IMG-LOGO
Pendidikan Islam

MI Al-Fauzain Buka Kantin Jujur di Tengah Kota

Jumat 20 November 2015 2:1 WIB
Bagikan:
MI Al-Fauzain Buka Kantin Jujur di Tengah Kota

Kalau ada pembeli mengambil sendiri belanjaan, itu disebut pasar swalayan. Tetapi kalau ada pembeli menjangkau sendiri belanjaan, lalu membayarnya dan mengambil sendiri uang kembalian, kita bisa menemukannya di kantin Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Fauzain kelurahan Pondok Pinang, kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
<>
Hampir setiap pagi anak-anak berkemurun di sekitar kantin madrasah. Mereka mengambil sendiri jajanan lalu memasukkan uang seharga jajanan ke dalam kotak uang yang sudah tersedia. Sekali dua, ada anak madrasah yang memasukkan uang lalu mengambil kembali jumlah uang yang lebih kecil sebagai kembalian.

Kantin di bawah naungan Koperasi MI Al-Fauzain berdiri sejak MI Al-Fauzain pagi dan petang dilebur menjadi satu pada 1999. Sejak mula berdirinya, dewan guru sebagai pengelola koperasi menerapkan mekanisme “Belanja, Bayar, Ambil kembalian sendiri”.

Pihak guru melalui mekanisme belanja demikian berupaya menciptakan iklim jujur di lingkungan madrasah. Selain itu, mereka mendidik para siswa untuk mandiri sejak dini. “Kita ingin membiasakan jujur di kalangan pelajar,” kata guru Sejarah Kebudayaan Islam ustadz Imran Rosyid.

Kantin sendiri buka sejak setengah 07.00 pagi. Satu kotak tempat uang disediakan pengelola koperasi. Ustadz Imran hanya melayani pengunjung koperasi ketika jam istirahat tiba, pukul 09.30 hingga 10.00. Selebihnya para murid melayani dirinya sendiri. “Pokoknya layanan kantin ini non stop,” kata Bendahara MI Al-Fauzain ini.

Koperasi ini menyediakan aneka jajanan anak-anak madrasah terutama makanan ringan. Pengelola koperasi juga menyediakan jajanan berat seperti mie instan, ketoprak, atau ketupat sayur. Untuk belanjaan seperti ini, ustadz Imran turun tangan melayani pembelinya. “Mana yang anak-anak tidak bisa, kita layani.”

Soal tarif, jangan ditanya. “Kita kasih keringanan kepada anak-anak dengan harga murah. Sangat murah. Mana ada ketoprak seharga Rp.2000?” kata ustadz Imran yang juga telaten merawat pohonan yang rimbun di halaman madrasah.

Banyak orang terkejut melihat model kantin MI Al-Fauzain. Sebut saja Amir Siregar, mantan RT di lingkungan kompleks Pondok Indah. Ketika menjenguk cucunya yang sekolah di madrasah ini, ia menjuluki koperasi ini dengan “Warung Kejujuran”, cerita ustadz Imron.

Menurut Wakil Kepala MI Al-Fauzain Iis Supriatin, Demikian juga salah seorang pemantau dari Australia. Ia mengatakan, “Kok ini pelajar belanja sendiri dan bayar sendiri lalu mengambil uang kembalian sendiri?”

Soal tarif aneka jajanan, pelayan koperasi cukup memberitahukannya di awal. Selebihnya para murid sudah terbiasa dan berjalan dengan sendirinya. “Kalau lupa harganya, satu dua dari mereka mendatangi kita, bertanya.”

Ustadz Imran tidak segan mencegah siswa yang terlalu banyak jajan pada satu jenis tertentu. Ia memerhatikan kesehatan murid dalam hal ini. Ia pernah menegur murid yang berulang kali dalam amatannya membeli es. “Jangan jajan es melulu, nanti sakit,” kata ustadz Imran kepada salah satu murudnya.

Menurut ustadz Imran, umumnya pengunjung madrasah tidak terlalu “ngeh” dengan pola kantin MI Al-Fauzain. Mereka hanya datang sekilas. “Tetapi bagi ibu-ibu yang mengantar dan menunggui muridnya, mereka mengerti betul.”

Sebenarnya, pola pendidikan jujur dan terbuka seperti ini amat baik kalau diterapkan juga di madrasah lain. Di Kelompok Kerja Madrasah (KKM), kita belum sosialisasi. Kita berharap madrasah lain mendidik jujur para murid melalui bentuk konkret.

Pengawasan menjadi masalah mudah. Wali murid tahu. Mereka yang mengantar dan menunggui anaknya ikut mengawasi kantin. Kalau ada anak yang curang, ia melaporkannya ke kita ciri-ciri dan identitas kelasnya. Mereka ikut pantau dan lapor. Kita cukup kasih peringatan saja ke murid yang bersangkutan. Mereka agak jera kalau kita kasih peringatan.

Ustadz Imron mengakui bahwa suasana jujur di lingkungan MI Al-Fauzain belum terwujud. Yang diharapkan memang belum terjadi. Hanya saja 90% lebih sudah tercapai. Kalau pun ada yang curang, paling satu dua anak saja.

“Tugas kita para dewan guru hanya memberikan kepercayaan kepada murid. Sebab kata orang-orang, selain kesehatan, jujur dan kepercayaan jadi barang mahal di zaman sekarang apalagi di kota besar,” ustadz Imran mengakhiri keterangannya.

MI Al-Fauzain berdiri sejak 1958. Posisinya kini terisolasi oleh gedung-gedung tinggi setelah sepuluh tahun sebelumnya diapit oleh keramahan penduduk kampung. Hingga kini MI Al-Fauzain yang berdiri tegak di atas tanah wakaf sesepuh kampung Pondok Pinang Timur almarhum H Midi, masih terus berupaya menanamkan nilai-nilai jujur dan percaya sesama manusia. (Alhafiz Kurniawan)

Bagikan:
Jumat 20 November 2015 13:0 WIB
PESANTREN DARUN NAJAH LUMAJANG
Cetak Santri yang Terampil Buat Handicraft
Cetak Santri yang Terampil Buat Handicraft

Pondok Pesantren Darun Najah yang beralamat di Desa Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur berawal dari madrasah diniyah awaliyah dengan segelintir santri. Tapi kini lembaga asuhan KH. Moh. Khozin Barizi itu berkembang menjadi pesantren yang juga menaungi lembaga formal mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). <>

Berdasarkan sejarah yang ada, Pesantren Darun Najah didirikan sejak tahun 1995, berawal dari pendirian Madrasah Diniyah Aliyah sederhana dengan santri yang hanya 20 orang dan tiga guru. Seiring berjalannya waktu, minat masyarakat untuk menimba ilmu di Darun Najah semakin meningkat sehingga pihak pesantren berinisiatif mendirikan pendidikan formal khusus jenjang sekolah menengah pertama. Akhirnya, selang tiga tahun dari rintisan lembaga awal tepatnya tahun 1998 berdirilah MTs Darun Najah dengan Kepala Sekolah (Kepsek) seorang perempuan bernama Ibu Yatik, yang memimpin hingga tahun 2005. Dilanjutkan Ibu Mudrifah hingga tahun 2006 dan diteruskan oleh Ibu Nur Saidah sampai dengan sekarang.

Pengembangan pesantren dengan pendirian lembaga pendidikan formal ini bertujuan untuk mencetak generasi Islam yang berwawasan Iptek (ilmu pengetahuan) dan Imtaq (iman dan taqwa) serta dapat mengimplementasikan hasil pendidikan pondok pesantren dalam masyarakat yang plural seperti saat ini. Karena itu pula, meski didirikan lembaga formal, para peserta didik tetap dibekali ilmu-imu keagamaan dengan keseimbangan pengetahuan umum.

Selang enam tahun dari pendirian MTs Darun Najah, pengembangan pendidikan terus beranjut dengan didirikannya Madrasah Aliyah (MA) Darun Najah sejak tahun 2003. Sistem pembelajaran yang ada baik di tingkat MTs dan MA pun tak jauh berbeda tetap dengan menjunjung tinggi keseimbangan antara IPTEK dan IMTAQ. Harapannya bisa menciptakan santri yang berkomKpetensi, mempunyai kecerdasan ganda (Multiple Intellegence) serta santri yang berakhlaqul karimah.

Dengan tujuan-tujuan yang ingin diraih, pihak Darun Najah melengkapi lembaga segala yang menjadi penunjang pendidikan dan menjelma sebagai pesantren modern berbasis salafiyah. Para peserta didik baik di tingkat MTs maupun MA dibekali dengan Pendidikan Islam yang mengedepankan pembinaan spiritual dan moral, di samping itu juga membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu umum. Selain itu ada pula pengembangan kreativitas siswa mulai pembelajaran menjahit, pemanfaatan barang bekas hingga tata boga yang dikemas dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Terampil dan Berprestasi

Ekstrakurikuler tidak hanya dilaksanakan dalam pendidikan formal, pesantren juga mengadakan berbagai macam program ekstrakulikuler yang dibimbing langsung oleh pengasuh dan pengurus pesantren dan dilaksanakan di luar jam pelajaran formal. Program ekstra kulikuler tersebut antara lain kajian intensif ilmu-ilmu Al Qur’an,     qiro’ah, kajian kitab-kitab kuning dan kontemporer, pelatihan dakwah, khotbah Bahasa Indonesia, Arab dan Inggris, olahraga, pelatihan Menjahit dan tataboga, seni hadrah, kaligrafi, training Aqidah Fiqih serta pengembangan bakat keterampilan tangan salah satunya membuat handicraft (kerajinan tangan). Hal ini diharapkan agar nanti ketika terjun ke kancah kehidupan bermasyarakat santri tidak akan merasa canggung dan dapat mandiri.

Dari program-program pengembangan kreativitas santri tersebut, tak ayal para santri tidak hanya piawai membaca kitab kuning tapi juga terampil dalam membuat kerajinan dari berbagai bahan. Mereka bisa membuat kerajinan seni menghias mahar, membuat lampu lampion, hingga merangkai bahan-bahan bekas menjadi mading tiga dimensi.

Di sisi lain, santri juga memiliki keunggulan dari segi bahasa dan sains. Terbukti, dari berbagai event yang MTs Darun Najah Petahunan ikuti salah satunya yakni Kompetisi Sain Madrasah (KSM) tingkat Madrasah Tsanawiyah. Event KSM ini diselenggarakan rutin setiap tahun oleh Koordinator Kerjasama Kepala Madrasah (K3M) MTs. Pada tahun ini Kontingen KSM MTs Darun Najah membawa 2 piala yang diperoleh dari bidang studi Bahasa Arab dan Biologi. MTs Darun Najah mengirim sebanyak 16 peserta dengan 2 siswa untuk perwakilan masing-masing bidang studinya. Dari ke 16 siswanya 10 di antaranya masuk dalam babak final.

Prestasi yang cukup membanggakan ini sekaligus mengharumkan nama Madrasah dan sekaligus Yayasan yang menaunginya. Menanggapi kesuksesan putra-putrinya Kepala MTS Darun Najah Nur Saidah, S.Si.MM merasa bangga sekaligus terharu atas prestasi yang diraih oleh peserta didiknya.

“Semoga MTs Darun Najah akan semakin berkualitas dan dipercaya oleh masyarakat serta menjadi tujuan atau pilihan masyarakat”, pungkas ibu yang tinggal di kelurahan Rogotrunan Lumajang ini.

Tidak hanya itu, santri Darun Najah juga berprestasi di bidang kaligrafi, yakni sebagai Juara Harapan 1 pada cabang Kaligrafi Putri yang diwakili oleh Maulidatur Rohmah siswi XI Keagamaan MA Darun Najah pada Perhelatan AKSIOMA MA Ke-9 JATIM di Tuban.

Hal ini sesuai misi lembaga yang bertekad menjadi pusat pendidikan modern berbasis salaf yang berkualitas dan dapat menjadi rujukan pengembangan pendidikan pondok pesantren. Untuk menciptakannya, pihak pesantren menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang kreatif dan inovatif demi menyongsong arus globalisasi dunia yang mana mengharuskan output sumber daya manusia yang berkompetensi dalam segala bidang ilmu pengetahuan. (Nidhomatum MR)

Jumat 20 November 2015 5:35 WIB
PESANTREN ALMANAR AZHARI
Bidik Kelas Menengah Muslim dengan Tawaran Kualitas Internasional
Bidik Kelas Menengah Muslim dengan Tawaran Kualitas Internasional

Pesantren identik dengan lembaga pendidikan dengan fasilitas sederhana. Tapi seiring dengan meningkatnya jumlah kelas menengah Muslim, banyak diantaranya yang ingin mendidik anak-anaknya dengan pendidikan agama khas pesantren tetapi dengan fasilitas dan kualitas yang lebih baik. Banyak orang tua yang yang dulu semasa mudanya nyantri menginginkan anaknya juga belajar agama di pesantren. <>Tetapi kondisi yang berbeda menyebabkan anak-anak dari keluarga yang secara ekonomi sudah mapan tersebut tidak kerasan jika harus nyantri dengan kondisi seperti era orang tuanya karena di rumahnya, mereka sudah terbiasa hidup nyaman. 

Kebutuhan yang belum terpenuhi dari kelompok inilah yang dicoba dipenuhi oleh Pesantren Almanar Azhari yang didirikan oleh KH Manarul Hidayat di daerah Limo Depok pada tahun 2005. Pesantren ini menawarkan alternatif sistem sekolah berasrama tetapi dengan nilai tambah kurikulum keislaman dengan standar internasional.

Untuk kurikulum keislaman pesantren Almanar mengacu pada standar Universitas Al Azhar Mesir sedangkan kurikulum umumnya bekerjasama dengan Universitas Cambridge, Inggris yang meliputi pelajaran matematika, kimia fisika, biologi, dan Bahasa Inggris. 

Pesantren ini benar-benar memanjakan santrinya dengan fasilitas menunjang kegiatan belajar mengajar yang lengkap seperti laboratorium, perpustakaan, sarana olahraga, dan kesehatan, hingga kolam renang untuk menjaga kebugara para santri. Di luar itu, setiap enam santri dibawah bimbingan satu pengasuh yang mengikuti terus perkembangan santri dari hari ke hari. 

Jenjang pendidikan yang ditawarkan adalah tingkat SMP dan SMA. Agar kegiatan belajar mengajar berlangsung efektif, satu kelas maksimal hanya diisi 20 siswa. Untuk asrama, satu kamar hanya diperuntukkan bagi 4-5 orang, tergantung besar kecilnya ruangan. Tentu saja semua ruangan juga sudah menggunakan pendingin udara.

Santri juga diizinkan membawa laptop untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dan seluruh area sekolah sudah terkoneksi dengan wifi sehingga santri bisa berselancar di dunia maya untuk mencari dan mengunduh berbagai informasi yang diperlukan. Di luar jam belajar, laptop disimpan di loker khusus oleh ustadz atau ustadzahnya. 

Tentu saja, lingkungan sekolah dibuat senyaman mungkin. Di halaman asrama dan sekolah bertingkat tiga itu, pohon-pohon yang rindang membuat udara yang panas menjadi sejuk sedangkan di tengah-tengah, antara masjid dengan sekolah, terdapat lapangan olah raga yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas. Hal ini sangat krusial bagi para remaja yang fisiknya sedang tumbuh. Gazebo untuk bersantai atau berdiskusi juga disediakan di salah satu sudut sekolah. 

Tentu dengan fasilitas seperti ini, dibutuhkan dana yang besar. Saat masuk pertama, santri harus membayar 25 juta sedangkan biaya bulanannya 2.5 juta. Semuanya sudah mencakup kebutuhan sehari-hari santri seperti makan dan minum, uang kegiatan, dan laundry. Santri hanya perlu belajar dengan baik untuk meningkatkan prestasinya. 

Tak banyak yang bisa menjangkau pendidikan dengan biaya pendidikan sebesar itu, tetapi bagi kelompok kelas menengah Muslim yang menginginkan kualitas sebagai tuntutan utama, uang mungkin bukan masalah. Secara keseluruhan ada sekitar 150 santri yang belajar di sini.

Di pesantren ini, ada empat nilai yang dikembangkan, yaitu orientasi budaya, orientasi akademik dan karir, orientasi pengembangan kepribadian dan orientasi sosial dengan orientasi spiritual sebagai fondasi utama yang terintegrasi ke dalam kurikulum dan program-program lainnya. Karena itu, dalam setiap pembelajaran, selalu dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman. Jika belajar tentang sains, maka hal itu juga dikaitkan dengan ayat-ayat Qur’an terkait. 

Sementara itu pola pembelajaran di kelas mengacu kepada empat pilar pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap santri untuk mengembangkan kemampuan ‘belajar tentang cara belajar’ (learning to know), belajar bagaimana memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan ke dalam praktik kehidupan (learning to do), belajar untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan menemukan peluang aktualisasi diri (learning to be) serta keterampilan untuk hidup bermasyarakat (learning to live together) dan juga piawai dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara baik dan berkualitas dengan menggunakan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab.

Sebagaimana layaknya pesantren, para santri harus sudah bangun pada pukul 03.30 untuk shalat tahajjud dan dilanjutkan mengaji. Sekolah formal dimulai pukul 07.30-12.00. selanjutnya kegiatan pada sore hari adalah kegiatan ekstra kurikuler. Seusai maghrib, ada lagi pengajian sedangkan bagi siswa kelas tiga SMP dan SMA, diwajibkan untuk mengikuti bimbingan belajar guna mempersiapkan Ujian Nasional.

Setiap semester, santri mengikuti kegiatan field trip yang sekaligus mengaitkannya dengan berbagai aspek pelajaran. Sebagai misal pada semester lalu mereka diajak ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu. Selanjutnya, mereka diminta membuat laporan rinci hasil dari kunjungan tersebut. 

Pesantren Almanar merupakan sebuah inovasi baru sebagai respon kelas menengah Muslim akan pendidikan keagamaan yang berkualitas yang selama ini ruangnya belum terisi. Di masa mendatang, mungkin akan semakin banyak pesantren yang menawarkan kualitas sebagai keunggulan seiring dengan semakin besarnya kelas menengah Muslim. (Mukafi Niam)

Kamis 19 November 2015 14:1 WIB
Pesantren Maslakul Huda Pencetak Pakar Ushul Fiqh
Pesantren Maslakul Huda Pencetak Pakar Ushul Fiqh

Pesantren Maslakul Huda (PMH) Putra Polgarut Utara Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, merupakan peninggalan Almaghfurlah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, Rais Aam Syuriah PBNU tiga periode (1999-2004, 2004-2010, 2010-2014). Kiai Sahal meneruskan kepemimpinan pesantren ini dari paman dan ayahnya.<>

Secara historis, berdirinya Pesantren Maslakul Huda tidak diketahui pasti. Namun, rintisan cikal bakal PMH dapat dipastikan sudah muncul sekitar tahun 1910-an. Waktu itu, Kiai Mahfudh Salam (ayah Kiai Sahal Mahfudh) selesai menimba ilmu dari Makkah. Ia lalu menyempatkan diri tabarukan (belajar ulang) sebentar kepada Hadratusy Syeikh KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Saat itu, Kiai Mahfudh sudah diberikan kesempatan mengajar oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Ketika ia minta diri pulang kampung untuk merintis pesantren di Kajen, beberapa santri yang dulu menjadi muridnya di Tebuireng mengikutinya dan menjadi santri pertama di Maslakul Huda.

Dalam perjalanannya, pesantren ini mengalami tiga kali pergantian pengasuh. Setelah KH Mahfudh Salam wafat, lalu digantikan adiknya, KH Ali Mukhtar. Kemudian, kendali pesantren dipegang KH MA Sahal Mahfudh.

Kiai Sahal dikenal melalui sejumlah karyanya sebagai ulama ushul (ahli Ushul Fiqh). Kiai nyentrik ini merupakan satu dari sedikit ulama yang memberi perhatian khusus bagi perkembangan Ushul Fiqh.

Hal tersebut terlihat dari dua karyanya di bidang Ushul Fiqh: al-Bayanul Mulamma’ ‘An Alfadzil Luma’ yang merupakan catatan tambahan (hasyiah) atas kitab al-Luma’ karya Imam al-Syairazi (w. 476 H) dan kitab Thariqatul Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Karya kedua ini merupakan hasyiah atas kitab Ghayatul Wushul karya Syeikh Zakariya al-Anshari (w. 926 H).

Selain menelurkan dua karya penting di bidang Ushul Fiqh tersebut, Mbah Sahal juga giat menggalakkan pendalaman ilmu ini bagi civitas pesantren. Dalam pelbagai makalahnya yang dibukukan dalam “Nuansa Fiqh Sosial”, misalnya, sangat jelas menunjukkan bahwa bagi pemerhati Fiqih, mendalami Ushul Fiqh merupakan keniscayaan untuk menjaga agar hukum Fiqih tetap dinamis dan kontekstual.

Tanpa Ushul Fiqh, lambat laun Fiqih akan jatuh ke jurang rigiditas dan kejumudan. Melalui Ushul Fiqh dimungkinkan kontekstualisasi dalam melakukan istinbath dan ilhaq hukum Fiqh. Ushul Fiqh merupakan salah satu disiplin ilmu pokok dalam konstelasi keilmuan Islam, khususnya di bidang hukum Islam atau hukum syariah.

Melalui pendalaman ilmu Ushul Fiqh, diyakini mampu membangun konstruksi pemikiran hukum fiqh secara benar, sistematis, dan utuh. Pasalnya, dalam ilmu Ushul Fiqh dikaji landasan-landasan hukum Fiqih, metodologi penggalian hukum (istinbath al-hukm) dan standarisasi elemen-elemen yang terlibat dalam pengambilan hukum Fiqh.

Tidak hanya berkarya soal Ushul Fiqh, Kiai Sahal tiap pengajian Ramadhan juga membaca kitab-kitab Fiqh, misalnya, al-Asbah wa al-Nadzair di bidang Qawaid Fiqhiyah, sebagai perangkat utama mengkaji Fiqh. Para santri sangat antusias menyimak pembacaan kitab tersebut tiap tahunnya. 

Pesantren Takhassus Ushul Fiqh

PMH Putra yang didirikan oleh Kiai Sahal sudah sewajarnya memiliki ikatan keilmuan dan emosional yang sangat kuat terhadap cicit Syeikh Ahmad Mutamakkin ini. Terobosan penting yang digagas pesantren ini agar para santri lebih mengenal pemikiran dan gagasan Kiai Sahal adalah menginisiasi “Pesantren dengan Program Khusus Pendalaman dan Pengembangan Fiqh dan Ushul Fiqh”.

Penerus PMH Putra KH Abdul Ghoffar Rozien mengatakan, pesantren ini hendak menindaklanjuti gagasan dan warisan ide Kiai Sahal tersebut. Pesantren takhassus ini merupakan upaya untuk menggali pemikiran dan meneruskan ide Kiai Sahal tentang gagasan Fiqh Sosial.

Bagi Gus Rozien, sapaan akrabnya, ke depan pesantren perlu mengembangkan kekhasan (distinction) masing-masing karena hampir semua pesantren memiliki potensi tersebut. “Jadi, kekhasan itu bisa di bidang keilmuan, keahlian, pemikiran, atau lainnya,” ujarnya.

Pesantren Maslakul Huda, lanjut Gus Rozien, melihat bahwa Ushul Fiqh di samping menjadi bidang keahlian Kiai Sahal, juga sangat penting untuk para santri melatih cara berpikir logis-sistematis. Pasalnya, mempelajari Ushul Fiqh berarti juga mempelajari ilmu pendukungnya seperti nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, dan qawaid. “Kesemuanya itu sangat rasional,” tegasnya.

Menurut Gus Rozien, menguasai dasar ilmu Ushul Fiqh sama saja membekali para santri perangkat riset keilmuan Islam yang sangat dibutuhkan saat ini. “Saya berharap, pesantren takhassus ini mencetak para santri yang tidak hanya menguasai ilmu hukum Islam dengan kepakaran di bidang fiqh dan ushul fiqh. Namun juga menjadi penggerak masyarakat,” harapnya.

Ketua PP Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU ini menambahkan, pesantren ini dikhususkan bagi para santri yang sudah menguasai teks-teks keagamaan yang membutuhkan pendalaman dalam memahami Fiqih dan Ushul Fiqh. (Musthofa Asrori)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG