IMG-LOGO
Daerah

Inilah Dalil Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Selasa 8 Desember 2015 2:39 WIB
Bagikan:
Inilah Dalil Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Jombang, NU Online
Katib Syuriah PCNU Jombang H Abd Kholiq Hasan mengajak warga nahdliyin mengetahui dalil-dalil anjuran merayakan atau memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Pasalnya tak sedikit golongsn yang menganggap perayaan itu adalah bid’ah yang sesat.
<>
Dalam pandangan Gus Kholiq, sapaan akrabnya, peringatan Maulid Nabi pada dasarnya adalah ungkapan rasa senang dan gembira dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW.  Rasa senang dan gembira itu sendiri merupakan perintah Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 58, lanjut dia, disebutkan anjuran untuk bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya sebab Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Rasa senang dan gembira ini, kata dia, sebagaimana yang telah Nabi contohkan sendiri dengan cara berpuasa pada hari kelahiran beliau. Dalam sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari yang artinya bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang puasa Senin. Nabi menjawab, pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.

Sedangkan untuk memperingati Maulid Nabi ini, menurut Gus Kholiq, terdapat dorongan kuat untuk membaca shalawat dan salam kepadanya. Sebab dijelaskan dalam Al-Qur’an surah QS. al-Ahzab ayat 56, Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada Nabi Muhammad saat lahir.  

“Innallaaha wa malaaikatahu yushalluna alan nabi. Yaa ayyuhalladzina amanu shallu ‘alaihi asallimu taslima. (Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya),” terangnya kepada NU Online, Senin (7/12).

Segala sesuatu yang menjadi dorongan untuk melakukan perbuatan yang dianjurkan oleh syara’, berarti dianjurkan pula dalam syara’. Dan segala sesuatu yang menjadi dorongan melakukan perbuatan yang diperintahkan oleh syara’, berarti diperintahkan pula dalam syara’. “Salah satu kaidah ushuliyah disebutkan maa laa yutimmul wajibu illa bihi fahua wajibun (Sesuatu yang tidak dapat sempurna sesuatu yang wajib kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut juga berhukum wajib),” imbuhnya.

Ia menjelaskan, sekitar lima abad yang lalu, Imam Jalaluddin al-Suyuthi (849-901 H/1445-1505 M) pernah menjawab polemik tentang perayaan Maulid Nabi ini. Beberapa orang mempertanyakan tentang hukum merayakan Maulid Nabi, menukil dalam kitab al-Hawi li al-Fatawi beliau menjelaskan.

“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukan diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: “Jawabannya menurut saya bahwa semula perayaan Maulid Nabi yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupan-nya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinik-mati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Orang yang melakukan diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad yang mulia,” tuturnya.

Terahir, Kholiq menjelaskan beberapa fadilah (keutamaan) dalam merayakan Maulid Nabi muhammad. Di antaranya adalah sebagaimana yang dikutip oleh al-Imam Syihâbuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (899-974 H/1494-1566 M) dalam kitabnya al-Ni’matu al-Kubra ‘ala al-‘Alam fî Maulidi Sayyidi Waladi Adam. “Sayyidina Abû Bakar ash-Shiddiq berkata, barangsiapa yang menginfaqkan satu dirham atas dibacanya Maulid Nabi, maka ia adalah temanku di surga,” katanya.

“Sayyidina ‘Umar bin Khaththâb  berkata barangsiapa yang mengagungkan Maulid Nabi, sungguh ia telah menghidupkan agama islam. Dan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, Barangsiapa yang menginfaqkan satu dirham atas dibacanya Maulid Nabi, maka seakan-akan ia rela mengorbankan jiwanya untuk membela agama pada perang Badar dan perang Hunanin. Sayyidina ‘Ali bin Abî Thâlib juga berkata, barangsiapa yang mengagungkan Maulid Nabi dan ia menjadi sebab dibacanya Maulid Nabi, maka ia tidak akan meninggal kecuali dengan iman dan masuk surga tanpa hisab,” lanjutnya. (Syamsul)

Bagikan:
Selasa 8 Desember 2015 1:3 WIB
MINU KH Mukmin Gunakan Metode Kecerdasan Ganda
MINU KH Mukmin Gunakan Metode Kecerdasan Ganda

Sidoarjo, NU Online
Beberapa prestasi juga ditorehkan oleh pelajar MINU KH Mukmin Sidoarjo. Mereka berhasil merebut juara 1 Mapel umum tingkat provinsi Jatim tahun 2012-2013, juara I dan II pidato bahasa Inggris tingkat Kabupaten Sidoarjo, Juara III Sains tingkat Nasional, juara III bahasa Inggris tingkat nasional tahun 2014-2015, juara II Banjari tingkat provinsi Jatim tahun 2014-2015 dan masih banyak lagi yang lainnya.
<>
Selain siswanya berprestasi sekolah tersebut juga mendapatkan prestasi yaitu prestasi sekolah Widyapakerti Kemenag Kabupaten Sidoarjo tahun 2013, juara sekolah Widyapakerti Kemenag Kabupaten Sidoarjo tahun 2014.

Proses belajar mengajar juga dilakukan berdasarkan kecenderungan kecerdasan masing-masing siswa. Untuk mengetahui kecerdasan masing-masing siswa, MINU KH Mukmin ini menggunakan alat yang bernama MIR (multiple intelligence system). Proses belajar mengajarnya pun tidak hanya di dalam kelas, melainkan juga dilakukan di luar kelas.

"Dengan melakukan hal seperti itu, kami bisa menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, menarik dan nyaman. Kami pun berharap siswa yang belajar dengan kondisi menyenangkan pada jam efektif sekolah," kata kepala sekolah MINU KH Mukimn Sidoarjo Nurul Hamamah, Senin (7/12).

Selain memberikan pendidikan di dalam kelas MINU KH Mukmin juga mengajarkan kepada siswanya beberapa kegiatan di luar jam sekolah yang dikemas dalam ekstra kurikuler di antaranya, ekstra qiroah, hadrah, drumben, teater, pramuka, melukis, musik, kaligrafi, organ. Selain itu, terdapat juga ekstra non kurikuler intensif kelas seperti Bahasa Arab, Bahasa Inggris, IPA, dan Matematika.

Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) KH Mukmin Sidoarjo didirikan tahun 1927 di atas tanah waqaf milik NU. Di mana pimpinan NU waktu itu yakni KH A Bajuri dan KH Chudlori Amir. Pada awal berdirinya, madrasah itu bernama madrasah Nahdlatul Oelama yang hanya menerima murid laki-laki saja, sehingga dikenal dengan nama Madrasah Banin.

Pada masa kemerdekaan, madrasah ini pernah dijadikan sebagai markas tentara Hizbullah. Disamping itu sebagian besar kegiatan NU juga dipusatkan di madrasah ini. Sekitar tahun 1960-an madrasah ini pernah ditempati Mualimin pada waktu siang hari. Seiring dengan perkembangan zaman akan kebutuhan masyarakat terhadap sekolah Islam, sekitar tahun 1970 an madrasah ini kemudian menerima murid perempuan dan pada akhirnya diberi nama MINU Kutuk sesuai dengan nama dusun setempat.

Selanjutnya, sekitar tahun 1987 madrasah ini berubah nama lagi menjadi MINU Kiai Hasan Mukmin yang disingkat dengan MINU KH Mukmin, dimana sesuai dengan nama pejuang Kiai Hasan Mukmin yang bertempat tinggal di daerah Sidoarjo dan juga sesuai dengan nama jalan yang berada di depan MINU KH Mukmin ini.

MINU KH Mukmin Sidoarjo mempunyai visi mewujudkan generasi Islam yang berilmu, beriman berdasarkan Ahlusunnah wal Jama’ah dan berakhlaqul karimah serta berjiwa kebangsaan. 

Sedangkan misi nya yaitu meluluskan siswa, menguasai ilmu-ilmu dasar sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam secara kaffah atau sempurna, mengamalkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, berakhlak karimah sebagai dasar berperan di tengah masyarakat. 

MINU KH Mukmin yang beralamat di Jl. KH Mukmin 39 Sidoarjo itu mempunyai siswa berjumlah 519 siswa, jumlah pendidik dan tenaga kependidikan 46 orang dan nsm 111-235-150-109. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Senin 7 Desember 2015 15:1 WIB
Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif
Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif

Jombang, NU Online
Pengurus Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno, Jombang, Jawa Timur mengajak setiap divisi kepengurusan agar lebih kreatif dengan adanya basecamp ranting IPNU-IPPNU setempat, khususnya dibidang kerajinan tangan dan pengembangan bakat lainnya.<>

Sebelumnya, mereka telah merutinkan kegiatan kerajinan tangan membuat aksesoris setiap pekan kurang lebih selama dua bulan terahir sebelum adanya basecamp. Dalam perkembangannya hasil kerajinan inimampu menarik beberapa pedagang aksesorisuntuk menjadi pelanggan mereka, bahkan tidak kurang dari 10 orangsetiap pekan. 

“Kita sebelumnya memang sudah intensif mengadakan kerajinan tangan membuat aksesoris. Ya lumayan, hasilnya juga memuaskan dan banyak pedagang-pedagang yang sudah mulai memesannya,” kata Lila Aiziyah, Ketua PR IPPNU Mojoduwur, kepada NU Online saat dihubungi, Ahad (6/12).

Ia berharap keberadaan basecamp itu menjadi motivasi tersendiri bagi semua anggota dan pengurus ranting lebih aktif dan sungguh-sungguh dalam menjalankan program-programnya. “Selama ini yang menjadi prioritas kita adalah basecamp. Basecamp kita sudah punya, tugas kita sekarang adalah memanfaatkannya sebaik mungkin, termasuk menjalankan program-program kita ke depan,” ungkapnya.

Kantor IPNU-IPPNU ini diresmikan pada Ahad pagi, (6/12/2015) bersama segenap pengurus ranting Kecamatan Mojowarno. Sebelum diresmikan mereka memanjatkan doa dan tahlil bersama kemudian dilanjutkan dengan acara tumpengan (makan bersama). “Semoga dengan adanya basecamp ini kita bisa rutin dan semangat menggagas ide-ide dalam berkarya,” harapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Senin 7 Desember 2015 14:1 WIB
Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja
Tangkal Gerakan Radikalisme dengan Intensifkan Daurah Aswaja

Bangkalan, NU Online
Makin maraknya aliran dan pemahaman masyarakat yang tidak sepaham dengan  Ahlussunnah wal Jamaah Nahdlatul Ulama (Aswaja NU) dikhawatirkan akan memunculkan lahirnya gerakan radikal. Karenanya, generasi muda harus mendapatkan pembekalan pemahaman Islam yang benar.<>

"Kalau disadari lebih mendalam, pemahaman dan tafsir yang salah terhadap ajaran agama juga akan dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata KH Abdurrahman Navis, Ahad (6/12). Karena itu sejak awal, para generasi muda khususnya kader NU harus dibekali dengan pemahaman yang benar terkait hal tersebut, lanjut Kiai Navis, sapaan akrabnya.

Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini kemudian mengemukakan bahwa kemunculan gerakan radikal yang mengatasnamakan agama adalah bukti jelas bahwa  terdapat pemahaman yang salah dan hal tersebut disebabkan antara lain lewat cara belajar agama Islam secara instan.

"Karena itulah khusus di Bangkalan Madura, kami menggiatkan kembali daurah Aswaja secara berkala," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Kegiatan tersebut hasil kerjasama antara PCNU dan PC Aswaja NU Center Bangkalan dengan  PW Aaswaja NU Center Jatim.

Peserta kegiatan yang berlangsung dua hari sejak Sabtu hingga Ahad (5-6/12) tersebut adalah pengurus MWC NU se-Bangkalan, termasuk pengurus lembaga dtambah dengan utusan dari sejumlah pesantren.

"Tabarukan, kegiatan daurah dilaksanakan di Pondok Pesantren Syaichona Cholil yang diasuh KH Fachri Sychol," terang dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Daurah menghadirkan empat narasumber yakni Ustadz Makruf Khozin, Ustadz Faris Choirul Anam, Ustadz Fathul Qadir, serta KH Abdurrahman Navis.

"Seperti layaknya modul yang sudah menjadi panduan dasar dalam kegiatan daurah, selama kegiatan para peserta menerima materi terkait dengan firqah dalam Islam. Demikian pula pengertian dan definisi Aswaja NU," kata Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya ini. 

Materi berikutnya adalah kekhasan dari Aswaja NU, fikrah nahdliyah, amalaiyah nahdliyah dan jawaban atas keraguan banyak kalangan terhadap amaliyah warga. "Seperti bagaimana keabsahan dalil dari tahlil, istigatsah, tawassul dan sebagainya yang tradisi tersebut telah menjadi amaliyah warga NU," pungkas Kiai Navis. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG