IMG-LOGO
Daerah

Gusdurian Yogyakarta Kembali Adakan Kelas Pemikiran Gus Dur Ke-4

Sabtu 21 November 2015 22:5 WIB
Bagikan:
Gusdurian Yogyakarta Kembali Adakan Kelas Pemikiran Gus Dur Ke-4

Sleman, NU Online
Koordinator Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) Yogyakarta Ubaidillah Fatawi membuka kembali KPG Ke-4 di Joglo Abang, Sleman, Sabtu (21/11) pagi. Kelas ini mengarahkan peserta menggali kembali pemikiran dan gerak Gus Dur.
<>
Menurut Ubaid, Gus Dur merupakan model orang yang baik. Secara pemikiran tertuang dalam tulisan, dan pemikirannya tertuang dalam tindakan.

"Mempelajari pemikiran Gus Dur merupakan upaya kita untuk menjadi orang-orang baik. Gus Dur merupakan orang baik," kata Ubaid.

Ia menambahkan bahwa kelas pemikiran Gus Dur ini merupakan gerbang awal untuk mengkaji pemikiran Gus Dur. "Nantinya, peserta dapat memperdalam sendiri. Kami hanya pengantar untuk mengenalkan pemikiran Gus Dur," tambahnya.

Di sini akan belajar dasar-dasar pemikiran Gus Dur, tandasnya.

Kelas pemikiran Gus Dur Ke-4 ini, menurut keterangan Ketua Panitia Rifqiya, diikuti oleh 30 orang. "Yang daftar kelas pemikiran Gus Dur ke-4 ini semulanya 90 orang, namun hanya diterima 30 orang," kata Rifqiya.

Ia berharap, acara untuk mengkaji pemikiran Gus Dur tidak berhenti pada KPG. "Namun, nantinya dapat mempelajari pemikiran-pemikiran Gus Dur secara mendalam."

Peserta terdiri atas mahasiswa di sejumlah kampus Yogyakarta seperti UGM, UNY, UIN, Sanata Darma, UPN, UMY. Kelas Pemikiran Gus Dur ini diadakan hari Sabtu-Ahad (21-22/11) dengan berbagai materi. Sesi 1 diisi dengan materi "Biografi Intelektual Gus Dur" dengan narasumber Nur Khalik Ridwan. Pada sesi Ke-2, diisi dengan materi "Gagasan Keislaman Gus Dur" oleh narasumber H Imam Aziz.

Pada Ahad dilanjutkan sesi Ke-3 dengan tema " Gus Dur dan Demokrasi" diisi oleh Abdul Gaffar Karim. Sesi 4 dengan tema "Jaringan GUSDURian dan Brainstroming RTL”. Sesi Ke-5, "Gus Dur dan Gerakan Sosial" oleh Mustaghfiroh Rahayu. Dengan materi "Gagasan Kebudayaan Gus Dur" oleh Achmad Munjid. (Nur Sholikhin/Alhafiz K)

Bagikan:
Sabtu 21 November 2015 21:2 WIB
Sambut Hari Toleransi, Gusdurian Solo Putar Film Cahaya dari Timur
Sambut Hari Toleransi, Gusdurian Solo Putar Film Cahaya dari Timur

Solo, NU Online
Puncak peringatan Hari Toleransi Internasional yang diperingati 16 November, dirayakan pegiat Gusdurian Solo dan kader PMII Kentingan UNS. Mereka mengadakan kegiatan pemutaran film “Cahaya dari Timur” di Taman Yustisia Fakultas Hukum UNS, Senin (16/11).
<>
Menurut panitia pelaksana pemutaran film Bahar Sani, untuk pelaksanaan pemutaran film dan aksi dilaksanakan dalam rentang waktu sepekan.

“Meskipun Hari Toleransi diperingati 16 November, tapi kegiatan kampanye dan lain-lain dilakukan selama rentang waktu seminggu Jumat-Kamis (13-19/11) sesuai dengan kemampuan teman-teman komunitas,” terang Seknas Gusdurian Tata, Ahad (8/11).

Pada festival toleransi, pihak Seknas Gusdurian sudah merekomendasikan beberapa film, antara lain Cahaya Dari Timur (Beta Maluku) yang dirilis pada Juni 2014. Mengangkat kisah nyata seorang pelatih sepak bola yang menggunakan pendekatan sosial budaya untuk memutus mata rantai konflik agama pada generasi muda Ambon.

Pendekatan sosial budaya yang diambil adalah membentuk tim sepak bola yang terdiri dari berbagai agama. Hingga terjadi konflik perpecahan dalam internal tim sepak bola akibat kegagalan dialog menjelang perlombaan tingkat nasional. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Sabtu 21 November 2015 20:4 WIB
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Latihan Kader Muda
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Latihan Kader Muda

Sidoarjo, NU Online
Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU kecamatan Tulangan kabupaten Sidoarjo menggelar Latihan Kader Muda (Lakmud) 2015 di SMP Insan Kamil desa Karang Puri Wonoayu Sidoarjo. Lakmud tersebut akan berlangsung selama tiga hari, Jumat-Ahad (20-22/11).
<>
Ketua IPNU Tulangan Muhammad Fauzi mengatakan, untuk meningkatkan inteligensi kader dari mentalnya, maka IPNU-IPPNU Tulangan mengadakan acara tersebut yang bertajuk "Mari Kita Cetak Kader IPNU-IPPNU yang Berkarakter Luhur, Toleran dan Tetap Memegang Teguh Aswaja".

"Para peserta mendapatkan materi seputar IPNU-IPPNU, Aswaja atau ke-NUan, materi tentang dalil tradisi tahlilan, dalil adzan dua kali sholat Jumat, kepemimpinan, manajemen organisasi, pemecahan masalah, pengenalan studi usia, problem pendidikan seperti narkoba, bagaimana cara mengatasi dan menanggulangi narkoba," kata Fauzi, Jumat (20/11) malam.

Menurutnya, Lakmud tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena, pada Lakmud 2015 ini panitia juga mengadakan lomba kreasi pelajar. Pesertanya dari tingkat ranting hingga komisariat sekecamatan Tulangan. Para peserta lomba akan membuat karikatur atau kaligrafi foto ketua IPNU-IPPNU Tulangan dengan ukuran 60x50 cm. Bagi yang menang akan mendapatkan trofi dan sertifikat serta bingkisan hadiah dari panitia.

"Setelah ini ada penilaian Cabang award yang akan dilaksanakan pada Januari 2016 mendatang. Salah satu strategi kami dengan mengadakan lomba kreasi ini sekaligus mencetak kader untuk menjadi pengurus. Karena Mei akhir 2016 nanti, masa jabatan kami akan berakhir. Semoga dapat menumbuhkan ketua IPNU-IPPNU Tulangan yang lebih baik lagi," ungkap Fauzi.

Acara yang diikuti sekitar 80 peserta dari tingkat ranting dan komisariat IPNU-IPPNU sekecamatan Tulangan ini mampu melahirkan kader atau pemimpin yang bisa menjadi teladan bagi anggotanya.

"Alhamdulillah pesertanya ada yang dari IPNU Wonoayu dan IPNU Krian. Semoga dengan diadakannya Lakmud ini mampu mencetak kader yang berkarakter luhur, toleran dan tetap memegang teguh Aswaja An-Nahdliyah," tandas Fauzi. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Sabtu 21 November 2015 16:1 WIB
Para “Tuanku” Didorong Arif dan Santun dalam Berdakwah
Para “Tuanku” Didorong Arif dan Santun dalam Berdakwah

Padangpariaman, NU Online
Tuanku sebagai ulama di tengah masyarakat harus selalu istiqamah dalam menghadapi berbagai cobaan yang muncul untuk mencarikan solusinya. Dalam berdakwah di tengah masyarakat para tuanku diminta agar selalu bisa bersikap arif, bijaksana, dan santun.<>

Ketua Yayasan Pembangunan Pendidikan Anwaril Ilmu (YP2AI) Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur Kecamatan VII Koto Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat, Azrul Aswat Tuanku Mudo, mengatakan hal itu, pada pengukuhan gelar Tuanku Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur, Jumat (20/11/2015) malam di halaman pesantren tersebut. Pengukuhan gelar Tuanku, juga disertai dengan  pemberian ijazah tingkat Aliyah, Tsanawiyah dan Khatam Al-Qur'an  di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur. 

"Tuanku yang dikukuhnya ini harus mampu menjadi pencerah di tengah masyarakat. Di tengah kegalauan umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi begitu pesat, umat membutuhkan nasehat dari para ulama. Tuanku yang sudah dididik di pondok pesantren diharapkan tetap meningkatkan ilmu pengetahuan dengan terus belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi," kata Azrul Aswat, mantan Walinagari Lareh Nan Panjang ini.

Tugas utama tuanku adalah, kata Azrul, bagaimana menyakinkan kepada masyarakat bahwa kepastian hisab di hari akhirat kelak. Semua perbuatan manusia di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Sehingga umat dalam  berbuat sesuatu yang baik dan buruk, yakin akan dipertanggungjawabkan kelak.

"Tuanku dalam menyampaikan dakwahnya harus menjadikan Islam rahmatan lil'alamin. Islam yang mendatangkan kedamaian, menyelesaikan masalah dengan penuh kearifan. Bukan menyelesaikan masalah dengan kekerasan yang menimbulkan masalah baru lagi. Selama ini tuanku mampu menjadi contoh di tengah umat. Hal ini harus terus dipertahankan oleh tuanku yang dikukuhkan malam ini," tutur Azrul Aswat.

Sementara itu, Pimpinan Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur Ali Basar Tuanku Sutan Sinaro menegaskan, pengukuhan tuanku ini bukan berarti berhenti belajar ilmu agama Islam. Jika di pesantren sebelumnya hanya menuntut ilmu untuk diri sendiri. Namun setelah pengukuhan ini, selain untuk diri sendiri, juga untuk umat. Artinya tuanku harus pula belajar di tengah-tengah masyarakat. "Mereka yang dikukuhkan menjadi tuanku, dinilai sudah siap untuk terjun ke tengah masyarakat," kata Ali Basar.

Dikatakan, Ali Basar, pondok pesantren sudah mendapat perhatian dari Pemerintah. Apalagi dengan ditetapkannya Hari Santri 22 Oktober beberapa waktu lalu oleh Presiden RI Joko Widodo, semakin mengkokohkan eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang berwawasan kebangsaan. Untuk itu, santri yang belajar di pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur  diminta terus giat belajar.

Tuanku yang dikukuhnya sebanyak 10 orang. Masing-masing Rasidatul Fatni gelar Ustadzah Mursyidatul Ummah, Fella Fadilla gelar Ustadzah Mazra'atul Husni, Widia Erlita gelar UstadzahMukinatum Fiddin, Aminah gelar Ustadzah Musiratul Ilmi, Poni Irwanto gelar Tuanku Bagindo  Mangkuto, Nur Halifah gelar Ustadzah  Mutakkinah, Yunita gelar Ustadzah Mutmainnah, Syaiful Anwar gelar Tuanku Kuning, Akhirman gelar Tuanku Bagindo Sulaiman dan Maysadi Saputra gelar Tuanku Mudo Malano.

Selain itu, juga diberikan ijazah kepada 29 tingkat tsanawiyah dan khatam Al-Qur'an 39 orang. Saat ini Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ambung Kapur memiliki santri sebanyak 410 orang. Tingkat Aliyah berjumlah 150 orang, tingkat tsanawiyah 260 orang dan 36 orang guru agama/umum. Pesantren ini berdiri sejak 1996. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG