IMG-LOGO
Pustaka

Mengungkap Keagungan dan Kemuliaan Rasulullah

Senin 23 November 2015 12:5 WIB
Bagikan:
Mengungkap Keagungan dan Kemuliaan Rasulullah

Di zaman yang serba modern ini, segala hal dituntut harus sesuai dengan akal (rasio), sehingga apa-apa yang bertentangan dengan kaidah akal, hukumnya wajib ditolak. Hal ini pula yang melatarbelakangi muncul dan berkembangnya kaum-kaum modernis sebagai bentuk perlawanan dari kaum tradisional yang mereka pandang banyak amaliyah-amaliyahnya bertentangan dengan rasio, sehingga mereka mencap para kaum tradisionalis sebagai kaum yang gandrung pada Takhayyul, Bid’ah dan Churafat (TBC).<> Sehingga gerakan purifikasi mereka adalah “Kembali kepada Al-Qur’an dan al-Hadist”, padahal untuk kembali kepada dua sumber hukum tersebut tidak semudah apa yang mereka gembor-gemborkan. Dibutuhkan berbagai disiplin keilmuan untuk memahami apa yang ada dalam dua sumber tersebut,

Pada kesempatan ini, Abdul Aziz Sukarnawadi menulis sebuah karya yang mengupas tentang keagungan-keagungan yang dimiliki oleh Sayyidina Muhammad, yang selama ini banyak yang tidak diketahui oleh umat Islam pada umumnya. Dalam buku ini membahas tentang beberapa tema, contohnya tentang maulid, tentang Rasulullah sebagai ciptaan pertama Allah yang paling agung, dari dan untuk beliau terciptalah alam semesta beserta isinya, tentang memuji Rasulullah dapat menyembuhkan penyakit lumpuh dan membuka segala gerbang kebajikan, tawasul, keistimewaan dan kesaktian shalawat dan masih banyak yang lain. Namun di sini saya menjabarkan sedikit dari isi yang ada dalam buku ini.

Sayyidina Muhammad, makhluk pertama

Jauh sebelum terwujud ruang dan masa, sebelum tercipta langit dan bumi, sebelum tergagas siang dan malam, sebelum terencana dunia dan akhirat, bahkan jauh sebelum terbina Arsyi, Kursi, Lauh dan Qalam. Ketika itu tiada satu pun bernama makhluk, yang ada hanyalah Sang Maha awal tanpa permulaan, Ialah Allah Swt. Lalu Allah Swt berfirman dalam hadis Qudsi: “Pada awalnya Aku tidak diketahui, maka Aku menciptakan makhluk lalu aku memperkenalkan diri-Ku kepada mereka, dan dengan-Ku mereka mengenal-Ku.” Maka bekehendaklah Dia untuk mencipta, Ia memulaikan kekhaliqan-Nya untuk yang pertama kalinya. Sehingga terciptalah sebuah cahaya sakti nan abadi yang amat dikasihiNya. Cahaya itu pun menjadi asal muasal segala makhluk sejagat raya dan alam semesta. Darinya, karenanya, dan untuknya lah tercipta segala yang ada. Cahaya keagungan yaitu Sayyidina Muhammad Saw. dengan simbol al-Haqiqoh al-Muhammadiyah atau an-Nur al-Muhammad. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita: “Aku telah menjadi cahaya di hadapan Tuhanku empat belas ribu tahun sebelum proses penciptaan adam dimulai” dan dalam riwayat lain “Aku telah menjadi hamba Allah dan penutup para nabi di saat Adam masih dalam proses penciptaannya.” 

Alasan merayakan maulid

Perayaan maulid nabi adalah salah satu sunah hasanah, yang berlandaskan tuntutan agama. Bahkan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menekankan bahwa Rasulullah lah yang pertama kali merayakan maulid tersebut dengan cara berpuasa. Oleh sebab itu, sebagai pengikut beliau, kitalah yang lebih pantas bersyukur dan berbahagia dengan berbagai cara yang mampu kita lakukan, sebab Rasulullah tidak pernah membatasi cara memperingati maulid beliau dengan cara puasa. Perayaan maulid tidak memiliki cara-cara yang khusus dan terbatas, melainkan bebas dilakukan dengan cara apapun selagi dalam koridor halal, positif dan bermanfaat bagi umat dalam rangka meningkatkan cinta dan taat kepada Rasulullah Saw.

Karunia dan rahmat Allah yang terbesar bagi umat manusia bahkan alam semesta adalah Rasulullah Saw. sehingga kegembiraan di musim maulid Nabi sesungguhnya merupakan aplikasi terhadap perintah Allah Swt. Meskipun beliau juga wafat di bulan, tanggal dan hari yang sama, akan tetapi bersuka cita memperingati rahmat di sisi Allah lebih baik daripada berduka cita memperingati sebuah musibah. Lagipula kepergian Rasulullah Saw. ke alam hakiki bukanlah musibah yang harus disedihkan, melainkan nikmat baru yang patut diraih kebaikannya, sebagaimana sabda beliau “Wafatku baik buat kalian, karena amal perbuatan kalian diajukan kepadaku. Apabila aku melihat yang baik maka aku bersyukur, namun bila aku melihat yang buruk maka aku mintakan ampun dari Allah untuk kalian.” (HR. al-Bazzar).

Di antara hal-hal yang dipermasalahkan oleh kelompok Wahabi dalam perayaan maulid antara lain, berdiri saat menceritakan kelahiran Rasulullah Saw. sambil membakar kemenyan, lalu meminum air yang tengah disuguhkan dalam majelis. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menjelaskan, semua itu hanyalah ekspresi penyambutan kepada Rasulullah Saw. yang didasari sebuah kepercayaan bahwa arwah beliau mampu menghadiri setiap majelis maulid yang dilangsungkan umat Islam di mana saja. Hal itu tidaklah wajib dan tidak pula haram, karena ia sebatas improvisasi etis dari para pecinta yang sedang membayangkan atau tepatnya merasakan kehadiran Baginda.

Raulullah mencintai muslim Indonesia

Alkisah, ketika pengasuh Pesantren asy-Syifa’ wa al-Mahmudiyah Sumedang KH Muhyidin Abdul Qadir al-Manafi bertemu dengan ulama-ulama besar di pinggir makam Rasulullah Saw. di Madinah, ada seorang guru Sufi bernama Syekh Utsman melihatnya lalu bertanya tentang nama dan asal-usulnya. Setelah Syekh Ustman mengetahuinya berasal dari Indonesia, Syekh Ustman kemudian menceritakan sebuah rahasia yang belum pernah dibuka kepada siapapun sebelumnya.

Syekh Ustman mengakatan, dulu ia bersama gurunya pernah berziarah ke makam Rasulullah Saw. Guru dimaksud memasuki ruangan makam dan bertemu langsung dengan Rasulullah Saw. dalam keadaan terjaga (bukan mimpi) lalu melihat lautan manusia yang sangat banyak terlihat sepanjang mata memandang. Dari lautan manusia yang tak terhingga Jumlahnya itu, ia melirik ke sekelompok orang dan jumlahnya terbanyak di antara sekian lautan manusia yang ada.

Guru Syekh Ustman pun tercengang dan bertanya kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah, siapakah mereka?”. Beliau menjawab: “Mereka adalah kekasih-kekasihku dari Indonesia”. Guru Syekh Ustman ini kemudian menangis terharu lalu keluar sembari bertanya kepada para Jamaah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.”

Pada Sabtu malam, 15 Maret 2014, dalam acara rutin Majelis Riyadhul Jannah bertempat di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dihadiri puluhan ribu muslim, KH Abdul Qadir Manafi melakukan penjelasan atas berita gembira tersebut yang kemudian ramai disebar di beberapa media massa. Iapun menegaskan kebenaran kisah tersebut, dan ulama yang menerima kabar gembira dimaksud merupakan salah seorang guru Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki.

Dari beberapa bab yang disebutkan di atas bahwa tidak semua kebenaran harus didasarkan rasionalitas. Kabar gembira yang menyebutkan bahwa Rasulullah mencintai umat Islam Indonesia patut dijadikan kebahagiaan serta motivasi tersendiri agar kita selalu menjaga Indonesia dalam beraqidah Ahlussunnah wal Jamaah serta meneruskan dan memperjuangkan amaliyah-amaliyah yang telah ulama-ulama lakukan serta tidak terbuai oleh rayuan gombal dalam slogan yang indah tetapi hanya bualan belaka.

Data Buku 

Judul : Di Bawah Lindungan Rasulullah Saw; Menyibak Tirai Keagungan Sang Manusia Cahaya
Penulis : H. Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. MA.
Penerbit : CV. Aswaja Pressindo
Terbitan : I, 2015
Tebal : xviii + 366 Halaman; 15 x 23 cm
ISBN : 602-14838-5-5
Peresensi : M Ichwanul Arifin, Mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Bagikan:
Senin 16 November 2015 8:30 WIB
Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan
Kiai Ahmad Dahlan, Pejuang NU yang Terlupakan

Mungkin kita sebagai Nahdliyin sering mendengar nama sekaliber KH Hasyim Asy’ari ataupun KH Wahab Chasbullah, namun kita jarang bahkan tidak mengenal nama KH Ahmad Dahlan. Beliau merupakan salah satu tokoh NU pada era awal yang menjabat sebagai wakil rais aam, satu tingkat di bawah KH Hasyim Asy’ari yang menjabat sebagai rais akbar Nahdlatul Ulama, juga sebagai penggerak dan pembela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.<> Seperti yang dikatakan oleh Soekarno tentang Jasmerah (angan sekali-kali melupakan sejarah), kita sebagai Nahdliyin dilarang keras untuk melupakan sejarah kita sendiri. Dengan mengenal tokoh-tokoh awal NU, kita dapat meneladani bagaimana perjuangan serta pengorbanan para muassis NU yang tidak hanya menegakkan agama tetapi juga menegakkan berdirinya NKRI hingga dapat kita rasakan sampai saat ini.

Adalah Wasid Mansyur yang berhasil menuangkan dalam sebuah buku tentang biografi, sejarah perjalanan, serta komitmen beliau. Buku ini juga berhasil mengulas pemikiran Kiai Dahlan untuk membentengi akidah rakyat Surabaya pada waktu itu yang mulai terserang virus TBC (Takhayyul, Bid’ah, Churafat) yang disebarkan oleh firqah di luar Ahlussunnah wal Jamaah atau yang biasa dikenal dengan sebutan Wahabi dalam magnum opusnya yaitu kitab “Tadzkiratun Naf’ah”. Buku ini juga disertai bukti sejarah, sehingga apa yang ditulis dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta tidak sekedar asal bunyi (asbun).

Kiai Dahlan bernama lengkap Ahmad Dahlan ibn Muhammad Ahyad, terlahir pada 13 Muharram 1303 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Oktober 1885 di Kebondalem Surabaya, sebuah wilayah yang berada di Kecamatan Simokerto, sebelah timur makam Raden Rahmatullah Sunan Ampel, Kiai Dahlan merupakan putra ke empat dari enam bersaudara.(hlm. 4-5) Pendidikan beliau dimulai dari ayahnya sendiri, KH Muhammad Ahyad, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Kebondalem Surabaya. Setelah itu Kiai Dahlan belajar kepada Syaikhona Kholil ibn Abdul Latif (pengasuh pondok pesantren Kademangan, Bangkalan-Madura) lalu dilanjutkan berguru kepada Kiai Mas Bahar ibn Noer Hasan (pengasuh pondok pesantren Sidogiri Pasuruan).(hlm 9-10). Ini membuktikan bahwa keilmuan yang dimiliki oleh Kiai Dahlan merupakan keilmuan yang memiliki sanad yang jelas dan bersambung hingga kepada sayyidina Muhammad, karena banyak anak muda zaman sekarang yang berguru kepada internet yang jelas-jelas tidak memiliki sanad.

Dalam dunia pergerakan, Kiai Dahlan merupakan tokoh yang sangat sentral dalam membangun jaringan antar pesantren, letak pesantren Kebondalem yang strategis memberikan kemudahan tersendiri bagi beliau untuk merintis jaringan tersebut. Dengan jaringan inilah Kiai Dahlan dapat mengerti kondisi terkini yang dihadapi bangsa, termasuk isu-isu tentang keagamaan. Kiai Dahlan juga berperan penting bagi berdirinya Taswirul Afkar (kontekstualisasi pemikiran) yang didirikannya bersama Kiai Wahab dan Mangun, yang mana perkumpulan ini merupakan perkumpulan diskusi/kajian yang membahas dan mencari solusi atas masalah-masalah keagamaan dan sosial kemasyarakatan kaitannya dengan persoalan kekinian yang dihadapi oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Sedangkan dalam urusan pembiayaannya, Kiai Dahlan bersama pimpinan lainnya mendirikan Syirkatul Amaliyyah, yaitu semacam koperasi yang sahamnya dijualbelikan kepada para anggota Taswirul Afkar. Langkah ini disinyalir turut membantu pembiayaan kebutuhan harian, apalagi tidak adanya subsidi dari pemerintah Hindia-Belanda untuk perkumpulan tersebut. Kiai Dahlan bersama para kiai yang lainnya, juga berhasil membentuk MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) pada tanggal 12-15 Rajab 1356 H, bertepatan pada 18-21 September 1937. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menyatukan semangat kebangsaan antar seluruh ormas Islam untuk merespon penjajahan serta mentolerir segala perbedaan antar ormas sebagai sebuah keniscayaan.

Kiai Ahmad Dahlan juga menulis sebuah kitab pencerahan kepada umat, khususnya warga Surabaya untuk menyikapi kondisi sosial keagamaan yang tengah terjadi pada masyarakat umumnya. Misal, Kiai Dahlan menegaskan bahwa pada prinsipnya –setidaknya dari kacamata Syafi’iyyah– ada keharusan melaksanakan shalat Dhuhur bagi pelaku Shalat Jum’at yang diadakan di dua masjid atau lebih dalam satu wilayah. Hanya saja, ketegasan ini digarisbawahi dengan penyuguhan pandangan jika pelaksanaan shalat Jum’at dalam dua tempat di satu wilayah tidak ada kebutuhan. Bila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya masjid awal tidak cukup, maka shalat Jum’at di dua Masjid dalam satu wilayah diperbolehkan sehingga tidak ada keharusan shalat dhuhur setelah shalat Jum’at usai. (hlm. 83-84).

Kemudian yang menjadi perhatian Kiai Dahlan adalah merebaknya pembid’ahan kepada amaliyah warga NU. Dalam tulisannya tersebut, Kiai Dahlan dengan tegas mengawali “Bahwa semua yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi adalah bagian dari vid’ah merupakan orang yang bodoh dan tidak memiliki pendirian yang kuat (al-Juhlal al-Mutahawirun)”. Untuk memperkuat pandangannya, Kiai Dahlan mengutip bid’ah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khattab yang mengerjakan terawih secara berjamaah, yang kemudian Sayyidina Umar mengatakan “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”. (hlm. 88).

Beliau juga mengulas pandangannya tentang pola serta perilaku kelompok tertentu yang mengatasnamakan Islam tetapi tindakannya sama sekali tidak mencerminkan budi pekerti Islam. Mereka hanya memaksakan kehendak menjadi Islam yang paling benar, padahal mereka seharusnya bisa belajar kepada empat imam mazhab yang memiliki pandangan tersendiri tetapi tetap menjaga toleransi hingga akhir hayatnya.

Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kita bagaimana menjaga serta mempertahankan paham dan ideologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, ditambah lagi di era yang serba canggih ini kelompok-kelompok di luar paham tersebut akan lebih mudah menyebarkan virus-virus radikalnya serta dengan mudahnya mereka mengkafirkan amaliyah-amaliyah warga Nahdliyyin. Kiai Dahlan juga mengajarkan kita bagaimana menyatukan semangat kebangsaan kita dan menghargai perbedaan pendapat sebagai sebuah keniscayaan serta menjaga keutuhan NKRI di tengah arus rongrongan makar yang dilakukan oleh segelintir kelompok Islam.

Data buku 

Judul : Biografi Kiai Ahmad Dahlan; Aktivis Pergerakan dan Pembela Ajaran Aswaja
Penulis : Wasid Mansyur
Penerbit : Pustaka Idea
Terbitan : I, 2015
Tebal : xxiv + 144 hlm
ISBN : 978-602-72011-5-6
Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Senin 9 November 2015 8:59 WIB
Membongkar Pemikiran dan Peyimpangan Sekte Wahabi
Membongkar Pemikiran dan Peyimpangan Sekte Wahabi

Dalam keyakinan kaum muslimin, sejak Islam pertama kali hadir di Jazirah Arab, ia sudah mendeklarasikan diri sebagai agama universal: agama untuk seluruh manusia, bukan agama ras, sektarian, apalagi agama komunitas tertentu. Dan, sudah barang tentu ia juga mengandung semangat sebagai agama rahmat, kedamaian, dan humanis bagi sekalian alam. Keyakinan demikian ini secara teologis—maupun historis—memang sangat berasalan.<> Karena Nabi Muhammad Saw. diyakini sebagai nabi sekaligus rasul terakhir dalam sejarah agama-agama semit. Tentunya pula, risalah yang beliau emban—yang kemudian disampaikan kepada umatnya—adalah risalah penyempurna dari nabi-nabi terdahulu. 

Keyakinan tersebut bukan berarti menafikan kenyataan historis bahwa sesungguhnya pola penerapan Islam ini, dari satu nabi ke nabi yang lain senantiasa berubah-ubah sesuai situasi zaman dan kondisi umat di mana mereka ditugaskan. Dalam bahasa lain, Islam yang mereka anut adalah sama (satu)—sama-sama menyeru kepada Tuhan yang Esa. Sementara pola penerapan syariat, cara, dan pendekatan dalam mengajak mereka menuju ke agama satu ini beraneka ragam. Dalam bahasa agama, pola semacam ini disebut “addîn wâhid wa asy-syar’iah mukhtalifah”.

Demikian pula, artikulasi pemahaman mengenai Islam yang kita anut juga amat beragam. Bahkan dalam sejarah pemikiran Islam, semua ini diekspresikan dalam beragam bentuk. Ada Islam Sunni, Islam Syi’ah, Islam Khawarij, Islam Muktazilah, Islam Murjiah, Islam Wahabi, dan Islam-Islam yang lain. Kesemuanya ini—dalam batas tertentu—bisa dianggap sebagai sekte-sekte yang berkembang di dalam tubuh Islam. Masing-masing golongan juga sama-sama merasa sebagai golongan yang selamat. Hal ini seperti sabda Nabi: “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanyalah satu—Ahlussunnah wal Jama’ah”.

Sebagai ekspresi keagamaan hal ini sebetulnya absah-absah saja, dan merupakan bagian dari sunnatullah. Meski kenyataannya, menjaga keragamaan ini bukanlah hal mudah. Selalu saja ada rintangan sana sini yang menghadang. Bahkan upaya dialog dengan mereka pun sering buntu, dan berujung pada “pengkafiran”. Ini terjadi karena apa yang mereka yakini, pahami, sudah menjadi semacam “ideologi tertutup” yang sedemikian mengkristal. Sedikit pun tak ada celah untuk dibuka. Kebenaran penafsiran keagamaan yang benar hanya milik satu golongan, sementara golongan yang lain dinilainya salah, sesat. 

Upaya dialog ini misalnya sudah jauh-jauh hari ditempuh oleh para intelektual Islam klasik kita. Banyak di antara mereka yang secara khusus menulis sebuah karya, baik itu berupa risalah-risalah kecil, buku, ensiklopedia madzhab, maupun kritik sekalipun. Sekadar menyebut paling terkenal misalnya, dalam bidang teologi dan perbandingan agama, kita mengenal “Maqâlat al-islamiyyîn wa ikhtilâf al-mushallîn” karya Abu Hasan al-Asy’ari, “Al-Milal wa an-nihal” karya Syahrastani, “Al-Farqu baina al-firaq”, karya Abdul Qahir Al-Bagdadi, dan masih banyak lagi karya-karya lain yang menghiasi khazanah intelektual Islam.     

Buku karya KH Muhammad Faqih Maskumambang ini adalah satu di antara sekian karya—yang ditulis oleh ulama pembela Aswaja awal abad ke-20 M.—yang juga bisa dikategorikan dalam upaya dialog tersebut—atau bahkan kritik terhadap mereka. Dalam buku ini, penulis mencoba menghadirkan ulasan yang cukup tajam dan argumentatif dalam mengkritik golongan yang suka mengkafirkan pihak lain itu—secara khusus Wahabi. Terlebih narasi logika yang diketengahkan dalam buku ini referensinya diambil langsung dari kutipan dan buku-buku induk golongan ini. Hal ini tentu menjadikan buku ini kian memiliki nilai lebih dibanding dengan buku-buku lain yang sejenis, misalnya. 

Meski sayangnya, penulis buku ini tidak menyuguhkan—memetakan—secara utuh mengapa tokoh-tokoh yang diketengahkan dalam buku ini tergolong sebagai Wahabi. Hanya menjadikan pandangan-pandangan revivalisme mereka—yaitu kembali kepada ajaran pokok agama, Al-Qur’an dan hadits—sebagai tolok ukur, tentu tidaklah memadai. Padahal kenyataannya, tidak semua tokoh yang diketengahkan dalam buku ini memiliki satu karakter pemikiran dan orientasi yang sama—kendatipun inspirasi pemikiran pembaharuan mereka peroleh dari generasi sebelumnya: terinspirasi belum tentu mesti sama, tetapi di sana ada polarisasi, fragmentasi, visi dan evolusi pemikiran yang plural.

Terlepas dari itu, buku ini tetap memiliki nilai pentingnya tersendiri—terutama dalam sudut pandang tradisi intelektual ulama Nusantara. Nilai penting ini setidaknya dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama, buku ini mengulas cukup panjang dan teliti ketika membongkar distorsi-distorsi yang dilakukan oleh kelompok Wahabi terhadap pemikiran-pemikiran ulama Aswaja, sehingga hal demikian akan menyingkap watak pemikiran mereka sesungguhnya. Kedua, buku ini memberikan pemahaman dasar yang cukup mamadai kepada para pembaca mengenai akidah dan fikih Aswaja, serta konsesnsus-konsensus yang disepakati oleh ulama Aswaja. Hal ini tentu sangat membantu para pembaca (masyarakat) dalam rangka memetakan mana pemikiran yang dianggap benar, dan mana pemikiran yang dianggap meyimpang dari konsensus para ulama, serta dapat membantu membentengi diri mereka dari bahaya golongan ini bagi persatuan umat. 

Ketiga, buku ini memiliki nilai historis yang panjang dan penting. Ia pertama kali dicetak/diterbitkan dalam bahasa Arab dan disebarluaskan di Mesir—dan dunia Arab umumnya—tahun 1922 M. Sehingga, secara tidak langsung buku ini setidaknya diakui urgenitasnya oleh ulama-ulama saat itu. 

Keempat, buku ini adalah karya ulama Nusantara sekaligus pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU), sehingga karya ini bisa dibilang sebagai representasi sikap/pemikiran NU awal mengenai golongan Wahabi. Bahkan tidak berlebihan bila dikatakan bahwa buku ini adalah buku pertama dari kalangan ulama Nusantara yang secara khusus mengkritik sekte Wahabi dengan amat bernas. 

Kelima, selain itu, dalam kesempatan ini, buku ini—yang hampir sejak satu abad lalu menghilang dari wacana publik—diterbitkan ulang tidak hanya dalam satu bahasa saja, tetapi dua bahasa: Arab dan Indonesia dalam satu buku. Apalagi penyajian buku ini juga dilengkapi dengan ulasan singkat nama-nama tokoh maupun sumber-sumber kitab yang menjadi rujukan, sehingga kesemua ini memudahkan para pembaca dalam menelusuri jejak tradisi (transmisi) keilmuan sekaligus memahami secara utuh pemikiran penulis dengan baik. 

Secara subtansial, buku setebal 303 halaman ini, sangatlah menarik dan penting. Bahkan dalam kata pengantar, KH Maium Zubair menegaskan bahwa apa yang dikandung dalam buku ini amat layak diketahui oleh mereka yang mengaku sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama, dan pembela Aswaja—dan tentunya bagi umat Islam yang menyukai ajaran Islam yang damai, santun, dan humanis.

Data buku

Judul Buku Asli : An-Nushûs al-Islamiyyah Li Ar-Rad ‘Ala al-Wahabiyyah
Judul Terjemah : MenolakWahabi, Membongkar Peyimpangan Sekte Wahabi dari Ibnu Taimiyah hingga Abdul Qadir at-Tilmisani
Penulis : KH Muhammad Faqih Maskumambang
Penerjemah : KH Aziz Masyhuri
Kata Pengantar : KH Maimun Zubair
Penerbit : Penerbit Sahifa
Cetakan/tahun : 1/2015
Tebal : 303 hlm.
Bahasa : Arab dan Indonesia
Peresensi : M Abdul Rouf, mahasiswa pascasarjana Universitas Al-Azhar, Kairo 

Senin 2 November 2015 16:30 WIB
Meneguhkan Percaturan Politik Nusantara
Meneguhkan Percaturan Politik Nusantara

Politik hanyalah alat bukan tujuan. Kaidah ini yang dijadikan tongkat oleh Kiai Wahab Chasbullah dalam meneguhkan percaturan politik bangsa kita pada tahun 1914-an hingga 1970-an. Masa perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Dengan gigih ia menghadapi pancaroba politik yang penuh tantangan dan tekanan. Haluan politisi yang lahir dari rahim pesantren ini untuk kemaslahatan rakyat (mashâlihur ra’iyah) <>bukan kepentingan golongan. Gagasan berliannya terkuak dalam bukunya, “Kaidah Berpolitik dan Bernegara”. 

Buku edisi khusus Muktamar ke-33 NU ini berusaha mengumpulkan karya tulisnya yang tersebar di pelbagai media massa, buku, catatan muktamar, serta sidang konstituante. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2014 menunjukkan kepiawaiannya dalam berpolitik dan bernegara. Di antara seni politiknya tampak pada ungkapannya, di zaman ini kita harus pandai berdiplomasi dalam menghadapi Nippon. Sama-sama bersuara Hu tetapi artinya bisa berbeda. Ada Hu yang artinya huntalen (telanlah) dan ada yang Hu artinya hucolono (lepaslah), (hal. 115). Nah, bagaimana hubungan Indonesia dengan negara lain (misal, Cina) di periode Kabinet Kerja sekarang ini?

Kaidah kenegaraannya tegak kokoh dan menjadi telekan dalam pengabdiannya pada negara dan bangsa. Ia menyebutkan dalam bukunya yang cover merah itu, kita berperan dan membela negeri ini, serta mampu menempatkan diri secara benar. Terlibat dalam setiap urusan. Bahkan harus berani menjadi pelopor dalam bidang yang pihak lain tidak bisa mejalankan, (hal. 69). Namun ironis bila melihat kancah politisi dan negarawan hari ini. Tipis. Atas nama rakyat ‘sejahtera’ namun ‘jerat’ rakyat. 

Menyelami samudera perjuangannya untuk kebangkitan Indonesia kita menemukan mutiara kaidah, bahwa sang kreator inilah tokoh pertama yang memaknai nasionalisme yang meng-cover nilai Islam dan me-revere pada nilai sejarah budaya Nusantara. Nasionalisme Indonesia. Hal ini memudahkan penerimaan konsep Pancasila. Bung Karno menyebutkannya pada 1 Juni 1945. nasionalisme Indonesia berbeda dengan nasionalisme yang berkibar di Barat. Ide kiai tersebut mengakomodir hubungan simbiosis mutualistis antara agama dan negara. Proyek politik Nusantara ini telah terwujud dalam bentuk Nahdlatul Wathon (kebangkitan bangsa) (1914). 

Realisasi politik Nusantaranya adalah dengan mengadakan kajian-kajian keagamaan dan politik, serta bersilat dalam diplomasinya. Ini sebagai penyebaran gagasan nasionalisme yang berwadahkan Tasywirul Afkar (gerakan pemikiran). Tujuan utamanya untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia atau yang lebih kita kenal dengan istilah NKRI. Karena pada masa itu penjajahan Belanda masih membelenggu bangsa. 

Sepak terjang politiknya meliputi: strategi politik, demokrasi, ekonomi dan kemandiriannya, penanggulangan pemberontakan, pertahanan nasional, gerakan kemandirian rakyat, diplomasi internasional, dan tentu saja tak lupa tentang agama. Salah satu bukti diplomasi internasionalnya, Kiai Wahab melayangkan surat ke Raja Abdul Aziz bin Sa`ud dengan lima poin permohonan, di antaranya, untuk meminta kemerdekaan bermazhab bagi rakyat Hejaz pada salah satu Imam yang empat, Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafi`ie, (hal. 104-106). Lima permohonan tersebut dikabulkan. 

Pejuang ini mempunyai insting politik yang tinggi. Ia termasuk yang menyetujui perjanjian San Fransisco 8 September 1951. Alasannya sangat rasional dalam kebijakan politik luar negeri itu. Argumennya kuat, bahwa jika Jepang kelak bangkit dan Indonesia tidak ikut menandatangani maka Jepang akan balas dendam. Kalau suatu ketika Jepang hendak melakukan ekspansi militernya ke selatan maka Indonesia akan juga dilibas. Rakyat menjadi korban. Ada dua keuntungan bagi Indonesia yang diungkap oleh Kiai Wahab dalam penandatanganan San Fransisico, yaitu: harga diri yang bersifat mental politis dan keuntungan material yang berupa rampasan perang.

Gagasan sang kreator ini masih banyak yang tidak tersampul dalam buku suntingan Mun`im DZ. Melihat bukti perjuangannya bagi Indonesia, buku ini belum seberapa untuk mewakili penampungan ide-ide berliannya, khususnya dalam percaturan politik Nusantara. Bangsa Indonesia mengakui ketokohan Kiai Wahab. Figur yang intelek dan politisi yang titis dalam membidik langkah politiknya. Politisi ini termasuk pejuang `45 yang membawa kemerdekaan Indonesia dari cengkraman penjajah. Jasa perjuangannya tak cukup diakui sebagai tokoh Pahlawan Nasional bagi bangsa yang gemah ripah loh jinawi ini, namun juga, bangsa ini wajib mensyukuri kemerdekaan Indonesia dengan memerdekakan diri dari rantai kemalasan. 

Kiai Wahab mewariskan semangat perjuangan. Dari bukunya terlihat keyword sosok yang lengkap, gabungan antara aktivisme, intelektualisme, dan spiritualisme. Perjuangan untuk melepas mudarat rakyat. Kiai Wahab mengisyaratkan, bahwa persatuan sebagai pondasi untuk membangkitkan kemajuan bangsa, (hal. 118). Senjata paling tajam dan ampuh untuk meraih mashâlihur ra`iyah adalah kesatuan dan persatuan. 

Bangsa kita saat ini membutuhkan satu arah kesejahteraan bersama di setiap belahan tanahnya yang gembur subur. Oleh karenanya laik bagi kita membaca Indonesia dengan lebih komprehensif dan dalam. Kiai Wahab berjuang di setiap lini. Di antaranya di empat model politik demi kebangkitan bangsa dan negara, siyâsah tijâriyah (politik perdagangan), siyâsah najjâriyah (politik pertukangan), siyâsah falahiyah (politik pertanian), dan siyâsah hukûmiyah (politik pemerintahan). Ini konklusi berpolitik dan bernegara Kiai Wahab. Rumusan pemikiran sang pelopor ini mengeguhkan percaturan politik Nusantara yang arif dan bijaksana bagi semua!

Data buku

Judul : Kaidah Berpolitik dan Bernegara
Penulis : KH Abdul Wahab Chasbullah
Penerbit : Langgar Swadaya, Depok
Cetakan : II, Januari 2015
Tebal : 164 Halaman 
Peresensi : Maghfut MR, staf peneliti ICRS UGM dan Adab UIN Su-Ka Jogja

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG