IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Santri Yogyakarta Tegaskan Syiar Islam Lewat Karya Seni

Rabu 16 Desember 2015 16:1 WIB
Bagikan:
Santri Yogyakarta Tegaskan Syiar Islam Lewat Karya Seni

Yogyakarta, NU Online
Seni tak bisa lepas dari kehidupan manusia sehari-hari. Terlebih karya seni memang menjadi hal yang mudah dinikmati dan banyak disenangi oleh semua orang. Hal itulah yang kemudian membuat Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah Yogyakarta bekerjasama dengan Pusat Studi dan Produksi Kaligrafi  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan pameran karya seni bertajuk "Ekspresi SyiART Santri untuk Negeri".<>

Pameran yang dilaksanakan di Ruang Pameran Pusat Studi dan Produksi Kaligrafi Gedung Kopma lantai 3 UIN Sunan Kalijaga pada Selasa-Jumat (15-18/12) ini selain diikuti santri dari Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah juga diikuti oleh banyak santri di Yogyakarta seperti Pondok Pesantren Al Munawwir, Pondok Pesantren Nurul Ummah, Pondok Pesantren Ponpes Sunan Pandanaran, Pondok Pesantren Ora Aji, dan masih banyak pondok pesantren lainnya di Yogyakarta. Karya yang dipamerkan pun beraneka macam, mulai dari lukisan, kaligrafi, fotografi, seni kerajinan tangan dari bahan daur ulang hingga seni sastra dalam bentuk puisi.

Muhammad Arif Siswanto, Lurah Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah mengungkapkan bahwa sesuai dengan tema yang diangkat, pameran yang diselenggarakan ini ingin menampilkan berbagai karya para santri. SyiART yang merupakan gabungan kata syiar dan art mempunyai makna bahwa dalam melakukan syiar agama, seni menjadi salah satu media yang dapat digunakan. Terlebih seni memang sangat mudah membaur dengan berbagai lapisan masyarakat.

"Kadang para santri tak sadar jika kemampuan seni yang mereka miliki bisa menjadi modal besar dalam berdakwah. Makanya pameran yang dilakukan ini benar-benar menampung berbagai macam karya seni yang dibuat santri. Dengan begitu harapannya para santri bisa memanfaatkan kemampuannya untuk menjadi salah satu sarana dakwah," katanya, Selasa (15/12).

Selain mengundang para santri dari berbagai pesantren di Yogyakarta untuk ikut menampilkan karyanya, pameran ini juga bekerjasama dengan Forum Santri Pecinta Lingkungan (FSPL) DI Yogyakarta yang mewadahi santri yang memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang yang mempunyai nilai.

Pameran Karya Seni Santri ini merupakan salah satu acara dari rangkaian agenda Bulan Ekspresi Ekstra yang diselengarakan setiap tahunnya oleh Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah. Tujuannya agar bisa menjadi wadah bagi para santri untuk menampilkan kemampuan yang telah didapatkan selama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di pesantren. Pameran ini diselenggarakan oleh gabungan ekstrakurikuler kaligrafi Qolamuna, buletin Iqro', An-Najwa, dan LQ Handy Craft. (Nur Romdlon/Fathoni)

Bagikan:
Rabu 16 Desember 2015 23:1 WIB
Jeda Semester, Siswa MI Ma’arif Ziarahi Makam dan Tempat Bersejarah
Jeda Semester, Siswa MI Ma’arif Ziarahi Makam dan Tempat Bersejarah

Jakarta, NU Online
Usai ulangan akhir semester gasal siswa Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU Pojok Mojogedang Kabupaten Karanganyar memanfaatkan waktu luang untuk berziarah ke makam dan tempat bersejarah di Karanganyar. Kegiatan ini untuk pertama kalinya diikuti para siswa.
<>
Menurut salah satu guru MI setempat Ahmad Rosyidi, ziarah ini dilaksanakan selama tiga hari Senin-Rabu (14-16/12), Senin khusus untuk kelas empat dan lima, Selasa kelas tiga, dan Rabu kelas dua.

Tempat yang dituju ialah makam Eyang Abdullah Fatah yang konon merupakan murid Sunan Kalijogo dan masjid tiban Darul Muttaqin yang menjadi masjid tertua di Karanganyar dan berlokasi di Kaliboto, Mojogedang.

“Meskipun lokasinya tidak jauh dari MI Ma’arif, para siswa mengaku baru pertama kali ziarah ke makam itu,” ungkapnya.

Selain berziarah para siswa juga mendapat kesempatan untuk masuk masjid untuk menunaikan shalat dhuha dan dilanjutkan dengan mendengarkan sejarah makam dan masjid tersebut dari Kiai Subhan.

Renacananya kegiatan semacam ini akan digelar kembali setiap usai semesteran, “mengingat banyaknya siswa yang tidak mengetahui sejarah dan makam-makam penyebar agama Islam di daerah Karanganyar khususnya, kegiatan ini akan dilanjutkan pada semester depan”, tandasnya.  (Red Alhafiz K)

Rabu 16 Desember 2015 22:4 WIB
Kiai dan Santri Banten Deklarasikan Relawan Anti Maksiat
Kiai dan Santri Banten Deklarasikan Relawan Anti Maksiat

Serang, NU Online
Ratusan santri dan kiai di Banten melakukan istigotsah dan deklarasi sebagai Relawan Pencegah Maksiat (RPM) tingkat provinsi dan kabupaten/kota se-Provinsi Banten, di Serang, Rabu.
<>
Selain deklarasi dan istighotsah, juga dilakukan pelantikan pengurus RPM Provinsi Banten dan kabupaten/kota, yang dipimpin langsung oleh tokoh ulama Banten Pimpinan Pondok Pesantren Cidahu KH Muhtadi Dimiyati.

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Polda Banten, Danrem 064 Maulana Yusuf. Serang serta dari Pemerintah Provinsi Banten yang diwakili Asda II Pemprov Banten Iing Suwargi.

Pengurus RPM Provinsi Banten yang juga panitia pelaksana Deklarasi RPM, KH Yusuf Prianadi mengatakan, dalam melakukan operasional pencegahan maksiat di Provinsi Banten, RPM menjalin kerjasama dengan aparatur pemerintah, yakni Satpol PP, Kepolisian dan TNI dalam pencegahan maksiat menuju Banten bermoral dan bermartabat.

"Dalam melakukan aksi pencegahan maksiat, RPM tidak melakukan tindakan kekerasan. Kami akan selalu berkordinasi dengan pihak keamanan dan pemerintah," kata Yusuf Prianadi.

Menurutnya, pembentukan organisasi RPM tersebut diawali dari keprihatinan dengan maraknya kemaksiatan, narkoba dan penyakit masyarakat lainnya.

"Kami merasa prihatin atas penyimpanan seksual dan krisis moral. Untuk itu kami sepakat membentuk RPM sebuah wadah yang bisa diterima masyarakat karena dalam melakukan pencegahan maksiat tidak melanggar etika dan aturan agama," katanya.

Yusuf juga mengatakan, dalam melaksanakan pencegahan kemaksiatan, visi RPM yakni menyelesaikan masalah moral dengan tidak menimbulkan masalah. Tujuan lainnya adalah membentuk wadah yang bisa membantu kerja atau tugas dan kewajiban aparat dalam menanggulangi dan menecgah kemaksiatan di Banten.

"Kami bukan sebagai eksekutor, hanya membantu pemerintah dan aparat dalam menjaga dekadensi dan degradasi moral, mengantisipasi pelanggaran dan penyimpanan moral yang semakin meningkat. Tujuan paling utama adalah mencegah rusaknya citra Banten agar tetap agamis dan religius," katany.

Ia juga mengatakan, didirikannya RPM juga tidak bertujuan politis atau menjadi bagian dari organisasi atau ingin bersaing dengan ormas lainnya.

Sementara itu Kapolda Banten Brigjen Pol Boy Rafli Amar yang dibacakan Pejabat Binmas Polda Banten Kombes Pol Umar Dana mengatakan, seiring kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah menimbulkan dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Dampak positip perlu dipertahankan untuk kemajuan masyarakat, namun dampak negatif yang bisa menimbulkan gangguan kamanan butuh pencegahan dari semua elemen masyarakat.

Ia mengatakan dengan adanya RPM ini merupakan bukti adanya kepedulian masyarakat untuk membantu pemerintah khusunya Polri untuk menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. (Antara/Mukafi Niam)

Rabu 16 Desember 2015 21:2 WIB
Festival Sastra Islam di Makassar Disambut Meriah
Festival Sastra Islam di Makassar Disambut Meriah

Makassar, NU Online
Pentas seni mengawali pembukaan Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) 2015. Kegiatan yang digelar oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Sulsel bekerja sama Universitas Islam Makassar ini berlangsung di Auditorium KH Muhyiddin Zain kampus UIM Makassar, Rabu (16/12) pagi.
<>
Penampilan musikalisasi puisi dari Sekolah Islam Athirah (SIA) mengawali penampilan seni. Mereka menyanyikan puisi yang ditulis oleh Direktur SIA Edi Sutarto. Ada pula penampilan dari Forum Komunikasi Cinta Alquran (FKCA) Sulsel binaan Dr Majdah M Zain.

Kegiatan pembukaan digelar dengan orasi budaya, taushiyah, peluncuran buku, dan bedah novel Ayat-Ayat Cinta 2 bersama Habiburrahman El Shirazy.

Ketua panitia Fitrawan Umar mengatakan, tantangan dunia Islam ada dua, pertama dari muslim sendiri yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kedua, lahirnya Islamopobhia (ketakutan terhadap Islam).

"Kehadiran kami adalah untuk menyampaikan dakwah dalam bentuk tulisan. Teduh mencerahkan menjadi tema festival. Berangkat dari itu, dalam berdakwah kami hendak mengajak bukan mengejek. Menyampaikan dengan cara santun dan tidak menghasut," tegasnya.

Ketua FLP Pusat Shinta Yudisia menyampaikan rasa syukur dan salut atas kinerja kader FLP se-Sulsel. Ia mengaku sangat bangga atas FSIN yang digelar selama empat hari, 16-19 Desember. "Ini acara spesial kita. Menurut Pramudya, menulis itu bekerja untuk keabadian," tandasnya.

Berdasar pantauannya, dia menilai apa yang digelar FLP Sulsel luar biasa persiapannya. Silakan membasahi hati dengan agenda-agenda sastra. "Salah satu balasan adalah kita bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi," sebut penulis yang telah melahirkan 50-an buku ini.

Rektor Universitas Islam Makassar yang juga ketua dewan penasihat panitia FSIN 2015 Dr Majdah M Zain menyampaikan bahwa setiap manusia punya potensi untuk menebarkan kebaikan di bumi.

"Jika kita ingin menghitung nikmat-Nya, kita tidak akan sanggup. Saya setuju ini proyek hati nurani. Di tengah-tengah tontonan yang tidak menarik, Festival Sastra Islam sangat membantu dalam pencerahan. Bangsa ini harus dicerahkan dari sisi hati nuraninya. Mencerahkan manusia harus diawali dari hati nuraninya," urainya.

Kita suguhkan karya sastra yang sifatnya humanis. Membangun manusia berhati bersih bisa dilakukan dengan karya sastra. "Saya tidak bisa menulis tetapi saya hanya bisa mendukung. Tulislah apa yang menjadi ide. Kita menggelar sastra Islami Mudah-mudahan inilah sumbangsih kita untuk bangsa dan agama," tutupnya.

Penampilan Arif Daeng Rate, salah seorang seniman sinrilik yang juga kader FLP UNM memukau para hadirin dan penulis yang memadati pembukaan Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) 2015. Kegiatan yang berlangsung di auditorium pagi ini dihadiri seribuan peserta yang merupakan mahasiswa dan warga umum se-Sulsel.

Melalui sinriliknya Arif menyampaikan tentang pentingnya seni dan sastra. Menurutnya, budaya tutur dalam hal ini karya sastra tutur telah ada di Sulsel sejak ribuan tahun lalu. "Karena itu, sastra menjadi sangat penting untuk pencerahan bangsa," kata alumni sastra Inggris UNM ini. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG