Islam yang sangat dibutuhkan saat ini. “Saya berharap, pesantren takhassus ini mencetak para santri yang tidak hanya menguasai ilmu hukum Islam dengan kepakaran di bidang fiqh dan ushul fiqh. Namun juga menjadi penggerak masyarakat,” harapnya.

Ketua PP Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU ini menambahkan, pesantren ini dikhususkan bagi para santri yang sudah menguasai teks-teks keagamaan yang membutuhkan pendalaman dalam memahami Fiqih dan Ushul Fiqh. (Musthofa Asrori)

Kamis 19 November 2015 3:3 WIB
PESANTREN AL-HAMIDIYAH
Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern
Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern

Dalam urusan tata kelola, Pesantren Al-Hamidiyah di daerah Sawangan Depok layak menjadi rujukan. Prinsip-prinsip manajemen modern dengan basis fungsi dan kompetensi diterapkan dengan baik. Dengan prinsip ini, pengasuh pesantren pun bukan berasal dari keluarga pendiri pesantren, tetapi merupakan orang lain yang benar-benar memiliki kompetensi dalam bidang agama dan pengelolaan pendidikan.<> Prinsip yang digunakan ini bagaikan sistem yang berlaku di perusahaan dimana CEO-nya tak harus selalu pemegang saham utama, tetapi bisa diserahkan kepada manajer yang kompeten.

Pesantren ini didirikan oleh KH Ahmad Saichu pada tahun 1988. Setelah ia meninggal pada 1995, kepemimpinan pesantren diserahkan pada KH Ali Mustofa Ya’kub, kemudian digantikan oleh KH Hamdan Rasyid, dan sejak tahun 1999 pengasuh pesantren diserahkan pada KH Zainuddin Maksum Ali. Tidak ada periodesasi pengasuh pesantren, mereka hanya mendapat SK pengangkatan. Selama pengasuhnya masih bersedia, tak akan ada penggantian. Seluruh unit pendidikan pesantren dikelola dibawah Yayasan Islam Al-Hamidiyah yang kini dipimpin oleh Imam Susanto Saichu, putra kia Saichu yang menjadi ahli bedak plastik di RSCM.

Pesantren Al-Hamidiyah didirikan oleh KH Ahmad Syaichu pada 17 Juli 1988. Pada awalnya hanya dibuka pendaftaran untuk pelajar Tsanawiyah yang waktu itu langsung penuh. Bahkan di tahun selanjutnya, sebagian santri harus tinggal di masyarakat sekitar pesantren karena asrama memang sudah tidak bisa menampung seluruh santri. Selanjutnya, seiring dengan perkembangan waktu, dikembangkan unit lainnya mulai dari TK, TPQ, dan STAI. Pada tahun 2000-an ini dikembangkan SDIT dan SMP. 

M Timmi Fauzan, humas Pesantren Al-Hamidiyah menjelaskan, dalam hal ini, keluarga KH Saichu membantu mengawasi jalannya pesantren dalam Dewan Pengasuh. Di Al-Hamidiyah, beberapa fungsi penting dipisah, seperti ada bidang SDM yang menangani kepegawaian, gaji, dan lainnya. Ada pula bidang pendidikan dan pengajaran yang mengelola berbagai hal terkait bidang tersebut, dan bidang keuangan. Di luar itu, ada lagi struktur pesantren, sekolah dan lainnya. 

“Keluarga Kiai Saichu sudah memiliki planning soal itu. Beberapa pesantren, ketika pengasuhnya wafat, ada yang suka goyah. Alhamdulillah di sini tidak, manajemennya dibagi rata,” tuturnya. 

Pembagian peran ini membuat transisi kepemimpinan bisa berlangsung dengan mulus jika satu orang yang bertugas berhalangan. Pada pesantren tradisional dengan kiai yang mengatur segalanya, mulai dari SDM-nya, keuangannya, dan lainnya, saat sosok tunggalnya wafat, proses transisi yang tidak mulus bisa menyebabkan eksistensi pesantren menjadi goyah sebagaimana banyak terjadi di beberapa pesantren. 

Kini, antara yang mendaftar dan yang diterima bisa berbanding 2:1. Jumlah santri hanya dibatasi sesuai dengan kapasitas asrama, yaitu 300 putra dan 300 putri. Sementara santri non-mukim sekitar 1200. Tingkat kenyamanan santri juga terus ditingkatkan. Pada awal berdirinya, santri tinggal di asrama hanya beralaskan tikar, tetapi kini sudah tidur di ranjang. Kapasitas santri per kamar juga semakin dikurangi. Awalnya satu kamar dihuni 24 santri, kemudian dikurangi menjadi 21, lalu menjadi 18, dan saat ini 16 santri. Timmi Fauzan menuturkan, pengelola pesantren menargetkan ke depan per kamar hanya dihuni 14 santri.  

“Yayasan berkeinginan, semakin ke sini, harus semakin nyaman,” paparnya. 

Pesantren ini juga dikenal sangat menjaga kebersihan. Ia menjelaskan, pengelolaan kebersihan diserahkan kepada tenaga outsourcing. Santri hanya bertugas menjaga kebersihan di kamarnya masing-masing.  

Untuk biaya, santri dikenakan biaya sebesar 1.450.000 per bulan untuk siswa Tsanawiyah sedangkan untuk siswa Aliyah 1.500.000 yang sudah mencakup seluruh kebutuhan santri di asrama. 

Saat ini, persentase terbesar santri berasal dari Depok dan wilayah terdekat Depok seperti Bogor dan Jakarta Selatan. Dari luar Jawa seperti Jambi dan Papua juga ada, tetapi persentasenya kecil. 

Dengan adanya fasilitas yang nyaman, maka para santri bisa belajar baik. Tak heran banyak santri yang masuk ke universitas negeri favorit seperti UGM, IPB, Unibraw dan lainnya. Bahkan tiga alumni pesantren ini menjadi lulusan terbaik. Ahmad Baihaqi lulus dengan prestasi cum laude di Universitas Diponegoro (2011), Fariz Badiuzzaman lulus cum laude Jurusan Teknik Arsitektur di UGM Yogyakarta (2014), dan Ahmad Bayhaqi, lulus cum laude jurusan Ilmu Kelautan Unibraw (2015). Sengaja nama-nama tersebut dipampang di pintu utama dekat masjid agar bisa menjadi suri tauladan bagi santri lainnya agar memiliki prestasi yang sama atau bahkan melebihi. Dari sejumlah piala yang ada, juga diketahui sejumlah prestasi lain seperti olimpiade matematika, lomba pidato bahasa dan lainnya. Tiga santri MA terbaiknya juga mendapat beasiswa penuh ke Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Bina Antar Budaya.

Sekolah berlangsung dari Senin sampai Jum’at sedangkan hari Sabtu khusus untuk kegiatan kepesantrenan sementara hari Ahad khusus untuk relaksasi atau kunjungan orang tua. Santri diizinkan pulang sebulan sekali. 

Di hari-hari biasa, santri belajar materi kepesantrenan pada malam hari. Kitab-kitab yang dikaji merupakan kitab standar yang diajarkan di pesantren seperti Arbain Nawawi, Bulughul Maram, Akhlak lil Banin/lil Banat, Ushfuriyyah, Nashoihul Ibad, Fathul Qarieb, Alfiyah Ibnu Malik, dan lainnya.

Pesantren memiliki koperasi simpan pinjam untuk guru serta memiliki minimarket yang menyediakan kebutuhan guru dan santri. 

Dengan tata kelola yang baik, pesantren Al-Hamidiyah mampu menjaga visinya untuk menghasilkan generasi penerus yang berprestasi sekaligus religius. Pesantren ini melangkah dengan yakin menjemput masa depan. (Mukafi Niam)

Rabu 18 November 2015 14:1 WIB
Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging
Rajin Beternak, Guru Madin Ini Wujudkan Swasembada Daging

Di sela-sela kesibukannya mengajar ngaji di Madrasah Diniyah desa setempat, merawat kerbau-kerbau anggota kelompoknya adalah pilihan hidup yang dijalani Ustadz Abdul Haris Sholeh dengan sepenuh hati. Hingga ia pun tidak mengenal kata lelah agar kegiatan mengajarnya di Madrasah Diniyah dan mengurus kerbau-kerbaunya tetap berjalan seiring.<>

Di tengah menurunnya populasi Kerbau di Indonesia, Ustadz Haris dengan gigih merawat dan mengembangkan kerbau hingga 630 kerbau per Mei 2015. Dia bersama teman-temannya di Kelompok Tani Ternak (KTT) Kerbau Mahesa Mukti Desa Kebandungan, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah merasa terpanggil untuk membudidaya Kerbau Lumpur Brebes. 

Dari kesibukannya di dunia peternakan ini, tidak jarang Ustadz Haris mengajak santri-santrinya untuk mengenal dunia peternakan. Dia berusaha memahamkan mereka bagaimana cara menyayangi sesama makhluk hidup. Karena baginya, mengenalkan karakter kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan penting sebagai internalisasi nilai-nilai agama.

Haris bercerita, pernah suatu ketika ia melakukan outdoor learning, semacam belajar di luar kelas. Para santri tentu sangat antusias ber-tadabbur alam melalui dunia peternakan, yakni dengan memahami kehidupan hewan. Haris pun tidak ingin terlalu mengekang para santri di dalam kelas atau ruangan belajar. Baginya, para santri bisa menemukan dan berpikir banyak hal ketika mereka dihadapkan pada kondisi yang nyata, tak terkecuali dalam belajar agama sekalipun.

Berkah peternakan kerbau yang dimilikinya benar-benar ingin dia manfaatkan seoptimal mungkin bagi pembelajaran santri-santrinya agar pemahaman agama tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga pemahaman secara kontekstual, secara nyata. Namun demikian, proses mengaji di dalam ruangan juga dilakukan dengan porsi maksimal sebelum para santri belajar di luar ruangan.

Komitmen pengabdian

Usaha menernak kerbau yang dijalaninya tak jarang menemui kendala. Namun demikian, Haris tidak mau mengalah dengan keadaan. Ia menjalani salah satu pekerjaannya dan pengabdiannya (khidmah-nya) itu dengan sepenuh hati sehingga setiap kendala yang muncul dapat dihadapinya dengan tidak mudah mengeluh. 

Kerap kali Haris merasa lelah setelah siangnya menemani kerbau-kerbau mencari makan maupun mandi di kali. Rasa lelah tersebut seketika hilang justru ketika sore harinya harus memenuhi kewajibannya sebagai guru ngaji. Baginya, bertemu dengan para muridnya di Madrasah Diniyah menjadi pengobat lelah setelah seharian bergelut dengan ternaknya.

Yang membanggakan dan membuat dirinya bersemangat dalam menjalani kesibukannya tersebut, usaha peternakan kerbau yang digelutinya mendapat apresiasi dari pemerintah Kabupaten Brebes. Ia dan kelompok ternaknya dinilai mampu mengembangkan peternakan kerbau di Brebes dengan baik dengan melakukan berbagai inovasi dalam mengelola peternakan. Haris pun tidak jarang membantu operasionalisasi Madrasah Diniyah dari hasil peternakannya tersebut.

Wujudkan swasembada daging

Atas ikhtiarnya tersebut, Haris diusulkan menjadi Pelestari Sumber Daya Genetik (SDG) Kerbau Lumpur tingkat Provinsi Jawa Tengah oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes. “Menyayangi binatang, bagian dari ibadah,” katanya. Pria kelahiran Brebes, 12 Juni 1980 silam ini dipandang layak oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes sebagai Pelestari SDG Kerbau Lumpur. Karena terbukti telah mendukung Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau (PSDS/K) tahun 2015 dengan menjunjung kearifan lokal.

Kearifan lokal (local wisdom) yang ia junjung yaitu dengan konsisten dan komitmen dalam melestarikan dan mengembangkan warisan nenek moyang berupa peternakan kerbau tersebut. Baginya, warisan (heritage) ini perlu terus dikembangkan dengan baik sehingga masyarakat dan pemerintah pun memperoleh berkahnya dengan mewujudkan swasembada yang dijelaskan di atas.

Menurut Haris, ternak sebagai rojo koyo dan tabungan sejak Nenek Moyang harus dipadukan dengan pendekatan interdisciplinary approach atau pembangunan peternakan yang melibatkan banyak pihak. Di desanya, dia berkoordinasi dengan kelompok ternak lainnya melakukan kegiatan Pelestarian Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) yang populasinya mulai terancam punah. 

Guru Ngaji itu juga melihat, nasib  para peternak kerbau mulai tergusur kemajuan teknologi pertanian. Untuk itu, dia menggarap 4 hektar usaha tani dengan membawahi 86 anggota dari 4 KTT Pembibit Kerbau se-Desa Kebandungan. Ketua Kelompok Peternak (Kapoknak) Desa Kebandungan itu mengubah pola kehidupan peternak yang lebih terarah sejak 2008. 

“Realita dilapangan, mayoritas kerbau hanya dimiliki oleh peternak kecil dengan sistem tradisional (subsistem) pada lahan marjinal, sempit dengan menggunakan tenaga kerja keluarga yang kurang terdidik,” ujar alumni MA Miftahul Huda Tasikmalaya, Jawa Barat itu.

Di sinilah ia tidak ingin pengalamannya ini hanya dinikmati oleh dirinya sendiri. Bahkan masyarakat dalam kelompoknya perlu bersama-sama dalam mengembangkan peternakan sehingga hasil maksimal pun dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas lagi.

Semangat ustadz beranak dua itu makin tumbuh ketika dirinya menceritakan, bahwa Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyempatkan diri untuk meninjau potensi peternakan di daerahnya. Saat itu, kata Haris, tengah digelar Panen Gudel dan Pedet pada 4 November 2013 silam oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes. 

Panen Gudel dan Pedet, tergolong sukses untuk ukuran Kebandungan, desa terpencil dengan kondisi infrastruktur yang kurang memadai di Kecamatan Bantarkawung. Kesuksesannya dibuktikan dengan kehadiran Bupati beserta jajarannya, Ketua DPRD Brebes, Kepala BPPTP Jawa Tengah, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Peneliti Senior Balitnak, Perguruan Tinggi dan Kelompok Tani Ternak se-Brebes.

Berawal dari acara tersebut, potensi ternak Desa Kebandungan seolah tiada henti dijadikan lokasi kegiatan penelitian seperti dari Lolit Grati Pasuruan, BET Cipelang, Mahasiswa PKL dan BPTP. Bahkan pakar Kerbau sekaligus Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof Tridjoko Wisnu Murti serta Perwakilan Direktorat Bibit Pusat beberapa kali menyambangi kelompok Kerbau binaan Ustadz Haris.

Kegiatan produktif di tempatnya oleh, baik oleh para praktisi maupun oleh para akademisi menjadi keuntungan tersendiri bagi Haris dan kelompok tani ternaknya. Karena hal tersebut tentunya dapat menciptakan inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan dunia peternakan.

Advokasi warga

Merubah pola pikir peternak Kerbau yang mayoritas hanya lulusan SD bahkan masih banyak yang belum melek huruf tidaklah semudah membalikan tangan. Karena mereka harus bisa mencatat atau mengingat perkawinan, menimbang dan mengukur kerbaunya agar menerapkan pola pembibitan (Good Breeding Practices). Namun berkat kesabaran dan keuletan Ustadz Haris, para peternak Kerbau Desa Kebandungan memiliki recording ternak kerbau yang dilaporkan tiap bulan ke Dinas Peternakan Brebes selaku pembina. Kegiatan seperti ini merupakan terobosan tak ternilai sebagai upaya pelestarian kerbau yang sudah sangat  mendesak. 

Atas pengabdiannya ini, Haris bercerita, saat Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes Ir Yulia Hendrawati MSi berkunjung ke kediamannya. Yulian mengaku bangga dengan aktivitas yang dilakukan Haris. Kegiatan produktif yang dilakukan oleh Haris sebagai guru ngaji, menurut Dinas Peternakan Kabupaten sejalan dengan tujuan pihaknya yang tengah melakukan Program Pembibitan yang berkelanjutan agar populasi kerbau dan mutu genetik dapat lebih ditingkatkan. 

Melalui pendekatan Subdistrict raising model, dimana Ustadz Haris selaku Ketua Kelompok bersama pengurus KTT merangsang para pemilik  ternak untuk bersatu dalam kelompok. Kegiatan mereka terkumpul secara kandang dan manajemen, dalam artian reproduksi, pakan, kesehatan, pengolahan dan pemasaran bersatu pada level desa. “Saya dinilai oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes telah sukses menerapkan program Sanak Sekadang (Sehat Ternak Sehat Kandang),” tutur Haris.

Dia menyampaikan, bahwa Yulia memuji upayanya yang telah menggalakkan pengembangan usaha pembibitan Kerbau. Ustadz Haris telah melakukan  pengembangan tiga pilar peternakan, yakni pertama, pengembangan potensi ternak dan bibit ternak (recording yang valid dan berkelanjutan). Kedua, pengembangan hijauan pakan ternak (HPT) di tanah tidur atau tanah bengkok, dan ketiga pengembangan teknologi budidaya dan pembibitan ternak ber-Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB).

Haris juga menyampaikan penuturan Yulia, bahwa keberhasilan dirinya meskipun belum secepat yang dibayangkan, namun dengan memulai para peternak mencatat perkembangan ternak kerbau dan pola perkawinan terseleksi serta tidak mudah menjual ternak, adalah langkah awal yang brilian. 

Keberhasilan Haris di tengah kesibukannya mengajar ngaji anak-anak di Madrasah Diniyah, sangat perlu mendapat apresiasi dalam menerapkan pola budidaya tradisional menjadi peternak pembibit yang diikuti seluruh peternak kerbau di desanya. 

Hal ini menjadi acuan pelestarian dan pengembangan ternak kerbau lumpur yang mulai terpinggirkan oleh modernisasi teknologi pertanian secara umum. Dari karya besar Ustadz Haris sudah mewujudkan spirit ‘Kerbau Lumpur Brebes dari Desa Kebandungan-Bantarkawung untuk Indonesia’.

Dari prestasinya dalam menernak kerbau tersebut, tidak menyurutkan langkah Ustadz Haris untuk tetap membimbing anak-anak di Madrasah Diniyah. Baginya, membimbing dan mendorong anak-anak di desanya untuk mengaji sangat penting untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter. Dari kegiatan menernak kerbau inilah Ustadz Haris berupaya mengajarkan arti kerja keras kepada santri-santrinya. Kerja keras dalam mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat dan agama. 

Keberhasilan Ustadz Haris dalam menjalani semua pengabdiannya itulah yang membuat masyarakat sepenuh hati mempercayainya sebagai ‘komandan’ masyarakat di dalam kelompok tani ternak. Karena tidak mudah mengembangkan peternakan secara bersama-sama dalam sebuah wadah kelompok tani ternak jika tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat. Warga juga makin percaya kepada Ustadz Haris karena pengadian sepenuh hati yang dilakukannya dalam mendidik anak-anak warga desa di Madrasah Diniyahnya. (Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG