IMG-LOGO
Pendidikan Islam

Didirikan Aktivis NU, Pesantren Ini Menjadi “Center of Excellence” di Kota Depok

Selasa 1 Desember 2015 5:1 WIB
Bagikan:
Didirikan Aktivis NU, Pesantren Ini Menjadi “Center of Excellence” di Kota Depok

Tahun 2013 lalu, Madrasah Aliyah (MA) Al-Nahdlah Depok pertama kali ikut serta dalam agenda pendidikan nasional yaitu Ujian Nasional (UN).  Namun salah seorang siswa angkatan pertamanya sudah meraih nilai rata-rata tertinggi pertama tingkat MA se-Depok.<>

Ia adalah Luthfi Mafatihu Rizqia. Siswa kelahiran Bandung ini mendapatkan nilai rata-rata 8,9 (delapan koma Sembilan). Bersama siswa MA Al-Hamidiyah yang mendapatkan peringkat kedua, dan satu siswa lagi yang mendapatkan juara ketiga, Luthfi mendapatkan penghargaan khusus dari Kementerian Agama Kota Depok.

MA Al-Nahdlah terintegrasi dengan Pondok Pesantren al-Nahdlah atau Al Nahdlah Islamic Boarding School yang beralamat di kelurahan Pondok Petir, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok. Pesantren ini dirintis oleh beberapa aktivis muda NU. Mereka adalah Hilmi Muhammadiyah, Asrorun Niam Sholeh, Sulthan Fatoni, Abdullah Masud, Ridwan Taiyeb, dan Khoirul Hadi Nasution.

Di atas tanah ilalang, sepuluh tahun yang lalu sebuah gedung mulai dibangun. Gedung ini merupakan buah hasil pemikir-pemikir muda NU dalam wadah yayasan yang mereka beri nama eLSAS (Lembaga Studi Agama dan Sosial) yang eksis mengkaji masalah-masalah agama dan sosial sesuai dengan namanya. Nama “Al-Nahdlah” pun dipilih sebagai langkah kebangkitan sebuah pendidikan. Nama Al-Nahdlah juga dinisbatkan kepada Nahdlatul Ulama (NU).

Pesantren ini menerapkan model pembelajaran yang terintegrasi (Integrated Learning System) antara pendidikan umum dan agama, dengan moto “Center of Excellence” (Pusat Keunggulan).    

Pada 2006, pesantren ini memulai proses pembelajaran untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs). Siswanya tidak hanya bersal dari daerah Depok, tetapi juga daerah lain di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Di tahun berikutnya, rekrutmen peserta didik MTs. Al-Nahdlah menjadi lebih selektif. Hanya siswa yang mempunyai keunggulan akademis saja yang diutamakan, dan itu pun dibatasi hanya 25 orang. Tahun-tahun berikutnya Al-Nahdlah mulai menjadi madrasah dan pesantren yang pantas diperhitungkan di Kota Depok dengan berbagai macam torehan prestasi.

Sejak didirikan pesantren ini sudah meraih banyak sekai prestasi tingkat daerah dan nasional, antara lain Juara Umum Porseni Muharram, Juara I Lomba Pidato Bahasa Arab, Juara Umum Olimpiade MIPA HAB Departemen Agama Depok ke 64, Juara II & III      Lintas Alam Nusantara dalam Event Exploting Nusantara Art and Culture Smart Ekselensia, Juara II Cerdas Cermat Matematika, Juara I        Olimpiade MIPA Kategori Fisika dan Kimia, Juara 1 Pidato Bahasa Inggris Porseni, sampai Sekolah Terbaik di Kota Depok.

Empat tahun MTs al-Nahdlah didirikan dan meluluskan siswanya, tahun berikutnya pesantren ini mendirikan Madrasah Aliyah (MA). Konsep sekolah lanjutan tingkat atas ini sama dengan MTs yang didirikan sebelumnya, yakni terintegrasi dengan pondok pesantren.

Menurut Kepala MA Al Nahdlah, H Abdullah Mas’ud, semua siswa diwajibkan tinggal dan mengikuti semua kegiatan yang diterapkan di asrama atau pondok pesantren.

“Dulu kita pernah menerima siswa yang pulang-pergi, tapi malah justru menjadi virus bagi anak yang ada di dalam (pesantren). Akhirnya semua kami wajibkan tinggal di asrama. Selain itu kalau ada yang tinggal di luar, pembinaannya tidak full,” kata Mas’ud, di Depok, Senin (23/11).

Secara akademik, MA Al Nahdlah membagi siswanya ke dalam tiga jurusan, yakni sosial, keagamaan dan sains. “Yang keagamaan mau kita jadikan pillot project yang menjadi acuan untuk madrasah lain,” tambahnya.

Menjelang akhir masa pendidikan siswa MA An-Nahdlah mendapatkan tugas akhir menyusun paper sesuai dengan jurusan masing-masing. Mereka harus punya penelitian sesuai jurusan masing-masing melalui program pembinaan terstruktur. Mereka juga akan diarahkan dan difasilitasi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan bakat dan minat.

Sebelum lulus, siswa MA mengikuti Program Pengabdian Masyarakat (PPM). Para siswa ditempatkan di daerah terpencil dan berbaur dengan masyarakat setempat. “Tahun kemarin di Bogor. Tahun ini di Cibinong. Mereka ngajari masyarakat di sana,” kata Mas’ud.

Al Nahdlah Islamic Boarding School cukup punya nama di wilayah Depok dan Jawa Barat karena aktif mengkutsertakan para siswanya dalam berbagai ajang perlombaan. Pesantren ini tercatat pernah menjuarai Lomba Baca Kitab Kuning pada Mutsabaqoh Fahmi Kutubit Turats se-Jawa Barat, Juara Lomba Cerdas Cermat Matematika XI Tingkat MTs Jabodetabek, Juara Lomba Lintas Nusantara SMART Expo Nasional, Juara II Lomba yel-yel Kegiatan Roadshow Kesehatan Sekolah se-Depok, Juara Olimpiade Matematika (Optika) XII Se-Jawa Barat, Juara 2 Ketrampilan Kepramukaan Penegak Putri se Kota Depok, Juara Olimpiade Biologi (KKM MTs Depok) Depok, dan Juara Olimpiade Fisika (KKM) MTs Depok. Di bidang olah raga, pesantren ini juga mencatatkan prestasi untuk cabang atletik tingkat Kota Depok dan Jawa Barat.

Awal tahun 2014 lalu, Al-Nahdlah Islamic Boarding School bersuka cita dan menunjukkan jati dirinya sebagai “center of exellence” dengan memborong 8 penghargaan. 7 gelar juara diperoleh di ajang Muhadhoroh Kubro se-Jabodetabek yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Mukhlishin Ciseeng Bogor. Sedangkan 1 gelar juara lagi disabet dari Sonic Linguistic 2014 yang diselenggarakan oleh MAN Insan Cendekia Serpong.

Tahun 2015 ini, Al-Nahdlah Islamic Boarding School meluncurkan beberapa agenda dalam rangka memperingati 10 tahu berdirinya. Al Nahdlah telah menggelar acara bulan bahasa yang diisi dengan beberapa lomba, diantaranya lomba puisi, story telling, kisah para sahabat dan pahlawan Indonesia. (A. Khoirul Anam)

 

Foto: Launching 10 Tahun Al Nahdlah Islamic Boarding School 2015 

Bagikan:
Selasa 1 Desember 2015 17:31 WIB
MI ISLAMIYAH PRAPAG KIDUL
40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara
40 Tahun Isi Pendidikan Agama di Pesisir Pantai Utara

Tak bisa dipungkiri, pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia telah banyak mencetak generasi yang justru mampu merawat tradisi masyarakat lokal. Tak hanya itu, para lulusan lembaga pendidikan Islam klasik tersebut juga telah melahirkan banyak pejuang kemerdekaan Indonesia. Hal inilah yang menginisiasi masyarakat untuk mendirikan madrasah formal sebagai tindak lanjut pendidikan di pesantren.<>

Masyarakat di Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah misalnya. Diadvokasi oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU setempat, masyarakat di desa tersebut berhasil mendirikan madrasah pertama di pesisir pantai utara Kecamatan Losari pada tahun 1975 dengan nama Madrasah Ibtidaiyah Al-Islamiyah Prapag Kidul, Losari. Selama 40 tahun, madrasah ini dipercaya oleh masyarakat di empat desa, yakni Desa Prapag Kidul, Prapag Lor, Karang Dempel, dan Limbangan untuk mengisi pendidikan agama kepada anak-anak di pesisir pantai utara.

Tak banyak juga yang mengetahui, bahwa MI Al-Islamiyah Prapag Kidul ini merupakan salah satu madrasah tertua di Kecamatan Losari. Meskipun di Desa Prapag Kidul saat ini terdapat 3 Sekolah Dasar (SD), masyarakat lebih memilih madrasah ini untuk pendidikan anak-anaknya karena sudah dipercaya masyarakat selama puluhan tahun.

“Madrasah ini terus berusaha mengembangkan diri dari berbagai aspek dan keterampilan pendidikan untuk memenuhi aspirasi masyarakat juga, karena MI ini lahir dari masyarakat,” ujar Kepala MI Al-Islamiyah Prapag Kidul Losari, Burhanuddin, SPdI.

Setiap tahun, MI Al-Islamiyah Prapag Kidul selalu dipenuhi dengan pendaftar. Sehingga terkadang harus menolak calon siswa baru. Untuk menyikapi persoalan ini, MI Al-Islamiyah terus berusaha mengembangkan sarana dan prasarana berupa penambahan ruang belajar siswa. Perkembangan pesat ini bisa dikatakan dimulai sejak tahun 1995. Terhitung sejak tahun tersebut, MI Al-Islamiyah telah memperluas lahan untuk dibangun ruang kelas baru.

Perkembangan sarana dan prasarana itulah yang bisa dikatakan, bahwa MI Al-Islamiyah lebih maju dibanding 3 sekolah umum setingkatnya di Desa Prapag Kidul. Jadi, jika di SD ruang kelas 1 hanya ada 1 kelas, di MI Al-Islamiyah telah menyediakan 2 kelas. Hingga 2015 sekarang, perkembangan madrasah yang menjadi primadona warga pesisir ini cukup representatif dalam memajukan pendidikan Islam di tengah masyarakat.

Iklim pengajaran berbasis lingkungan

Sarana yang semakin banyak membuat masyarakat juga tak perlu khawatir untuk memasukkan anaknya ke MI Al-Islamiyah Prapag Kidul. Kini, madrasah sedang mengembangkan lingkungan yang ramah anak untuk proses pengembangan pendidikannya. Lingkungan yang memadai menjadi salah satu perhatian utama madrasah untuk mewujudkan iklim pengajaran yang nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik.

Dengan lingkungan yang memadai, MI Al-Islamiyah memanfaatkan keragaman lingkungan seperti membuat taman dengan berbagai penghijauan. Selain itu, madrasah juga memanfaatkan lingkungan sekitar yang masih asri untuk sarana outdoor learning para siswanya dalam memahami keanekaragaman hayati. Khususnya karakter daerah pesisir pantai dengan khazanah historis yang melingkupinya. Untuk menunjang hal tersebut, madrasah juga menggunakan instrumen tradisi masyarakat lokal dalam rangka pemahaman budaya berbasis lingkungan, seperti sedekah bumi dan sedekah laut.

Sedekah bumi memiliki nilai-nilai luhur yang memberi pesan kepada peserta didik, bahwa bumi yang kaya harus dikelola dengan baik dan benar. Dari bumilah tumbuh berbagai macam tanaman, baik yang masyarakat tanam atau yang tumbuh secara alami di pekarangan atau kebun. Dari tradisi ini, peserta didik juga diajarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang dianugerahkan Tuhan dalam bentuk tanaman atau pepohonan yang menghasilkan bahan makanan sehari-hari. Hal tersebut menjadi media belajar siswa, bahwa menanam, menjaga, dan memelihara tumbuhan menjadi kewajiban manusia agar bumi selalu subur.

Demikian pula dengan tradisi sedekah laut, peserta didik juga dikenalkan dengan konsep pelestarian alam berbasis laut. Sehingga turut menjaga keanekaragaman laut untuk kehidupan di masa mendatang. Berangkat dari tradisi sedekah laut juga, para siswa diberikan pelajaran, bahwa mensyukuri anugerah Tuhan atas kekayaan melimpah di laut perlu dijaga, dilestarikan, dan disyukuri. 

Nilai-nilai pendidikan berbasis lingkungan tersebut sejalan dengan ajaran agama, ‘Kerusakan di laut dan di bumi merupakan ulah tangan para manusia.’ Sehingga generasi muda sebagai modal pembangunan perlu diberikan kesadaran sejak dini untuk melesatarikan lingkungan, baik di bumi maupun laut. Hal inilah yang mendorong MI Al-Islamiyah untuk mengembangkan pendidikan berbasis lingkungan. Apalagi sekarang, di tepi pantai, daratan semakin tergerus oleh laut yang berpotensi menggerus pemukiman sehingga masyarakat sudah harus sadar mengisi pesisir dengan penanaman pepohonan seperti mangrove.

Selain outdoor learning sebagai basis pengajaran, MI Al-Islamiyah juga mengembangkan keterampilan siswa dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Madrasah ini menerapkan sistem ngaji bareng hingga shalat berjamaah sebagai ekstrakurikuler agama. Selain itu, kecerdasan psikomotorik juga dikembangkan oleh MI Al-Islamiyah melalui berbagai kegiatan olahraga, seperti ekstrakurikuler bola voli. Selain itu, medan daerah pesisir juga sangat cocok untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang dilakukan oleh gerakan pramuka MI Al-Islamiyah.

Saat ini, MI Al-Islamiyah dikelola oleh Yayasan Al-Islah Prapag Kidul, Losari, Brebes. Madrasah ini juga salah satu madrasah yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Sebab itu, pola pengajaran paham keagamaan mengacu pada prinsip Aswaja NU yang konsisten dengan prinsip dan paham Islam yang ramah dan toleran. (Fathoni)

Ahad 29 November 2015 21:30 WIB
PESANTREN AN-NAWAWI TANARA
Bervisi Melahirkan Para Ulama Fukaha
Bervisi Melahirkan Para Ulama Fukaha

Pesantren An-Nawawi Tanara Serang Banten, sesuai dengan namanya, ingin mengambil spirit dari Syekh Nawawi Al Bantani, salah satu ulama asal Nusantara yang mampu menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional pada zamannya. Visi inilah yang ingin dijadikan spirit oleh KH Ma’ruf Amin ketika mendirikan pesantren An-Nawawi pada tahun 2001 yang menginginkan pesantren ini bisa menjadi tempat untuk melahirkan ulama, khususnya para ahli fikih.<>

KH Ma’ruf mengatakan, pengkaderan ulama kini semakin mendesak mengingat para ulama sepuh sudah pada meninggal sementara belum banyak generasi muda yang dipersiapkan menggantikan mereka. Jika hal tersebut terjadi, bisa menyebabkan kelangkaan ulama. Untuk mencapai visi tersebut, sistem pendidikan sedari awal sudah diarahkan ke sana. Di pesantren yang lokasinya di daerah tempat kelahiran Syekh Nawawi itu, kini sudah berdiri Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang akan dikembangkan sampai pendidikan tinggi dengan fokus dalam kajian fikih dari S1 sampai dengan S2. “Kami fokus di ilmu fikih karena ulama itu kan ahli fikih, dan disana kekuatan para ulama,” katanya.

Untuk menghasilkan para ulama yang kompeten, tentu bukan hal yang mudah dan waktu yang singkat. Strategi yang dilakukannya adalah mengambil keunggulan-keunggulan yang ada di berbagai pesantren lalu dicangkokkan dalam kurikulum pesantren. Untuk keunggulan bahasa Arab dan Inggis, diambil metode dari pesantren Gontor sedangkan kemampuan membaca kitab diambil dari keunggulan pesantren salaf. Satu hal lain adalah para santri di sini diharapkan juga hafal Al-Qur’an. Karena itu, metode pengajaran dari pesantren yang fokus pada hafalan Qur’an juga diterapkan di pesantren ini. 

Diakuinya, tak mudah mencapai target ambisius tersebut. Karena itu mau tidak mau harus dilakukan kompromi, misalnya untuk lulusan Aliyah, hanya ditargetkan mampu menghafal 15 juz Qur’an yang nantinya bisa dilanjutkan dalam jenjang berikutnya. Sementara itu, untuk kajian kitab, yang digunakan adalah kitab-kitab yang selama ini memang sudah biasa digunakan di pesantren, salah satunya Tafsir Jalalain. Para santri belajar dan mengaji sampai malam.  

Mereka yang belajar di sini juga diwajibkan mondok atau tinggal di asrama pesantren. Sebelumnya santri tidak diwajibkan tinggal di pesantren, tetapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Pertama, waktu belajarnya minimal sekali sedangkan kedua, pergaulannya tidak terjaga. Di pesantren, para santri diajari akhlak dan etika pergaulan yang baik, tetapi begitu keluar pesantren maka langsung rusak lagi. 

“Biar orang situ, tetap harus mondok. Kalau ngak mau mondok, ngak usah sekolah situ,” tegasnya. 

Untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas atau mampu menyediakan pendidikan bagi kelompok tidak mampu, Kiai Ma’ruf yang kini juga rais aam PBNU ini berusaha mencarikan beasiswa dari para pengusaha yang masih memiliki komitmen keumatan. Jaringannya dalam ekonomi syariah yang luar ternyata juga banyak membantu mengembangkan pendidikan yang dikelolanya. 

Sebagian besar muridnya kini masih berasal dari seputar Banten, sebagian dari Lampung. Tetapi kini mulai ada yang berasal dari Papua. Ia sangat senang adanya santri asli Papua ini karena bisa diharapkan menjadi ulama yang bisa mengembangkan Islam di Papua.

“Susah sekali kalau orang luar Papua karena mereka dianggap sebagai pendatang. Karena itu, kita harus mengkader orang Papua sebanyak mungkin. Rencananya masih akan ada yang akan dikirim ke sini lagi,” paparnya. 

Untuk Pendidikan Tinggi, saat ini masih dalam proses perizinan. Ia menjelaskan targetnya adalah mengembangkan ilmu fikih. Sayangnya, saat ini belum ada nomenklature Fakultas Ilmu Fikih sehingga Kementerian Agama menganjurkannya untuk membuat kajian akademik untuk itu supaya nantinya bisa diproses dan menjadi keputusan resmi. Baginya, tak masalah menjadi pelopor karena memang ia mengaku suka mengembangkan sesuatu yang sebelumnya belum digeluti orang lain, seperti perjuangannya dalam mengembangkan ekonomi syariah. 

“Saya suka memulai sesuatu yang baru, nanti yang lain akan enak karena tinggal mengikuti,” paparnya.

Prinsip yang banyak dianut oleh kalangan pesantren adalah mempertahankan yang lama yang masih baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik. Tetapi baginya hal tersebut belumlah cukup. Mengambil yang baik dari orang lain belum kreatif dan inovatif dan dinamis.Upaya perbaikan harus dilakukan secara berkelanjutan karena yang lebih baik hari ini besok tidak lebih baik, besok yang lebih baik, lusa tidak lebih baik. “Jadi tiga hal ini merupakan satu kesatuan, menjaga yang lama, mengambil yang lebih baik, dan melakukan perbaikan ke arah yang lebih baik secara berkelanjutan.”

Mengenai alasannya hanya akan mengembangkan pendidikan tinggi dengan fokus dalam kajian ilmu fikih sampai tingkat S2 saja, hal ini dikarenakan lulusan S2 sudah memiliki pemahaman yang kuat sehingga lebih aman dari upaya “pencucian otak” jika pergi ke tempat lain. Beda dengan lulusan Aliyah. 

Kasarannya, mereka bisa dibiarkan berenang di lautan karena sudah memiliki basis,” imbuhnya. 

Jika semua pengembangan keilmuan tersebut kokok, ia berharap pesantren An-Nawawi juga dapat menjadi tempat berhimpunnya para ulama untuk membahas berbagai masalah keumatan dan kebangsaan. 

Kiai Ma’ruf menyadari, mimpi tersebut butuh perjuangan dan kerja keras serta kesabaran. Berbagai kelemahan terus dievaluasi dan dicarikan solusinya. Sikap optimis dan yakin bahwa kendala apapun bisa diatasi menjadi penyemangat untuk tetap teguh memelihara dan melangkah menuju visi yang dicita-citakan. (Mukafi Niam) 

Ahad 29 November 2015 16:0 WIB
MI Al-HIDAYAH PACUL
Raih Prestasi dengan Sistem Pembelajaran di Alam Terbuka
Raih Prestasi dengan Sistem Pembelajaran di Alam Terbuka

Saat ini, persaingan lembaga sekolah tingkat dasar memang sangat pesat. Mulai dari segi infrastruktur, fasilitas belajar, sistem belajar hingga raihan prestasi yang diperoleh siswa setiap sekolah. Terlebih lagi, lembaga sekolah tingkat dasar yang berbasis Madrasah Ibtidaiyah (MI) sering dianggap sebelah mata dalam segi pembelajaran kepada anak didiknya. Karena stigma inilah, Madrasah Ibtida'iyah (MI) Al Hidayah, Desa Pacul, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur berbenah dan membuktikan bahwa madrasah bisa lebih baik.
<>
Usaha untuk menyukseskan impian itu salah satunya dengan menjalankan program pembelajaran inovatif dan inspiratif tanpa tidak membuat stres peserta didik dengan pembelajaran yang dijalankan. Akhirnya dipilihlah sistem belajar di alam terbuka yang juga menjadikan agenda rutin setiap tiga bulan sekali.

Program pembelajaran di alam terbuka ini wajib diikuti seluruh elemen madrasah mulai pendidik dan peserta didik. Pembelajaran langsung dilaksanakan dengan praktik sehingga para siswa-siswi bisa menerapkan teori yang diajarkan di meja kelas. Pembelajaran di alam terbuka ini bisa dilakukan di mana pun. Misalnya saja di persawahan, anak-anak dikenalkan tentang bagaimana cara petani menggarap sawah mereka sehingga menghasilkan beras yang dimakan setiap hari hingga di peternakan melihat bagaimana peternak memelihara ternak mereka.

Dengan sistem pembelajaran yang dilakukan, siswa-siswi semakin tertarik dan bisa abelajar dengan suasana baru. Tujuan terpentingnya peserta didik bisa lebih mengenal alam, mencintainya dan tahu bahwa alam ada untuk keberlangsungan hidup manusia, sehingga manusia bertugas agar terus menjaganya. Dari sistem pembelajaran yang diterapkan, meski MI Alhidayag berada di pinggiran kota tak membuat lembaga ini miskin prestasi.

Terbukti, banyak prestasi yang pernah diraih oleh siswa di antaranya pernah menjadi Juara II Olimpiade Sains Tingkat MI serta menjadi Runner Up Be number 1 (juara 2) Lomba Pengetahuan Alam Se- Kabupaten Bojonegoro yang diselenggarakan tahun 2015 ini.

Di sisi lain, selain unggul dari pengetahuan umumnya, MI Al hidayah juga termasuk sekolah yang menjadi media untuk turut mensyi'arkan agama Islam di wilayah Kecamatan Bojonegoro, khususnya di Masyarakat Desa Pacul. Sekolah yang terletak di samping masjid Desa Pacul ini awal berdirinya di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah pada Tahun 1968 oleh KH Mashudi Hasan. Diawali dengan madrasah berbasis Madrasah Diniyah (Madin) saat ini Madrasah Ibtida'iyah (MI) Al-Hidayah bisa menjadi lembaga pendidikan formal favorit masyarakat Kota Bojonegoro.

Asah Siswa dari Segi Amaliyah, Mental dan Karakter

Untuk menanamkan kebiasaan menjalankan amaliyah Islam, MI Al-Hidayah membiasakan siswa-siswinya untuk mempraktikkan Shalat Dhuha setiap hari sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Selain itu, untuk melatih mental dan karakter setiap siswa, mereka wajib praktik berbicara (pidato) di depan guru dan teman seperjuangannya setiap kali di kelas yang dilakukan terjadwal. Harapannya, dengan pembiasan yang diterapkan nantinya dapat mencetak generasi penerus bangsa yang berilmu, beriman dan berakhlakul karimah sesuai visi MI Al-Hidayah.

Dari segi sejarah, MI Al Hidayah Sejak berdiri tahun 1968 hingga kini mengalami 10 periodesasi kepemimpinan. Adapun periodesasi kepemimpinan tersebut dimulai dari pendiri awal KH.Masyhudi Hasan, dilanjutkan penerus-penerusnya Mahmudi Ali, Marwazi Hasan, Abdullah Masykur, Ali Musa,Muhammad Badri, Maryani Ahmad, Ngaijan, Mohamad Syaifuddin dan Muhaimin Abbas hingga saat ini.

Dalam perjalanannya pada tahun 1992, tepatnya saat lembaga di bawah kepemimpinan Muhammad Badri, MI Al-Hidayah tidak lagi berada di lingkup wilayah Ponpes Al Falah namun berdiri sendiri di bawah naungan Yayasan Al-Hidayah. Meski berdiri sendiri, semangat mesyiarkan agama Islam serta memajukan madrasah ibtida'iyah tetaplah menjadi motivasi utama.

Seiring berjalannya Waktu, kini MI Al-Hidayah pacul di bawah kepemimpinan Muhaimin Abbas. Madrasah ini terus mengembangkan sistem belajar siswa-siswi agar terus mendapat suasana baru dalam belajar dengan menerapkan nilai agama yang dirangkai dengan materi kurikulum umum maupun agama. Salah satunya dengan program sekolah alam.

Muhaimin Abbas selaku kepala sekolah mengatakan, dengan sekolah di alam bebas diharapkan dapat memberi penyegaran otak semua siswa sehingga siswa yang belajar dapat termotivasi untuk terus belajar. Terbukti siswa dapat pengalaman dan banyak prestasi siswa yang diraih.

Selain pembelajaran intrasekolah, MI Al-Hidayah juga banyak menawarkan banyak kegiatan Ekstra kurikuler pada siswa agar nantinya siswa dapat mandiri serta dapat mengembangkan bakatnya dikemudian hari. Adapun ekstra
kurikuler yang ada di antaranya adalah Seni musik Piano, pidato, pramuka, tari dan banyak ekskul lainnya.

"Semoga MI Al-Hidayah Pacul ini ke depannya dapat dan layak bersaing untuk mengukir prestasi namun tak lepas menanamkan jiwa keislaman sejak dini di era modern ini," harap Muhaimin Abbas. (Nidhomatum MR)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG