IMG-LOGO
Nasional

Yayasan Jadi Kedok Penggalangan Dana untuk Teroris

Selasa 29 Desember 2015 19:1 WIB
Bagikan:
Yayasan Jadi Kedok Penggalangan Dana untuk Teroris

Jakarta, NU Online
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengidentifikasi bahwa modus pendanaan terorisme yang berisiko tinggi digalang melalui sumbangan ke yayasan, dan sebagian dengan penyalahgunaan yayasan.
<>
"Kebanyakan mereka menggunakan wadah yayasan, sedangkan ada 130.000 yayasan di Indonesia," kata Ketua PPATK Muhammad Yusuf, Jakarta, Senin.

Menurutnya, modus pendanaan melalui yayasan dilakukan dengan berbagai latar belakang seperti untuk kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial.

Untuk itu, ia menyarankan agar dana yang masuk ke yayasan juga perlu diaudit sehingga diketahui asal dan peruntukan dana itu.

"Setiap aliran dana masuk ke yayasan, harus diaudit supaya jelas dari mana asalnya dan digunakan untuk apa sehingga tidak disalahgunakan untuk praktik-praktik tertentu seperti terorisme," ujarnya.

Selain melalui yayasan, ia mengatakan modus pendanaan terorisme juga dilakukan melalui kegiatan usaha atau berdagang dan kegiatan kriminal.

Modus pendanaan terorisme melalui usaha dan berdagang, salah satu indikasinya ketika banyaknya dana yang masuk ke suatu perusahaan tidak sebanding dengan nilai dan jumlah transaksi yang dilakukan.

Ia mengharapkan aparat penegak hukum dapat memfokuskan pada tiga tindak pidana asal yang berisiko tinggi terjadinya pencucian uang yakni narkotika, korupsi, dan perpajakan.

Sementara, bagi pihak regulator, ia mengharapkan dapat memfokuskan perhatian terhadap kebijakan dan pengawasan pelaksanaan anti pencucian uang dan pendanaan terorisme pada industri pasar modal.

Selain itu, ia mengatakan pentingnya peranan seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung integrasi dan akses data untuk memberantas pencucian uang dan pendanaan terorisme. 

Muhammad Yusuf mengatakan terdapat sembilan wilayah yang berisiko tinggi terjadinya tindak pidana pendanaan terorisme yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darusalam, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.

"Untuk pemindahahan dana terorisme yang berisiko tingi yaitu melalui sistem pembayaran elektronik, sistem pembayaran online, sedangkan untuk transaksi yang beresiko tinggi yaitu tarik atau setor tunai," ujarnya.

Di sisi lain, ia mengatakan sejak 2010 hingga 2015, ada lebih dari 50 kepala daerah dengan transaksi keuangan mencurigakan.

Ia mengatakan hasil analisis terhadap lebih dari 50 kepala daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia itu telah diserahkan ke penegak hukum.

Namun, ia mengatakan penegak hukum masih terbentur dengan kecukupan alat bukti untuk menjerat lebih dari 50 kepala daerah itu.

"Semuanya belum ada feedback untuk ditindaklanjuti," ujarnya. (Antara/Mukafi Niam)

Bagikan:
Selasa 29 Desember 2015 19:59 WIB
MUI Ajak Umat Islam Rayakan Tahun Baru Secara Sederhana
MUI Ajak Umat Islam Rayakan Tahun Baru Secara Sederhana

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Maruf Amin mengajak umat Islam agar merayakan pergantian tahun baru menuju 2016 secara sederhana atau jauh dari unsur hura-hura berlebihan.
<>
"Mengajak masyarakat dan bangsa untuk meningkatkan rasa syukur menyongsong 2016 dengan semangat optimisme tinggi. MUI mengimbau pergantian tahun disikapi dengan kesederhanaan, tidak berlebihan, hedonisme, tamak, rakus dan perilaku menyimpang lainnya," kata Maruf di kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa.

Soal tahun 2016, Maruf mendorong pemerintah agar terus dapat mewujudkan kerukunan umat beragama. 

Sementara untuk kasus perselisihan agama seperti di Tolikara dan Singkil, Maruf meminta agar penegak hukum berlaku secara adil terhadap pelaku kerusuhan. Dengan kata lain, tidak ada perlakuan membedakan dalam menangani kasus serupa.

Penegak hukum, kata dia, harus secara konsisten terlibat dalam menjaga kerukunan umat beragama dan mencegah penistaan agama lewat simbol-simbol seperti kasus sandal bertuliskan Allah, terompet berbahan sampul Al-Qur’an dan celana jeans bergambar perempuan telanjang.

"Mereka harus tegas terhadap penyalahgunaan simbol-simbol agama. Jangan dibiarkan karena bisa ada motif tertentu, misalnya menebar keresahan di tengah masyarakat," kata dia.

Sementara dari unsur masyarakat, Ma’ruf meminta agar tidak mudah terpancing menuju anarkis oleh unsur-unsur provokatif yang berbau agama. Penindakan terhadap penistaan agama agar diserahkan kepada penegak hukum. Di sisi lain, dia meminta unsur berwajib agar bertindak tegas sehingga tidak ada gejolak di tengah masyarakat.

"Bagi umat Islam agar mengedepankan soal Islam wasathiyah (moderat) yang tidak mengedepankan kekerasan dalam bertindak menyikapi persoalan," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Selasa 29 Desember 2015 18:1 WIB
Polisi Ancam Tempat Hiburan yang Gelar Pesta Miras atau Narkoba
Polisi Ancam Tempat Hiburan yang Gelar Pesta Miras atau Narkoba

Jakarta, NU Online
Kapolres Metro Jakarta Utara Komisaris Besar Polisi Susetio Cahyadi mengancam akan memasang garis polisi terhadap tempat hiburan yang menggelar pesta minuman keras (miras) saat perayaan pergantian tahun baru.
<>
"Kita minta pengusaha hiburan untuk membantu pengamanan malam tahun baru agar tidak membuka peluang pesta minuman keras atau narkoba," kata Kombes Polisi Susetio Cahyadi di Jakarta Selasa.

Susetio mengumpulkan para pengusaha tempat hiburan malam yang beroperasi di wilayah Jakarta Utara guna memberikan pengarahan menjelang perayaan tahun baru.

Susetio menyebutkan pesta minuman keras maupun narkoba berpotensi menimbulkan bentrokan yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Susetio menyatakan Polres Metro Jakarta Utara mempersiapkan diri untuk mengamankan malam pergantian tahun yang akan dipusatkan di tempat wisata Ancol.

Terlebih, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Tito Karnavian akan menghadiri acara pergantian tahun baru di Ancol Jakarta Utara. (Antara/Mukafi Niam)

Selasa 29 Desember 2015 17:13 WIB
Kepolisian Jabar Telusuri Terompet dari Sampul Al-Qur’an
Kepolisian Jabar Telusuri Terompet dari Sampul Al-Qur’an

Bogor, NU Online
Kepolisian Daerah Jawa Barat melakukan pengecekan di lapangan dengan mengerahkan seluruh jajarannya untuk menelusuri peredaran terompet yang terbuat dari sampul Al-Qur’an. 
<>
"Kami sudah melakukan pengecekan, memerintah seluruh Polres untuk menelusuri peredaran terompet tersebut begitu informasi tersebut kami terima dari masyarakat maupun satuan lainnya," kata Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Sulistyo Pudjo, kepada wartawan melalui pesan singkat, Selasa. 

Ia mengatakan, dari hasil pengecekan yang dilakukan kemarin (Senin-red) tidak ditemukan peredaran terompet menggunakan sampul Al-Qur’an di wilayah Jawa Barat, termasuk Bogor.

"Kita sudah cek, tidak ada ditemukan terompet tersebut," katanya. 

Menurut Pudjo, terompet yang beredar tersebut bukan menggunakan sampul Al-Qur’an, melainkan kertas buku pelajaran Bahasa Arab, dan belajar membaca Iqro. 

"Terompet itu bukan kertas Al-Qur’an, itu buku pelajaran Bahasa Arab, Iqro belajar membaca. Hanya yang buat kurang kerjaan," katanya. 

Sementara itu, laporan tentang terompet Al-Qur’an pertama kali diketahui di Kota Kendal, Provinsi Jawa Tengah oleh KH Kresno Abrory (Tokoh NU) yang melaporkan sebuah minimarket menjual terompet yang terbuat dari sampul Al-Qur’an berwarna hijau bertuliskan Kementerian Agama RI tahun 2013 dan khaligrafi Arab bertuliskan lafal Al-Qur’anul Karim. 

Kronologis kejadian, pada Ahad (27/12) sekitar pukul 16.00 WIB, salah seorang warga menyampaikan permasalahan tentang terompet berbahan sampul Al-Qur’an kepada KH Kresno Abrory.

Warga yang melaporkan merasa resah dengan temuan tersebut dan berencana melaporkannya kepada Ormas NU, namun dicegah oleh KH Kresno Abrory yang menyarankan untuk melaporkan ke aparat kepolisian setempat, agar dapat dilakukan langkah pengamanan. 

Menerima laporan tersebut, anggota Polsek Kendal langsung melakukan pengecekan di lapangan. Petugas menemukan 14 buah dari 60 stok terompet yang telah diedarkan sejak 5 Desember. 

Petugas mengamankan terompet yang tersimpan di gudang minimarket tersebut. Pihak minimarket menjual terompet dalam rangka promosi akhir tahun seharga Rp3.500.

Anggota Polsek Kendal lalu mendatangi sejumlah minimarket lainnya, total ada 21 minimarket milik Alfamart yang ditemukan menjual terompet menggunakan kertas Al-Qur’an tersebut. Masing-masing minimarket telah dipasok antara 60 sampai 40 terompet oleh produsennya. Total ada 95 terompet yang berhasil disita, kebanyakan terompet yang lainnya sudah laku terjual. (Antara/Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG