IMG-LOGO
Nasional

PW Fatayat NU DKI Jakarta dan Seluruh Cabang Dilantik

Selasa 24 November 2015 0:4 WIB
Bagikan:
PW Fatayat NU DKI Jakarta dan Seluruh Cabang Dilantik

Jakarta, NU Online
Sekretaris Umum PP Fatayat NU Hj Margaret Aliyatul Maimunah membaca surat keputusan pada pelantikan pengurus baru Fatayat NU DKI Jakarta dan pengurus baru enam cabang Fatayat NU se-Jakarta di Balai Agung Gedung Balaikota jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (23/11) sore. Kepada mereka, Margaret berpesan agar mereka menjalankan tugas dengan penuh amanah.
<>
“Selamat bertugas dan selamat mengabdi untuk Nahdlatul Ulama,” kata Margaret di hadapan sedikitnya 100 pengurus baru Fatayat NU Jakarta.

Sementara Ketua Fatayat NU DKI Jakarta Hj Rahayu Sri Rahmawati dalam sambutan pelantikannya mengajak para pengurus baru untuk berdoa untuk suami dan orang tua mereka. Menurut Rahayu, suami dan orang tua para aktivis Fatayat NU telah berjasa dalam mendukung mereka aktiv di ruang publik.

“Pelantikan ini awal dari perjuangan dan tantangan kita dalam mewujudkan masyarakat sesuai Aswaja Nahdlatul Ulama,” kata Rahayu.

Tampak hadir Ketua PBNU H Marsudi Syuhud dan Kepala Dikmental dan Spiritual Pemrov DKI Jakarta H Ahmad Ghozali.

Menurut Ghozali, pihak Pemrov DKI Jakarta mendukung gerakan Fatayat NU DKI Jakarta dan enam cabangnya. “Kita harap pengurus baru susun program realistis dan sesuai dengan pengembangan potensi kepemudaan di DKI Jakarta. Sekurangnya Fatayat NU DKI Jakarta menjadi duta tertib lalu lintas, tertib hunian, tertib demonstrasi, tertib PKL, dan tertib kebersihan,” kata Ghozali.

Enam pengurus cabang di Jakarta meliputi Fatayat NU Jakarta Pusat, Fatayat NU Jakarta Barat, Fatayat NU Jakarta Utara, Fatayat NU Jakarta Timur, Fatayat NU Jakarta Selatan, Fatayat NU Kepulauan Seribu. (Alhafiz K)

Bagikan:
Selasa 24 November 2015 21:1 WIB
JELANG KONGRES XV GP ANSOR
Tiga Pimpinan Wilayah Usung Abdussalam Shohib
Tiga Pimpinan Wilayah Usung Abdussalam Shohib

Jakarta, NU Online
Pelaksanaan Kongres GP Ansor ke XV di Yogyakarta pada 25-27 November 2015 nanti kian menarik. Kemunculan sejumlah kandidat ketua yang menyatakan diri kesiapannya untuk menuju kursi GP Ansor terus mewarnai pesta demokrasi pemuda Nahdliyin tersebut.
<>
Tiga Pimpinan Wilayah GP Ansor meliputi PW GP Ansor Aceh, Banten, dan PW Kalimantan Barat (Barat) Senin (23/11) menyatakan dukungannya untuk memenangkan Abdussalam Shohib.

“Setelah saya cermati, Sahabat Abdussalam Shohib ini adalah kandidat yang paling ideal diantara calon yang ada. Sampai saat ini, Gus Salam (panggilan Abdussalam Shohib-red) masih menunjukkan konsistensi yang tinggi untuk bekerja secara ikhlas di GP Ansor. Dia belum berpartai dan hal itu menunjukkan betapa dia mampu meredam libido kepentingan politik yang ada sekitarnya,” ujar Ketua PW GP Ansor Aceh, Samsul B Ibrahim, Senin (23/11).

Keputusannya yang belum terjun dalam dunia politik sambung Samsul merupakan modal yang sangat besar. Di tengah-tengah tingginya animo pemuda NU untuk berpolitik di lintas partai politik seperti Golkar, PPP, Gerindra, PDIP, PKB, Nasdem, Demokrat, dan partai-partai politik lainnya, kehadiran Gus Salam sebagai tokoh non-partisan tentu mampu merekatkan semua kepentingan. Dengan demikian, GP Ansor pada akhirnya diharapkan benar-benar menjadi rumah besar para pemuda di seluruh Indonesia.

Selain itu, Samsul menilai Gus Salam memiliki karakteristik sosial seorang pemimpin. Kendati lahir dalam trah keluarga pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni cucu KH Bisri Syansuri, namun Gus Salam mampu membangun empati dari sesama kader Ansor se-Indonesia. Dengan cara bergaul yang luwes dan komunikasi dua arah yang dibangun secara produktif, maka tak heran Samsul menilai sosok Kiai Muda ini sudah mendapatkan dukungan yang banyak dari para pemilik suara.

“Kalau Anda bertemu dengan dia, Anda nggak akan tau bahwa sebenarnya dia itu adalah cucu pendiri NU. Orangnya ramah, lues, berwawasan tinggi dan mudah berakulturasi dengan siapa saja. Ini adalah sosok ketua yang kami harapkan agar mampu merekatkan semua pihak,” pungkasnya.

Di lain tempat Ketua PW GP Ansor Kalimantan Barat (Kalbar) Nurdin juga menyampaikan apresiasi yang sama. Baginya, dedikasi yang telah ditunjukkan oleh Gus Salam dalam mengasuh Pondok Pesantren Sepuh, Mambaul Maarif Jombang, merupakan indicator yang sangat penting untuk melihat konsistensi seorang Gus Salam. Di tengah-tengah tingginya kompetisi global di antara sesama pemuda di tanah air, Gus Salam masih bertahan di dunia pesantren untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan keindonesiaan.

“Itu modal dasar yang harusnya menjadi catatan para kader Ansor di seluruh Indonesia. Kita tidak mungkin memilih ketua yang obsesinya politik melulu. Dan Gus Salam sudah menunjukkan betapa urusan pesantren juga menarik menjadi pilihan para tokoh-tokoh muda baik untuk pengembangan SDM, maupun sebagai alat untuk menjaga nasionalisme keindonesiaan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PW GP Ansor Banten, Ahmad Imron yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Darul Falahiyyah Banten berharap pesta demokrasi ala Pemuda Nahdliyin ini bisa berjalan sebagaimana mestinya. Hadirnya para kiai-kiai muda dalam bursa demokrasi pemuda Nahdliyin menunjukkan betapa tingginya kepedulian mereka terhadap GP Ansor dan persoalan-persoalan kepemudaan yang terjadi di Indonesia secara umum. Padahal secara personal Imron melihat, para kiai muda ini telah berada dalam zona nyaman baik dalam konteks ekonomi maupun social.

“Dan Gus Salam berani mengambil sikap untuk keluar dari zona nyaman untuk berkontribusi secara luas di GP Ansor. Hal itu haruslah diapresiasi dan kami mendukungnya secara penuh,” sebut Alumnus Lirboyo tersebut.

Untuk diketahui, saat ini dukungan terhadap Gus Salam terus menguat. Selain dari lingkaran GP Ansor sendiri, dukungan terhadap Gus Salam juga muncul dari tokoh-tokoh NU seperti Imam Nahrawi, Marwan Djakfar, Muhammad Nasir, Saifullah Yusuf, dan sejumlah tokoh-tokoh muda lainnya di Indonesia. (Red: Abdullah Alawi)

Selasa 24 November 2015 20:1 WIB
JELANG KONGRES IPNU-IPPNU
Tersedia Stan Bazar dan Panggung Apresiasi Pelajar
Tersedia Stan Bazar dan Panggung Apresiasi Pelajar

Pemalang, NU Online
Jelang perhelatan akbar tiga tahunan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang akan digelar di Asrama Haji Boyolali, Jawa Tengah, 4-8 Desember 2015, Panitia Daerah Kongres memfasilitasi stand bazar. Disediakan juga Panggung Apresiasi pelajar untuk memeriahkan acara.
<>
Ketua Panitia Daerah Kongres IPNU XVIII Ahmad Naufa Khoirul Faizun menyampaikan hal itu pada Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) IPNU Jawa Tengah dan suksesi kongres IPNU XVIII di Aula Kantor PCNU Pemalang Sabtu, (21/11).

"Ada dua kategori stand bazar yang kita buka: khusus untuk kepengurusan cabang-cabang IPNU-IPPNU di Jawa Tengah yang mendaftarkan diri dan peserta umum dari swasta" ungkapnya kepada puluhan ketua cabang-cabang IPNU.

Untuk panggung apresiasi, lanjut Naufa, kader IPNU-IPPNU bebas menampilkan apa saja, semisal menyanyi, stand up comedi, musikalisasi puisi, berpidato dll. Panitia menyediakan panggung berikut perlengkapan alat musik standar.

"Kepada cabang IPNU-IPPNU di semua level yang berminat memeriahkan acara, kita harapkan untuk segera medaftarkan diri," imbuhnya.

Sampai hari ini, puluhan pendaftar sudah memesan stand bazar tersebut. Adapun yang berminat mendaftar, dapat menghubungi Panitia Daerah Kongres IPNU XVIII bagian bazar di nomor: (085-642-757-044 / 085-742-308-135).

Selain mengevaluasi dan membahas hal-hal elementer organisasi, ribuan peserta kongres juga akan memilih ketua umum IPNU dan IPPNU untuk tiga tahun mendatang. Presiden Joko Widodo dan beberapa menteri dijadwalkan hadir dalam forum tertinggi organisasi pelajar NU tersebut. (Irmawan/Abdullah Alawi)

Selasa 24 November 2015 19:33 WIB
BEDAH BUKU
Memberikan Pemahaman Agama yang Baik dan Benar
Memberikan Pemahaman Agama yang Baik dan Benar

Jakarta, NU Online
Menyerap pemahaman atau informasi agama di dunia maya kerap kali berdampak pada pola pikir para Netizen dan masyarakat. Jika tanpa disaring dan dipahami secara mendalam, orang akan mudah terpengaruh dengan pemahaman agama yang dangkal sehingga menimbulkan sikap radikal dan intoleran terhadap tradisi, budaya, dan perbedaan secara keseluruhan.<>

Hal inilah yang menarik Ketua PBNU, HM Sulton Fatoni untuk menulis buku ‘Dear Felix Siauw’. Buku ini berawal dari interaksi penulis dengan Felix Siauw di media sosial twitter. Penulis buku ini berusaha memberikan koreksi terhadap pemahaman agama Felix yang membuat resah masyarakat dengan tweet-tweetnya.

“Seperti nasionalisme tak ada dalilnya, tahlilan sesat, dan ‘fatwa-fatwa’ lain yang membuat keresahan sosial di masyarakat. Hal ini menggerakkan saya untuk memberi semacam koreksi kepada dia dan para followernya, bahwa amalan keagamaan yang telah berkembang di masyarakat membawa nilai-nilai substansial agama,” ujar Sulton Fatoni saat acara bedah buku ‘Dear Felix Siauw’, Selasa (24/11) di Kampus UNU Indonesia, Jl Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat.

Felix, lanjut Sulton, seringnya memberikan ‘fatwa’ yang meresahkan tentang pemahaman dan amalan agama masyarakat di Indonesia, bukan mencerdaskan masyarakat dengan mengajaknya diskusi. Dia mengaharamkan amalan yang sudah menjadi semacam norma di tengah masyarakat. 

“Kebaikan itu nilai, untuk mewujudkan kebaikan, itulah norma. Amalan yang telah menjadi norma di masyarakat terbukti membawa kebaikan dengan makin eratnya tali silaturrahim dalam kegiatan istighotsah, misalnya, tahlil, bahkan ziarah kubur sekalipun,” ucapnya.

Hal yang dilakukan Felix ini, kata Sulton, menimbulkan goncangan sosial. Selain itu, ketertiban sosial juga terganggu. Sulton menerangkan tentang teori sosiologi yang menyatakan, bahwa jika ada satu orang membuat keresahan dan mengganggu di tengah kehidupan sosial masyarakat, orang tersebut layak untuk diusir demi kebaikan orang banyak.

“Dari kicauannya di media sosial, Felix ingin membawa semacam norma agama dari luar ke Indonesia. Jadi berusaha mengahncurkan norma masyarakat Indonesia kemudian diisi dengan norma dari luar negeri. Setelah norma tersebut diterima, dia tawarkan keimanan atas khilafah Islamiyah yang menurut dia termasuk rukun iman,” paparnya.

Dalam sesi diskusi, Sulton menerangkan, salah satu Kitab karya KH Hasyim Asy’ari tentang konsep ahlul haq dan ahlul bid’ah. Menurut Mbah Hasyim, ahlul haq yang maksud yaitu amalan-amalan kegamaan yang masyarakat Indonesia jalani, baik itu istighotsah, ziarah kubur, tahlilan, dan lain-lain sudah benar. “Sedangkan ahlul bid’ah yang beliau maksud, yaitu orang-orang sering menyalahkan amalan-amalanmu sehingga membuat resah dan risau atas keyakinan agamamu,” terangnya.

Acara bedah buku ini juga dihadiri oleh Redaktur Majalah Gatra, Asrori S Karni, pihak Penerbit Imania, Farid, dan dipandu oleh Fariz Alniezar sebagai moderator, serta hadir pula puluhan mahasiswa STAINU Jakarta dan UNU Indonesia yang memadati ruangan diskusi.

Dalam penjelasannya, Farid dari pihak penerbit buku ‘Dear Felix Siauw’ Imania menerangkan, bahwa penulis dan penerbit mempunyai semangat yang sama untuk memberikan informasi yang baik dan benar kepada masyarakat terkait ‘fatwa-fatwa’ meresahkan Felix Siauw.

“Tentu buku ini penting dibaca oleh generasi muda agar tidak terpengaruh oleh ideologi-ideologi radikal yang mengganggu keramahan di media sosial,” jelas Farid.

Sementara itu, Asrori S Karni juga mengatakan, buku ini memberikan pelajaran bagi kita, bahwa menulis dengan berbasis ketekunan riset sangat penting agar dapat memberi pemahaman yang utuh dan kuat. Buku ini, katanya, memberikan argumen yang menarik, isinya tantang pembelaan tradisi dan pemahaman keagamaan di tengah masyarakat Indonesia terkait ‘fatwa-fatwa’ mersahkan Felix Siauw.

“Sekarang ini, fenomena perbincangan dan perdebatan agama dana keyakinan sudah tidak terlalu sehat, terutama di media sosial. Kerap kali perdebatan menimbulkan bias pemahaman sehingga berdampak pada pemahaman keagamaan yang keliru, bahkan cenderung radikal. Sebab itu, buku ini hadir sebagai proteksi dari hal tersebut,” ucap Karni. (Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG