Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
BELAJAR DARI GUS DUR (3)

Bagi Gus Dur Keluarga Bukan yang Pertama namun Utama

Bagi Gus Dur Keluarga Bukan yang Pertama namun Utama

Jakarta, NU Online
Jika sekarang banyak orang yang sangat mengagumi Gus Dur, tidak bisa dipungkiri. Tetapi ada juga sebagian pihak yang menilai negatif sosok Gus Dur. Pihak-pihak yang menilai negatif tersebut menyebabkan adanya berbagai perdebatan soal Gus Dur dengan berbagai kontroversinya.<>

Alissa Wahid menyadari hal itu, setidaknya sejak masa SMA. Hal itu membuat Putri bungsu Gus Dur ini terpancing untuk curhat kepada Gus Dur. “Pak, kalau saya ngobrol dengan teman-teman kok rasanya nggak nyambung. Teman-teman bilang Bapak kok begini begitu? Mereka suka menghakimi,” ujar Alissa saat mengisi Talk Show di Radio NU Jakarta.

Mendengar keluhan Alissa itu, Gus Dur menanggapi dengan bijaksana. “Nggak apa-apa, mereka kan nggak kenal kamu, nggak kenal kita. Nggak perlu pusing mikirin pendapat orang lain. yang penting kita berjalan dengan prinsip kita. Bapak juga dituduh antek ini antek itu, biarin aja, karena orang nggak tahu. Kalau udah tahu kan tentu nggak akan seperti itu,” jelas Gus Dur. 

Mendengar komentar Gus Dur, Alissa merasa mendapat kekuatan. Dia tahu karena Gus Dur juga santai terhadap pandangan-pandangan negatif orang lain, ia merasa tidak perlu pusing. “Setelah dewasa, kami lebih leluasa lagi untuk bertanya. Kami mempertanyakan dan mendiskusikan banyak hal,” kata Alissa. 

Menurut Alissa soal waktu untuk keluarganya, Gus Dur meluangkan waktu secukupnya. “Waktu saya kelas dua SMP, saya diajak ngobrol oleh Gus Dur. Lis, jangan mengharapkan Bapak bisa menjadi orang tua yang sama seperti orang tua teman-temamu. Bagi bapak prioritas yang pertama adalah Islam, lalu NU, kemudian Indonesia, dan keluarga. Jadi keluarga bukanlah prioritas pertama,” ungkap Gus Dur.

Alissa kemudian bertanya, ”Kok Bapak gitu sih sama keluarga sendiri?” 

Tetapi semakin dewasa, Alissa semakin sadar bahwa itu pilihan yang disengaja dan Gus Dur siap dengan konsekuensinya. Konsekuensi itu adalah jika ada waktu dengan keluarga, atau kalau keluarga membutuhkan, Gus Dur akan meluangkan waktu. Walaupun sehari-harinya waktu Gus Dur lebih banyak untuk umat. Dengan demikian bagi Gus Dur, keluarga memang bukan yang pertama, tetapi yang utama.

Sebagai remaja putri, Alissa tidak pernah curhat kepada Gus Dur. Sebenarnya Gus Dur-lah yang meluangkan waktu. Kalau curhat ya curhat saja, karena Gus Dur sangat membuka diri. Biasanya Alissa curhat dengan teman-temannya. 

“Tetapi karena sudah ditanamkan sejak awal, saya sangat membatasi karena beban Gus Dur sudah besar,” kata Alissa. “Di Ciganjur kalau punya waktu, kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk becanda. Di keluarga kami becanda, menguaraikan kepenatan pikiran, santai-santai.”

Hal yang menarik, walaupun tidak pernah curhat, Gus Dur selalu tahu.  Karena Alissa selalu curhat kepada ibunya, lalu Bu Sinta cerita kepada Gus Dur. “Apa yang terjadi sama saya walau saya nggak cerita langsung, beliau tahu. Walau nggak banyak waktu beliau selalu memperhatikan kami.”

Perhatian Gus Dur itu tidak seperti perhatian ayah-ayah yang lain, yang lebih berorientasi kepada kuantitas atau lamanya waktu bersama, tetapi minim kualitas. “Kapan kami butuh kami bisa mencari beliau. Tapi kami nggak berbanyak-banyak waktu. Di luar sana banyak bapak yang punya banyak waktu tetapi sibuk sendiri-sendiri. Bapaknya di rumah tapi sibuk nonton bola. Kami nggak berbanyak-banyak waktu dengan beliau, dan itu merupakan konsekuensi,” cerita Alissa dengan mata sedikit berkaca-kaca. (Kendi Setiawan/Fathoni)

BNI Mobile