IMG-LOGO
Pesantren

Santri Makassar Menangi BSM Santripreneur Award 2015

Kamis 31 Desember 2015 1:19 WIB
Bagikan:
Santri Makassar Menangi BSM Santripreneur Award 2015

Jakarta, NU Online
Seorang santri asal Makassar, Sulawesi Selatan terpilih sebagai juara pertama kategori pengusaha di bidang Industri Perdagangan dan Jasa dalam ajang anugerah penghargaan Bank Syariah Mandiri (BSM) tahun 2015.
<>
Ismail Bachtiar (23), santri alumnus Pondok Pesantren Ma'had Hadis, Biru, Bone Makassar, ini terpilih sebagai Juara I BSM Santripreneur Award 2015 kategori industri, perdagangan dan jasa.  Santri dari DR Muhammad Yunus, Watampone, Sulawesi Selatan, ini berhak mendapat hadiah dari BSM berupa uang Rp 50 juta dan piagam dari Menteri Koperasi dan UKM RI.

Ismail berhasil mendapat nilai terbanyak dari dewan juri yang terdiri dari DR H Marsudi Syuhud (PBNU), Prof Ahmad Mubarok (Konsorsium Pesantren), H Sweet Luvianto (Indonesia Islamic Business Forum; IIBF), Agus Dwi Handaya (BSM), Ahmad Sugeng Utomo (Rumah Entrepreneur Indonesia), dan Noor Wahyudi (Konsultan Bisnis).

Ia mendapat nilai teringgi dari tiga nominee terbaik dengan skor 282. Mengalahkan santri asal Bandung (Irvan Kamil; nilai 236) pengusaha software Velo Technology, dan santri asal Tegal (Muhammad Ilham, nilai 228) pengusaha pembuat minyak wangi.

Penjurian tersebut adalah tahap akhir yang dilaksanakan di Hotel Acacia Jakarta pada Rabu (0/12/201). Ismail dan dua nominee tersebut telah melewati tahapan tiga kali pejurian. Sebelum pejurian akhir tersebut, ia telah menyisihkan 442 pendaftar di kategori industri, pedagangan dan jasa. Ismail lolos tahap 20 besar, lalu dia diverifikasi lapangan untuk diteliti kebenaran faktanya di lokasi usahanya. Setelah valid, dijadikan nominee 3 besar untuk dipilih sebagai juara.

Ismail yang "hanya" tamatan S1, berhasil membuat sebuah lembaga pendidikan formal pertama di kawasan timur Indonesia yang berbasis syariah. Nama lembaga pendidikannya pun sangat unik, Rektor Institute (RI).

RI, dia sampaikan di depan dewan juri, bukan perguruan tinggi, melainkan sebuah Rumah Belajar untuk siapa saja yang ingin menambah ilmu. Para peserta didiknya ada yang tamatan SLTA dan sarjana. Ada kelas khusus Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, kelas Wirausaha, dan kelas lain yang dikehendaki para peserta belajar. Para pengajarnya pun berasal dari berbagai latar belakang sesuai keahlian yang dibutuhkan.  

"Saya membuka lembaga ini karena melihat belum ada lembaga pendidikan informal berciri Islam yang menonjol di luar Jawa," ujar Sarjana Kesehatan Masyarakat dari Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Dipilih nama Rektor Institut, kata mahasiswa S2 jurusan Manajemen ini, karena mencita-citakan para alumninya menjadi rektor di mana-mana. Setidaknya menjadi rektor dengan mendirikan lembaga pendidikan informal seperti Ismail sendiri.

Apa ciri khas syariah yang ada di RI?
Dijelaskannya, seluruh karyawan diwajibkan shalat jamaah di masjid jika masuk waktu shalat. Ada pula rutinitas shalat dhuha dan tahajud yang dikoordinir oleh siswa sendiri. Bahkan ada gerakan Puasa Senin-Kamis oleh para siswa.

Adapun karyawannya, tambah dia, sebanyak 12 pegawai tetap dan 30 free lancer, diikutkan dalam program undian Umroh. Setiap tahun ada satu atau dua karyawan yang berangkat umroh dengan biaya dari RI.

"Alhamdulillah, berkat doa orang tua saya, para guru dan para siswa dan orang tua mereka yang merasa mendapat manfaat dari RI, kami sekarang punya  cabang dan telah membeli tanah cukup luas untuk kantor sekaligus kampus pusat kami di Kota Makassar," tuturnya saat presentasi di depan dewan juri.

Dari segi permodalan, santri muda yang masih membujang ini menyebutkan, saat awal membuka usaha pada 2012, modalnya hanya Rp 500 ribu. Kini setelah tiga tahun berjalan, total asetnya telah mencapai Rp  350 juta.

Ditanya soal penambahan modal dari bank, Ismail mengatakan saat ini belum butuh tambahan modal dari bank. Dia memilih mengajak orang menjadi investor daripada mengambil kredit dari bank. Meski demikian ia mendukung setiap pengusaha untuk berani menjadi kreditur bank, karena hal itu akan mendorong disiplin keuangan dan menambah nilai kepercayaan masyarakat.

BSM Santripreneur Award 2015 hanya boleh diikuti santri yang telah memiliki usaha minimal berjalan satu tahun dan usia si santri maksimal 35 tahun. Untuk mendaftar harus melampirkan surat  rekomendasi dari kyai yangmenyatakan bahwa si pendaftar benar-benar santrinya. Lengkap dengan cap pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam pemberi rekomendasi.  (ichwan/abdullah alawi)



Bagikan:
Senin 28 Desember 2015 8:0 WIB
Pesantren Roudlotul Ulum Sidoarjo Gelar Shalawat dari Rumah ke Rumah
Pesantren Roudlotul Ulum Sidoarjo Gelar Shalawat dari Rumah ke Rumah

Sidoarjo, NU Online
Pondok Pesantren Roudlotul Ulum desa Pilang Timur, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menggelar acara pembacaan shalawat Al-Habsyi Simthud Durar, Ahad (27/12) malam.
<>
Acara yang digelar di Desa Banjarbendo RT 05 RW 03 Kecamatan Sidoarjo kota itu berjalan penuh khidmat. Hujan yang sempat mengguyur daerah setempat tak menyurutkan semangat Nahdliyin untuk berbondong-bondong hadir di acara tersebut.

"Jam'iyah shalawat ini tidak lain adalah untuk menanamkan kebaikan, berdakwah, dan belajar min riyadil jannah (dari taman surga alias majelis ilmu, red). Jam'iyah shalawat ini kali pertamanya diadakan di luar pesantren (dari rumah ke rumah)," kata pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Ulum Ustadz Moch Mukhlis Da'im.

Pesantren Roudlotul Ulum setiap hari mengadakan shalawat dan diikuti oleh para santri. Namun, shalawat Al-Habsyi Simthud Durar kali ini juga dihadiri para alumni Pesantren Roudlotul Ulum serta diadakan di luar pesantren alias dari rumah ke rumah.

Ustadz Mukhlis menjelaskan, dalam satu bulan, jumlah kegiatan yang diadakan Pesantren Roudlotul Ulum terhitung ada 17 macam, baik itu kegiatan yang diadakan di area pesantren maupun di luar pesantren.

"Kegiatan yang diadakan di dalam pesantren seperti istighotsah rutin setiap hari ba'dha Subuh, setiap minggunya kami menggelar jam'iyah shalawat, di luar pesantren seperti jam'iyah thariqah dan kegiatan islami lainnya," jelas Ustadz Mukhlis.

M To'ib (30) alumni santri Roudlotul Ulum mengapersiasi terselenggaranya jam'iyah shalawat Al-Habsyi Simthud Durar. Dirinya mengaku senang dan bangga bisa mengikuti kegiatan tersebut. "Semoga ke depannya yang hadir semakin banyak. Karena ini jam'iyah juga termasuk mensyiarkan shalawat agar masyarakat mengetahui akan pentingnya bershalawat," ucap Toib. (Moh Kholidun/Mahbib)

Kamis 24 Desember 2015 19:1 WIB
Pesantren Al-Mahfudz Ciptakan Regenerasi Kiai Ma’shum bin Ali
Pesantren Al-Mahfudz Ciptakan Regenerasi Kiai Ma’shum bin Ali

Jombang, NU Online
Kiai Ma’shum bin Ali sosok kiai ternama di kalangan pondok pesantren salaf, ia masyhur dengan salah satu karya fenomenalnya kitab amtsilah at-tashrifiyah atau yang biasa dikenal dengan ilmu shorrof. Setiap santri pemula tidak lepas dengan kajian ilmu shorof untuk mengetahui tata cara membaca kitab kuning yang baik dan benar.<>

Begitu juga sistem yang diterapkan di Pondok Pesantren Al-Mahfudz, Desa Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dalam membina para santrinya. Selain karena Kiai Ma’shum bin Ali adalah pendiri pesantren tersebut, juga faktor lain menciptakan regenerasi atau penerus Kiai Ma’shum.

Moh Syaiful Umam, salah seorang pengurus pondok pesantren tersebut mengatakan, mayoritas kegiatan pondok pesantren ini berorientasi pada cara memahami dan mendalami kajian kitab kuning, seperti halnya kurusus bahasa arab dan meng-i’lal setiap susunan kalimat dengan sempurna. “Setiap malamnya ada kursus bahasa arab, otomatis kajian nahwa dan shorofnya juga disinggung dan didalami, kemudian juga belajar ngi’lal dan ngi’rob, namun program ini berkala,” katanya kepada NU Online saat dihubungi, Rabu (23).

Selain itu, Umam, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa setiap santri dituntut untuk hafal kitab amtsilah at-tashrifiyah sebagai bahan penunjang memahami baca kitab kuning dengan cepat dan baik. “Santri juga harus hafal tashrifan dan bisa baca kitab kuning dengan akselerasi,” ungkapnya.

Namun sistem tersebut diterapkan setelah Kiai Ma’shum bin Ali wafat dalam rangka menciptakan sosok penerusnya. Sebab sejak Kiai Ma’shum masih mengasuh para santrinya, dia lebih mengutamakan pada ilmu falak. “Dulu saat almarhum masih ada, pondok pesantren sini lebih memprioritaskan pada ilmu falak, dan sekarang kulturasi pesantren ini lebih fokus pada hafal tashrifan sebagai salah satu penunjang memahami baca kitab kuning,” ujarnya.

Di luar kegiatan pesantren yang diprioritaskan ini, setiap santri juga dilatih menjadi bilal dan khotib shalat Jum’at dan hari raya, hal ini sebagai bekal santri saat terjun di sosial masyarakat. “Rutinitas setiap minggunya adalah belajar menjadi bilal dan khatib serta bermuhadharah ala da’i kondang,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Kamis 24 Desember 2015 11:3 WIB
Bila Tak Hati-hati, Medsos Bisa Timbulkan Mudarat
Bila Tak Hati-hati, Medsos Bisa Timbulkan Mudarat

Magelang, NU Online
Dampak positif atau negatif media sosial (Medsos) tergantung pada para penggunannya. Manfaat datang bia ia berguna sebagai sarana memperkuat jaringan dan memperluas wawasan. Namun, efek sebaliknya juga bisa hadir ketika mesos sekadar sebagai tempat senang-senang dan pengguna kurang waspada.
<>
Hal tersebut mencuat dalam sarasehan bertema “Santri, Teknologi, dan Seksualitas” di Pondok Pesantren Putri Al-Hidayat Kedunglumpang Salaman Magelang, Jawa Tengah, Selasa (22/12), yang mengakhiri rangkaian kegiatan belajar mengajar semester awal tahun ajaran 2015-2016. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali santri dalam mengisi liburan di rumah masing-masing agar tidak terpengaruh dampak negatif dari kemajuan teknologi, terutama media sosial.

Muyassaroh Hafidoh, salah satu narasumber, menekankan pentingnya informasi berbasis teknologi bagi santri. Menurutnya, jika bisa memanfaatkan kemajuan teknologi dengan baik dan benar, maka bakal banyak manfaat yang diperoleh.

“Jadikan media sosial sebagai sarana pengembangan bakat kalian. Medsos bisa mengasah kemampuan menulis kalian dengan status-status yang inspiratif, bisa membaca pengetahuan dari tokoh-tokoh seperti Gus Mus. Medsos juga bisa sebagai media mengais rezeki ketika kita jualan online, dan banyak lagi manfaat yang lain,” ujar wartawan Majalah Bangkit ini memotivasi para santri.

Narasumber lain, Mukhotib mengatakan bahwa memang kemajuan teknologi memberikan dampak positif maupun negatif, tergantung dari niat individu masing-masing. Di Facebook, misalnya, orang bisa menggunakannya untuk menambah pertemanan dan pengetahuan, tapi bisa pula menipu dan mencari korban pelecehan seksual.

“Maka saran saya jangan sekali-kali kalian menerima pertemanan dengan orang yang di dunia nyata kita tidak kenal,” katanya kepada para santri.

Pada masa pubertas, katanya, seseorang biasanya ingin menunjukkan sesuatu yang ada dalam dirinya kepada lawan jenis. “Ketika sudah bermedsos ria, maka itu artinya separuh rahasia diri kita, kita publish ke khalayak ramai. Ini yang menjadi celah bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan kejahatan seksual. Maka kalian harus hati-hati,” tambahnya.

Pengasuh Pesantren Putri Al-Hidayat Nyai Hj Shintok Nabilah Asrori mengatakan, mayoritas santri sudah kenal teknologi, termasuk medsos. Ketika mereka pulang ke rumah, mereka yang terbatasi menggunakan medsos selama di pesantren sudah bisa mengakses kembali medsos masing-masing.

“Maka melalui seminar ini kami sebagai pengasuh ingin memberikan pengetahuan kepada santri untuk selalu waspada dan hati-hati dalam beraktivitas  di media sosial,” tuturnya.

Setelah mengikuti kegiatan Seminar, malam harinya para santri menyelenggarakan acara muwadda’ah atau perpisahan sebagai tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar semester awal di Pondok Pesantren ini.

Dalam acara ini dibagikan hadiah kepada santri yang berprestasi dalam perlombaan-perlombaan yang diselenggarakan setelah menempuh ujian semester. “Gunakan waktu libur di rumah dengan sebaik-baiknya, jaga nama baik Ponpes Al-Hidayat. Semoga selalu mendapat ilmu yang manfaat manfaati, barokah mbarokahi,” pesan Nyai Shintok, yang juga kakak kandung KH Ahmad Said Asrori salah seorang Rais Syuriyah PBNU. (Ulya Izzati/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG