IMG-LOGO
Pendidikan Islam

Menengok Program Kelas Internasional STAINU Jakarta

Sabtu 28 November 2015 7:33 WIB
Bagikan:
Menengok Program Kelas Internasional STAINU Jakarta

Sejak berdiri tahun 2003 lalu, Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta baru bisa mengembangkan program kelas internasional pada tahun 2011. Perguruan Tinggi Islam milik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini merangkul Universitas Ibnu Thufail di dan Universitas Abdul Malik es Sa’adi Tetouan. Keduanya di Maroko. Sedangkan pada tahun 2013, STAINU Jakarta juga berhasil menggandeng Universitas Zitounah di Tunisia.<>

Meskipun kerjasama di Maroko dimulai tahun 2011, namun program baru bisa berjalan di tahun 2012. Menurut Pembantu Ketua (Puka) I STAINU Jakarta, Imam Bukhori, sebetulnya program ini merupakan program Kementerian Agama RI dengan nama ‘Beasiswa Santri Berprestasi’. Namun, STAINU Jakarta ditunjuk oleh Kemenag untuk mengelola program ini, sebab mempunyai jaringan luas di Maroko dan Tunisia.

Tahun 2014 lalu, STAINU Jakarta memperpanjang masa kerjasama program kelas inetrnasionalnya dengan dua universitas bergengsi di Maroko, Universitas Ibnu Thufail dan Universitas Abdul Malik Essaadi Maroko. “Perpanjangan kerjasama ini hingga tahun 2016,” ujar Imam Bukhori berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun penulis.

Mewakili STAINU Jakarta, Imam menandatangani perpanjangan kerja sama ini akhir Januari 2014 lalu di Maroko dan diterima masing-masing wakil rektor kedua universitas tersebut. Pembaruan nota kesepahaman dilakukan sekaligus pada momen penyerahan angkatan ketiga program kelas internasional sebanyak 20 Mahasiswa.

Kerjasama kali ini juga mengembangkan dua program baru, yaitu  program pertukaran dosen dan program dosen tamu. “Rencana masing perguruan tinggi (PT) akan mengirim dosen yang berkualifikasi dan berkompetensi dalam waktu tertentu 3-6 bulan,“ ujar Imam. 

Ia berharap, dengan kerja sama ini STAINU Jakarta mampu bersaing di tengah kehidupan yang mengglobal. “Ini (kerja sama) penting karena tidak ada PT atau organisasi manapun dapat unggul dan bersaing tanpa membangun jaringan kerja sama dengan yang lain,” kata Imam. Program kelas Internasional ini ditujukan kepada 20 santri berprestasi dari seluruh Indonesia setelah melalui beberapa tahapan seleksi.

Memperdalam ilmu keislaman dan bahasa Arab

Kerjasama untuk menyelenggarakan program kelas Internasional ini dilakukan untuk memperdalam berbagai mata kuliah keagamaan seperti, fiqh, ushul fiqh, maqashid syar’iyah, qawaid fiqh, dan materi-materi kegamaan lain. Disamping itu, Universitas Ibnu Thufail juga menyiapkan program pendalaman Bahasa Arab bagi mahasiwa STAINU Jakarta yang mengikuti program kelas internasional.

Program yang telah berjalan selama empat tahun ini menjaring para santri dari berbagai pelosok daerah melalui bantuan beasiswa dari Kemenag dengan program beasiswa santri beprestasinya. Para mahasiswa dikirim di tiga universitas tersebut hanya untuk masa pendidikan selama satu tahun. Selanjutnya, mahasiswa menyelesaikan pendidikannya dengan kembali ke STAINU Jakarta.

Dari beberapa kali diadakan visitasi oleh pihak Kemenag dan STAINU Jakarta, para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di daratan Afrika Utara tersebut cukup membanggakan dari segi penyerapan ilmu dan akhlak sehari. Hal ini diamini oleh pihak universitas di Maroko dan Tunisia yang mengungkapkan kebanggannya terhadap para mahasiswa STAINU Jakarta yang mempunyai akhlak baik selama berada di kelas maupun saat di luar kelas.

Saat pertama kali mengikuti perkuliahan, selama satu bulan para mahasiswa STAINU Jakarta lebih difokuskan untuk takhoshus atau pendalaman bahasa yang  telah diberikan pihak universitas sebelum mengikuti kelas reguler. Hal ini dilakukan oleh pihak universitas agar menjadikan mahasiswa STAINU Jakarta mampu menyerap perkuliahan dengan baik dan bisa beradaptasi dengan mahasiswa lainnya.  

Takhoshus tersebut tidak menjadi sesuatu yang sulit bagi mahasiswa STAINU Jakarta karena mereka juga ikut serta belajar  dalam satu kelas dengan mahasiswa pribumi Maroko sehingga menjadikan mereka untuk terus aktif mempraktikkan apa-apa yang telah mereka dapat ketika mengikuti takhoshus bahasa Arab.

Dengan menginisiasi program kelas internasional ini, STAINU Jakarta tetap memberikan perhatian bagi para mahasiswanya agar selama belajar di Tunisia dan Maroko, tetap mempertahankan identitas ke-NU-annya. Karena NU menjadi perhatian umat Islam di negara Timur Tengah, terutama di dalam menjaga amalan seperti hizib, ratib, maulid, dan istighotsah.

Program Aswaja Internasional Movement

Selain mengirimkan para santri berprestasi ke Tunisia dan Maroko, STAINU Jakarta juga memberikan beasiswa belajar bagi mahasiswa luar negeri yang ingin belajar Islam di Indonesia. Hal ini dalam rangka untuk mewujudkan program Aswaja Internasional. Untuk tahap awal, STAINU Jakarta menerima para mahasiswa berasal dari Pattani, Thailand pada tahun 2013 sebanyak 31 mahasiswa. 

Program ini dilakukan STAINU Jakarta dalam rangka mendidik para mahasiswa dari Thailand untuk belajar sekaligus memperdalam pemahaman tentang Islam aswaja. Program Aswaja Internasional Movement ini digagas oleh STAINU Jakarta bekerjasama dengan pengurus pusat organisasi Al-Khidmah.

Ketua BP3TNU yang juga mantan Ketua STAINU Jakarta HM Mujib Qolyubi, MH mengatakan sangat bergembira dan optimistis bahwa program Aswaja International Movement yang digagas oleh STAINU Jakarta dan Al-Khidmah ini akan terus berjalan dan bermanfaat untuk menyebarkan panji-panji serta ajaran Islam ahlusunnah wal jamaah ke depan. Terlebih di tengah serangan paham-paham yang cenderung semakin menjauhkan umat Muslim dari ajaran otentik Rasulullah SAW.

“Program Aswaja Internasional Movement adalah salah satu bentuk komitmen STAINU Jakarta dalam mempertahankan tradisi serta amaliah ahlusunnah wal jamaah ala Nahdlatul Ulama, ini adalah wujud pengejawantahan diri kami sebagai perguruan tinggi berbasis NU,” terang Kiai Mujib.

Misi ini juga dilakukan, sebab STAINU Jakarta tidak hanya sekedar mentransfer ilmu praksis-akademis semata. Melainkan lebih dari itu, STAINU Jakarta akan mendidik mahasiswa-mahasiswanya, termasuk yang berasal dari Thailand untuk belajar amaliah-amaliah praksis-ideologis NU semisal wirid, manaqib, tahlil serta istighotsah agar kelak bisa menyebarkan serta menjadi imam tatkala kembali ke daerah asalnya masing-masing. 

Untuk mengembangkan misi ini, STAINU Jakarta juga bekerjasama dengan Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 2014 lalu. Kerjasama ini bukan hanya pada penyebaran pemahaman Islam Aswaja, melainkan juga di bidang akademik dengan mengembangkan dan mempublikasi hasil penelitian-penelitian akademik, selain pertukaran mahasiswa dan dosen.

Program Pascasarjana Islam Nusantara

Setelah membuka berbagai program kelas internasional, pada tahun 2013 STAINU Jakarta berhasil membuka program pascasarjana untuk jenjang S2 untuk Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dengan konsentrasi Kajian Islam Nusantara. Untuk angkatan pertama tahun 2015, Pascasarjana STAINU Jakarta berhasil mencetak sebanyak 45 mahasiswa dengan berbagai penelitian yang mengungkap khazanah keilmuan Islam Nusantara.

Konsentrasi Islam Nusantara menjadi pilihan STAINU Jakarta karena khazanah keilmuan Islam di Nusantara sangat melimpah. Selain itu, konsentrasi ini juga dipilih karena STAINU Jakarta, bahwa distingsi Islam Nusantara secara sosial dan budaya berbeda dengan karakter Islam di Negara-negara lain, misalnya Timur Tengah.

Konsentrasi ini bukan berarti melokalisir pemahaman Islam, yaitu hanya di Nusantara, melainkan berupaya memproduksi penelitian-penelitian akademik sehingga mampu mewujudkan Indonesia sebagai destinasi (tujuan) kajian Islam dunia. Hal ini berangkat dari pemahaman, bahwa Islam di Indonesia sebagai sebuah karakter, dikenal oleh masyarakat dunia sebagai Islam yang ramah, toleran, dan  moderat dengan berbagai kekayaan karya-karya manuskrip orang Nusantara terdahulu.

Dengan demikian, Pascasarjana STAINU Jakarta bukan hanya berusaha mencetak para Master Sejarah, melainkan juga ahli manuskrip nusantara, ahli geneologi keilmuan Islam Nusantara, ahli antropologi, sosiologi, maupun kebudayaan Islam Nusantara. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Pascasarjana STAINU Jakarta menyediakan para dosen yang berkompeten dibidangnya, baik dosen lulusan luar negeri maupun dalam negeri.

Untuk program S2 ini, STAINU Jakarta menggandeng Kemenag RI untuk menyediakan beasiswa setiap tahunnya. Bagi para guru madrasah, program S2 ini bisa diakses karena STAINU Jakarta menyediakan beasiswa guru madrasah untuk 25 orang tiap tahun. Selain itu, untuk program reguler, STAINU Jakarta juga menyediakan program beasiswa untuk tahun pertama. (Fathoni) 

Bagikan:
Jumat 27 November 2015 9:30 WIB
Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog”
Pesantren Almanar Wajibkan Santri Bikin “Blog”

Saat jam istirahat Pesantren Almanar Azhari sedang berlangsung, para siwa menarik nafas sejenak setelah mendapat pelajaran di kelas dan akan dilanjutkan lagi setelah istirahat usai.<>

Siswa-siswa terlihat asyik bercengkerama di beranda kelas, masjid, dan di saung-saung yang berada di lokasi pesantren yang beralamat Jalan Raya Limo Pelita No 10 Depok, Jawa Barat ini. Akan tetapi di antara santri-santriwati terebut, ada dua santri yang sedang asyik berinternet-ria di pojok ruangan, di salah satu kelas: M Satrio Khalifah Ardhy dan Reza Anugrah Putra.

Yang menarik, kedua siswa tersebut sedang membuka blog mereka masing-masing. Satrio yang memiliki alamat blog, www.str21.blogspot ini menjelaskan dia sering mengunduh berita-berita yang terjadi di sekelilingnya. Saya ingin berbagi informasi dengan orang lain melalui dunia maya, tutur siswa Kelas 2 SMA yang berasal dari Bekasi ini.

Selain itu, lanjutnya, dia juga sering memberi catatan terhadap apa yang terjadi di Indonesia dan dunia international, terutama dunia Islam. Di blog, saya memberi catatan tentang gempa Tasik dan bagaimana perjuangan rakyat Palestina, katanya sambil menunjukkan isi blog-nya tersebut kepada Pelita.

Menurut siswa berkaca-mata yang juga hafal empat juz Al-Quran ini, jika betul-betul menguasai, blog bisa dimanfaatkan untuk mencari duit. Makanya, blog harus diisi dengan hal-hal yang baik, ucap santri yang juga berperan sebagai administrator blog Organisasi Siswa Almanar Azhari (Osama) ini: www.osama2009-2010.blogspot.com.

Sama halnya dengan Reza Anugrah Putra, siswa Kelas 3 SMP. Santri yang telah memiliki blog, www.hackod3.co.cc, sejak Kelas 1 ini berdalil saat ini tidak seorang pun bisa lepas dari sains dan teknologi, termasuk internet. Saya isi blog, seputar informasi, tips, dan trik yang berkaitan dengan dunia internet, tutur santri yang telah hafal lima juz Al-Quran ini.

***

PESANTREN Almanar Azhari sepertinya memang berbeda dengan pesantren pada umumnya. Head Master Pesantren Almanar Azhari Nurcholis Suhaimi, MA menuturkan di pesantren yang dipimpinnya tersebut setiap santri dan guru diwajibkan memiliki blog. Makanya, setiap siswa harus memiliki laptop dan semua lokasi pesantren merupakan area free hot spot, tutur alumnus Pesantren Modern Ar-Rasyid, Jawa Timur ini.

Nurcholis mengakui, pada awalnya kebijakan pesantren tersebut mendapat penentangan dari sejumlah orangtua murid. Para orangtua khawatir, anak mereka justru menggunakan internet untuk hal-hal yang tidak baik. Kita tegaskan, pesantren akan mencetak santri yang ahli membuat virus dan membobol password, tapi mempunyai moralitas tinggi, tandasnya.

Hal ini tentu sejalan dengan visi besar Pesantren Almanar Azhari: menjadikan lembaga pendidikan yang dapat menciptakan siswa-siswi yang memiliki kualitas intelektual tinggi serta mempunyai moral, akhlak, dan budi pekerti yang luhur.

Nurcholis tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya yang menguasai dunia maya justru berasal dari orang yang tidak bertanggungjawab. Pesantren berkomitmen akan menghiasi internet dengan ayat-ayat Al-Quran dan wacana keislaman. Dari itu, setiap bada Maghrib dan Subuh, para siswa akan menghafal Al-Quran. Bada Subuh, terangnya, setoran hafalan. Sedangkan bada Maghrib tambah hafalan. Satu hari setiap siswa harus hafal setengah halaman.

Teknologi sebenarnya netral. Tergantung si penggunanya, tutur alumnus Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berdalil.

Nurcholis menjelaskan penguasaan sains dan teknologi merupakan satu dari lima pilar yang dimiliki Pesantren Almanar Azhari. Sedangkan empat pilar lainnya adalah hafal Al-Quran, menguasai Bahasa Arab dan Inggris, memahami dengan benar ilmu syariah Islamiyyah, dan berakhlakul karimah.

Untuk mencapai lima target tersebut, Pesantren Almanar memadukan sistem pendidikan kepesantrenan (pendidikan Islam), kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, dan kurikulum international. Kurikulum tersebut diterapkan untuk jenjang SMP dan SMA.

Sementara untuk kurikulum pesantren, tuturnya, santri akan mengkaji berbagai kitab yang telah disusun tim Almanar Azhari yang berpedoman pada pelajaran Islamic studies (al-ulum as syariyyah) dari Alazhar University Cairo Mesir.

Pelajarannya meliputi, tafsir, fiqh, ushul fiqh, hadits, tauhid, faraid, dan tahfizh Al-Quran dengan menggunakan sistem talaqqi: pertemuan anatara ustadz dan guru, paparnya. Untuk ilmu fiqh, empat aliran mazhab semua diajarkan. Sementara akidahnya adalah ahlu sunnah wal jamaah.

Selain itu, Pesantren Almanar juga berkerja sama dengan Cambridge University, Inggris. Kerja sama dengan Cambridge University, katanya melanjutkan, meliputi pelajaran, matematika, kimia fisika, biologi, dan Bahasa Inggris. Materi soal ujian berasal dari Cambridge. Lulusan Almanar akan menerima Sertifikat Cambridge, tutur alumnus Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Karena menerapkan sistem perpaduan, Pesantren Almanar tidak membedakan antara pelajaran agama dan umum. Nurcholis mencontohkan, jika belajar tentang biologi, planet, ekosistem misalnya, para pengajar juga akan memberikan penjelasan perspektif Islam. Jadi ada internalisasi nilai-nilai Islam dalam sains, ucapnya.

***

UNTUK menunjang keberhasilan dan kenyamanan santri dalam belajar, siswa Pesantren Almanar memang tidak banyak. Setiap kelas hanya memiliki 25 murid. Setiap tahun pihak pesantren hanya menerima 100 siswa baru: 50 SMP dan 50 SMA yang dibagi dalam dua kelas. Yang menarik, di luar kelas, satu pengasuh akan mendampingi enam murid.

Para santri juga dilengkapi dengan berbagi fasilitas penunjang, mulai dari berbagai laboratorium, perpustakaan, sarana olahraga dan kesehatan, hingga kolam renang. Semua ruangan ber-AC Tentu semua ini tidak mudah dan murah, aku Nurcholis. Perlu kekonsistenan dan kedisisplinan.

Pendiri Pesantren Almanar Azhari KH Manarul Hidayat mengakui bahwa lembaga pendidikan yang didirikannya tersebut hanya bisa diakses oleh siswa yang memiliki IQ tinggi dan berasal dari keluarga yang mampu.

Akan tetapi, buru-buru ia menambahkan, 10 persen dari jumlah santri harus berasal dari keluarga yang tidak mampu: keluarga miskin atau anak yatim. Jadi ada subsidi silang. Sayarat yang pertama tetap: harus pintar, kata Kiai Manarul Hidayat. Ini tidak bisa ditawar. (Zul Hidayat/Pelita)

Kamis 26 November 2015 16:44 WIB
MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya
MI Darul Ulum Jakarta Kembangkan Keterampilan Berbasis Budaya

Seorang guru tidak hanya dituntut untuk mencetak peserta didik yang mempunyai kecerdasan sosial, tetapi juga kecerdasan spiritual. Begitu itu juga dengan keterampilan. Guru atau madrasah juga harus mampu mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual berbasis budaya dalam diri anak didiknya. Hal itulah yang dilakukan oleh Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Jakarta.<>

Madrasah yang berlokasi di Jalan Karet Pedurenan Masjid, Setia Budi, Jakarta Selatan ini menggulirkan berbagai program untuk mewujudkan keterampilan sosial dan spiritual kepada peserta didik. Program ini merupakan program yang cukup komprehensif untuk mewujudkan kecerdasan peserta didik dari berbagai aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Program-program tersebut diantaranya adalah shalat berjamaah mingguan yang dilakukan setiap hari Jumat di ruang ibadah yang sangat memadai, juga hapalan surat-surat pendek al-Qur’an. Selain itu, ada keterampilan seni musik seperti marawis, qasidah, angklung, pianika, dan drumband. Kemudian ada seni melukis, kegiatan muhadloroh, pramuka. Kemudian untuk mengembangkan keterampilan peserta didik dalam dunia IT, madrasah juga menyediakan laboratorium komputer berbasis internet dan ruang audio visual.

Budaya shalat berjamaah harus ditanamkan sejak dini pada generasi muda. Karena pada shalat berjamaah terkandung nilai kedisiplinan, ketertiban, dan kebersamaan. Seni musik seperti marawis juga dikembangkan guna melestarikan tradisi musik masyarakat Betawi, selain tari ondel-ondel yang juga diajarkan. Agar peserta didik juga mengenal kebudayaan lain, madrasah juga mengajarkan seni musik angklung, beserta keterampilan lain yang telah dijelaskan di atas.

Bagi MI Darul Ulum, bukan sekadar peserta didik mampu melalukan semua keterampilan tersebut, melainkan menghayati makna yang terkandung dari semua keterampilan berbasis budaya tersebut. Hal ini dilakukan agar kelak peserta didik juga mempunyai semangat (ghirah) untuk senantiasa menjaga, merawat, dan melestarikan berbagai keterampilan berbasis budaya tersebut.

Kepala MI Darul Ulum, Titin Supriatin, SPd mengatakan, bahwa dengan mengembangkan berbagai keterampilan, madrasah semakin diminati oleh masyarakat. “Dalam penerimaan peserta didik baru awal Juni 2015 lalu, Madrasah Darul Ulum telah ditutup sejak awal karena kursi telah penuh. Prinsip ‘Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah’ semakin memasyarakat dengan catatan sebuah madrasah mengembangkan diri,” ujar Titin.

Program tersebut, juga disampaikan Titin, karena MI Darul Ulum memiliki visi, yaitu ‘Menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berakhlak mulia’. Untuk mewujudkan visi dan misi mulia, MI Darul Ulum merekrut guru-guru unggul sebagai staf pengajarnya. Hal ini bukan berarti menafikan sarjana-sarjana pendidikan yang masih mempunyai pengalaman minim, melainkan para sarjana yang senantiasa mau belajar mengembangkan pendidikan madrasah.

Sejarah singkat Madrasah Darul Ulum

Yayasan Darul Ulum Al-Islamiyah berdiri tahun 1976 di Jakarta. Didirikan di atas tanah wakaf kurang lebih 1.000 meter yang diatasnamakan Alm Haji Basir (1908-1971). Perintis pendirian yayasan adalah pasangan suami istri KH M Machfuz Basir, putera alm H Basir dan istrinya, H Chodidjah Djumali. Sepulang dari belajar di Mesir, pasangan ini giat mengadakan pengajian dan majelis taklim, baik di kalangan anak-anak, remaja maupun orang tua, di sekitar kampung Pedurenan Masjid, Kelurahan Karet Kuningan Kecamatan Setiabudi Jakarta Selatan.

Cikal bakalnya di tahun 1972 hanya berbentuk pengajian di dalam rumah kediaman warisan orang tua yang dilaksanakan setiap hari, baik pagi, sore maupun malam. Semakin hari jumlah murid semakin banyak dan tidak tertampung lagi. Sehingga di tahun 1976 didirikanlah gedung madrasah dengan memanfaatkan bahan-bahan bangunan bekas bongkaran masjid yang terkena penggusuran.

Saat itu kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sore hari, mengingat pagi hari para siswa sekolah di SD. Namun seiring berjalannya waktu, pengajian sore hari itu diubah menjadi madrasah formal yang menekankan pada materi keagamaan.

Setelah meluluskan angkatan pertama Madrasah Ibtidaiyah (MI) di tahun 1982, Yayasan Darul-Ulum kemudian mendirikan pula jenjang berikutnya, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs). Menyusul kemudian mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tahun 1985.

Selain pendidikan formal, pembinaan keagamaan lewat berbagai majelis taklim juga dikembangkan. Majelis taklim khusus buat laki-laki diadakan tiap malam Kamis dan untuk ibu-ibu diadakan tiap hari Sabtu pagi. Selain yang bersifat pendidikan dan majelis taklim, Yayasan Darul Ulum juga memiliki aktivitas di bidang sosial dan ekonomi, yang fokus pada penyantunan anak-anak yatim, para janda, dhuafa, dan juga muallaf.

Khusus MI Darul Ulum, sampai tahun 2015 ini telah mencetak 33 angkatan. Terakhir acara Haflah Akhirussanah dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2015. Saat ini Ketua Yayasan Darul Ulum dijabat oleh H Ramli Rahmat. (Fathoni)

Foto: Para siswa MI Darul Ulum saat belajar memainkan alat musik angklung.

Kamis 26 November 2015 10:59 WIB
PESMA AL-HIKAM
Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan
Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Pondok Pesantren memegang peranan penting di masyarakat, sementara di perguruan tinggi masing-masing tempat para mahasiswa menuntut ilmu porsi pembinaan spiritual dan karakter mental masih sangat kurang. Karenannya harus tersedia tempat untuk membina moral, membangun karakter dan memperkuat basis keilmuan sehingga kelak akan mampu berperan secara maksimal di dunia kerja dan masyarakat yang tetap disemangati dengan nilai-nilai Keislaman, kebudayaan dan ke Indonesiaan. Hal itu yang selalu diungkapkan oleh Pendiri Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, KH A Hasyim Muzadi.<>

Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1989 berdiri Yayasan Al Hikam Malang dengan akte notaris NO 47/ 1989. Kemudian Pesantren Mahasiswa Al Hikam sendiri secara resmi berdiri pada tanggal 17 Ramadlan 1413 H/ 21 Maret 1992.

Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al Hikam yang beralamatkan di Jl. Cengger Ayam No. 25 Lowokwaru Kota Malang bercita-cita untuk menggabungkan sisi positif perguruan tinggi dan pesantren untuk mewujudkan generasi yang mempunyai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbudi pekerti luhur serta memiliki kepribadian dengan tetap memegang budaya dan semangat keIndonesiaan. Selain itu, Pesma Al-Hikam yang biasa disebut oleh para santri memiliki Motto “Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, dan Kesiapan Hidup

Untuk sampai kepada tujuan pendidikan di Pesma Al Hikam. Santri diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan minat dan bakatnya di berbagai media aktivitas yang ada di pesantren Mahasiswa Al Hikam. Media-media aktivitas tersebut antara lain : Organisasi Santri Pesantren Mahasiswa Al Hikam (Ospam), KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al Hikam, Taman Pendidikan Al-Qur’an Al Hikam, Mini Market Al Hikam, dan Unit Teknologi Informasi (UTI).

Diharapkan dengan berbagai aktivitas positif di dalam masing-masing unit tersebut santri yang aktif akan memiliki keterampilan dan pengetahuan praktis dalam mengelola lembaga, mengenal, melayani orang lain dan lingkungan, menyusun program, pengalaman kepemimpinan, dan keterampilan teknis tertentu yang mungkin tidak didapat secara langsung dari kelas baik di kampus maupun di pesantren.

Pengembangan perpustakaan 

Keberadaan perpustakaan dan pusat informasi berawal adanya taman bacaan, dimana koleksinya masih berupa kumpulan koleksi milik pengasuh yakni KH A Hasyim Muzadi yang dimanfaatkan oleh para santri untuk kebutuhan pengkayaan ilmu pengetahuan dan penumbuhan daya pikir santri. Pada saat itu koleksi perpustakaan masih belum dikelola secara profesional.

Sesuai dengan perkembangan waktu, keberadaan taman bacaan semakin dirasakan sebagai kebutuhan untuk mendukung kegiatan lembaga induknya, yaitu Pesma Al Hikam, STAI Ma’had Aly (STAIMA), maka sejak tahun 2003 bersamaan dengan berdirinya STAI Ma’had Aly (STAIMA), unit tersebut menjadi unit perpustakaan dan pusat informasi yang dikelola secara profesional oleh para pustakawan ahli yang terdiri dari 2 orang sarjana perpustakaan, 1 orang tenaga teknisi perpustakaan, 2 orang tenaga bantu yang memiliki kualifikasi kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Pada tahun 2011 koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan mencapai 5850 judul, 15.992 eksemplar yang dilengkapi dengan barkode dan terekam dalam pangkalan data (database) dan dilengkapi dengan opac (online public acces catalogue) dan jaringan internet. Disamping itu memiliki koleksi virtual library yang berjumlah 68 judul dengan subyek Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, bahasa Arab, bahasa Inggris, kajian keislaman. Koleksi tersebut terpasang dalam OPAC (Online Public Acces Catalouge) atau AISAL (Al-Hikam Integreted Self Access Learning). Untuk mengetahui koleksi buku dan kitab yang dimiliki oleh perpustakaan al-Hikam dapat diakses di: http://al-hikam.ddns.net/   

Sedangkan terkait akses ilmu pengetahuan, menurut Wakil Pengasuh Pesma Al-Hikam, KH Muhammad Nafi’ perpustakaan Al Hikam juga sudah sangat representatif. Dari data perpustakaan Al Hikam, terdapat 6.704 judul buku dengan total 17.304 eksemplar. Selain itu, terdapat sekitar 5.000 judul kitab berupa e-Book. 

”Kita sadar akan pentingnya perpustakaan, apalagi pesantren kita khusus untuk mahasiswa,” tandas pengurus PCNU Kota Malang yang juga menantu Mbah Muhith Muzadi. (Ahmad Rosyidi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG