IMG-LOGO
Pendidikan Islam
PESANTREN DARUT TAUBAH

“Germo” Ajengan Mamad di Saritem

Ahad 22 November 2015 2:1 WIB
Bagikan:
“Germo” Ajengan Mamad di Saritem

Salah satu gang di jalan Gardujati, Kota Bandung, itu tak ada bedanya dengan gang mana pun di dunia ini. Di sekitar mulutnya ada warung kecil menjual rokok, makanan ringan, dan warung-warung makan yang mekar tiap menjelang malam. Masuk ke gang, berderet rumah-rumah penduduk. Jika lewat gang itu menjelang Isya, akan bertemu dengan beberapa orang tua yang berkumpul di beranda rumah.
<>
“Bos, parkir di sini. Bos, parkir di sini,” ajak diantara mereka sembari tetap duduk seraya tangan melambai. Kata “parkir” yang keluar dari mulutnya semakna dengan yang tertera pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Namun memiliki makna sampingan yang tiada di tempat-tempat lain. Karena sudah masuk kawasan Saritem!

Jika berselancar di Google dengan kata kunci Saritem, akan ditemukan link dengan judul, “Cari Pekerjaan, ABG 14 Tahun Malah Dijual Kegadisannya”, “Separuh dari Tarif Kencan PSK di Saritem Disetor ke ‘Mami’”. Atau akan diarahkan kepada gambar juga video berkaitan dengan dunia “perlendiran”. Ya, Saritem sudah ratusan tahun berkelindan dengan dunia itu.

Menurut Sekretaris RW 7, Acep (bukan nama sebenarnya), nama Saritem sudah muncul sejak zaman penjajahan Belanda. Sebagaimana asal-usul nama sebuah kampung kecil, hampir tidak diketahui tanggal dan tahun persisnya. Ia mengaku mendapat cerita dari neneknya. Alkisah, di gang tersebut ada penjual jamu keliling bernama Sari. Ia tidak menyebut asal-usulnya, tapi sebab kulitnya hitam, perempuan itu sering disapa Sari Item.

Salah seorang Belanda, suatu hari, menyarankan satu hal kepadanya. Daripada Sari capek keliling menjual jamu, mending ”melayani” teman-temannya. Karena Sari mengamini, berkembanglah praktik-praktik “melayani”. Kemudian “melayani” menjadi bisnis yang mengundang pihak-pihak lain untuk mengambil keuntungan dari usaha itu. Terkait nama, orang tak melupkan asal-usulnya, disebut dengan mapan hingga kini, Saritem. Satu “i” disatukan kala diucapakan, tanpa spasi saat dituliskan.

Dua RW yang masuk wilayah Kelurahan Kebon Tangkil tersebut bercampur-baur penduduk Tionghoa, Sunda, dan berbagai etnis lain. Kini di sekitar mereka terdapat 200 penjaja cinta atau disebut Pekerja Seks Komersial (PSK). Beberapa tahun sebelumnya bisa mencapai 700-an lebih. sementara calo praktik itu sekitar 400 orang. Penduduk setempat merasa tak rugi dengan praktik itu, malah kecipratan rezeki hasil menjajakan makanan dan minuman.

Ajengan Mamad   

Pada tahun 2003, Kang Mamad hadir di tengah-tengah Saritem. Padahal sejak kecil hidup di lingkungan pesantren. Tentu tak pernah berharap dan mimpi untuk tinggal di situ. Tapi karena taat pada orang tuanya, ia menjadi “germo” di situ. “Germo” di sini bukan berarti mucikari, induk semang PSK atau calo, melainkan “gerakan moral” melalui pesantren bernama Darut Taubah. Letak pesantren berimpitan dengan “Darun Ni’mah”, istilah dia untuk kamar-kamar praktik para PSK.

Sebelumnya bangunan Darut Taubah juga merupakan tempat Darun Ni’mah. Dulu kamar-kamar tempat tinggal santri atau kobong itu tinggal para PSK. Ketika tempat itu menjadi kobong, masih satu dinding dengan “Darun Ni’mah” di sampingnya. Karena sering terdengar suara-suara “aneh” yang tak mesti didengar para santri, tembok Darut Taubah dipertebal untuk meredamnya.

Di depan pesantren, akan mudah sekali mendapati perempuan berrok di atas lutut, berbaju ketat dan pendek, bergincu tajam, bercelak tebal. Jika jalan-jalan ke sebalah kiri pesantren, lirikkan saja mata pada bangunan-bangunan seperti salon dengan kaca tanpa gorden. Di situ, perempuan muda berpakaian serba minim tampak duduk berjajar di sofa dengan kaki disilangkan. Entah dari mana, lelaki hidung belang dengan ragam usia, mondar-mandir di sekitarnya. Tak habis-habisnya sehingga kedua belah laiknya baud ketemu mur.

Darut Taubah didirikan Ajengan Sonhaji pada tahun 1999 dan diresmikan 2 Mei tahun 2000 atas  bantuan Wali Kota Bandung waktu itu, AA Tarmana. Ajengan Sonhaji adalah tokoh agama dari Pesantren Sukamiskin dan pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung empat periode sampai wafatnya. Ia berasal dari daerah Subang yang diambil menantu salah satu pesantren tertua di Kota Bandung tersebut. Setelah meninggal, Ajengan Sonhaji menitipkan Darut Taubah pada anak sulungnya, Ahmad Haedar yang akrab disapa Kang Mamad tersebut. “Sebelum meninggal, ayah saya berpesan, ‘sing bisa gaulna’ (harus pandai bergaul dengan mereka),” katanya.  

Gerakan moral pria beranak tiga tersebut memang melalui pergaulan dengan mengedepankan akhlak. Kang Mamad mengajarkan ilmu-ilmu agama pada anak-anak Saritem. Putra-putri calo dan mucikari. Tidak ada santri anak PSK karena mereka datang atau didatangkan dari daerah lain tanpa membawa anak.

Orang tua mereka mengizinkan anaknya belajar di situ. Pada dasarnya, menurut Kang Mamad, mereka ingin memiliki anak-anaknya tidak mengikuti pekerjaan orang tua. Seperti diakui salah seorang mucikari, anaknya sejak TK disuruhnya belajar di Darut Taubah sehingga bisa mengaji.  

Mulanya tiga sampai empat tahun Darut Taubah didirikan, penduduk sekitar tidak suka dengan kehadiran lembaga pendidikan itu. Imtihan (kenaikan kelas santri) saja pernah dijaga Banser dari Gerakan Pemuda Ansor NU. Menurut Kang Mamad, hal itu sangat wajar. Sebagai pendatang dengan 60 persen di dua RW tersebut nonmuslim, tentu sedikit banyak mereka merasa terusik.

Berada di tempat seperti itu, pria kelahiran Oktober 1968 tersebut melancarkan siasat pendidikan dan sikap hidup pesantren yang pernah dijalaninya di Priangan Timur. Ia nyantri 6 tahun di Cipasung, 6 tahun di Manonjaya (Tasikmalaya). Kemudian ngaji keliling tabarukan ke pesantren-pesantren lain seperti Sadang (Garut), ke Petir (Ciamis), Awi Pari (Tasikmalaya) selama 3 tahun.

Di pesantren, kata dia, santri berasal dari berbagai daerah hidup bersama. Santri dengan alamiah belajar saling memahami sesama mereka. Pesantren juga membebaskan santri untuk bergaul dengan masyarakat sekitar. “Saya juga dulu senang bergaul dengan masyarakat, bagaimana melihat kondisi masyarakat. Jadi sekarang tidak kaku. Saya banyak mendengar dari guru-guru saya harus tasamuh (toleransi),” terangnya.

Berdasarkan pengalaman itu, gerakan moral yang dilakukannya sedikit demi sedikit, meski risikonya membutuhkan waktu panjang. Ia melakukan pendekatan menyeluruh dari segala arah, mulai dari segi agama, sosial, hukum, budaya.

Kemudian berbaur dengan kehidupan masyarakat. Ia turut serta dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Pada umumnya kebiasaan muslim di Saritem sama dengannya. Misalkan kalau ada yang meninggal, mereka ingin ditahlilkan karena mati tanpa prosesi itu dalam pandangan mereka, seperti mati kucing. “Itu kita urus, kita bantu. Baik germonya, PSK-nya, calonya,” katanya. Ia juga mengikuti kebiasaan mereka dalam bidang olah raga seperti turut serta main bulutangkis serta meigikuti pertemuan-pertemuan warga.

Lama-kelamaan bergaul keduanya saling menerima. Sebagian dari mereka ada yang hadir ke pengajian umum pesantren dan mengikuti istigotsah malam Jumat. Ketika berceramah, Kang Mamad pun sangat hati-hati dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Dalam istilah dia, dengan cara tidak “memukul”, tapi merangkul. Ia mengikuti cara ayahnya, Ajengan Sonhaji, tidak memberikan roti dengan cara dilempar.

Saat berceramah ia sangat memperhitungkan dampaknya. Jika bertemu ayat Al-Qur’an yang mengharamkan judi, minuman keras, zina, tidak disampaikan dengan vulgar. Karena penduduk di situ tahu hukumnya haram. Ia lebih percaya seperti yang telah dianjurkan dalam Al-Qur’an sendiri, Ud’u ila sabili robbiika bil-hikmah wal mauidhlitil hasanah, yaitu dakwah dengan bijaksana dan tutur kata baik.

Dengan cara itu, kedua belah pihak semakin memahami dan saling menghargai keberadaan masing-masing. Kemudian melakukan pertemuan-pertemuan santai seperti ziarah pada ulama Jawa Barat, touring ke tempat wisata atau sekadar jalan-jalan. Padahal awalnya, menurut Kang Mamad, jangankan ada yang mau datang ke pesantren, malah jika teler sengaja datang ke pesantren. Kini mereka paham bahwa pesantren tidak ingin memusuhi mereka.

Diantara mereka kadang membantu, baik makanan atau alat-alat kebutuhan pesantren. Kang Mamad menerimanya. Karena ia juga sebagai Katib Syuriyah PCNU Kota Bandung, hal itu jadi pembicaraan di tingkatan PCNU. Para ajengan kota kembang itu kemudian membuka kitab-kitab kuning untuk mencari hukum menerima uang pemberian dari hasil tidak dihalalkan agama tersebut. Mereka membahasnya melalui forum bahsul matsail.

Keputusan para ajengan menyebut sumbangan tersebut boleh diterima, tapi dengan catatan harus disalurkan lagi kepada yang membutuhkan, misalnya para santri. Di Darut Taubah, santri-santri tidak dipungut biaya sepeser pun. Bahkan makan dan minum ditanggung pesantren. Ajengan Sonhaji sudah menyediakan sawah wakaf untuk makan mereka. Kang Mamad tinggal mengelola dan menyedikan lauknya saja.

Kang Mamad yakin dengan menerima pemberian dari mereka adalah sebagian dakwah dengan baik. Memanusiakan mereka. Jika tidak diterima, tentu mercederai niat baik mereka.

Ia juga tidak yakin dengan dakwah menggunakan kekerasan sebagai solusi. Malah bisa menimmbulkan masalah. “Kalau dengan kekerasan akan semakin semrawut,” tegasnya.

Itu bukan omong kosong, tapi berdasar pengalaman. Darut Taubah pernah mengundang mubaligh “keras” dalam pengajian peringatan hari besar Islam. Besoknya diprotes masyarakat. Kemudian ia tak lagi mengundang mubaligh berkarakter seperti itu. Mau tidak mau mereka juga memiliki perasaan. Mereka punya hati.

Kini santri Darut Taubah bisa memukul rebana dengan keras. Azan setiap waktu disambungkan melalui pengeras suara. “Kalau sekarang, setiap waktu pengajian bebas. Azan Subuh melalui speaker pun bebas. Sebelumnya ada protes warga, ada yang langsung telepon,” terangnya.

Dengan apa yang dilakukannya, ia tidak berharap muluk, sebab yang mengubah jalan hidup tidak ada jalan lain selain mereka sendiri dan hidayah Allah. Kang Mamad  hanya ingin memotong generasi, mengurus anak-anaknya supaya tidak mengikuti orang tuanya yang sudah terlanjur masuk dalam dunia mucikari dan calo.

Ia berpendapat, perubahan untuk Saritem bisa dengan cara menyiapkan pekerjaan yang jelas. Pemerintah tidak boleh menutupnya tanpa memikirkan hal itu. Karena pendekatan menutup tanpa solusi sebagaimana yang terjadi tahun 2007 sudah terbukti gagal. Mereka bukan tidak mengerti agama, halal dan haram -beberapa diantara mucikari pun seorang haji- tapi karena memang sudah mengakar dalam kebiasaan mereka.  

Di lain pihak, Kang Mamad juga menjaga santri-santri yang berasal dari luar daerah, supaya tidak terpangaruh kehidupan Saritem. Ia menggunakan jargon, jangan melawan arus, tidak terbawa arus dan menyikapi dengan cerdas takdir yang sedang berjalan. Ia mencontohkan ikan di laut. Meski hidup di tempat asin, tubuhnyan tidak lantas menjadi asin.  

Apa yang dilakukan Kang Mamad, diamini pengasuh pesantren Darut Taubah yang lebih muda, Kang Ubed. Menurutnya, Kang Mamad melakukan dakwah dengan lemah lembut. Lebih banyak dakwah dengan perbuatan. Tujuannya memutus kebiasaan generasi tua dengan melahirkan generasi baru dengan pendidikan agama dengan model pesantren salaf, yang mengajarkan santri-santri tentang akhlak melalui tasawuf, disamping ilmu nahwu, saraf, fiqih, hadits.

Kini jumlah santri Darut Taubah yang menetap sekitar 90 putra dan putri. Sementara anak-anak Saritem sendiri, karena dekat dengan rumah, mereka cuma santri kalong. (Abdullah Alawi)   


Bagikan:
Ahad 22 November 2015 10:15 WIB
Pesantren Istiqomah, Tempat Nyantri Mahasiswa Santri
Pesantren Istiqomah, Tempat Nyantri Mahasiswa Santri

Memasuki dunia perkuliahan terkadang mengharuskan seorang santri boyong dari pesantrennya dan menetap di tempat baru yang dekat dengan kampus tempat ia belajar sekarang. Di sinilah proses adaptasi dengan suasana baru kembali terjadi, dari urusan penampilan, tingkah laku, hingga cara berpikir.
<>
Menyadari hal tersebut banyak alumni pesantren yang melanjutkan kuliah ke salah satu perguruan tinggi Islam di Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo memilih untuk mencari tempat mukim di pesantren terdekat.

Pondok Pesantren Istiqomah merupakan salah satu pondok yang terdekat dengan perguruan tinggi Islam yang memiliki ribuan mahasiswa tersebut. Keberadaan pesantren ini memang tidak pernah dipublikasikan, bahkan tidak ada papan nama pesantren di depannya.

Pada awalnya hanya ada Madrasah Diniyyah saja, kemudian ada mahasiswa yang ikut ngajar di Madin tersebut dan tinggal di situ. Seiring dengan terus bertambahnya mahasiswa di perguruan tinggi Islam tersebut, ternyata semakin banyak pula alumni pesantren yang ingin ikut ngaji dan bermukim di situ.

Para alumni pesantren yang ingin mondok lagi di Pesantren Istiqomah biasanya dilatarbelakangi rasa khawatir akan pengaruh lingkungan atau pergaulan yang kurang baik, dan keinginan untuk tetap berusaha menjaga kebiasaan baik yang sudah ditanam di pesantren dahulu.

Para santrinya pun berasal dari berbagai daerah di antaranya Tegal, Wonosobo, Banjarnegara, Rembang, Demak, Pati, Grobogan, Tanggerang, dan Soloraya. Muasal pesantren mereka pun beragam, antara lain Pesantren Al Anwar Rembang, Gontor, Al Asy’ariyah Kalibeber, Sirajul Tholibin Brabu, Al Manshur  Popongan, Maslakul Huda Kajen, Kacangan Boyolali, Mranggen Demak, Takmirul Islam Solo, Al Muayyad Solo, Anna’im Ajisoko Majenang, dan beberapa pesantren lainnya.

Kiai Ismail Thoyib selaku pengasuh pesantren yang juga jajaran syuriah PCNU Sukoharjo ini, selalu menekankan kepada calon santri yang hendak tinggal di Pesantren Istiqomah bahwa tempat ini bukan seperti kos, tetapi tempat mengaji. Sehingga niat awal harus ditata. Lebih dari sekadar tempat beristirahat setelah kuliah, Pesantren Istiqomah mesti menjadi tempat memperdalam ilmu agama.

Hingga tahun 2012, pesantren ini belum mempunyai asrama, sedangkan santri yang bermukim harus tinggal di rumah kiai di lantai dua. Terbatasnya tempat membuat sebagian alumni pesantren harus mengurungkan niatnya untuk ikut tinggal dipesantren ini. Dan ada pula yang rela mengantri, yaitu menunggu ada santri yang boyong dari Pesantren Istiqomah, baru kemudian dia masuk.

Memasuki tahun 2013 bersamaan telah berjalannya Pendidikan Anak Usia Dini di pesantren ini, para santri akhirnya dapat menempati asrama baru. Pesantren yang berfokus dalam tahfidz Al Qur’an ini telah meluluskan para alumni yang juga hafal Al-Qur’an. Selain fokus pada tahfidz Al-Qur’an, pesantren ini juga mengkaji beberapa kitab kuning yang diampu oleh para dosen dan jajaran pengurus NU setempat.

Tahun ini tiga santri dari pesantren yang rutin menggelar sima’an Al Qur’an tiap minggu dan sima’an  Qiro’ah  sab’ah  se-Jawa ini,  mewakili IAIN Surakarta dalam MHQ (Musabaqoh Hifdzil Qur’an) Putra dan putri dan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) di Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset Mahasiswa (Pionir) di Palu, Sulawesi Tengah.

Sehingga dalam hal ini diharapkan keberadaan pesantren di dekat perguruan tinggi dapat dijadikan wadah bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri dalam menjalankan peran dan fungsi penting di dalam masyarakat, dan saat itu pula Pesantren dikatakan berhasil menjalankan tujuannya sebagai agen perubahan, yang mencetak mahasantri unggul dan berakhlakul karimah. (Ahmad Rosidi)

Pesantren Istiqomah, Tempat Nyantri Mahasiswa Santri
Sabtu 21 November 2015 12:1 WIB
Buka Kelas Jauh, MTs Al-Ikhlas Losari Prakarsai Pendirian Madrasah
Buka Kelas Jauh, MTs Al-Ikhlas Losari Prakarsai Pendirian Madrasah

Mengambangkan pendidikan ke arah yang lebih baik merupakan tujuan sebuah lembaga pendidikan, baik madrasah maupun sekolah. Program pengembangan pun bisa dalam berbagai bentuk, tak terkecuali dengan membuka kelas jauh. Hal inilah yang dilakukan oleh Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Ikhlas Losari.<>

MTs yang terletak di Jl Raya Limbangan, Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini melakukan program pengembangan madrasah dengan membuka kelas jauh di dua desa, yaitu Desa Karangjunti dan Desa Kalibuntu, Losari yang semuanya dibawah naungan Yayasan Al-Ikhlas.

Di Desa Karangjunti, MTs Al-Ikhlas yang merupakan madrasah di bawah pengelolaan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) ini membuka kelas jauh pada tahun 1992. Hal ini dilakukan agar lembaga pendidikan Islam di Kecamatan Losari bisa diakses masyarakat.

“Karena MTs Al-Ikhlas merupakan madrasah pertama yang berdiri di Kecamatan Losari sehingga untuk mengambangkan pendidikan madrasah, saat itu kami membutuhkan pengambangan pendidikan Islam di desa-desa lain,” ujar Ahmad Faozi, SPdI, salah satu pengelola MTs Al-Ikhlas kepada penulis.

Setelah berjalan beberapa tahun, Madrasah kelas jauh di Desa Karangjunti akhirnya direlakan oleh MTs Al-Ikhlas untuk membuat yayasan secara mandiri. Hal ini dilakukan karena sarana dan prasarana kelas jauh di desa ini dinilai sudah memadai sehingga akhirnya mendirikan MTs tersendiri dengan nama MTs An-Nur Karangjunti, Kecamatan Losari, Brebes.

Melihat kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang semakin maju, Yayasan An-Nur memandang, bahwa pihaknya sangat perlu mendirikan sekolah kejuruan. Akhirnya diputuskan mendirikan SMK dengan nama SMK An-Nur Losari.

Demikian juga dengan kelas jauh di Desa Kalibuntu, MTs Al-Ikhlas berhasil menarik antusiasme warga desa untuk menyekolahkan anaknya di kelas jauh ini. Murid bertambah banyak, sarana dan prasarana pun berkembang sangat baik sehingga MTs Al-Ikhlas pun harus sudah membuat kelas jauh di Desa Kalibuntu ini untuk dijadikan yayasan secara mandiri. Sebab itulah, kelas jauh ini akhirnya resmi mendirikan MTs dengan nama MTs Nurul Huda Kalibuntu.

Satu visi dengan MTs An-Nur Karangjunti, MTs Nurul Huda juga mengembangkan pendidikannya dengan membuka SMK bernama SMK Nurul Huda Losari. Senada dengan MTs An-Nur, warga Desa Kalibuntu membutuhkan lembaga pendidikan dimana anak-anaknya mendapat keterampilan untuk menatap dunia kerja dan dunia usaha.

“Jujur, secara kuantitas, justru murid di MTs An-Nur dan MTs Nurul Huda jumlahnya lebih banyak dibanding MTs Al-Ikhlas sebagai pemrakarsa. Begitu juga dengan pendirian SMK, Yayasan Al-Ikhlas malah lebih belakangan dibanding mereka. Namun demikian, antusiasme warga di sini cukup tinggi,” ungkap Faozi.

Sejarah singkat MTs Al-Ikhlas Losari

Desa Limbangan merupakan salah satu daerah di pesisir pantai utara, selain Desa Prapag Kidul, Prapag Lor, Karang Dempel, dan Pengabean. MTs Al-Ikhlas merupakan madrasah pertama yang didirikan di Kecamatan Losari atas swadaya masyarakat pada tahun 1984 sehingga warga dari empat desa tersebut mempunyai tempat untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan Islam. Bahkan hingga sekarang, MTs Al-Ikhlas masih menjadi pilihan utama warga setempat.

Karena lahir dari swadaya masyarakat, madrasah ini juga terus berusaha membantu masyarakat agar anak-anaknya tidak terbebani dengan biaya madrasah. Selain itu, madrasah ini juga tidak terlepas dengan tradisi dan budaya lokal. Pendidikan agama pun terarah agar peserta didik mampu menyesuaikan diri dengan amaliyah-amaliyah keagamaan yang telah mengakar di masyarakat. Sampai saat ini, MTs Al-Ikhlas telah mencetak 27 angkatan. 

Madrasah berprestasi

Sejak berdiri 31 tahun lalu, MTs Al-Ikhlas terus berusaha mencetak generasi-generasi berkualitas secara pengetahuan dan akhlak. Menurut penuturan Ahmad Faozi, tahun 2015, MTs Al-Ikhlas berhasil meraih juara pertama dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat pelajar Kabupaten Brebes.

Selain itu, Gerakan Pramuka MTs Al-Ikhlas Losari juga dipercaya oleh Pengurus Cabang LP Ma’arif NU untuk mewakili Kabupaten Brebes dalam Perkemahan Gabungan Ma’arif Nasional (Pergamanas) tahun 2014 di Pondok Pesantren Kempek Palimanan Cirebon.

Untuk terus meningkatkan prestasi dan menggali potensi peserta didik, MTs Al-Ikhlas membuka ekstrakurikuler, seperti Pencak Silat, organisasi pelajar Nahdlatul Ulama, Pramuka, Paskibra, PMR, Qiro’atul Qur’an, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), dan berbagai keterampilan lain untuk melestarikan budaya lokal, seperti Tari Topeng Losari. (Fathoni)  

Sabtu 21 November 2015 6:9 WIB
PESANTREN LANSIA DARUS SYIFA
Semangat Mengukir di Atas Air
Semangat Mengukir di Atas Air

Letak pesantren tersebut di Jalan Kapten Tendean Gang Karya No 10, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Jika menyambangi pesantren tersebut, kita tidak akan menemukan anak-anak belasan tahun yang menating kitab atau menghafal bacaan-bacaan Shalat, melainkan orang tua puluhan tahun.
<>
Ya Darus Syifa adalah pesantren lanjut usia (lansia). Puluhan orang tua belajar di situ. mereka adalah yang pada masa mudanya tidak sempat atau tak menyempatkan diri untuk belajar agama.

Di pesantren itu, Rofiqoh Darto Wahab adalah salah seorang pembimbing mereka. Ia mengajar sekitar 20an santri lansia yang berasal dari beragam daerah, mulai Bandung, Medan, Jombang, dan daerah-daerah lain. Di antara mereka ada juga yang berstatus suami istri. Namun karena di pesantren, keduanya tidur di kamar terpisah.

Di pagi hari, para lansia itu mulai belajar selepas shalat duha, sekitar pukul 08.00 sampai pukul 11.00. Kemudian istirahat sampai ashar. Mulai mengaji lagi sekitar pukul 16.00 sampai 17.00. Malamnya mulai 19.30 sampai 20.30.

Pengajian pagi hari dibagi tiga kelompok. Satu kelompok belajar Iqro, dua kelompok lain membaca langsung Al-Quran. Ketiganya ditempatkan terpisah. Sementara pengajian sore dan malam menyatu dalam satu majelis.

“Di sini berjamaah shalat tiap waktu. Walaupun sepuh-sepuh, mereka rajin. Ada ujiannya juga lho. Keren ya...hehe ujian tertulis, maupun lisan,” terangnya.

Jadwal pagi Rofiqoh mendapat tugas mengajar Al-Quran. Sementara dua kelompok lainnya diasuh Ustad Sulhan dan Ustad Bir Ali. Dua ustad yang disebut terakhir ini tinggal di luar pondok, tapi rutin mengajar.

Di kelompoknya, Rofiqoh mengajar membaca Al-Quran dengan praktik bagaimana melafalkan huruf (makhorijul huruf) serta teknik pernapasan, supaya tidak berhenti di kalimat yang tidak semestinya. Hal ini penting supaya pembaca tidak terjebak pada “mencuri napas”. Dalam ilmu baca Al-Quran, itu termasuk kesalahan fatal. “Baca Quran kok maling, maling apa, mencuri napas.”

Ia mencontohkan dengan membaca awal surat Al-Fatihah. Ketika membacakan alhamdulillahi robbil, ia diam dan mengambil napas, baru menyebut ‘alamin. “Kalau tidak kuat napasnya, jangan dipaksakan,” katanya. Hal itu akan masuk pada keterangan Nabi Muhammad yang mengatakan, golongan pembaca Al-Quran, tapi Al-Quran sendiri melaknatnya.   

Sore hari, semua santri menyatu dalam satu ruangan. Hanya Rofiqoh yang mengajar campuran dari ragam bidang, dalam istilah dia, gado-gado. Ia menjelaskan fiqih keseharian, akhlak. Juga ilmu tauhid dan sejarah. Tapi lebih mengutamakan mengajar shalawat. Ia membimbing mereka satu bait satu bait, “Dikasih pengarahan, yang dibaca itu apa, faidahnya itu apa,” katanya.

Kemudian, ia jelaskan juga tentang membaca shalawat menurut Al-Qur’an. Lalu diajaknya mereka sama-sama mencari ayatnya dan membacanya bersama pula.

Ketika ditanya bagaimana perbedaannya antara mengajar orang tua dibanding remaja, ia menyanyikan sebait kasidah yang populer. Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu/ Belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air. “Orang tua itu ngurusnya susah. Mereka itu sesnsitif. Saya di sini belajar sabar,” katanya.

Ia harus sabar dengan sifat orang tua yang pelupa. Jika hari ini bisa, besoknya akan lupa lagi. Kemudian mengulang lagi, besoknya lupa lagi. Terus begitu, “Bagai mengukir di atas air,” katanya.”Mereka juga sensitif, mudah tersinggung. Usia lanjut memang begitu.”

Orang tua membutuhkan perhatian berlebih dan tidak bisa diperlakukan dengan kedisiplinan ketat. Di samping itu, kadang-kadang di antara mereka juga berselisih. “Curhatnya ke saya. Saya harus mendamaikan.”

Namun, ia selalu terharu akan semangat belajar mereka. Meskipun mereka sudah tua, masih tetap semangat ingin menuntut ilmu dengan risiko meninggalkan keluarga, anak, dan cucu. “Terus kumpul di sini. Makan tentunya seadanya tidak seperti di rumah. Saya salutnya di situ juga.” (Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG