IMG-LOGO
Daerah

SMK Unggulan NU Mojoagung, Berkarakter dengan Pendidikan ala Pesantren

Senin 30 November 2015 19:0 WIB
Bagikan:
SMK Unggulan NU Mojoagung, Berkarakter dengan Pendidikan ala Pesantren

Berbagai kalangan sangat sadar bahwa pendidikan karakter yang sebenarnya ada di pesantren. Itu pula yang dilakukan SMK Unggulan NU Mojoagung, Jombang, Jawa Timur. Sekolah yang berdiri tahun 2009 ini menerapkan model pendidikan layaknya santri dan kelak akan mengganti nama sekolah dengan tambahan pesantren.
<> 
"Banyak yang berbicara soal pendidikan karakter namun tidak jujur mengakui bahwa menanamkan karakter anak didik terbaik justru ada di pesantren," kata kepala sekolah SMK Unggulan NU Mojoagung Jombang Jawa Timur, Bapak Zaenal Ma'arif, SE, SPd, MPdI.

Ditemui di kantor sekolah, Bapak Zaenal, sapaan akrabnya mengemukakan bahwa istilah full day school atau islamic boarding school yang kini mulai marak adalah meniru model pesantren. "Hanya istilah saja yang berbeda, namun esensinya adalah mencontoh pendidikan ala pesantren," tandas alumnus pascasarjana jurusan Magister Pendidikan Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Bahkan kalau mau diadu, semua model sekolah unggulan dan sejenisnya akan kalah jauh dengan tempaan yang dilakukan di pondok pesantren. "Karena di pesantren, para santri dididik sepanjang hari, sepanjang waktu sejak awal tidur hingga bangun," ungkapnya. Sedangkan kalau di sekolah, hanya sejak jam tujuh pagi hingga jam tiga sore, lanjutnya.

Berangkat dari keberhasilan pesantren dalam mendidik dan menghasilkan santri yang memiliki karakter, maka sekolah ini kelak akan mengubah namanya menjadi sekolah pesantren. Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Kediri ini mengemukakan, apa yang dilakukan di sekolahnya sebagai pembentukan karakter yang dilandasi dengan keagungan ajaran pesantren. "Sebenarnya definisi dan penjabaran pendidikan karakter adalah model yang telah dilakukan pesantren," katanya. Bagaimana mungkin akan lahir manusia yang memiliki karakter luhur tanpa ditempa secara baik seperti layaknya di pesantren. "Kelak, kami akan menamakan sekolah ini dengan SMK Unggulan NU Pesantren," tandas bapak kelahiran Jombang, 13 Oktober 1974 ini.
 
Pembiasaan dalam Keseharian

Bapak Zaenal tidak memungkiri bahwa citra SMK sebagai sekolah bagi siswa yang sedikit bebas dan "liar". "Sejak awal hal tersebut telah kami sadari," terangnya. Karena itu, yang dilakukan sekolah ini adalah dengan memberikan pembiasaan dalam segala kegiatan keagamaan, bukan sebagai paksaan.

"Kegiatan tahlilan dan pengenalan tradisi keagamaan kami lakukan secara berjamaah," kata alumnus jurusan Pendidikan Akutansi Universitas Negeri Malang ini. Sehingga dengan demikian, para siswa tidak merasa harus menghafal beberapa kebiasaan keagamaan yang menjadi tradisi di masyarakat.

"Aktivitas doa memulai dan menutup pelajaran, asmaul husna, wiridan bakda shalat, doa usai shalat rawatib, ratibul hadad, doa shalat dhuha, doa manaqib, istighatsah maupun tahlil serta menghafal surat pendek dilakukan hampir setiap saat secara bersama," katanya. Dengan demikian para siswa akhirnya secara tidak sengaja telah membiasakan diri bahkan hafal dengan sendirinya sejumlah bacaan tersebut.

Mendidik rasa hormat kepada guru juga dilakukan dengan pembiasaan. "Sebelum proses belajar mengajar dimulai, para pengajar di sekolah kami sudah hadir di sekolah," ungkapnya. Mereka berbaris menunggu para siswa datang, sehingga sebelum masuk kelas terlebih dahulu berjabat tangan dan mengucapkan salam. Dengan demikian, karakter dan pembiasaan seperti inilah yang membedakan siswa SMK ini dengan sekolah lain.

Meskipun berstatus sebagai sekolah SMK, namun soal perilaku keseharian telah terdidik seperti layaknya santri. "Sejak awal masuk yakni saat masa orientasi, para siswa telah dididik dengan disiplin yang sangat tinggi," katanya. Saat Masa Orientasi Peserta Didik yang berlangsung selama satu minggu misalnya, sekolah telah bekerja sama dengan pihak Kodim 0814 Jombang untuk mendidik disiplin tersebut.

Demikian pula kerja sama dengan pihak kepolisian setempat juga dilakukan. "Kami hanya memanfaatkan waktu tiga hari terakhir saat masa orientasi untuk menyampaikan visi dan misi sekolah," katanya.
Pengenalan disiplin dan visi serta misi sekolah merupakan prasyarat utama bagi calon peserta didik. "Dengan demikian para siswa memahami apa yang membedakan sekolah ini dengan SMK lain," kata suami dari Abirotun Najla, SEI, SPd ini.

Seperti kebiasaan shalat berjamaah maupun menyampaikan salam dan berjabatan tangan ketika bertemu guru. Hal tersebut seakan mematahkan anggapan bahwa siswa SMK adalah pelajar yang liar dan susah diatur.
 
Betah di Lingkungan Sekolah

Sejak awal, sekolah yang berdiri tahun 2009 ini memang berupaya agar para siswa bisa kerasan di sekolah. "Kalau ada hadits yang menyatakan bahwa rumahku adalah surgaku, maka kita berupaya agar para siswa juga merasakan kenyamanan layaknya surga selama berada di sekolah," katanya.

Untuk dapat menjawab kepuasan para siswa ini, sejumlah pembiasaan telah dilakukan. "Para guru sudah berada di lingkungan sekolah sebelum siswa datang," katanya. Demikian juga berbagai permasalahan siswa baik yang menyangkut kesulitan dalam memahami pelajaran dan keterampilan telah disiapkan. "Guru juga hadir untuk menjawab problem perkembangan diri dari para siswa," terangnya. alumnus jurusan Pendidikan Akutansi Universitas Negeri Malang ini.

Untuk dapat menjawab berbagai kebutuhan tersebut, sekolah yang berada di bawah MWC NU Mojoagung ini menerapkan kebijakan bahwa para guru kelas tidak dibebani jam mengajar. "Sehingga saat ada kejadian apapun di kelas, maka segera dapat dideteksi tanpa terkendala jam pelajaran," kata ayah tiga anak ini. Dengan demikian, para guru memang fokus untuk mengajar sesuai mata pelajaran yang menjadi kewajiban. "Sedangkan perkembangan siswa dikontrol dan diawasi oleh para guru kelas," tandasnya.

Hal ini ternyata berbuah manis. Seperti pantauan NU Online saat berkunjung ke sekolah ini, waktu telah menunjukkan pukul 14.30 WIB dan bersamaan dengan itu bel sekolah berdering. Ini pertanda prosesi belajar mengajar di sekolah ini telah usai. Namun sejumlah siswa enggan beranjak dari bangkunya. Sebagian malah menunggu adzan Shalat Ashar berkumandang untuk melaksanakan shalat berjamaah.

"Para siswa di sini malah betah berlama-lama di lingkungan sekolah, walau jam pelajaran telah berakhir," katanya. Dalam pandangannya, hal itu terjadi lantaran para siswa menemukan lingkungan yang menyenangkan berada di lingkungan sekolah yang berada di sebelah Makam Sayid Sulaiman ini.

Kerja Sama Sejumlah Pihak

Hingga kini, sekolah ini telah membuka sejumlah jurusan sesuai minat dan harapan dunia kerja. Ada akuntansi, teknik komputer dan jaringan, teknik sepeda motor, serta teknik permesinan. Agar lulusan yang ada memiliki standar yang diharapkan, sejumlah kerja sama telah dilakukan.

"Kami bekerja sama dengan Wearnes dan A Note untuk keahlian teknisi komputer, instalasi personal computer atau pc, teknisi perangkat jaringan lokal atau LAN serta desain grafis dan multimedia," ungkapnya.

Demikian pula kerja sama dengan PTPN X untuk keahlian sales accounting, finance administrator, sistem informasi akutansi dan sebagainya.

"Untuk teknik sepeda motor, sekolah bahkan telah bekerja sama dengan PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM) yang juga distributor tunggal dan terpercaya, penyedia pelayanan purna jual dan suku cadang sepeda motor Honda," katanya.

Sedangkan untuk lembaga pendidikan kampus, sekolah telah membina kerja sama dengan Universitas Terbuka, Universitas Darul Ulum, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), serta Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Dewantara yang semuanya berada di Jombang. "Kami juga bekerja sama dengan Institut Teknologi Surabaya," terangnya.

Kerja sama dengan sejumlah kampus ini dilakukan agar para siswa kelak dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, disamping juga bekerja di sejumlah perusahaan.

Tidak mengherankan kalau keberadaan sekolah mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, khususnya calon siswa. "40 persen siswa kami dari kawasan sekitar," katanya. Sedangkan 40 persen lagi dari luar kota. Bahkan, sisanya adalah dari luar pulau.

Apa yang dilakukan selama ini tidak lain pengejawantahan dari semboyan sekolah sebagai kejuruan berbasis religi. Demikian juga demi menyelaraskan dengan visi sekolah yang anggun dalam budi pekerti, unggul dalam prestasi serta terampil dalam amali.
 
Mulai Selektif

Kalau sejak awal sekolah tidak memberikan batasan banyaknya jumlah siswa yang diterima saat tahun ajaran baru, hal ini tidak akan dilakukan untuk tahun mendatang. "Karena keterbatasan gedung dan fasilitas serta keinginan untuk memberikan pendampingan yang terbaik, maka kami akan melakukan seleksi yang cukup ketat," katanya. Komitmen ini juga telah mendapatkan persetujuan dari yayasan dan MWC NU setempat agar tidak menimbulkan persepsi beragam.

Dengan pembatasan peserta didik, maka upaya mendampingi mereka dirasa akan lebih optimal. "Dengan demikian, kami akan bisa melakukan seleksi yang lebih ideal, demikian pula rasio antara guru dan pendamping juga akan lebih baik," terangnya.

Dan bila memungkinkan, pihak sekolah juga menyediakan asrama yang memadai bagi peserta didik dari luar kota dan pulau. "Kepercayaan itu sangat besar, sehingga kami harus melakukan pembenahan," katanya.

Seleksi yang cukup ketat juga dilakukan kepada para guru dan tenaga pendamping di sekolah. "Untuk kapasitas dan kapabilitas memang haruis melalui seleksi dari sekolah," katanya. Namun untuk komitmen keNUan dan keislaman serta keindonesiaan dipasrahkan kepada MWC NU dan pimpinan yayasan. "Dari tahapan inilah, para guru dan karyawan serta pendamping kelas diseleksi," terangnya.

Keberadaan sekolah ini juga sebagai jawaban atas keinginan besar warga NU yang demikian bersemangat untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang SMK yang bermutu sekaligus bercirikan Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja.

Pada saat yang sama, sekolah telah menyambut pelaksanaan Kurikulum Satuan Tingkat Sekolah atau KTSP serta sarana dan prasarana yang memadai. Dari mulai laboratorium komputer, laboratorium IPA, internet, serta bengkel kerja. "Hal itu para siswa dapat mempelajari dan menguasai teknologi dengan sebaik-baiknya," terangnya.

Upaya memberikan layanan dan melakukan seleksi yang demikian panjang ini sebagai tahapan yang harus dilewati agar para alumni sekolah benar-benar tidak mengecewakan. "Inilah yang bisa kami lakukan sebagai jawaban atas kepercayaan masyarakat yang menitipkan anak-anaknya di sekolah kami," pungkasnya. (Ibnu Nawawi)

 

Tags:

Bagikan:
Senin 30 November 2015 20:1 WIB
Brebes Gelar Lomba Qosidah dan Hadrah Bupati Cup, Ini Juaranya
Brebes Gelar Lomba Qosidah dan Hadrah Bupati Cup, Ini Juaranya

Brebes, NU Online
Tiga grup Qosidah dari Kecamatan Tonjong, Brebes berhasil mendominasi kejuaraan lomba Qosidah dan Hadrah Bupati Cup Competition 2015 di Pondok Pesanteren Jamsu Izzul Islam Bumiayu Kabupaten Brebes, Sabtu (28/11) lalu.<>

Untuk Kategori Qosidah, juara 1 grup Al-Hidayah dari Kalijurang Tonjong dengan nilai (266). Juara 2 grup Al-Barokah Munawaroh dari Kalijurang Tonjong (264), juara 3 grup Lasqi Jaya dari Watujaya Tonjong (263).

Untuk kategori Hadrah, juara 1 grup Al-Ikhlas dari Winduaji Paguyangan (274), juara 2 grup Darunnajat Pruwatan Bumiayu (268), dan juara 3 grup As-Salwa Manggis Sirampog (265). Juara 1 mendapatkan hadiah uang pembinaan sebesar Rp. 1,5 juta, juara 2 Rp 1 juta dan juara 3 Rp 750 ribu, juga mendapatkan piala dan piagam penghargaan.

Lomba yang digelar sejak pukul 08.00 hingga pukul 20.00 WIB bagian Kesra Setda Brebes itu, diikuti 23 grup Qosidah dan 20 grup hadrah. Menurut Ketua panitia Harun SAg, lomba digelar untuk melestarikan kesenian tradisional islami. Selain itu juga untuk membangkitkan syiar Islam lewat kesenian Islami. 

Hadiah diserahkan langsung Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE. Dalam sambutannya, Bupati mengajak para pecinta seni qosidah agar terus melestarikan keberadaan seni Islami tersebut. Pasalnya, kedua kesenian tersebut sangat ampuh sebagai obat hati dan syiar islam di segala usia. “Anak-anak, kaum muda bahkan lansia bisa menikmati Qosidah dan Hadrah dalam segala suasana,” kata Bupati.

Pesan-pesan yang ada di dalam Qosidah maupun Hadrah, kata Bupati, seyogyanya dipatuhi karena mengandung nilai-nilai akhlakul karimah. “Selain puji-pujian kepada Nabi, di dalam Qosidah dan Hadrah juga banyak tuntunan yang bisa kita ambil hikmahnya,” ajaknya.

Bupati juga memuji kegigihan santri dalam menuntut ilmu di pondok pesantren. Karena mondok menjadikan generasi kita makin berkualitas. “Dengan mondok, santri mendapatkan ilmu jasmani maupun rohani, ilmu dunia dan akhirat,” pujinya. 

Dalam kesempatan tesebut juga diisi dengan pengajian umum yang disampaikan pengasuh pondok pesantren Al-Hikmah 2 Benda KH Labib Sodiq Suhaemi. Dalam ceramahnya, dia menekankan pentingnya kepatuhan seorang santri kepada kiainya. Sehebat dan sepandai apapun seorang santri, bila tidak patuh pada kiainya, ilmunya tidak akan manfaat. (Wasdiun/Fathoni)

Senin 30 November 2015 18:1 WIB
Terkait Kongres XVIII, Ini Harapan IPNU Pacitan
Terkait Kongres XVIII, Ini Harapan IPNU Pacitan

Pacitan, NU Online
Menyongsong pelaksanaan Kongres Ke-18 IPNU dan Ke-17 IPPNU di Boyolali, Jawa Tengah, yang dimulai awal Desember mendatang, sejumlah Pengurus Cabang IPNU di daerah memberikan catatan dan harapannya.<>

Amrudin, Ketua IPNU Pacitan, Jawa Timur mengatakan, pelaksanaan kongres tinggal menghitung hari, namun sangat disayangkan koordinasi antara pengurus pusat dengan cabang didaerah kurang maksimal.

"Misalnya masalah administrasi undangan dan TOR proposal untuk kongres hanya dikirim melalui email, yang mana semua itu tidak sesuai dengan tuntutan pengurus pusat kepada pengurus cabang saat melakukan pengajuan Surat Pengesahan (SP) dan lainya," katanya kepada NU Online disela kegiatan Makesta IPNU-IPPNU, Ahad (29/11).

Para pengurus cabang, lanjut Amrudin, sangat berharap Kongres ini dapat membahas amanat Muktamar Ke-33 NU di Jombang tentang pendirian badan otonom kemahasiswaan dan pemangkasan usia pengurus dari 30 menjadi 27 tahun di tingkat pusat. "Harusnya ini menjadi pembahasan penting saat kongres," imbuh Mahasiswa Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri (Unsuri) Ponorogo itu.

Menurutnya, pendirian banom dan pemangkasan usia kepengurusan itu kurang tepat. Karena,  proses pengkaderan saat ini sudah cukup baik tinggal perbaikan pada sistem yang dijalankan dimasing-masing jenjang. 

PP IPNU diwakili Ketum Khairul Anam HS pada Muktamar Ke-33 NU lalu sempat menolak atas keputusan komisi organisasi itu. “Bila ini diterapkan, akan menjadikan eksistensi dan ruang gerak IPNU sangatlah kecil. Para pelajar, santri maupun mahasiswa NU tetap akan berwadah pada IPNU dari pusat hingga cabang,” katanya

Selain itu, Amrudin berharap pelaksanaan Kongres nanti menjadi ajang proses reorganisasi yang sehat. Ia berharap tidak ada dinamika yang memprovokasi hingga merusak dan menciderai tujuan dan nilai-nilai IPNU sendiri. "Semoga Kongres ini akan menghasilkan pengurus PP IPNU yang lebih baik lagi" pungkasnya di gedung MUI Pacitan. (Zaenal Faizin/Fathoni)













Senin 30 November 2015 17:1 WIB
Syuriyah PCNU Jombang Jelaskan Islam Ideal dan Standar
Syuriyah PCNU Jombang Jelaskan Islam Ideal dan Standar

Jombang, NU Online
Wakil Syuriyah Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur KH Wazir Ali menyatakan, bahwa Islam yang diidolakan oleh kalangan NU adalah Islam yang moderat dan ramah. Sebagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) hendaknya terus berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang santun dan rahmatan lil alamin.<>

“Degan kata lain Islam idola NU yaitu yang idealisasi dan standarisasi, tidak ortodok atau berlebihan dalam menganut suatu paham,” katanya kepada NU Online, Senin (30/11).

Islam yang idealisasi, kata dia, adalah Islam yang secara keseluruhannya mengikuti sunnah Nabi Miuhammad sedangkan Islam setandarisasi yaitu tidak mengeyampingkan prodak hukum yang dilakukan para sahabat-sahabatnya setelah Nabi wafat. Sikap ini dijauhkan dari klaim bid’ah dan semacamnya. 

“Ada anjuran untuk berpegang teguh pada Aswaja, yaitu kelompok-kelompok yang mengikuti sunnah Nabi dan khulafaurrasyidin. Seperti hadis yang berbunyi alaikum bisunnati wa sunnati kholafair rasyidin mimba’di, (kalian harus berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para kholafaurrasyidin setelah sepeninggalku),” tuturnya.

Kiai Wazir, sapaan akrabnya mencontohkan rakaat shalat tarawih versi Nabi yang berjumlah 11 (sebelas) rakaat dan disempurnakan menjadi 20 (dua puluh) rakaat oleh Sahabat Umar. “Karena situasi dan kondisi Islamnya para sahabat masih lemah butuh penyemangat agar tarawih tidak diyakini sebagai sebuah kewajiban, akhirnya ada ide segar dari sahabat Umar alangkah baiknya shalat tarawih dipimpin oleh satu imam yang bagus bacaan shalatnya dan rakaatnya ditambah menjadi 20 rakaat. Hal ini juga termasuk mengikuti sunnah Nabi,” ujarnya.

Begitu juga dengan sikap dan ajaran-ajaran yang disebarluaskan oleh Wali Songo adalah salah satu bentuk dari Islam yang  diidolakan NU, hal ini hendaknya dijadikan contoh dalam berdakwah dan berinteraksi dengan masyarakat. “Salah satu contoh Islam yang rahmatan lil alamin yaitu ajaran-ajaran yang didakwakan Wali Songo yang kemudian diteruskan oleh pemimpin-pemimpin pondok pesantren dan sampai pada kita,” terangnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG