Abdul Karim Hasyim, Kiai Sastrawan yang Tak Dikenal

Abdul Karim Hasyim, Kiai Sastrawan yang Tak Dikenal

Kini, banyak banyak generasi muda yang tidak mengenal siapa guru leluhurnya. Mayoritas dari para remaja sekarang lebih mengenal akrab dengan nama idolanya mereka masing-masing tanpa tahu siapa orang berjasa dalam kehidupannya.<>

Peran tokoh pesantren dalam melestarikan sebuah ilmu pengetahuan sangat besar sekali. Akan tetapi kebanyakan dari masyarakat umum tidak mengenalnya. Buku ketiga dari “Serial Tokoh Tebuireng” ini adalah salah satu usaha penulis agar jasa besar para tokoh pesantren senantiasa dikenang bangsa dan negara.

Buku ini menceritakan tentang biografi sosok KH Abdul Karim Hasyim. Di kalangan pesantren, Kiai Karim terkenal sebagai ahli bahasa dan sastra Arab. Beliau juga produktif menulis dengan nama samaran Akarhanaf, singkatan dari Abdul Karim-Hasyim Nafiqoh. Hasyim adalah nama ayahnya, sedangkan Nafiqoh adalah nama sang ibu. Selain menjadi seorang sastrawan, beliau juga seorang politikus. Dalam dunia perpolitikan beliau mempunyai peran sangat penting. Salah satu yang kontroversial adalah masuknya beliau ke partai Golkar pada tahun 70-an. Karena kebanyakan dari kalangan pesantren pada saat itu berpartai Islam. Konon, beliau masuk Golkar karena diajak oleh salah satu pejabat di Jombang, dengan pertimbangan bahwa perjuangan Islam tidak selamanya hanya di pesantren. Dakwah juga tidak selamanya di partai Islam (hal 4). Menurut beliau itu merupakan sebuah konsep saling menghargai antar ulama dan umara.

Selain kontroversial dalam berpolitik, di buku ini juga diceritakan tentang perjalanan Kiai Karim ketika menuntut ilmu. Cara beliau belajar sangat misterius, terutama ketika Mbah Hasyim (ayah beliau) memondokkannya ke Kajen Pati asuhan Kiai Nawawi. Baru seminggu tinggal di sana, beliau sudah pamit pulang. Ketika ditanya sama Kiai Nawawi tentang siapa yang mengajar, beliau menggambarkannya dengan sosok orang tua. Mendengar jawaban dari Kiai Karim, Kiai Nawawi hanya diam menyembunyikan rasa kagetnya. Ternyata beliau diajar ngaji oleh Mbah Mutamakkin yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Proses belajar inilah yang banyak dianggap sebagai karomah beliau. Bahkan KH Muchit Muzadi (salah satu murid Kiai Karim) menunjukkan keheranan beliau dengan kualitas keilmuan Kiai Karim pada saat itu.

“Saya kira salah satu karomah Pak Karim adalah satu, belajar beliau dimana? Kok pada zaman seperti itu beliau bisa menguasai bahasa, terutama bahasa Arab. Padahal setahu saya beliau hanya belajar di Tebuireng dengan para santri pada saat itu, di samping itu beliau juga ahli dalam bidang fiqih dsb, hanya beliau nampak di bidang sastranya” (hal 27). 

Beliau adalah sosok Kiai yang akrab dengan para santrinya, beliau jarang sekali marah. Dalam mengajar beliau selalu santun dalam berbahasa, karena beliau adalah ahli tata bahasa Arab dan beliau hafal syair-syair Arab. Tak jarang beliau membacakan syair atau puisi di sela-sela waktu mengajar.

Itu adalah sedikit ulasan mengenai buku ini. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan coretan atau memoriam yang ditulis oleh putra-putri beliau, seperti Karimah Karim, H Hasyim Karim, Cecep Karim Hasyim. Dan juga lampiran dan foto yang bisa  mengingatkan kita pada sosok KH Abdul Karim Hayim. Jadi, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja, pelajar, masyarakat umum, terutama kaum santri yang sedang mengenyam pendidikan di pesantren.

Data buku

Judul : Kiai Sastrawan yang Tak Dikenal
Pengarang : Muhammad Subkhi dan Ahmad Sholihin
Penerbit : Pustaka Tebuireng
Tahun : 2011
Cetakan : Pertama
Jumlah Halaman :122 halaman
Peresensi: Fatikhudin, mahasiswa Ma`had Aly Hasyim Asy`ari Tebuireng semester 3

BNI Mobile