IMG-LOGO
Pendidikan Islam

Buka Kelas Jauh, MTs Al-Ikhlas Losari Prakarsai Pendirian Madrasah

Sabtu 21 November 2015 12:1 WIB
Bagikan:
Buka Kelas Jauh, MTs Al-Ikhlas Losari Prakarsai Pendirian Madrasah

Mengambangkan pendidikan ke arah yang lebih baik merupakan tujuan sebuah lembaga pendidikan, baik madrasah maupun sekolah. Program pengembangan pun bisa dalam berbagai bentuk, tak terkecuali dengan membuka kelas jauh. Hal inilah yang dilakukan oleh Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Ikhlas Losari.<>

MTs yang terletak di Jl Raya Limbangan, Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah ini melakukan program pengembangan madrasah dengan membuka kelas jauh di dua desa, yaitu Desa Karangjunti dan Desa Kalibuntu, Losari yang semuanya dibawah naungan Yayasan Al-Ikhlas.

Di Desa Karangjunti, MTs Al-Ikhlas yang merupakan madrasah di bawah pengelolaan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) ini membuka kelas jauh pada tahun 1992. Hal ini dilakukan agar lembaga pendidikan Islam di Kecamatan Losari bisa diakses masyarakat.

“Karena MTs Al-Ikhlas merupakan madrasah pertama yang berdiri di Kecamatan Losari sehingga untuk mengambangkan pendidikan madrasah, saat itu kami membutuhkan pengambangan pendidikan Islam di desa-desa lain,” ujar Ahmad Faozi, SPdI, salah satu pengelola MTs Al-Ikhlas kepada penulis.

Setelah berjalan beberapa tahun, Madrasah kelas jauh di Desa Karangjunti akhirnya direlakan oleh MTs Al-Ikhlas untuk membuat yayasan secara mandiri. Hal ini dilakukan karena sarana dan prasarana kelas jauh di desa ini dinilai sudah memadai sehingga akhirnya mendirikan MTs tersendiri dengan nama MTs An-Nur Karangjunti, Kecamatan Losari, Brebes.

Melihat kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang semakin maju, Yayasan An-Nur memandang, bahwa pihaknya sangat perlu mendirikan sekolah kejuruan. Akhirnya diputuskan mendirikan SMK dengan nama SMK An-Nur Losari.

Demikian juga dengan kelas jauh di Desa Kalibuntu, MTs Al-Ikhlas berhasil menarik antusiasme warga desa untuk menyekolahkan anaknya di kelas jauh ini. Murid bertambah banyak, sarana dan prasarana pun berkembang sangat baik sehingga MTs Al-Ikhlas pun harus sudah membuat kelas jauh di Desa Kalibuntu ini untuk dijadikan yayasan secara mandiri. Sebab itulah, kelas jauh ini akhirnya resmi mendirikan MTs dengan nama MTs Nurul Huda Kalibuntu.

Satu visi dengan MTs An-Nur Karangjunti, MTs Nurul Huda juga mengembangkan pendidikannya dengan membuka SMK bernama SMK Nurul Huda Losari. Senada dengan MTs An-Nur, warga Desa Kalibuntu membutuhkan lembaga pendidikan dimana anak-anaknya mendapat keterampilan untuk menatap dunia kerja dan dunia usaha.

“Jujur, secara kuantitas, justru murid di MTs An-Nur dan MTs Nurul Huda jumlahnya lebih banyak dibanding MTs Al-Ikhlas sebagai pemrakarsa. Begitu juga dengan pendirian SMK, Yayasan Al-Ikhlas malah lebih belakangan dibanding mereka. Namun demikian, antusiasme warga di sini cukup tinggi,” ungkap Faozi.

Sejarah singkat MTs Al-Ikhlas Losari

Desa Limbangan merupakan salah satu daerah di pesisir pantai utara, selain Desa Prapag Kidul, Prapag Lor, Karang Dempel, dan Pengabean. MTs Al-Ikhlas merupakan madrasah pertama yang didirikan di Kecamatan Losari atas swadaya masyarakat pada tahun 1984 sehingga warga dari empat desa tersebut mempunyai tempat untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan Islam. Bahkan hingga sekarang, MTs Al-Ikhlas masih menjadi pilihan utama warga setempat.

Karena lahir dari swadaya masyarakat, madrasah ini juga terus berusaha membantu masyarakat agar anak-anaknya tidak terbebani dengan biaya madrasah. Selain itu, madrasah ini juga tidak terlepas dengan tradisi dan budaya lokal. Pendidikan agama pun terarah agar peserta didik mampu menyesuaikan diri dengan amaliyah-amaliyah keagamaan yang telah mengakar di masyarakat. Sampai saat ini, MTs Al-Ikhlas telah mencetak 27 angkatan. 

Madrasah berprestasi

Sejak berdiri 31 tahun lalu, MTs Al-Ikhlas terus berusaha mencetak generasi-generasi berkualitas secara pengetahuan dan akhlak. Menurut penuturan Ahmad Faozi, tahun 2015, MTs Al-Ikhlas berhasil meraih juara pertama dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat pelajar Kabupaten Brebes.

Selain itu, Gerakan Pramuka MTs Al-Ikhlas Losari juga dipercaya oleh Pengurus Cabang LP Ma’arif NU untuk mewakili Kabupaten Brebes dalam Perkemahan Gabungan Ma’arif Nasional (Pergamanas) tahun 2014 di Pondok Pesantren Kempek Palimanan Cirebon.

Untuk terus meningkatkan prestasi dan menggali potensi peserta didik, MTs Al-Ikhlas membuka ekstrakurikuler, seperti Pencak Silat, organisasi pelajar Nahdlatul Ulama, Pramuka, Paskibra, PMR, Qiro’atul Qur’an, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), dan berbagai keterampilan lain untuk melestarikan budaya lokal, seperti Tari Topeng Losari. (Fathoni)  

Bagikan:
Sabtu 21 November 2015 6:9 WIB
PESANTREN LANSIA DARUS SYIFA
Semangat Mengukir di Atas Air
Semangat Mengukir di Atas Air

Letak pesantren tersebut di Jalan Kapten Tendean Gang Karya No 10, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Jika menyambangi pesantren tersebut, kita tidak akan menemukan anak-anak belasan tahun yang menating kitab atau menghafal bacaan-bacaan Shalat, melainkan orang tua puluhan tahun.
<>
Ya Darus Syifa adalah pesantren lanjut usia (lansia). Puluhan orang tua belajar di situ. mereka adalah yang pada masa mudanya tidak sempat atau tak menyempatkan diri untuk belajar agama.

Di pesantren itu, Rofiqoh Darto Wahab adalah salah seorang pembimbing mereka. Ia mengajar sekitar 20an santri lansia yang berasal dari beragam daerah, mulai Bandung, Medan, Jombang, dan daerah-daerah lain. Di antara mereka ada juga yang berstatus suami istri. Namun karena di pesantren, keduanya tidur di kamar terpisah.

Di pagi hari, para lansia itu mulai belajar selepas shalat duha, sekitar pukul 08.00 sampai pukul 11.00. Kemudian istirahat sampai ashar. Mulai mengaji lagi sekitar pukul 16.00 sampai 17.00. Malamnya mulai 19.30 sampai 20.30.

Pengajian pagi hari dibagi tiga kelompok. Satu kelompok belajar Iqro, dua kelompok lain membaca langsung Al-Quran. Ketiganya ditempatkan terpisah. Sementara pengajian sore dan malam menyatu dalam satu majelis.

“Di sini berjamaah shalat tiap waktu. Walaupun sepuh-sepuh, mereka rajin. Ada ujiannya juga lho. Keren ya...hehe ujian tertulis, maupun lisan,” terangnya.

Jadwal pagi Rofiqoh mendapat tugas mengajar Al-Quran. Sementara dua kelompok lainnya diasuh Ustad Sulhan dan Ustad Bir Ali. Dua ustad yang disebut terakhir ini tinggal di luar pondok, tapi rutin mengajar.

Di kelompoknya, Rofiqoh mengajar membaca Al-Quran dengan praktik bagaimana melafalkan huruf (makhorijul huruf) serta teknik pernapasan, supaya tidak berhenti di kalimat yang tidak semestinya. Hal ini penting supaya pembaca tidak terjebak pada “mencuri napas”. Dalam ilmu baca Al-Quran, itu termasuk kesalahan fatal. “Baca Quran kok maling, maling apa, mencuri napas.”

Ia mencontohkan dengan membaca awal surat Al-Fatihah. Ketika membacakan alhamdulillahi robbil, ia diam dan mengambil napas, baru menyebut ‘alamin. “Kalau tidak kuat napasnya, jangan dipaksakan,” katanya. Hal itu akan masuk pada keterangan Nabi Muhammad yang mengatakan, golongan pembaca Al-Quran, tapi Al-Quran sendiri melaknatnya.   

Sore hari, semua santri menyatu dalam satu ruangan. Hanya Rofiqoh yang mengajar campuran dari ragam bidang, dalam istilah dia, gado-gado. Ia menjelaskan fiqih keseharian, akhlak. Juga ilmu tauhid dan sejarah. Tapi lebih mengutamakan mengajar shalawat. Ia membimbing mereka satu bait satu bait, “Dikasih pengarahan, yang dibaca itu apa, faidahnya itu apa,” katanya.

Kemudian, ia jelaskan juga tentang membaca shalawat menurut Al-Qur’an. Lalu diajaknya mereka sama-sama mencari ayatnya dan membacanya bersama pula.

Ketika ditanya bagaimana perbedaannya antara mengajar orang tua dibanding remaja, ia menyanyikan sebait kasidah yang populer. Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu/ Belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air. “Orang tua itu ngurusnya susah. Mereka itu sesnsitif. Saya di sini belajar sabar,” katanya.

Ia harus sabar dengan sifat orang tua yang pelupa. Jika hari ini bisa, besoknya akan lupa lagi. Kemudian mengulang lagi, besoknya lupa lagi. Terus begitu, “Bagai mengukir di atas air,” katanya.”Mereka juga sensitif, mudah tersinggung. Usia lanjut memang begitu.”

Orang tua membutuhkan perhatian berlebih dan tidak bisa diperlakukan dengan kedisiplinan ketat. Di samping itu, kadang-kadang di antara mereka juga berselisih. “Curhatnya ke saya. Saya harus mendamaikan.”

Namun, ia selalu terharu akan semangat belajar mereka. Meskipun mereka sudah tua, masih tetap semangat ingin menuntut ilmu dengan risiko meninggalkan keluarga, anak, dan cucu. “Terus kumpul di sini. Makan tentunya seadanya tidak seperti di rumah. Saya salutnya di situ juga.” (Abdullah Alawi)


Sabtu 21 November 2015 1:4 WIB
Ma’had Al-Qolam MAN 3 Perdalam Religi Santri, Unggul dalam Prestasi
Ma’had Al-Qolam MAN 3 Perdalam Religi Santri, Unggul dalam Prestasi

Sekolah bergengsi MAN 3 Malang selalu mendapat pujian atas prestasi akademik maupun non akademik dari tingkat Nasional maupun Internasional. Hal tersebut pantas didapatkan melihat alumninya yang bermunculan menjadi manusia unggul di bidangnya. Piala yang sudah memenuhi ruang guru dan kepala sekolah tidak bisa dihitung dengan jari.
<>
Namun  demikian Kepala Sekolah MAN 3 Binti mengaku hal itu tidak akan terwujud tanpa program baik yang menyokong  yaitu, Ma’had Al-Qolam.

Madrasah nomor satu di Malang ini memiliki program unggulan, Ma’had Al-Qolam yang membidik peserta didiknya untuk mempelajari islam secara mendalam sekaligus mempraktikkannya dalam aktivitas sehari-hari.

“Jika di sekolah para siswa belajar secara teori dalam semua mata pelajaran, di Ma’had mereka akan diajari agama sebagai kontrol prilaku, memiliki akhlaqul Karimah, dan berbagi dengan sesama. Karena semua ilmu tidak akan ada nilainya tanpa diimbangi dengan tindak-tanduk yang baik,” ungkap Binti selaku pimpinan MAN 3 Malang saat ditanya kenapa harus ada Ma’had.

Awal berdirinya Ma’had MAN 3 Malang adalah berbentuk Asrama, dan itu diperuntukkan untuk siswa dari luar kota dan tidak memiliki tempat singgah. Namun seiring berjalannya waktu, asrama yang dikelola dengan sistem pesantren ini memunculkan siswa-siswa berprestasi dibanding dengan siswa yang tidak tinggal di asrama. Karenanya diputuskan jika asrama bermetamorfosis menjadi Ma’had dengan mengadopsi nilai-nilai pesantren untuk menggodok para siswa MAN 3.

Ma’had Al-Qolam berdampingan langsung dengan sekolah MAN 3 Malang di jalan Bandung nomor 7 Malang. Ma’had ini menjadi rujukan madrasah-madrasah lainnya baik dalam maupun luar kota yang ingin memiliki program yang sama karena melihat kolaborasi yang apik antara MAN 3 dan Ma’had al-Qolam dalam mendidik siswa.

Tidak hanya sains yang siswa kuasai, namun dalam bahasa Arab, kesadaran akan sholat jam’ah para siswa, hingga sholat tahajud tanpa pemaksaan sudah berjalan dengan sendirinya.

Kegiatan rutin santri dimulai dari pukul 03.30 dini hari, semua santri berkumpul untuk sholat subuh, taklim dan mendengarkan kultum, dilanjut 05.15-16.30 sarapan bersama prepare sebelum berangkat sekolah. 15.35-17.00 Ma’had memiliki kegiatan mandiri, Ekstrakurikuler dan character Building, hal ini berlanjut pada pukul 17.30-19 sholat Maghrib berjama’ah, Ta’lim dan Sholat Isya, pukul 19.45 para santri mendapatkan tutorial dalam bidangnya dan belajar bimbingan sesuai bakat, kemudian istirahat dan dilanjut Sholat Tahajud.

Binti menuturkan, untuk siswa yang masih asing dengan sistem Pesantren tidak usah khawatir karena Ma’had Al-Qolam memberikan orientasi para siswa-siswa baru. “Karena sekarang pembelajaran di Ma’had pun ada kelas-kelas sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki siswa, dan ini tentu akan sangat membantu proses pembelajaran mereka,” jelas Binti.

Salah satu siswi yang merasa beruntung mengenyam pendidikan pesantren di Ma’had Al-Qolam adalah Nabilah Rohadatul ‘Aisy, pemegang medali emas tingkat Nasional dalam olimpiade Kimia.

Nabila mengaku sangat terlayani dengan baik segala bakat dan minatnya. “Di Ma’had saya bisa menemukan teman belajar, bimbingan yang terus bisa saya lakukan setiap harinya dan ilmu agama yang sebelumnya hanya saya tahu sebagai rutinitas saja, kelak saya ingin jadi penda’i dan peneliti dalam sains,” papar siswi yang akrab dipanggil Nabilah itu. (Diana Manzila)

Jumat 20 November 2015 13:0 WIB
PESANTREN DARUN NAJAH LUMAJANG
Cetak Santri yang Terampil Buat Handicraft
Cetak Santri yang Terampil Buat Handicraft

Pondok Pesantren Darun Najah yang beralamat di Desa Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur berawal dari madrasah diniyah awaliyah dengan segelintir santri. Tapi kini lembaga asuhan KH. Moh. Khozin Barizi itu berkembang menjadi pesantren yang juga menaungi lembaga formal mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). <>

Berdasarkan sejarah yang ada, Pesantren Darun Najah didirikan sejak tahun 1995, berawal dari pendirian Madrasah Diniyah Aliyah sederhana dengan santri yang hanya 20 orang dan tiga guru. Seiring berjalannya waktu, minat masyarakat untuk menimba ilmu di Darun Najah semakin meningkat sehingga pihak pesantren berinisiatif mendirikan pendidikan formal khusus jenjang sekolah menengah pertama. Akhirnya, selang tiga tahun dari rintisan lembaga awal tepatnya tahun 1998 berdirilah MTs Darun Najah dengan Kepala Sekolah (Kepsek) seorang perempuan bernama Ibu Yatik, yang memimpin hingga tahun 2005. Dilanjutkan Ibu Mudrifah hingga tahun 2006 dan diteruskan oleh Ibu Nur Saidah sampai dengan sekarang.

Pengembangan pesantren dengan pendirian lembaga pendidikan formal ini bertujuan untuk mencetak generasi Islam yang berwawasan Iptek (ilmu pengetahuan) dan Imtaq (iman dan taqwa) serta dapat mengimplementasikan hasil pendidikan pondok pesantren dalam masyarakat yang plural seperti saat ini. Karena itu pula, meski didirikan lembaga formal, para peserta didik tetap dibekali ilmu-imu keagamaan dengan keseimbangan pengetahuan umum.

Selang enam tahun dari pendirian MTs Darun Najah, pengembangan pendidikan terus beranjut dengan didirikannya Madrasah Aliyah (MA) Darun Najah sejak tahun 2003. Sistem pembelajaran yang ada baik di tingkat MTs dan MA pun tak jauh berbeda tetap dengan menjunjung tinggi keseimbangan antara IPTEK dan IMTAQ. Harapannya bisa menciptakan santri yang berkomKpetensi, mempunyai kecerdasan ganda (Multiple Intellegence) serta santri yang berakhlaqul karimah.

Dengan tujuan-tujuan yang ingin diraih, pihak Darun Najah melengkapi lembaga segala yang menjadi penunjang pendidikan dan menjelma sebagai pesantren modern berbasis salafiyah. Para peserta didik baik di tingkat MTs maupun MA dibekali dengan Pendidikan Islam yang mengedepankan pembinaan spiritual dan moral, di samping itu juga membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu umum. Selain itu ada pula pengembangan kreativitas siswa mulai pembelajaran menjahit, pemanfaatan barang bekas hingga tata boga yang dikemas dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Terampil dan Berprestasi

Ekstrakurikuler tidak hanya dilaksanakan dalam pendidikan formal, pesantren juga mengadakan berbagai macam program ekstrakulikuler yang dibimbing langsung oleh pengasuh dan pengurus pesantren dan dilaksanakan di luar jam pelajaran formal. Program ekstra kulikuler tersebut antara lain kajian intensif ilmu-ilmu Al Qur’an,     qiro’ah, kajian kitab-kitab kuning dan kontemporer, pelatihan dakwah, khotbah Bahasa Indonesia, Arab dan Inggris, olahraga, pelatihan Menjahit dan tataboga, seni hadrah, kaligrafi, training Aqidah Fiqih serta pengembangan bakat keterampilan tangan salah satunya membuat handicraft (kerajinan tangan). Hal ini diharapkan agar nanti ketika terjun ke kancah kehidupan bermasyarakat santri tidak akan merasa canggung dan dapat mandiri.

Dari program-program pengembangan kreativitas santri tersebut, tak ayal para santri tidak hanya piawai membaca kitab kuning tapi juga terampil dalam membuat kerajinan dari berbagai bahan. Mereka bisa membuat kerajinan seni menghias mahar, membuat lampu lampion, hingga merangkai bahan-bahan bekas menjadi mading tiga dimensi.

Di sisi lain, santri juga memiliki keunggulan dari segi bahasa dan sains. Terbukti, dari berbagai event yang MTs Darun Najah Petahunan ikuti salah satunya yakni Kompetisi Sain Madrasah (KSM) tingkat Madrasah Tsanawiyah. Event KSM ini diselenggarakan rutin setiap tahun oleh Koordinator Kerjasama Kepala Madrasah (K3M) MTs. Pada tahun ini Kontingen KSM MTs Darun Najah membawa 2 piala yang diperoleh dari bidang studi Bahasa Arab dan Biologi. MTs Darun Najah mengirim sebanyak 16 peserta dengan 2 siswa untuk perwakilan masing-masing bidang studinya. Dari ke 16 siswanya 10 di antaranya masuk dalam babak final.

Prestasi yang cukup membanggakan ini sekaligus mengharumkan nama Madrasah dan sekaligus Yayasan yang menaunginya. Menanggapi kesuksesan putra-putrinya Kepala MTS Darun Najah Nur Saidah, S.Si.MM merasa bangga sekaligus terharu atas prestasi yang diraih oleh peserta didiknya.

“Semoga MTs Darun Najah akan semakin berkualitas dan dipercaya oleh masyarakat serta menjadi tujuan atau pilihan masyarakat”, pungkas ibu yang tinggal di kelurahan Rogotrunan Lumajang ini.

Tidak hanya itu, santri Darun Najah juga berprestasi di bidang kaligrafi, yakni sebagai Juara Harapan 1 pada cabang Kaligrafi Putri yang diwakili oleh Maulidatur Rohmah siswi XI Keagamaan MA Darun Najah pada Perhelatan AKSIOMA MA Ke-9 JATIM di Tuban.

Hal ini sesuai misi lembaga yang bertekad menjadi pusat pendidikan modern berbasis salaf yang berkualitas dan dapat menjadi rujukan pengembangan pendidikan pondok pesantren. Untuk menciptakannya, pihak pesantren menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang kreatif dan inovatif demi menyongsong arus globalisasi dunia yang mana mengharuskan output sumber daya manusia yang berkompetensi dalam segala bidang ilmu pengetahuan. (Nidhomatum MR)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG