IMG-LOGO
Trending Now:
Pendidikan Islam
PESMA AL-HIKAM

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Kamis 26 November 2015 10:59 WIB
Bagikan:
Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Pondok Pesantren memegang peranan penting di masyarakat, sementara di perguruan tinggi masing-masing tempat para mahasiswa menuntut ilmu porsi pembinaan spiritual dan karakter mental masih sangat kurang. Karenannya harus tersedia tempat untuk membina moral, membangun karakter dan memperkuat basis keilmuan sehingga kelak akan mampu berperan secara maksimal di dunia kerja dan masyarakat yang tetap disemangati dengan nilai-nilai Keislaman, kebudayaan dan ke Indonesiaan. Hal itu yang selalu diungkapkan oleh Pendiri Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, KH A Hasyim Muzadi.<>

Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1989 berdiri Yayasan Al Hikam Malang dengan akte notaris NO 47/ 1989. Kemudian Pesantren Mahasiswa Al Hikam sendiri secara resmi berdiri pada tanggal 17 Ramadlan 1413 H/ 21 Maret 1992.

Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al Hikam yang beralamatkan di Jl. Cengger Ayam No. 25 Lowokwaru Kota Malang bercita-cita untuk menggabungkan sisi positif perguruan tinggi dan pesantren untuk mewujudkan generasi yang mempunyai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbudi pekerti luhur serta memiliki kepribadian dengan tetap memegang budaya dan semangat keIndonesiaan. Selain itu, Pesma Al-Hikam yang biasa disebut oleh para santri memiliki Motto “Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, dan Kesiapan Hidup

Untuk sampai kepada tujuan pendidikan di Pesma Al Hikam. Santri diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan minat dan bakatnya di berbagai media aktivitas yang ada di pesantren Mahasiswa Al Hikam. Media-media aktivitas tersebut antara lain : Organisasi Santri Pesantren Mahasiswa Al Hikam (Ospam), KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al Hikam, Taman Pendidikan Al-Qur’an Al Hikam, Mini Market Al Hikam, dan Unit Teknologi Informasi (UTI).

Diharapkan dengan berbagai aktivitas positif di dalam masing-masing unit tersebut santri yang aktif akan memiliki keterampilan dan pengetahuan praktis dalam mengelola lembaga, mengenal, melayani orang lain dan lingkungan, menyusun program, pengalaman kepemimpinan, dan keterampilan teknis tertentu yang mungkin tidak didapat secara langsung dari kelas baik di kampus maupun di pesantren.

Pengembangan perpustakaan 

Keberadaan perpustakaan dan pusat informasi berawal adanya taman bacaan, dimana koleksinya masih berupa kumpulan koleksi milik pengasuh yakni KH A Hasyim Muzadi yang dimanfaatkan oleh para santri untuk kebutuhan pengkayaan ilmu pengetahuan dan penumbuhan daya pikir santri. Pada saat itu koleksi perpustakaan masih belum dikelola secara profesional.

Sesuai dengan perkembangan waktu, keberadaan taman bacaan semakin dirasakan sebagai kebutuhan untuk mendukung kegiatan lembaga induknya, yaitu Pesma Al Hikam, STAI Ma’had Aly (STAIMA), maka sejak tahun 2003 bersamaan dengan berdirinya STAI Ma’had Aly (STAIMA), unit tersebut menjadi unit perpustakaan dan pusat informasi yang dikelola secara profesional oleh para pustakawan ahli yang terdiri dari 2 orang sarjana perpustakaan, 1 orang tenaga teknisi perpustakaan, 2 orang tenaga bantu yang memiliki kualifikasi kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Pada tahun 2011 koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan mencapai 5850 judul, 15.992 eksemplar yang dilengkapi dengan barkode dan terekam dalam pangkalan data (database) dan dilengkapi dengan opac (online public acces catalogue) dan jaringan internet. Disamping itu memiliki koleksi virtual library yang berjumlah 68 judul dengan subyek Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, bahasa Arab, bahasa Inggris, kajian keislaman. Koleksi tersebut terpasang dalam OPAC (Online Public Acces Catalouge) atau AISAL (Al-Hikam Integreted Self Access Learning). Untuk mengetahui koleksi buku dan kitab yang dimiliki oleh perpustakaan al-Hikam dapat diakses di: http://al-hikam.ddns.net/   

Sedangkan terkait akses ilmu pengetahuan, menurut Wakil Pengasuh Pesma Al-Hikam, KH Muhammad Nafi’ perpustakaan Al Hikam juga sudah sangat representatif. Dari data perpustakaan Al Hikam, terdapat 6.704 judul buku dengan total 17.304 eksemplar. Selain itu, terdapat sekitar 5.000 judul kitab berupa e-Book. 

”Kita sadar akan pentingnya perpustakaan, apalagi pesantren kita khusus untuk mahasiswa,” tandas pengurus PCNU Kota Malang yang juga menantu Mbah Muhith Muzadi. (Ahmad Rosyidi)

Bagikan:
Kamis 26 November 2015 16:44 WIB
MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya
MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya

Seorang guru tidak hanya dituntut untuk mencetak peserta didik yang mempunyai kecerdasan sosial, tetapi juga kecerdasan spiritual. Begitu itu juga dengan keterampilan. Guru atau madrasah juga harus mampu mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual berbasis budaya dalam diri anak didiknya. Hal itulah yang dilakukan oleh Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Jakarta.<>

Madrasah yang berlokasi di Jalan Karet Pedurenan Masjid, Setia Budi, Jakarta Selatan ini menggulirkan berbagai program untuk mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual kepada peserta didik. Program ini merupakan program yang cukup komprehensif untuk mewujudkan kecerdasan peserta didik dari berbagai aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Program-program tersebut diantaranya adalah shalat berjamaah mingguan yang dilakukan setiap hari Jumat di ruang ibadah yang sangat memadai, juga hapalan surat-surat pendek al-Qur’an. Selain itu, ada keterampilan seni musik seperti marawis, qasidah, angklung, pianika, dan drumband. Kemudian ada seni melukis, kegiatan muhadloroh, pramuka. Kemudian untuk mengembangkan keterampilan peserta didik dalam dunia IT, madrasah juga menyediakan laboratorium komputer berbasis internet dan ruang audio visual.

Budaya shalat berjamaah harus ditanamkan sejak dini pada generasi muda. Karena pada shalat berjamaah terkandung nilai kedisiplinan, ketertiban, dan kebersamaan. Seni musik seperti marawis juga dikembangkan guna melestarikan tradisi musik masyarakat Betawi, selain tari ondel-ondel yang juga diajarkan. Agar peserta didik juga mengenal kebudayaan lain, madrasah juga mengajarkan seni musik angklung, beserta keterampilan lain yang telah dijelaskan di atas.

Bagi MI Darul Ulum, bukan sekadar peserta didik mampu melalukan semua keterampilan tersebut, melainkan menghayati makna yang terkandung dari semua keterampilan berbasis budaya tersebut. Hal ini dilakukan agar kelak peserta didik juga mempunyai semangat (ghirah) untuk senantiasa menjaga, merawat, dan melestarikan berbagai keterampilan berbasis budaya tersebut.

Kepala MI Darul Ulum, Titin Supriatin, SPd mengatakan, bahwa dengan mengembangkan berbagai keterampilan, madrasah semakin diminati oleh masyarakat. “Dalam penerimaan peserta didik baru awal Juni 2015 lalu, Madrasah Darul Ulum telah ditutup sejak awal karena kursi telah penuh. Prinsip ‘Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah’ semakin memasyarakat dengan catatan sebuah madrasah mengembangkan diri,” ujar Titin.

Program tersebut, juga disampaikan Titin, karena MI Darul Ulum memiliki visi, yaitu ‘Menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berakhlak mulia’. Untuk mewujudkan visi dan misi mulia, MI Darul Ulum merekrut guru-guru unggul sebagai staf pengajarnya. Hal ini bukan berarti menafikan sarjana-sarjana pendidikan yang masih mempunyai pengalaman minim, melainkan para sarjana yang senantiasa mau belajar mengembangkan pendidikan madrasah.

Sejarah singkat Madrasah Darul Ulum

Yayasan Darul Ulum Al-Islamiyah berdiri tahun 1976 di Jakarta. Didirikan di atas tanah wakaf kurang lebih 1.000 meter yang diatasnamakan Alm Haji Basir (1908-1971). Perintis pendirian yayasan adalah pasangan suami istri KH M Machfuz Basir, putera alm H Basir dan istrinya, H Chodidjah Djumali. Sepulang dari belajar di Mesir, pasangan ini giat mengadakan pengajian dan majelis taklim, baik di kalangan anak-anak, remaja maupun orang tua, di sekitar kampung Pedurenan Masjid, Kelurahan Karet Kuningan Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan.

Cikal bakalnya di tahun 1972 hanya berbentuk pengajian di dalam rumah kediaman warisan orang tua yang dilaksanakan setiap hari, baik pagi, sore maupun malam. Semakin hari jumlah murid semakin banyak dan tidak tertampung lagi. Sehingga di tahun 1976 didirikanlah gedung madrasah dengan memanfaatkan bahan-bahan bangunan bekas bongkaran masjid yang terkena penggusuran.

Saat itu kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sore hari, mengingat pagi hari para siswa sekolah di SD. Namun seiring berjalannya waktu, pengajian sore hari itu diubah menjadi madrasah formal yang menekankan pada materi keagamaan.

Setelah meluluskan angkatan pertama Madrasah Ibtidaiyah (MI) di tahun 1982, Yayasan Darul-Ulum kemudian mendirikan pula jenjang berikutnya, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs). Menyusul kemudian mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tahun 1985.

Selain pendidikan formal, pembinaan keagamaan lewat berbagai majelis taklim juga dikembangkan. Majelis taklim khusus buat laki-laki diadakan tiap malam Kamis dan untuk ibu-ibu diadakan tiap hari Sabtu pagi. Selain yang bersifat pendidikan dan majelis taklim, Yayasan Darul Ulum juga memiliki aktivitas di bidang sosial dan ekonomi, yang fokus pada penyantunan anak-anak yatim, para janda, dhuafa, dan juga muallaf.

Khusus MI Darul Ulum, sampai tahun 2015 ini telah mencetak 33 angkatan. Terakhir acara Haflah Akhirussanah dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2015. Saat ini Ketua Yayasan Darul Ulum dijabat oleh H Ramli Rahmat. (Fathoni)

Foto: Para siswa MI Darul Ulum saat belajar memainkan alat musik angklung.

Rabu 25 November 2015 20:30 WIB
9 Guru Madrasah Terima Satya Lencana dari Presiden Jokowi
9 Guru Madrasah Terima Satya Lencana dari Presiden Jokowi

Jakarta, NU Online
Sebanyak sembilan guru dan pendidik madrasah menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Pemberian penghargaan itu diberikan Presiden dalam kesempatan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (24/11).<>

Mereka yang mendapat Satya Lencana adalah Masyitoh (Guru RA Muadz bin Jabal 2 Bantul Yogyakarta), Elvi Rahmi (Guru MIN Gulai Bancah Bukittinggi Sumbar), Nur Hasanah Rahmawati (Guru MTsN Maguwoharjo, Selman, Yogyakarta), dan Intan Irawati (MAN 15 Jakarta Timur). 

“Keempatnya adalah juara I pada pemilihan guru teladan dan berprestasi tingkat nasional tahun 2014,” terang Direktur Pendidikan Madrasah Kemanag RI, M Nur Kholis Setiawan.

Selain itu, Nur Syarifah (Kepala RA Khadijah Muslimat NU Tabanan, Bali), Supriadi (Kapala MIN Kendari, Sultra), Lewak Karma (Kepala MTsN Al-Khoiriyah Buleleng, Bali), dan Nurlela (Kepala MAN 12 Jakarta Barat, DKI Jakarta). Mereka juga para juara I pada pemilihan kepala RA/Madrasah teladan dan berprestasi tingkat nasional tahun 2014. “Nurlela saat ini bertugas sebagai Kepala MAN 4 Pondok Pinang Jakarta Selatan,” kata Nur Kholis.

“Satu orang yang juga mendapat Satya Lencana adalah Mustain, Juara I Pengawas Madrasah yang sehari-hari bertugas di Kankemenag Kabupaten Jepara,” tambah Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurut Nur Kholis, kesembilan guru ini memang layak menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI, Joko Widodo pada perayaan HGN tahun ini yang mengambil tema “Guru Mulia Karena Karya”. Mereka adalah para pendidik yang sudah mendedikasikan dirinya dalam pelaksanaan tugas pendidikan secara baik dan professional. “Karya mereka adalah para peserta didik yang baik, berprestasi, dan berakhlakul karimah,” tuturnya.

Puncak perayaan HGN di Istora Senayan dihadiri oleh Presiden Jokowi dan sejumlah menteri Kabinet Kerja seperti Mensesneg Pratikno, Menag Lukman Hakim Saifuddin, dan Mendikbud Anis Baswedan. 

Dalam peringatan yang dihadiri oleh 12.000 guru lebih, Presiden menekankan pentingnya guru sebagai pembentuk karakter bangsa. Guru, menurut Presiden adalah agen perubahan karakter bangsa. Perubahan karakter bangsa bisa dimulai dari kelas-kelas dan sekolah-sekolah. “Sekolah tidak hanya tempat menuntut ilmu pengetahuan melainkan arena pembelajaran anak-anak kita dalam membentuk karakter mereka,” ucap Presiden.

Selain itu, Presiden menegaskan, guru bukan hanya sebuah pekerjaan, tapi guru menyiapkan masa depan generasi bangsa. Presiden meyakini karya guru-guru dapat melukis masa depan Indonesia. Kualitas masa depan bangsa ini ditentukan oleh guru-guru hari ini. Menurut Presiden, guru adalah teladan bagi generasi masa depan dan pembelajar yang terus belajar. “Karena itu, guru bukan hanya sekedar pendidik, melainkan peletak dasar masa depan bangsa kita,” tandas Presiden. (Red: Fathoni)

Sumber: kemenag.go.id

Rabu 25 November 2015 14:1 WIB
Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar
Pesantren Al-Hamdaniyah, Tertua di Jawa Timur dan Lahirkan Ulama-ulama Besar

Selain menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan sejak abad ke-18 di Sidoarjo Jawa Timur itu telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri NU di negeri ini.<>

"Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH M Hasyim Asy'ari, KH Asy'Ad Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, KH. Cholil, KH. Nasir (Bangkalan) KH.Wahab Hasbullah, KH. Umar (Jember), KH. Usman Al Ishaqi, KH. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH. Dimyati (Banten, dan lain-lain," kata Pengasuh Ponpes Al-Hamdaniyah, M Hasyim Fahrurozi.

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di desa Siwalan Panji Buduran Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur setelah pesantren Sidogiri Pasuruan. Pesantren yang didirikan tepatnya pada tahun 1787 M oleh KH Hamdani itu sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini.

"Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. KH Hasyim Asy'ari menjadi santri di pesantren Al-Hamdaniyah ini sekitar 5 tahun lamanya," ulas Gus Hasyim sapaan akrab M Hasyim Fahrurozi. 

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren Al-Hamdaniyah itu masih tetap terawat seperti dahulu. "Kamar KH Hasyim Asy'ari ini sengaja tak pernah dipugar, tetap seperti dahulu agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah," tegas Gus Hasyim. 

Tidak hanya menjadi santri, lanjut Gus Hasyim, bahkan KH Hasyim Asy'ari juga pernah diangkat menjadi menantu oleh Kiai Ya’qub, pengasuh pesantren waktu itu. "Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Karena nyai Khodijah, istri KH Hasyim Asy'ari wafat lebih dahulu di Makkah, saat tengah mengandung, dan jenazah nyai Khodijah disemayamkan di Makkah," tukas Gus Hasyim.

Tempat para pejuang kemerdekaan berkumpul

Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah didirikan sejak tahun 1787 oleh KH Hamdani, ulama besar asal Pasuruan. Kini usia Ponpes Al-Hamdaniyah telah mencapai usia 228 tahun atau dua abad lebih. KH Hamdani sendiri merupakan seorang ulama keturunan Rasulullah, yakni silsilah ke-27.

“Dulu asalnya daerah ini rawa dan oleh beliau (KH Hamdani) berdoa minta kepada Allah SWT, semoga tanah yang asalnya rawah bisa menjadi tanah,” ungkap Gus Hasyim Fahrur Rozi.

Pondok ini masih memiliki bentuk bangunan yang masih asli dan unik. Terutama keunikan bangunan para santrinya. Berdinding anyaman bambu dan diberi jendela pada setiap kamarnya serta bangunan yang disangga dengan kaki-kaki beton, membuat asrama santri ini nampak seperti rumah Joglo. Bahkan ada beberapa asrama santri yang kondisinya sudah memprihatinkan. Namun, Pengasuh pondok masih mempertahankan keunikan pondok tertua di Jawa Timur ini.

Setiap asrama dibagi dalam beberapa kamar yang diisi dua hingga tiga santri dengan ukura ruangan 2 x 3 meter. Di dalam kamar kecil itulah, tempat para santri belajar dan beristirahrat.

“Selain mengajarkan berbagai ilmu agama, pondok ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Menjadi tempat pertemuan antara presiden Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo yang pada akhirnya melahirkan Laskar Hizbullah,” kata Agus Muchlis Asyari, wakil pengasuh Ponpes.

Namun sayang, keunikan pondok ini yang juga sebagai kunci sejarah dan warisan kebudayaan tertua belum mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak-pihak terkait. Harusnya, pondok tertua seperti Ponpes Al Hamdaniyah ini dilestarikan dan dijaga keasliannya.

Menurut riwayat, pada waktu KH. Hamdani membangun Pondok, dia mendatangkan kayu dari daerah Cepu Jawa Tengah dengan dinaikkan perahu besar/kapal. Namun ditengah jalan perahunya pecah berantakan. Akan tetapi Allah Maha Besar, kayu-kayu tersebut berjalan sendiri melewati sungai dan berhenti persis di depan area Pondok. 

Di Pondok ini, dulu juga sering dibuat pertemuan tokoh-tokoh Nasional pada Zaman Revolusi, diantaranya adalah Ir. Soekarno, Bung Hatta, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, KH. Idham Cholid, Hamka, Bung Tomo, dan tokoh-tokoh besar lain. 

Adapun urutan kepengurusan Pondok adalah sebagai berikut:

Periode II: KH. Ya’qub dan KH. Abd Rohim (Putra dari KH Hamdani)  

Periode III: KH. Hasyim Abd Rohim dan KH. Khozin Fahruddin,

Periode IV: Kiai Faqih Hasyim, KH. Sholeh Hasyim, dan KH. Basuni Khozin.           

Periode  V: KH. Abdulloh Siddiq dan KH. Haiyi Asmu’i.

Periode  VI: KH. Rifa’i Jufri, KH. Abd Haq, dan KH. Asmu’i .  

Periode VII: Hingga Tahun 2013 KH. Asy’ari Asmu’i, KH. Mastur Shomad, KH. Abd Rohim Rifa’i, dan Agus Taufiqurrochman R.

(Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG