IMG-LOGO
Pendidikan Islam

Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog”

Jumat 27 November 2015 9:30 WIB
Bagikan:
Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog”

Saat jam istirahat Pesantren Almanar Azhari sedang berlangsung, para siwa menarik nafas sejenak setelah mendapat pelajaran di kelas dan akan dilanjutkan lagi setelah istirahat usai.<>

Siswa-siswa terlihat asyik bercengkerama di beranda kelas, masjid, dan di saung-saung yang berada di lokasi pesantren yang beralamat Jalan Raya Limo Pelita No 10 Depok, Jawa Barat ini. Akan tetapi di antara santri-santriwati terebut, ada dua santri yang sedang asyik berinternet-ria di pojok ruangan, di salah satu kelas: M Satrio Khalifah Ardhy dan Reza Anugrah Putra.

Yang menarik, kedua siswa tersebut sedang membuka blog mereka masing-masing. Satrio yang memiliki alamat blog, www.str21.blogspot ini menjelaskan dia sering mengunduh berita-berita yang terjadi di sekelilingnya. Saya ingin berbagi informasi dengan orang lain melalui dunia maya, tutur siswa Kelas 2 SMA yang berasal dari Bekasi ini.

Selain itu, lanjutnya, dia juga sering memberi catatan terhadap apa yang terjadi di Indonesia dan dunia international, terutama dunia Islam. Di blog, saya memberi catatan tentang gempa Tasik dan bagaimana perjuangan rakyat Palestina, katanya sambil menunjukkan isi blog-nya tersebut kepada Pelita.

Menurut siswa berkaca-mata yang juga hafal empat juz Al-Quran ini, jika betul-betul menguasai, blog bisa dimanfaatkan untuk mencari duit. Makanya, blog harus diisi dengan hal-hal yang baik, ucap santri yang juga berperan sebagai administrator blog Organisasi Siswa Almanar Azhari (Osama) ini: www.osama2009-2010.blogspot.com.

Sama halnya dengan Reza Anugrah Putra, siswa Kelas 3 SMP. Santri yang telah memiliki blog, www.hackod3.co.cc, sejak Kelas 1 ini berdalil saat ini tidak seorang pun bisa lepas dari sains dan teknologi, termasuk internet. Saya isi blog, seputar informasi, tips, dan trik yang berkaitan dengan dunia internet, tutur santri yang telah hafal lima juz Al-Quran ini.

***

PESANTREN Almanar Azhari sepertinya memang berbeda dengan pesantren pada umumnya. Head Master Pesantren Almanar Azhari Nurcholis Suhaimi, MA menuturkan di pesantren yang dipimpinnya tersebut setiap santri dan guru diwajibkan memiliki blog. Makanya, setiap siswa harus memiliki laptop dan semua lokasi pesantren merupakan area free hot spot, tutur alumnus Pesantren Modern Ar-Rasyid, Jawa Timur ini.

Nurcholis mengakui, pada awalnya kebijakan pesantren tersebut mendapat penentangan dari sejumlah orangtua murid. Para orangtua khawatir, anak mereka justru menggunakan internet untuk hal-hal yang tidak baik. Kita tegaskan, pesantren akan mencetak santri yang ahli membuat virus dan membobol password, tapi mempunyai moralitas tinggi, tandasnya.

Hal ini tentu sejalan dengan visi besar Pesantren Almanar Azhari: menjadikan lembaga pendidikan yang dapat menciptakan siswa-siswi yang memiliki kualitas intelektual tinggi serta mempunyai moral, akhlak, dan budi pekerti yang luhur.

Nurcholis tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya yang menguasai dunia maya justru berasal dari orang yang tidak bertanggungjawab. Pesantren berkomitmen akan menghiasi internet dengan ayat-ayat Al-Quran dan wacana keislaman. Dari itu, setiap bada Maghrib dan Subuh, para siswa akan menghafal Al-Quran. Bada Subuh, terangnya, setoran hafalan. Sedangkan bada Maghrib tambah hafalan. Satu hari setiap siswa harus hafal setengah halaman.

Teknologi sebenarnya netral. Tergantung si penggunanya, tutur alumnus Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berdalil.

Nurcholis menjelaskan penguasaan sains dan teknologi merupakan satu dari lima pilar yang dimiliki Pesantren Almanar Azhari. Sedangkan empat pilar lainnya adalah hafal Al-Quran, menguasai Bahasa Arab dan Inggris, memahami dengan benar ilmu syariah Islamiyyah, dan berakhlakul karimah.

Untuk mencapai lima target tersebut, Pesantren Almanar memadukan sistem pendidikan kepesantrenan (pendidikan Islam), kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, dan kurikulum international. Kurikulum tersebut diterapkan untuk jenjang SMP dan SMA.

Sementara untuk kurikulum pesantren, tuturnya, santri akan mengkaji berbagai kitab yang telah disusun tim Almanar Azhari yang berpedoman pada pelajaran Islamic studies (al-ulum as syariyyah) dari Alazhar University Cairo Mesir.

Pelajarannya meliputi, tafsir, fiqh, ushul fiqh, hadits, tauhid, faraid, dan tahfizh Al-Quran dengan menggunakan sistem talaqqi: pertemuan anatara ustadz dan guru, paparnya. Untuk ilmu fiqh, empat aliran mazhab semua diajarkan. Sementara akidahnya adalah ahlu sunnah wal jamaah.

Selain itu, Pesantren Almanar juga berkerja sama dengan Cambridge University, Inggris. Kerja sama dengan Cambridge University, katanya melanjutkan, meliputi pelajaran, matematika, kimia fisika, biologi, dan Bahasa Inggris. Materi soal ujian berasal dari Cambridge. Lulusan Almanar akan menerima Sertifikat Cambridge, tutur alumnus Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Karena menerapkan sistem perpaduan, Pesantren Almanar tidak membedakan antara pelajaran agama dan umum. Nurcholis mencontohkan, jika belajar tentang biologi, planet, ekosistem misalnya, para pengajar juga akan memberikan penjelasan perspektif Islam. Jadi ada internalisasi nilai-nilai Islam dalam sains, ucapnya.

***

UNTUK menunjang keberhasilan dan kenyamanan santri dalam belajar, siswa Pesantren Almanar memang tidak banyak. Setiap kelas hanya memiliki 25 murid. Setiap tahun pihak pesantren hanya menerima 100 siswa baru: 50 SMP dan 50 SMA yang dibagi dalam dua kelas. Yang menarik, di luar kelas, satu pengasuh akan mendampingi enam murid.

Para santri juga dilengkapi dengan berbagi fasilitas penunjang, mulai dari berbagai laboratorium, perpustakaan, sarana olahraga dan kesehatan, hingga kolam renang. Semua ruangan ber-AC Tentu semua ini tidak mudah dan murah, aku Nurcholis. Perlu kekonsistenan dan kedisisplinan.

Pendiri Pesantren Almanar Azhari KH Manarul Hidayat mengakui bahwa lembaga pendidikan yang didirikannya tersebut hanya bisa diakses oleh siswa yang memiliki IQ tinggi dan berasal dari keluarga yang mampu.

Akan tetapi, buru-buru ia menambahkan, 10 persen dari jumlah santri harus berasal dari keluarga yang tidak mampu: keluarga miskin atau anak yatim. Jadi ada subsidi silang. Sayarat yang pertama tetap: harus pintar, kata Kiai Manarul Hidayat. Ini tidak bisa ditawar. (Zul Hidayat/Pelita)

Bagikan:
Kamis 26 November 2015 16:44 WIB
MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya
MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya

Seorang guru tidak hanya dituntut untuk mencetak peserta didik yang mempunyai kecerdasan sosial, tetapi juga kecerdasan spiritual. Begitu itu juga dengan keterampilan. Guru atau madrasah juga harus mampu mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual berbasis budaya dalam diri anak didiknya. Hal itulah yang dilakukan oleh Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Jakarta.<>

Madrasah yang berlokasi di Jalan Karet Pedurenan Masjid, Setia Budi, Jakarta Selatan ini menggulirkan berbagai program untuk mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual kepada peserta didik. Program ini merupakan program yang cukup komprehensif untuk mewujudkan kecerdasan peserta didik dari berbagai aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Program-program tersebut diantaranya adalah shalat berjamaah mingguan yang dilakukan setiap hari Jumat di ruang ibadah yang sangat memadai, juga hapalan surat-surat pendek al-Qur’an. Selain itu, ada keterampilan seni musik seperti marawis, qasidah, angklung, pianika, dan drumband. Kemudian ada seni melukis, kegiatan muhadloroh, pramuka. Kemudian untuk mengembangkan keterampilan peserta didik dalam dunia IT, madrasah juga menyediakan laboratorium komputer berbasis internet dan ruang audio visual.

Budaya shalat berjamaah harus ditanamkan sejak dini pada generasi muda. Karena pada shalat berjamaah terkandung nilai kedisiplinan, ketertiban, dan kebersamaan. Seni musik seperti marawis juga dikembangkan guna melestarikan tradisi musik masyarakat Betawi, selain tari ondel-ondel yang juga diajarkan. Agar peserta didik juga mengenal kebudayaan lain, madrasah juga mengajarkan seni musik angklung, beserta keterampilan lain yang telah dijelaskan di atas.

Bagi MI Darul Ulum, bukan sekadar peserta didik mampu melalukan semua keterampilan tersebut, melainkan menghayati makna yang terkandung dari semua keterampilan berbasis budaya tersebut. Hal ini dilakukan agar kelak peserta didik juga mempunyai semangat (ghirah) untuk senantiasa menjaga, merawat, dan melestarikan berbagai keterampilan berbasis budaya tersebut.

Kepala MI Darul Ulum, Titin Supriatin, SPd mengatakan, bahwa dengan mengembangkan berbagai keterampilan, madrasah semakin diminati oleh masyarakat. “Dalam penerimaan peserta didik baru awal Juni 2015 lalu, Madrasah Darul Ulum telah ditutup sejak awal karena kursi telah penuh. Prinsip ‘Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah’ semakin memasyarakat dengan catatan sebuah madrasah mengembangkan diri,” ujar Titin.

Program tersebut, juga disampaikan Titin, karena MI Darul Ulum memiliki visi, yaitu ‘Menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berakhlak mulia’. Untuk mewujudkan visi dan misi mulia, MI Darul Ulum merekrut guru-guru unggul sebagai staf pengajarnya. Hal ini bukan berarti menafikan sarjana-sarjana pendidikan yang masih mempunyai pengalaman minim, melainkan para sarjana yang senantiasa mau belajar mengembangkan pendidikan madrasah.

Sejarah singkat Madrasah Darul Ulum

Yayasan Darul Ulum Al-Islamiyah berdiri tahun 1976 di Jakarta. Didirikan di atas tanah wakaf kurang lebih 1.000 meter yang diatasnamakan Alm Haji Basir (1908-1971). Perintis pendirian yayasan adalah pasangan suami istri KH M Machfuz Basir, putera alm H Basir dan istrinya, H Chodidjah Djumali. Sepulang dari belajar di Mesir, pasangan ini giat mengadakan pengajian dan majelis taklim, baik di kalangan anak-anak, remaja maupun orang tua, di sekitar kampung Pedurenan Masjid, Kelurahan Karet Kuningan Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan.

Cikal bakalnya di tahun 1972 hanya berbentuk pengajian di dalam rumah kediaman warisan orang tua yang dilaksanakan setiap hari, baik pagi, sore maupun malam. Semakin hari jumlah murid semakin banyak dan tidak tertampung lagi. Sehingga di tahun 1976 didirikanlah gedung madrasah dengan memanfaatkan bahan-bahan bangunan bekas bongkaran masjid yang terkena penggusuran.

Saat itu kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sore hari, mengingat pagi hari para siswa sekolah di SD. Namun seiring berjalannya waktu, pengajian sore hari itu diubah menjadi madrasah formal yang menekankan pada materi keagamaan.

Setelah meluluskan angkatan pertama Madrasah Ibtidaiyah (MI) di tahun 1982, Yayasan Darul-Ulum kemudian mendirikan pula jenjang berikutnya, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs). Menyusul kemudian mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tahun 1985.

Selain pendidikan formal, pembinaan keagamaan lewat berbagai majelis taklim juga dikembangkan. Majelis taklim khusus buat laki-laki diadakan tiap malam Kamis dan untuk ibu-ibu diadakan tiap hari Sabtu pagi. Selain yang bersifat pendidikan dan majelis taklim, Yayasan Darul Ulum juga memiliki aktivitas di bidang sosial dan ekonomi, yang fokus pada penyantunan anak-anak yatim, para janda, dhuafa, dan juga muallaf.

Khusus MI Darul Ulum, sampai tahun 2015 ini telah mencetak 33 angkatan. Terakhir acara Haflah Akhirussanah dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2015. Saat ini Ketua Yayasan Darul Ulum dijabat oleh H Ramli Rahmat. (Fathoni)

Foto: Para siswa MI Darul Ulum saat belajar memainkan alat musik angklung.

Kamis 26 November 2015 10:59 WIB
PESMA AL-HIKAM
Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan
Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Pondok Pesantren memegang peranan penting di masyarakat, sementara di perguruan tinggi masing-masing tempat para mahasiswa menuntut ilmu porsi pembinaan spiritual dan karakter mental masih sangat kurang. Karenannya harus tersedia tempat untuk membina moral, membangun karakter dan memperkuat basis keilmuan sehingga kelak akan mampu berperan secara maksimal di dunia kerja dan masyarakat yang tetap disemangati dengan nilai-nilai Keislaman, kebudayaan dan ke Indonesiaan. Hal itu yang selalu diungkapkan oleh Pendiri Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, KH A Hasyim Muzadi.<>

Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1989 berdiri Yayasan Al Hikam Malang dengan akte notaris NO 47/ 1989. Kemudian Pesantren Mahasiswa Al Hikam sendiri secara resmi berdiri pada tanggal 17 Ramadlan 1413 H/ 21 Maret 1992.

Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al Hikam yang beralamatkan di Jl. Cengger Ayam No. 25 Lowokwaru Kota Malang bercita-cita untuk menggabungkan sisi positif perguruan tinggi dan pesantren untuk mewujudkan generasi yang mempunyai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbudi pekerti luhur serta memiliki kepribadian dengan tetap memegang budaya dan semangat keIndonesiaan. Selain itu, Pesma Al-Hikam yang biasa disebut oleh para santri memiliki Motto “Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, dan Kesiapan Hidup

Untuk sampai kepada tujuan pendidikan di Pesma Al Hikam. Santri diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan minat dan bakatnya di berbagai media aktivitas yang ada di pesantren Mahasiswa Al Hikam. Media-media aktivitas tersebut antara lain : Organisasi Santri Pesantren Mahasiswa Al Hikam (Ospam), KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al Hikam, Taman Pendidikan Al-Qur’an Al Hikam, Mini Market Al Hikam, dan Unit Teknologi Informasi (UTI).

Diharapkan dengan berbagai aktivitas positif di dalam masing-masing unit tersebut santri yang aktif akan memiliki keterampilan dan pengetahuan praktis dalam mengelola lembaga, mengenal, melayani orang lain dan lingkungan, menyusun program, pengalaman kepemimpinan, dan keterampilan teknis tertentu yang mungkin tidak didapat secara langsung dari kelas baik di kampus maupun di pesantren.

Pengembangan perpustakaan 

Keberadaan perpustakaan dan pusat informasi berawal adanya taman bacaan, dimana koleksinya masih berupa kumpulan koleksi milik pengasuh yakni KH A Hasyim Muzadi yang dimanfaatkan oleh para santri untuk kebutuhan pengkayaan ilmu pengetahuan dan penumbuhan daya pikir santri. Pada saat itu koleksi perpustakaan masih belum dikelola secara profesional.

Sesuai dengan perkembangan waktu, keberadaan taman bacaan semakin dirasakan sebagai kebutuhan untuk mendukung kegiatan lembaga induknya, yaitu Pesma Al Hikam, STAI Ma’had Aly (STAIMA), maka sejak tahun 2003 bersamaan dengan berdirinya STAI Ma’had Aly (STAIMA), unit tersebut menjadi unit perpustakaan dan pusat informasi yang dikelola secara profesional oleh para pustakawan ahli yang terdiri dari 2 orang sarjana perpustakaan, 1 orang tenaga teknisi perpustakaan, 2 orang tenaga bantu yang memiliki kualifikasi kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Pada tahun 2011 koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan mencapai 5850 judul, 15.992 eksemplar yang dilengkapi dengan barkode dan terekam dalam pangkalan data (database) dan dilengkapi dengan opac (online public acces catalogue) dan jaringan internet. Disamping itu memiliki koleksi virtual library yang berjumlah 68 judul dengan subyek Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, bahasa Arab, bahasa Inggris, kajian keislaman. Koleksi tersebut terpasang dalam OPAC (Online Public Acces Catalouge) atau AISAL (Al-Hikam Integreted Self Access Learning). Untuk mengetahui koleksi buku dan kitab yang dimiliki oleh perpustakaan al-Hikam dapat diakses di: http://al-hikam.ddns.net/   

Sedangkan terkait akses ilmu pengetahuan, menurut Wakil Pengasuh Pesma Al-Hikam, KH Muhammad Nafi’ perpustakaan Al Hikam juga sudah sangat representatif. Dari data perpustakaan Al Hikam, terdapat 6.704 judul buku dengan total 17.304 eksemplar. Selain itu, terdapat sekitar 5.000 judul kitab berupa e-Book. 

”Kita sadar akan pentingnya perpustakaan, apalagi pesantren kita khusus untuk mahasiswa,” tandas pengurus PCNU Kota Malang yang juga menantu Mbah Muhith Muzadi. (Ahmad Rosyidi)

Rabu 25 November 2015 20:30 WIB
9 Guru Madrasah Terima Satya Lencana dari Presiden Jokowi
9 Guru Madrasah Terima Satya Lencana dari Presiden Jokowi

Jakarta, NU Online
Sebanyak sembilan guru dan pendidik madrasah menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Pemberian penghargaan itu diberikan Presiden dalam kesempatan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (24/11).<>

Mereka yang mendapat Satya Lencana adalah Masyitoh (Guru RA Muadz bin Jabal 2 Bantul Yogyakarta), Elvi Rahmi (Guru MIN Gulai Bancah Bukittinggi Sumbar), Nur Hasanah Rahmawati (Guru MTsN Maguwoharjo, Selman, Yogyakarta), dan Intan Irawati (MAN 15 Jakarta Timur). 

“Keempatnya adalah juara I pada pemilihan guru teladan dan berprestasi tingkat nasional tahun 2014,” terang Direktur Pendidikan Madrasah Kemanag RI, M Nur Kholis Setiawan.

Selain itu, Nur Syarifah (Kepala RA Khadijah Muslimat NU Tabanan, Bali), Supriadi (Kapala MIN Kendari, Sultra), Lewak Karma (Kepala MTsN Al-Khoiriyah Buleleng, Bali), dan Nurlela (Kepala MAN 12 Jakarta Barat, DKI Jakarta). Mereka juga para juara I pada pemilihan kepala RA/Madrasah teladan dan berprestasi tingkat nasional tahun 2014. “Nurlela saat ini bertugas sebagai Kepala MAN 4 Pondok Pinang Jakarta Selatan,” kata Nur Kholis.

“Satu orang yang juga mendapat Satya Lencana adalah Mustain, Juara I Pengawas Madrasah yang sehari-hari bertugas di Kankemenag Kabupaten Jepara,” tambah Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurut Nur Kholis, kesembilan guru ini memang layak menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI, Joko Widodo pada perayaan HGN tahun ini yang mengambil tema “Guru Mulia Karena Karya”. Mereka adalah para pendidik yang sudah mendedikasikan dirinya dalam pelaksanaan tugas pendidikan secara baik dan professional. “Karya mereka adalah para peserta didik yang baik, berprestasi, dan berakhlakul karimah,” tuturnya.

Puncak perayaan HGN di Istora Senayan dihadiri oleh Presiden Jokowi dan sejumlah menteri Kabinet Kerja seperti Mensesneg Pratikno, Menag Lukman Hakim Saifuddin, dan Mendikbud Anis Baswedan. 

Dalam peringatan yang dihadiri oleh 12.000 guru lebih, Presiden menekankan pentingnya guru sebagai pembentuk karakter bangsa. Guru, menurut Presiden adalah agen perubahan karakter bangsa. Perubahan karakter bangsa bisa dimulai dari kelas-kelas dan sekolah-sekolah. “Sekolah tidak hanya tempat menuntut ilmu pengetahuan melainkan arena pembelajaran anak-anak kita dalam membentuk karakter mereka,” ucap Presiden.

Selain itu, Presiden menegaskan, guru bukan hanya sebuah pekerjaan, tapi guru menyiapkan masa depan generasi bangsa. Presiden meyakini karya guru-guru dapat melukis masa depan Indonesia. Kualitas masa depan bangsa ini ditentukan oleh guru-guru hari ini. Menurut Presiden, guru adalah teladan bagi generasi masa depan dan pembelajar yang terus belajar. “Karena itu, guru bukan hanya sekedar pendidik, melainkan peletak dasar masa depan bangsa kita,” tandas Presiden. (Red: Fathoni)

Sumber: kemenag.go.id

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG