IMG-LOGO
Pendidikan Islam

Kemenag Dekatkan Siswa SD dengan Dunia Pesantren

Rabu 2 Desember 2015 12:22 WIB
Kemenag Dekatkan Siswa SD dengan Dunia Pesantren

Cirebon, NU Online 
Pendidikan karakter dan moral merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran bagi siswa di sekolah, khususnya anak didik di jenjang Sekolah Dasar (SD). Untuk itu, Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI bekerjasama dengan Lakpesdam NU menggelar pesantren kilat dengan melibatkan siswa SD se-Jawa Barat.<>  
Kegiatan bertajuk 'Mencetak Generasi Bangsa yang Berjiwa Aswaja' ini dimaksudkan untuk menginternalisasikan pendidikan karakter dan spiritual melalui aktivitas sehari-hari di pesantren.

Di antara materi yg diajarkan adalah penanaman nilai-nilai dan amaliyah Islam, mencintai tanah air, menghargai diri sendiri keluarga dan sesama, juga menghargai perbedaan, toleransi, serta berakhlakul karimah.

Peserta yang berjumlah 160 ini berasal dari SD yg tersebar di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Kegiatan ini brlangsung selama tiga hari, dimulai dari hari Selasa hingga Kamis, 1-3 Desember 2015 di Ponpes Assalafiyah, Bode Lor, Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. (Red: Fathoni)

Rabu 2 Desember 2015 20:2 WIB
PESANTREN AL-FIRDAUS
Komitmen Bentengi Moral Santri
Komitmen Bentengi Moral Santri

Kabupaten Probolinggo termasuk daerah dengan jumlah pondok pesantren (ponpes) yang cukup banyak. Diantara yang banyak itu, ada Pondok Pesantren Al-Firdaus yang konsentrasinya membina anak usia 6-15 tahun. Komitmen pesantren adalah membentengi moral para santri dengan ilmu agama.
<>
Pesantren yang berada di Dusun Randulimo RT 03 RW 01 Desa Randuputih Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo ini tidak pernah menampung santri berusia dewasa. “Pembinaan kepada santri yang usianya muda, lebih mudah jika dibandingkan dengan usia yang sudah dewasa,” ungkap Pengasuh Pesantren Al-Firdaus, Ustadz Sugianto.

Kecamatan Dringu secara geografis bisa disebut berada di kawasan perkotaan. Ia berpandangan, kondisi sosial masyarakatnya berbeda dengan perkampungan. “Arus pergaulan lebih berbahaya. Karenanya, sejak kecil anak sekitar sini harus lebih di bentengi ilmu agama,” jelasnya.

Pesantren ini memang didirikan untuk berkhidmat kepada masyarakat sekitar. Sehingga santri yang belajar di pesantren, hanya warga sekitar Desa Randuputih dan desa terdekat. Jumlahnya lumayan banyak, terdiri dari 35 santriwan dan 45 santriwati.

Sistem yang diterapkan juga tidak sama dengan kebanyakan pesantren. “Santri kami bisa pulang tiap hari. Mereka hanya mukim tiap Kamis malam Jumat dan Sabtu malam Minggu,” terangnya.

Sistem ini sengaja dipilih karena pesantren ini belum memiliki pendidikan formal. Sehingga santri hanya belajar salaf saja. “Efektif waktu belajar setelah Dhuhur,” jelas ayah empat anak ini.

Kegiatan di pesantren ini dimulai usai salat Dhuhur di Madrasah Diniyah (Madin). Ini khusus santri usia 7-15 tahun. Sementara untuk santri yang berumur 5-6 tahun, masuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). “Dibagi sesuai jenjangnya,” katanya. 

Santri yang belum pernah masuk pendidikan TPQ, tidak diperbolehkan masuk di Madin. “Syarat untuk masuk madin, harus lulus TPQ dulu,” imbuhnya.

Di TPQ, santri diajari menulis dan membaca Al Qur’an. Sementara pada jenjang pendidikan Madrasah Diniyah (Madin), materi pendidikan yakni belajar kitab kuning, ilmu Fiqh dan hadits. “Kalau belum bisa baca Al Qur’an, juga belum boleh masuk Madin. Karena materi di Madin jauh lebih sulit,” ungkapnya.

Pengajaran di TPQ dan Madin itu selesai pada pukul 17.00. Para santri kemudian bersiap jamaah Salat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al Qur’an sampai tiba waktu Sholat Isya.

Usai Sholat Isya, masih ada pengajian kitab kuning hingga pukul 20.00. “Setelah itu santri bisa pulang. Tapi kalau mereka mau bermalam, kamar sudah kami sediakan. Tak jarang ada yang menginap. Mereka baru pulang usai Salat Subuh untuk persiapan berangkat sekolah,” katanya.

Sugianto sendiri punya keinginan untuk mendirikan pendidikan formal. Namun, karena pesantren ini baru berdiri pada 2002, dana yang dimiliki masih belum memadai. “Madin hanya punya dua ruang kelas, mushala juga digunakan untuk ruang belajar. Nanti bertahap saja pembangunannya,” terangnya

Pendidikan Gratis, Guru Tak Digaji
Ada 5 guru yang mengajar di pesantren ini. Tak satu pun dari mereka yang digaji atau tidak diberi honor. “Mereka secara sukarela menjadi asatidz (para ustadz) di sini,” kata Pengasuh Pesantren Al Firdaus Ustadz Sugianto.

Di luar itu, sampai saat ini, tiap tahun pesantren selalu mendapatkan bantuan operasional senilai Rp 2 juta dari Pemkab Probolinggo. “Dana itu juga kami gunakan untuk kebutuhan sehari-hari pesantren,” jelasnya.

Para santri yang menempuh ilmu di pesantren ini digratiskan dari biaya pendidikan. Tidak ada iuran sepeser pun kepada santri. Sugianto menerangkan, yang gratis adalah biaya pendidikan dan mukim pesantren. Sementara untuk biaya kebutuhan santri menjadi tanggung jawab masing-masing orang tua. “Santri bisa beli makan di warung sekitar pesantren. Di sini banyak warung,” terangnya.

Alumnus Pesantren Nurul Jadid Kecamatan Paiton ini sengaja menggratiskan biaya karena komitmen keluarga. “Para ustadz di sini semuanya masih berstatus keluarga. Jadi saat awal-awal pembentukan pesantren, kami sepakat menggratiskan biaya mondok dan pendidikan,” ungkap suami dari Siti Hanifah ini. 

Untuk menunjang kebutuhan operasional, para guru menyisihkan penghasilan masing-masing. Setiap guru mengeluarkan uang pribadi sebesar Rp 100-200 ribu per bulan. Dana itu digunakan untuk membayar listrik pesantren, ATK (alat tulis kantor) dan kebutuhan lainnya.

“Alhamdulillah kami (keluarga) sampai saat ini tetap solid menjaga komitmen. Kami akan terus berkhidmat untuk pesantren dan masyarakat,” pungkasnya.

Jamin Santri Bisa Ngaji Kitab
Meski hanya membuka TPQ dan Madrasah Diniyah (Madin), Sugianto menjamin alumnus pesantrennya bisa mengaji kitab kuning. Paling tidak santri sudah bisa membaca kitab Sulam Safinah. “Setidaknya kitab itu bisa menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi,” katanya.

Saat ini, pihaknya tengah membangun dua lokal bangunan yang dananya berasal dari swadaya masyarakat. Wali murid juga memberikan bantuan secara sukarela. “Ada yang membantu uang dan ada pula yang menyumbang material gedung,” kata Sugianto.

Saat ini pengerjaan masih 75 persen, Sugianto menargetkan pembangunannya bisa selesai akhir tahun ini. “Sekarang masih mengumpulkan dana tambahan. Semoga saja rencana itu bisa direalisasikan. Mohon sambungan doanya,” harapnya. (Syamsul Akbar)


Foto : Musholla Raudlatul Firdaus merupakan pusat kegiatan para santri yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Firdaus di Desa Randuputih Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo.

Rabu 2 Desember 2015 18:5 WIB
Kemenag Kirim 42 Guru PAI Kursus Singkat ke Australia
Kemenag Kirim 42 Guru PAI Kursus Singkat ke Australia

Jakarta, NU Online
Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) mengirimkan 42 orang yang terdiri atas Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dan pengawas PAI untuk kursus singkat (short course) ke Australia. Selama 15 hari di Australia, peserta kursus singkat belajar di Universitas Adelaide dan berkunjung ke beberapa sekolah yang ada di Adelaide, Melbourne, dan Sydney.
<>
Direktur PAI Amin Haedari menuturkan bahwa pengiriman para GPAI dan pengawas ke Australia itu dimaksudkan untuk membekali mereka tentang metodologi pembelajaran dan multikulturalisme.

“Mereka kita kirim ke Australia bukan untuk belajar konten PAI, tapi metodologi dan multikulturalisme,” terang Amin di Jakarta.

Selama di Australia, para guru PAI dan pengawas ini terbagi ke dalam dua waktu. 10 hari pertama mereka belajar di Universitas Adelaide, dan 5 hari berikutnya rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok ke Melbourne dan satu kelompok lagi ke Sydney.

Di Adelaide mereka belajar di kampus dan juga berkunjung ke beberapa sekolah di wilayah setempat. Di Melbourne dan Sydney mereka hanya melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah.

“Mereka sengaja kita kirim ke sekolah-sekolah yang ada di Melbourne atau Sydney agar bisa melihat langsung proses pembelajaran di sana. Biar mereka juga bisa bertukar pendapat dengan para tenaga pendidik dan siswa, dan mengamati pembelajaran di kelas. Sekaligus bagaimana pengelolaan pendidikan di sana,” terang Amin.

Hasil dari kursus singkat di Australia ini menurut Amin akan dirumuskan, dibukukan, dan diimplementasikan untuk semua guru PAI yang ada di Indonesia mulai tahun 2016 mendatang. (Red Alhafiz K)

Rabu 2 Desember 2015 9:30 WIB
PERGURUAN ISLAM MATHALI’UL FALAH
Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum
Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum

Di tengah kepungan sejumlah madrasah dan sekolah umum di sekitarnya, madrasah salaf ini tetap teguh mempertahankan kemurnian tradisi salafiyahnya. Tradisi kurikulum berbasis kitab salaf tetap lestari, hafalan kitab kuning, hingga memulai tahun ajaran baru yang berbeda dengan sekolah atau madrasah yang lain.<>

Pasalnya, madrasah kuno yang mengajarkan 70 persen pelajaran agama dan 30 persen pelajaran umum ini memulai pelajarannya pada bulan Syawwal, bukan Juli seperti sekolah lain. Meski lebih banyak agamanya, pada tahun 1951 disusun kurikulum resmi pelajaran umum yang memasukkan Bahasa Inggris dengan pengajar KH M Rodli Sholeh, salah seorang Rais Syuriyah PBNU, dari Jakarta.

Madrasah apakah itu? Dialah Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM). Madrasah yang akrab disebut Mathole’ ini kini berdiri megah di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Tepatnya di daerah Kulon Banon, sebelah barat maqbarah waliyullah Syeikh Ahmad Mutamakkin.

Selain Mathali’ul Falah, terdapat beberapa lembaga pendidikan lainnya yang melayani para santri di Kajen. Sebut saja Madrasah Salafiyah, Madrasah PRIMA, Madrasah PGIP Hadiwijaya, dan SMK Cordova. Di luar Kajen, sejumlah terdapat madrasah milik desa sebelah seperti Khoiriyah (Waturoyo), Darun Najah (Ngemplak), Manabi’ul Falah (Ngemplak). Masing-masing madrasah satu dengan lain saling melayani tanpa adanya konflik.

PIM didirikan oleh KH Abdussalam pada tahun 1912. Tujuan utamanya mendidik dan mempersiapkan kader-kader bangsa sebagai insan yang memahami agama secara mendalam (tafaqquh fi al-din) baik teori maupun praktik. Harapannya, alumni perguruan ini mampu berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (sholih) dalam semangat ketuhanan yang luhur dan terpuji sebagaimana diteladankan Rasulullah SAW (akrom).

Perguruan ini dalam perjalanannya tidak pernah berhenti membimbing siswanya menuju titik kulminasi, yakni “Tafaqquh fi al-Din menuju Insan Sholih-Akrom”. Tujuan inilah yang sampai sekarang dijadikan sebagai pijakan dan visi utama dari penyelenggaraan pendidikan di Mathole’.

Setelah satu abad terlewati (1912-2015), perguruan ini terus mengalami banyak perkembangan di sana-sini. Pada awal berdirinya ketika dipimpin sang pendiri, perguruan ini akrab disebut “Sekolah Arab”. Kemudian pada masa berikutnya ketika dipimpin sang putra, KH Mahfudh Salam (1922-1944), perguruan ini diberi nama Mathali’ul Falah (tempat munculnya orang-orang sukses) dengan kurikulum klasikal dari shifir awwal, tsani dan tsalis.

Pada masa kepemimpinan putra yang lain, KH Abdullah Zen Salam, yang dibantu KH Muhammadun Abdul Hadi (1945-1963), mulai dikembangkan sistem penjenjangan: kelas 1-6 Ibtidaiyah dan kelas 1-3 Tsanawiyah. Selanjutnya di era kepemimpinan KH MA Sahal Mahfudh (1967-2014) dikembangkan lagi menjadi Aliyah untuk putra dan Mu’alimat untuk putri, serta Diniyah Ula dan Wustho. Pendirian Diniyah ini dimaksudkan untuk menampung lulusan SD dan SMP dengan materi agama khusus. Sepeninggal Kiai Sahal, sang Rais Aam Syuriah PBNU tiga periode pada Januari 2014, perguruan ini dipimpin KH Ahmad Nafi’ Abdillah, putra KH Abdullah Salam.

PIM Kajen ini merupakan satu-satunya madrasah yang menggunakan nama resmi “Perguruan Islam.” Ini tentu bukan tanpa maksud, namun ada tujuan di baliknya. Konon, muncul cerita kenapa Kiai Sahal memberi nama “Perguruan Islam” pada Mathali’ul Falah bukan “Madrasah” lantaran spirit dinamisme. Artinya, Kiai Sahal berharap para guru dan anak didik PIM rajin membaca dan mengikuti perkembangan ilmu dan informasi sehingga tidak ketinggalan zaman. Istilah anak muda sekarang disebut “kudet” alias kurang apdet (update-red).

Kukuh Berdiri di Kampung Santri

Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang kukuh berdiri di “kampung santri” bernama Kajen ini tentu tak bisa lepas dari sejarah Kajen itu sendiri. Kajen merupakan sebuah desa kecil di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Dari ibukota Pati, Kajen berjarak kurang lebih 18 Km ke utara. Jika kita berkunjung ke sana dari Semarang, kita bisa naik bus jurusan Surabaya, lalu turun terminal Pati atau halte Puri, sebuah perempatan yang sangat terkenal di daerah itu.

Dari terminal atau Puri, pengunjung naik bus jurusan Tayu turun di pertigaan Desa Ngemplak. Lalu berlanjut naik kendaraan kecil lainnya seperti ojek atau delman yang selalu setia mengantar hingga Desa Kajen. Kajen adalah desa yang sangat padat penduduknya, kendati di luar desa tersebut masih membentang sawah dan tegal yang luas. Luas tanah Kajen sekitar 66.660 ha (0.65 km2) yang terdiri dari 4.710 ha tanah tegalan. Sisanya merupakan tanah pekarangan dan bangunan rumah penduduk.

Secara administratif, Kajen berbatasan dengan empat desa yang mengitarinya. Di sebelah selatan berbatasan dengan Ngemplak Kidul, timur dengan Sekarjalak, utara dengan Waturoyo, dan barat dengan Ngemplak. Kajen praktis di tengah-tengah. Desa yang tak punya sawah atau tambak ini terdiri atas 11 RT dan 2 RW dengan jumlah penduduk asli kurang lebih 3700 jiwa.

Di Kajen terdapat tak kurang dari 40 pesantren. Hampir setiap rumah para kiai atau guru Mathole’ dan beberapa madrasah lainnya merupakan tempat mukim santri. Setidaknya 7000 santri mukim di desa ini. Di antara para kiai, santri, dan warga tercipta hubungan simbiosis mutualisme sehingga Kajen sangat memenuhi syarat disebut sebagai “kampung santri”. Tidak ada konflik terbuka antarkiai, juga tidak ada kesan persaingan antarpesantren.

Santri Wajib Nulis “Skripsi”

Selain ada hafalan kitab kuning sebagai syarat kenaikan kelas sebagaimana tradisi di Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, satu keunikan Mathole’ adalah tradisi mencipta “skripsi” menjelang kelulusan. Tradisi ala kampus ini disebut KTA (Karya Tulis Arab). Dalam menyusun karya tulis ber-Bahasa Arab ini, para santri didampingi seorang musyrif (pembimbing). Membuat KTA menjadi syarat wajib bagi siswa kelas tiga aliyah. Tanpa membuatnya, seorang siswa tidak bisa mengikuti ujian catur wulan.

Tradisi ini mulai diwajibkan sejak tahun 1998. Tujuan program ini untuk mengembangkan dan melestarikan budaya tulis-menulis di kalangan pesantren yang kian surut. Diharapkan budaya serta kemampuan tulis siswa meningkat sehingga ke depan bisa menghasilkan karya yang bermanfaat. Setelah penulisan KTA selesai, penulisnya lalu diuji untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami dan menguasai terhadap apa yang ditulisnya. Ujian ini ibarat pertanggungjawaban terhadap apa yang ditulis. Di sinilah nilai-nilai amanah serta tanggung jawab ditanamkan.

Menurut KH Abdul Ghaffar Rozien, santri PIM sudah sejak Ibtidaiyyah dibekali nahwu, sharaf, dan ilmu tatabahasa arab lainnya. Sejak Aliyah mereka mendapatkan ilmu balaghah. Bahkan, di setiap jenjang ada praktik Insya’ (mengarang bahasa arab). KTA dimaksudkan sebagai salah satu media bagi santri PIM mempraktikkan teori dan kecakapan berbahasa Arab secara akademik.

Gus Rozien, sapaan akrabnya, menambahkan, melalui program itu pula para santri memulai riset sederhana. Tentu saja, mereka harus membaca berbagai macam buku referensi. Dari sini mereka berlatih berpikir akademis. Dengan demikian, mereka akan terbiasa menghadapi berbagai macam bentuk tulisan dan perbedaan pendapat ilmiah. “KTA ini dijadikan salah satu indikator keberhasilan pembelajaran Bahasa Arab sekaligus sebagai bahan evaluasi,” ujar putra Kiai Sahal ini.

Tak ayal, tradisi ini membentuk tradisi intelektual alumninya. Pengaruh alumni dan PIM Kajen dalam konteks Jawa Tengah, bahkan nasional, sungguh terasa dan cukup menjadi pusat inspirasi berbagai kalangan. Transformasi sosial di PIM telah menelorkan sejumlah intelektual muda seperti Imam Aziz, Ulil Abshar Abdalla, Badriyah Fayumi, Marwan Ja’far, dan Abdul Ghaffar Rozien.

Imam Aziz, salah satu Ketua PBNU, saat jadi aktivis di Yogyakarta mendirikan lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS). Ulil Abshar Abdalla dikenal sebagai penggagas Jaringan Islam Liberal yang cukup menghebohkan. Badriyah Fayumi merupakan anggota FKB DPR yang mengawal kebijakan di bidang Pendidikan. Marwan Ja’far setelah terpilih kedua kalinya sebagai anggota DPR belakangan dilantik Presiden Jokowi sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Lalu, Abdul Ghaffar Rozien penjaga gawang di Kajen sekaligus direktur Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA).

Sebagai penerus Kiai Sahal Mahfudh, Gus Rozien berkomitmen tetap teguh mempertahankan substansi salafiyah kendati zaman terus berganti. Manfaatnya tentu saja memelihara tradisi, ilmu, dan akhlaq ulama salaf. “Tentu saja kami melakukan penyesuaian yang diperlukan agar santri PIM menjadi insan shalih serta dapat menyesuaikan diri dengan zaman dan lingkungan masing-masing,” pungkasnya. (Musthofa Asrori)

 

Foto: Salah satu sudut Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) 

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG