Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Di Sini Tiada Hari Tanpa Ngaji

Di Sini Tiada Hari Tanpa Ngaji

Selepas Zuhur, Masjid di kompleks III Pondok Pesantren Sunan Pandanaran di Dusun Candi, Sardonoharjo Ngaglik Sleman, terlihat sangat ramai. Ratusan santri menghafal ayat-ayat suci al-Quran dengan sangat serius.
<>
Di pesantren ini, menghafal ayat al-Quran sudah menjadi kebutuhan bagi setiap santri. Setiap santri diwajibkan menghafal 1 halaman Quran setiap harinya. Hafalan tersebut disetor kepada pengasuh setelah Salat Subuh. Kemudian setelah Salat Maghrib, hafalan akan diuji lagi di depan pengasuh. Dengan begitu, para santri secara mendiri akan memperkuat hafalannya sepanjang hari terutama setelah salat wajib.

Untuk menghilangkan kejenuhan, khusus hari Jumat, tidak ada setoran hafalan. Jika tekun dan disiplin menghafal, dalam waktu 4 tahun, santri akan mampu menghafal 30 Juz al-Quran.  Pesantren ini dikenal masyarakat sebagai tempat pendidikan para penghafal (Hafidz) Quran. Ratusan hafidz/hafidzoh telah ditelurkan ponpes ini. Para santri (laki-laki/perempuan) dari berbagai daerah di Indonesia, berdatangan untuk menuntut ilmu keagamaan sekaligus menghafal Quran. Jumlah santri mencapai 3.200 orang.

Pada awalnya, spesialisasi Pesantren Sunan Pandanaran khusus menghafal al-Quran. Namun saat ini telah berkembang menjadi lembaga pendidikan formal. Ponpes ini memiliki TK, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI). Kompleks pendidikannya pun berkembang pesat. Saat ini Ponpes Sunan Pandanaran memiliki 5 kompleks, yakni kompleks 1 untuk penghafal Quran (30 Juz) putra, kompleks 2 untuk penghafal Quran putri, kompleks 3 untuk lembaga pendidikan MTs, MA dan asrama santri, serta kompleks 4 dan 5 untuk STAI dan asrama mahasiswa. Selain mempelajari ilmu umum, para santri juga mempelajari ilmu agama seperti fikih, akhlak, tauhid, hadis, gramatikal Arab (nahwu, sorof), tafsir, tasawuf dan lain-lain.

Banyak keuntungan yang didapat ketika sesorang menghafal al-Quran. Seorang Hafid akan lebih cepat dalam memahami ayat-ayat al-Quran termasuk tafsir dan maknanya. Selain itu, dengan menghafal al-Quran sejak usia muda, maka kejiwaan seseorang tersebut akan stabil dan tidak mudah bergejolak.

Generasi Masa Depan

Suatu saat, Kiai Mufid muda sowan kepada KH Hamid Pasuruan. Saat itu, ada tamu laki-laki yang juga baru sowan bersama putranya yang masih kecil. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Hamid berbicara kepada anak kecil tersebut: “mbesok yen awakmu gedhe, mondoko neng nggone pak kiai iki (sambil menunjuk pada Kiai Mufid), pondoke bapak kiai iki nggone wong ngapalke Qur’an. Rezekine gembrojog seko kiwo, seko tengen, seko ngarep, seko mburi” (Besok kalau kamu sudah besar, kamu mesti mondok di tempat pak kiai ini (KH.Mufid). Pondoknya bapak kiai ini tempatnya orang menghafal al-Qur’an. Rizkinya terpancar dari arah kiri, kanan, depan, belakang”).

Kiai Hamid Pasuruan dikenal sebagai kiai penuh keistimewaan. Publik mengakuinya dengan berbagai bukti nyata yang dirasakan. Saat sowan itu, Kiai Mufid belum memiliki pesantren, karena masih berada di Krapyak. Tetapi Kiai Hamid sudah menyatakan bahwa al-Quran merupakan ruh utama dalam kehidupan, sehingga hidup dipenuhi dengan banyak berkah, mulai dari kiri, kanan, depan dan belakang. Ini terbukti, mereka yang selalu menjaga ruh al-Quran, jalan hidupnya mengalir penuh berkah. Pesantren-pesantren yang teguh menjaga ruh al-Quran juga dipenuhi keberkahan, baik kepada para santri, masyarakat dan bangsa.

Generasi bangsa ini mesti kembali kepada ruh al-Quran. Tantangan lokal, nasional dan global memang tidak mudah, tetapi ruh al-Quran selalu membuka jalan baru kreativitas dan inovasi dalam membangun peradaban umat manusia. Prof. Suyanto, Rektor Kampus AMIKOM Yogyakarta dengan tegas menyatakan bahwa al-Quran mengajarkan umat manusia untuk selalu bergerak secara global, dan al-Quran adalah panduan utama untuk mengisi dunia ini dengan kebajikan.

“Generasi yang lahir dengan spirit al-Quran adalah generasi yang tangguh, kuat, dan penuh inovasi. Inilah generasi yang harus mengisi dunia ini, jangan sampai kita terlena dan membiarkan dunia dikelola dengan tanpa panduan yang jelas,” tegas Prof. Suyanto. (Anwar/Abdullah Alawi)

BNI Mobile