KONGRES IPNU DARI MASA KE MASA (4)

Ujung Kepemimpinan Tolchah Mansoer dan Pesan Terakhirnya

Ujung Kepemimpinan Tolchah Mansoer dan Pesan Terakhirnya

Rupanya, pembentukan Departemen Perguruan Tinggi IPNU hasil dari Muktamar IPNU ke-3 di Cirebon, oleh sebagian kalangan mahasiswa Nahdliyin masih dirasa kurang memadai aspirasi mereka.<>

Akhirnya, setahun berikutnya, tepatnya pada tanggal 17 April 1960 berdiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang kemudian menjadi salah satu underbouw NU. Praktis, pola pengkaderan yang semula terpusat pada IPNU, termasuk mahasiswa, kini juga mesti terbagi untuk PMII.

Sebagian tokoh IPNU baik di pusat maupun daerah, terutama di kalangan mahasiswa, terbagi pikiran mereka untuk ikut membesarkan PMII. Beberapa, bahkan didaulat untuk menjadi Pengurus Pusat (sekarang PB) PMII, di antaranya Mahbub Djunaedi (Ketua Umum), A. Chalid Mawardi (Ketua Satu), M Said Budairi (Sekretaris Umum), Mustahal Ahmad, Nuril Huda Suaedy (anggota) dan lainnya.

PP IPNU kemudian mengeluarkan siaran No. XIV/PP/60 yang dikirim ke PW dan PC IPNU se-Indonesia tentang kronologi dan penjelasan resmi tentang pendirian PMII, sekaligus untuk mempertegas tentang kedudukan mahasiswa dalam IPNU, Departemen Perguruan Tinggi IPNU dan pesantren dalam PMII.

Sementara itu situasi politik Tanah Air semakin memanas, menyusul usai diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sampai dengan pengesahan kembali partai NU pada 14 April 1961.

Hingga akhirnya, pada tanggal 15 April 1961, Presiden Soekarno menetapkan keputusannya untuk mengakui 8 partai politik yang berhak hidup, satu di antaranya adalah NU. Salah satu partai besar di Pemilu 1955, Masyumi, bahkan harus rela dibubarkan, sebagai buntut dari Peristiwa Pemberontakan DI/TII dan PRRI.

Kongres IV (Yogyakarta, 1961)

Muktamar (Kongres) IPNU ke-4 digelar di Yogyakarta, menjelang keluar putusan presiden seperti yang telah dipaparkan di atas, tepatnya pada 11-14 Februari 1961. Dalam pidato pertanggungjawabannya, Ketua PP IPNU Tolchah Mansoer menegaskan komitmen IPNU untuk ikut senantiasa meningkatkan kontribusi mereka kepada masyarakat :

“Bukanlah kedjajaan dan keagungan organisasi itu jang menjadi tjita-tjita utama. Tapi bagaimana organisasi itu bisa memberikan sumbangan kepada masjarakat dalam segala bidangnja. Tudjuan organisasi ini masih djauh; apa jang nampak di depan mata kita ini hanja sekelumit jang tidak banjak artinya.”

“Tjita-tjita daripada IPNU jalah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite di dalam masjarakat. Tidak. kita menginginkan masjarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masjarakat.”

Pidato pertanggungjawaban Tolchah sebagai ketua umum IPNU ini, menjadi yang terakhir baginya. Estafet Ketua Umum PP IPNU periode 1961-1963 selanjutnya diemban kepada Ismail Makky.

Beberapa hal penting yang dihasilkan dalam muktamar keempat ini antara lain penghapusan Departemen Perguruan Tinggi IPNU (karena sudah ada PMII), penggantian istilah muktamar menjadi kongres, dan perubahan istilah dari Anggaran Dasar / Rumah Tangga (AD/ART) menjadi Peraturan Dasar / Peraturan rumah tangga (PD/PRT) serta finalisasi bentuk lambang IPNU. (Ajie Najmuddin)

 

Sumber:

Caswiyono Rusydie dkk, KH. Moh. Tolchah Mansoer Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Yogyakarta, Pustaka Pesantren), 2009.

BNI Mobile