IMG-LOGO
Fragmen

Muktamar 1994 dan Jihad Lingkungan Hidup

Sabtu 12 Desember 2015 6:11 WIB
Bagikan:
Muktamar 1994 dan Jihad Lingkungan Hidup

Belum lama ini isu lingkungan menjadi pembicaraan publik. Bahkan sampai KH A Mustofa Bisri ikut bersama-sama warga masyarakat Rembang untuk menyuarakan keadilan dalam menjaga lingkungan. Terkait hal ini, warga ini bisa kembali merujuk pada keputusan Muktamar ke-29, di Cipasung Tasikmalaya tahun 1994.

<>Dalam Muktamar itu diputuskan bahwa pencemaran lingkungan, baik udara, air maupun tanah, apabila menimbulkan dlarar (kerusakan), maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat).

Muktamar yang digelar di pesantren asuhan KH Ilyas Ruhiyat (Rais Aam PBNU, 1992-1999) ini merupakan bukti keteguhan NU yang berani lantang berjihad menjaga lingkungan hidup. Keputusan Muktamar ini bukan saja menetapkan hukum haram, tetapi juga mengategorikan sebagai kriminal, alias masuk juga dalam ranah hukum positif. Dengan begitu, merusak lingkungan bukan saja mendapatkan stempel "haram" dari agama, tetapi harus mendapatkan "hukuman" yang setimpal dari negara.

Pada 23 Juli 2007, PBNU juga kembali menegaskan melalui Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan Hidup (GNHLN) yang memutuskan bahwa pemerintah dan rakyat wajib bersikap dan bertindak secara nyata dalam melenyapkan usaha-usaha perusakan hutan, lingkungan hidup dan kawasan pemukiman, memberangus penyakit sosial kemasyarakatan, demi keutuhan NKRI. Secara khusus, PBNU mengajar warga NU dan rakyat Indonesia jihad melestarikan lingkungan (jihad bi'ah) dengan tetap berpedoman pada kaidah tasawuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan amar ma'ruf nahi munkar. Semua ini sebagai bentuk cinta tanah air dan menjaga jati diri bangsa tercinta.

Teladan nyata sebenarnya sudah dipraktikkan oleh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, dalam menjaga lingkungan hidup. Dalam sejarahnya hidupnya, Kiai Hasyim sangat gemar bercocok tanam serta menganjurkan warga NU dan masyarakat untuk bercocok tanam. Bagi Kiai Hasyim, cocok tanam adalah pekerjaan yang sangat mulia. Walaupun tidak secara verbal bicara lingkungan hidup, tetapi gerakan nyata Kiai Hasyim sangat jelas sebagai wujud komitmennya dalam menjaga lingkungan hidup sekaligus sebagai lahan penghidupan warga. Dengan bercocok tanam, Kiai Hasyim dan para santrinya bisa mandiri, bisa membantu sesama, sekaligus menjaga kelestarian alam.   

Keteladanan yang sama dijalankan KH. Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU 1999-2014. Dikenal sebagai kiai yang teguh menjaga prinsip dan progresif memberdayakan masyarakat, Kiai Sahal sangat peduli dengan lingkungan. Bagi Kiai Sahal (1988), keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup – bahkan seluruh aspek kehidupan manusia- merupakan kunci kesejahteraan. Kenyataan di mana-mana menunjukkan lingkungan hidup mulai tergeser dari keseimbangannya. Ini akibat dari kecenderungan untuk cepat mencapai kepuasan lahiriah, tanpa mempertimbangkan disiplin sosial, dan tanpa memperhitungkan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan yang akan menyulitkan generasi berikutnya.

Bagi Kiai Sahal, pesantren harus hadir secara nyata bagi kelestarian lingkungan hidup. Karena hidup bersama dengan denyut nadi masyarakat, pesantren tak boleh abai dengan kondisi lingkungannya. Pesantren harus bertanggungjawab dengan meningkatkan pribadinya untuk memusatkan dirinya pada pewarisan bumi (alam) dalam rangka ibadah yang sempurna.

Hidup Sederhana
Perjuangan pertama-tama yang harus dilakukan dalam jihad melestarikan lingkungan, bagi Gus Mus, adalah hidup sederhana. Hidup berlebih-lebihan adalah pangkal utama kerusakan, termasuk dalam lingkungan hidup. Ini ditujukan buat semuanya, ya warga NU, para pejabat, termasuk ibu-ibu Rembang yang berjuang menjaga pegunungan Kendeng Rembang sampai demonstrasi di depan Rektoran UGM, 20 Maret 2015, karena ada peneliti UGM yang bersaksi dalam sidang Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, bahwa kawasan kars di Kendeng layak ditambang.

Jihad melestarikan lingkungan, yang pertama-tama dijalankan dengan hidup sederhana, harus terus disuarakan kaum muda NU, khususnya para pemimpin muda NU baik di GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, PMII, dan KMNU. (Muhammadun, aktif di LTN PWNU DIY)

Bagikan:
Kamis 10 Desember 2015 9:13 WIB
KONGRES IPNU DARI MASA KE MASA (6)
Hadapi Masa Genting Peralihan Orde
Hadapi Masa Genting Peralihan Orde

Hanya terpaut beberapa hari, usai berakhirnya Kongres IPNU ke-V di Purwokerto tahun 1963, rakyat Indonesia tengah bergelora dengan seruan “Ganyang Malaysia” yang diserukan Presiden Soekarno dalam sebuah pidatonya:<>

“... Yoo! Ayoo! Kita Ganjang! Ganjang Malaysia! Ganjang Malaysia!

Bulatkan tekad. Semangat kita badja. Peluru kita banjak. Njawa kita banjak. Bila perlu satu-satu!”

Seruan “Ganyang Malaysia” yang ditengarai dari konfrontasi yang terjadi antara Indonesia-Malaysia pada waktu itu, membuat bangkit semangat rakyat Indonesia untuk melawan “neo-kolonialisme” dan “neo-imperialisme”.

Seperti yang dipaparkan Abdul Mun’im D. Z. (2005), ketika itu NU mengeluarkan statemen tegas, bahwa Kedaulatan Indonesia harus ditegakkan, dengan mengedepankan diplomasi, tetapi kalau hal itu tidak bias, artinya Malaysia masih membandel, maka tidak ada cara lain kecuali perang.

Banyak kader NU yang kemudian ikut dilatih dalam Komando Ganyang Malaysia (Kogam). Para kader IPNU yang dipimpin Asnawi Latif pun tak tinggal diam, dengan membentuk “Sukarelawan Pelajar” yang kemudian menjadi embrio terbentuknya Corps Brigade Pembangunan (CBP) bersamaan dengan lahirnya “Doktrin Pekalongan”, yang ditetapkan pada Konferensi Besar IPNU di Pekalongan pada tanggal 25 – 31 Oktober 1964.

Pada akhir bulan Juli hingga Agustus 1965, diadakan tindak lanjut dengan dilangsungkan pemusatan latihan (Training Center, TC) untuk komandan-komandan cabang dan daerah CBP di Cebongan, Yogyakarta. TC ini diikuti oleh sukarelawan/wati dari IPNU-IPPNU. Selama sepuluh hari kader-kader CBP ditempa jasmani dan rohaninya agar menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Materi indoktrinasi diberikan secara langsung oleh beberapa menteri yaitu Jenderal Chaerul Saleh, Dr. K.H. Idham Khalid, Ipik Gandamana, H.A. Syaichu

Namun, pertempuran yang nyata dialami para kader IPNU, akhirnya justru tidak terjadi dengan Malaysia, akan tetapi ketika meletus peristiwa “Gerakan 30 September 1965”. Kader IPNU, baik di pusat maupun daerah banyak yang terlibat dalam KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia).

Kongres VI (Surabaya, 1966)

Masa pra-Kongres ke-VI IPNU di Surabaya, dipenuhi dengan kondisi yang penuh gejolak, baik soal politik, sosial, maupun ekonomi. Kondisi tersebut juga memaksa IPNU untuk terlibat di dalamnya.

Lokasi kongres yang semula hendak bertempat di Bali, karena berbagai alasan, dipindah ke Surabaya. Pada momentum kongres ini, untuk pertama kalinya pula, Kongres IPNU diadakan bersama dengan Kongres IPPNU.

Kongres yang dibarengi dengan porseni tingkat nasional dihelat pada 20-24 Agustus 1966. Acara tersebut berlangsung dengan sukses dan mendapat perhatian yang cukup besar baik dari pejabat-pejabat pemda Jatim maupun masyarakat umum. Dari PBNU sendiri hadir Ketua Umum PBNU Dr. K.H. Idham Khalid  dan Rais 'Aam K.H. Abdul Wahab Hasbullah.

Kongres Surabaya ini memunculkan beberapa keputusan, diantaranya yang terpenting adalah pernyataan bahwa IPNU-IPPNU 'berdiri sendiri sebagai badan otonom partai'. Sehingga kalau semula secara administratif bernaung di bawah LP Ma'arif, sejak kongres Surabaya IPNU-IPPNU langsung berada di bawah pembinaan PBNU.

Dengan menjadi badan otonom, ketua umum PP IPPNU berhak duduk sebagai anggota pleno PBNU bersama badan-badan otonom lainnya. Sebagai konsekuensi dari perubahan status tersebut adalah IPPNU harus bisa lebih mandiri dalam setiap kegiatannya, namun di saat yang sama dapat berpartisipasi langsung dalam setiap pengambilan keputusan yang dilakukan melalui sidang pleno PBNU.

Kongres juga memutuskan untuk memindahkan Pimpinan Pusat dari Yogyakarta ke ibukota negara yaitu Jakarta. Dalam kongres itu Asnawi Latif terpilih kembali sebagai Ketua Umum PP IPNU sedangkan Machsanah dan Umi Hasanah masing-masing terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekjen PP IPPNU.

Kepengurusan baru ini segera dihadang tugas berat untuk memenuhi amanat kongres dalam situasi ekonomi dan politik nasional, di mana rezim orde lama Soekarno mulai runtuh secara perlahan, digantikan rezim Soeharto yang kelak disebut orde baru.

Dalam situasi yang serba tidak menentu, yang sangat tidak kondusif untuk melakukan aktivitas pembinaan kepemudaan dan kepelajaran, aktivitas PP IPNU-IPPNU akhirnya banyak tercurah pada isu seputar pembubaran PKI dan segenap kekuatan komunisnya.

(Ajie Najmuddin; dari berbagai sumber)

Selasa 8 Desember 2015 15:8 WIB
Rahasia Kiai Wahab Menjadi Aktivis
Rahasia Kiai Wahab Menjadi Aktivis

Tahun 2015 ini menjadi tahun suksesi kepemimpinan dalam tubuh NU, mulai PBNU, Fatayat, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU. Tentu saja ini membahagiakan, karena stok kader NU masih melimpah. Pucuk pimpinan di semua lini bisa terisi dengan baik, walaupun dalam prosesnya tidak sedikit timbul perbedaan pendapat. Sudah wajar, apalagi dalam NU.<>

Mereka yang duduk dalam kursi kepemimpinan NU sejatinya adalah kader-kader terbaik yang sudah mendapatkan “takdir” untuk berjuang di NU. Semuanya adalah para aktivis yang akan menentukan arah masa depan NU dan bangsa. Untuk itu, jiwa aktivisme mereka tak boleh luntur, harus selalu menyala untuk membangun dan meneguhkan peradaban Indonesia dan dunia.

Dari sini, para aktivis NU harus kembali mengingat dan mengembalikan “khittah” aktivisnya kepada KH Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Wahab inilah aktivis tulen yang meletakkan dasar-dasar berorganisasi di NU. Sejak usia 13 tahun, ketika Wahab mulai “merantau” dari satu pesantren ke pesantren lain, jiwa aktivis sebenarnya sudah merasuk kuat dalam dirinya. Ketika memantapkan diri keluar dari kampung halaman, Wahab memulai petualang aktivis santri yang selalu bergerak tanpa henti. Di setiap pesantren, Wahab menemukan teman baru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Jiwa aktivis selalu merasa “gelisah” dengan berbagai fenomena baru, termasuk teman baru apalagi yang berasal dari daerah lain. 

Petualangan menjadi aktivis sebenarnya mulai terasa ketika Wahab nyantri di Pesantrennya KH Kholil Kademangan Bangkalan. Pesantren Kademangan saat itu menjadi pusat pergerakan santri tingkat nasional. Hampir semua santri, bahkan kiai, merasa ingin belajar di Bangkalan. Keilmuan dan karomah KH Kholil yang terdengar luas sampai internasional menjadi magnet tersendiri, sehingga semua orang berlomba mendapatkan berkah ilmunya KH Kholil. Disinilah, Wahab hadir menjadi santri yang berinteraksi dengan banyak kalangan. Terbukti, ia bertemu dengan KH Bisyri Syansuri, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Abdul Karim, yang kelak menjadi pejuang bersama dengannya.     

Jalan hidup menjadi aktivis pergerakan semakin kuat dalam dirinya ketika bertemu dengan KH Kholil Bangkalan. Saat itu, KH Kholil tiba-tiba memanggil para santrinya. “Anak-anakku, sejak hari ini kalian harus memperketat penjagaan pondok pesantren. Pintu gerbang harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok kita ini.” Kata Syeikh Kholil agak serius. Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera para santri mempersiapkan diri. Waktu itu sebelah timur Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup lebat dan angker. Hari demi hari, penjagaan semakin diperketat, tetapi macan yang ditungu-tunggu itu belum tampak juga. Memasuki minggu ketiga, datanglah ke pesantren pemuda kurus, tidak berapa tinggi berkulit kuning langsat sambil menenteng kopor seng.

Sesampainya di depan pintu rumah KH Kholil, lalu mengucap salam. Mendengar salam itu, bukan jawaban salam yang diterima, tetapi Kiai malah berteriak memanggil santrinya: 

“Hai para santri, ada macan….macan.., ayo kita kepung. Jangan sampai masuk ke pondok.” Seru KH Kholil bak seorang komandan di medan perang. Mendengar teriakan KH Kholil tersebut, kontan saja semua santri berhamburan, datang sambil membawa apa yang ada, pedang, clurit, tongkat, pacul untuk mengepung pemuda yang baru datang tadi yang mulai nampak kelihatan pucat. Tidak ada pilihan lagi kecuali lari seribu langkah. Namun karena tekad ingin nyantri ke KH Kholil begitu menggelora, maka keesokan harinya mencoba untuk datang lagi. Begitu memasuki pintu gerbang pesantren, langsung disongsong dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga keesokan harinya.

Baru pada malam ketiga, pemuda yang pantang mundur ini memasuki pesantren secara diam-diam pada malam hari. Karena lelahnya pemuda itu, yang disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya tertidur di bawah kentongan surau. Secara tidak diduga, tengah malam KH Kholil datang dan membantu membangunkannya. Karuan saja dimarahi habis-habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah KH Kholil. Setelah berbasa-basi dengan seribu alasan. Baru pemuda itu merasa lega setelah resmi diterima sebagai santri KH Kholil. Pemuda bernama Abdul Wahab sangat bahagia, karena sang guru sudah menerimanya. 

KH Kholil memang dikenal kiai dengan segudang karomah, sehingga diburu para santri. Memberi julukan “macan” terhadap santri bernama Abdul Wahab mengindikasikan bahwa sang santri kelak akan menjadi “macan”. Ini tentu saja menjadi sesuatu yang membekas dalam diri Wahab. Menjadi “macan” dalam dunia aktivisme seorang Wahab seolah restu dari sang guru yang sangat dihormatinya. Wahab semakin teguh pendiriannya untuk menjadi santri aktivis yang berjuang membela bangsa dan negara. 

Jiwa aktivisme semakin kuat tatkala Wahab belajar di Tebuireng dibawah asuhan KH Hasyim Asy’ari, seorang murid KH Kholil Bangkalan yang memperoleh reputasi tinggi karena pemikirannya yang teliti, kesalehan, dan kedalaman pengetahuannya mengenai hukum Islam dan hadits. Jiwa aktivis Wahab terasah ketika menjadi lurah pondok, sebuah kepercayaan sangat bergengsi dari KH Hasyim Asy’ari. Posisi lurah menjadikan Wahab harus menjalankan roda kepengurusan pesantren dengan segala kegiatan yang melingkupinya. Ia kemudian terlibat banyak dalam diskusi/musyawarah dengan para santri senior. Ketika diskusi inilah, ketika para santri menyiapkan argumen berdasarkan teks dalam kitab-kitab kuning, Wahab lebih mendukung solusi yang praktis dan kontekstual dalam menerapkan hukum Islam. 

Wahab muda, dengan jiwa aktivismenya, menunjukkan kepribadiannya yang teguh memegang prinsip, tetapi pada saat yang sama juga realistis dalam memandang dan menganalisis persoalan. Ia seringkali mendapatkan kritik dari teman-temannya, khususnya KH Bisri Syansuri, termasuk juga gurunya, KH Hasyim Asy’ari. Meski sering dibantah teman dan gurunya, Wahab tetap teguh dengan pandangan-pandangannya.

Kiai Wahab, dalam jejak hidupnya, akhirnya menjadi lurah di NU (Rais Aam). Pondasi sebagai lurah ia dapatkan dari Pesantren Demangan dan Pesantren Tebuireng. Inilah pondasi yang kuat. Menjadi aktivis berkat doa dan restu para kiai, bukan berdasarkan ambisi dan kursi, apalagi kepentingan sesaat. 

Sekarang para lurah sudah berdiri di lingkungan NU, mulai PBNU, GP Ansor, Fatayat, IPNU dan IPPNU. Kalau meneladani semangat menjadi lurah yang sejati, Kiai Wahab adalah inspirasi yang sangat tepat. Mau dibawa kemana ke depan, tentu saja kisah Kiai Wahab menjadi salah satu rujukan yang sangat menarik. 

Muhammadun, aktif di LTN PWNU DIY.

Foto: KH Abdul Wahab Chasbullah (kanan) bersama KH Bisri Syansuri dalam sebuah kesempatan bersama warga.

Selasa 8 Desember 2015 8:6 WIB
KONGRES IPNU DARI MASA KE MASA (5)
Kilas Kongres V: Ikrar Tak Hapus NU untuk Selamanya
Kilas Kongres V: Ikrar Tak Hapus NU untuk Selamanya

Tujuh tahun berlalu sudah, sejak berdirinya IPNU pada tahun 1954, banyak kader IPNU yang dulu masih dalam masa kuliah, kini telah menjadi seorang akademisi, sarjana maupun insinyur yang telah terjun langsung ke masyarakat. Seperti yang diungkapkan Tolchah Mansoer:<>

Setelah tudjuh tahun lebih berorganisasi, kelihatan djelas hasil jang nampak, walaupun tidak seluruhnja... Kita bersjukur, selama tudjuh tahun ini sekalipun belum banjak, kita telah mempunyai akademikus, beberapa orang insinjur, doktorandi, jang mereka ini telah terdjun ke dalam masjarakat. Telah pula menghasilkan kyahi2 muda langsung memimpin pesantren2 dan kita lihat di antara mereka jang mendjadi anggauta-anggauta DPR, BPH, DPR Pusat, MPR dan lain-lain lagi.

Meski demikian, tantangan yang menghadang juga semakin lebih berat. Baik persoalan kaderisasi, mengelola cabang yang semakin banyak jumlahnya, maupun yang berkaitan dengan positioning  IPNU dalam menghadapi konstelasi sosial-politik yang terjadi di Indonesia.

Kongres V (Purwokerto, 1963)

Untuk pertama kalinya sejak keputusan yang dikeluarkan pada Muktamar (Kongres) IPNU IV di Yogyakarta, terjadi penggantian nomenklatur (istilah) “muktamar” menjadi “kongres”. Oleh karena itu, pada Juli 1963 di Purwokerto, gelaran yang kelima IPNU mulai menggunakan kata kongres, untuk menyebut forum musyawarah tertinggi pelajar NU tersebut.

Pada gelaran kongres ini pula, untuk yang terakhir kalinya, kongres IPNU dilaksanakan secara terpisah dengan IPPNU. Sebab, mulai Kongres VI pada tahun 1966 dan seterusnya, Kongres IPNU dan IPPNU digelar dalam waktu dan di tempat yang sama.

Salah satu hal penting yang dihasilkan dalam Kongres V ini antara lain peneguhan kata atau identitas dalam IPNU. Hal ini dilakukan karena muncul gagasan dari salah satu peserta untuk menghilangkan kata NU dalam akronim IPNU. Namun, akhirnya peserta kongres mengeluarkan ikrar: tidak mengubah nama organisasi ‘Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’  maupun menghilangkan kata “Nahdlatul Ulama“ untuk selama lamanya.”

Dari hasil kongres kelima ini, Asnawi Latif terpilih menjadi Ketua Umum PP IPNU periode 1963-1966. Kelak, ia menjadi orang yang terlama mengemban amanah Ketua Umum PP IPNU, hingga terpilih ketua baru Tosari Wijaya pada tahun 1976. (Ajie Najmuddin)

 

Sumber:

- Caswiyono Rusydie dkk, KH. Moh. Tolchah Mansoer Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Yogyakarta, Pustaka Pesantren), 2009.

- Materi Kongres XVIII IPNU

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG