IMG-LOGO
Internasional

ISIS Dilaporkan Keluarkan Fatwa Rinci Tentang Perbudakan Perempuan

Jumat 1 Januari 2016 18:4 WIB
Bagikan:
ISIS Dilaporkan Keluarkan Fatwa Rinci Tentang Perbudakan Perempuan

Jakarta, NU Online
Ahli teologi ISIS dilaporkan telah mengeluarkan sebuah fatwa rinci  terkait hubungan seksual dengan perempuan yang diperbudak.<>

Kantor berita Reuters melaporkan fatwa tersebut nampaknya upaya untuk mengendalikan pelanggaran dalam perlakuan terhadap wanita yang ditangkap.

Fatwa tersebut terungkap dalam dokumen yang disita oleh Pasukan Operasi Khusus Amerika Serikat ketika melakukan serangan ke seorang pejabat tinggi ISIS di Suriah pada Mei 2015. 

Reuters telah membaca dokumen yang belum pernah diterbitkan itu namun tidak dapat mengkonfirmasi keasliannya.

Di antara perintah fatwa tersebut antara lain: larangan ayah dan anak melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang sama dan masih ada beberapa lainnya.

PBB dan kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) menuduh ISIS secara sistematis menculik dan memperkosa ribuan perempuan dan anak perempuan yang di antaranya berusia 12 tahun, khususnya korban adalah anggota masyarakat minoritas Yazidi di Irak Utara.

Banyak dari tawanan perempuan itu diserahkan kepada para pejuang ISIS sebagai hadiah atau dijual sebagai budak seks.

Alih-alih menutupi praktik tersebut, ISIS bahkan membanggakannya, mereka mendirikan satu “departemen pampasan” untuk mengelola perbudakan.

Dalam sebuah laporan April lalu, Human Rights Watch mewawancarai 20 perempuan yang melarikan diri yang menceritakan bagaimana para pejuang ISIS memisahkan perempuan muda dan anak perempuan dari kaum pria, anak lelaki dan perempuan berusia lanjut. 

Mereka digerakkan “dengan rapi dan efektif ke berbagai tempat di Irak dan Suriah”. 

Pakar pemimpin ISIS di Universitas Princeton, Cole Bunzel, yang telah membaca banyak tulisan kelompok tersebut, mengatakan, fatwa itu melebihi hal yang  pernah dipublikasikan oleh kelompok itu.

"Fatwa itu mengungkap kekhawatiran yang sebenarnya dari para pemilik budak ISIS," katanya dalam surat elektronik.

Fatwa tersebut antara lain juga memerintahkan pemilik budak perempuan untuk “berbelas kasihan pada budak, bersikap baik, tidak mempermalukan dia, dan tidak memerintahkan melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan.”

Profesor Abdel Fattah Alawari, dekan di Teologi Islam, Universitas Al-Azhar, mengatakan ISIS "tidak ada kaitannya dengan Islam" dan  dengan sengaja salah mengartikan ayat-ayat. 

Dia mengatakan ayat-ayat itu aslinya dibuat untuk mengakhiri, bukan mendorong, perbudakan.

“Islam mengajarkan pembebasan budak, bukan perbudakan. Ketika Islam muncul perbudakan dalam status quo,” katanya. 

"Islam memandang perilaku itu sebagai praktik yang menjijikkan dan berupaya untuk mengentaskannya secara bertahap.”

Pada September 2014, lebih dari 120 cendekiawan Islam dari seluruh dunia mengeluarkan surat terbuka kepada ketua ISIS Abu Bakr al-Baghdadi yang menentang argumentasi keagamaan kelompok itu dalam membenarkan aksi mereka. 

Para cendekiawan itu menulis bahwa “pemberlakuan kembali perbudakan dilarang dalam Islam." (Antara/Mukafi Niam)

Bagikan:
Jumat 1 Januari 2016 22:9 WIB
Pemuda Palestina Tewas Ditembak oleh Tentara Mesir
Pemuda Palestina Tewas Ditembak oleh Tentara Mesir

Rafah, NU Online
Seorang pemuda warga Jalur Gaza, Palestina, ditembak hingga tewas oleh pasukan penjaga perbatasan Mesir di garis Perbatasan Rafah-Gaza, Semenanjung Sinai.
<>
Pihak berwenang di Rafah mengatakan pemuda bernama Ishak Hassan itu ditembak setelah melintasi beberapa meter ke dalam tanah wilayah Mesir di Rafah.

Menurut Surat Kabar "Dunia Al Watan", pihak berwenang Mesir pada Rabu (3012) malam secara khusus mengizinkan pembukaan Pintu Penyeberangan Darat Rafah-Gaza untuk membawa jenazah korban dengan ambulans guna diserahkan kepada keluarganya di Gaza.

Tidak dijelaskan motif penyusupan pemuda Palestina tersebut ke wilayah Mesir.

Warga Gaza belangan ini dikabarkan kerap menyusup ke wilayah Mesir dengan tujuan membeli bahan makanan sejak ratusan terowongan bawah tanah yang menghubungkan Gaza-Rafah dihancurkan oleh tentara Mesir atas perintah Presiden Abdel Fatah Al Sisi.

Padahal terowongan-terowongan ilegal itu menjadi jalan satu-satunya bagi warga Gaza yang diembargo Israel, untuk mengakses pembelian bahan kebutuhan pokok seperti makanan, BBM, dan bahan bangunan.

Dua pekan lalu, seorang pemuda Gaza, Ehab Hamdan Marzouq Al Shaer ditembak hingga Tewas di kawasan garis perbatasan Al Shallafa, pinggiran Kota Rafah.

Tak menentu

Sementara itu, Pintu Penyeberangan Rafah-Gaza sejauh ini masih diberlakukan buka-tutup, namun waktunya tidak menentu.

Ratusan warga Gaza tampak tertahan di Rafah untuk menunggu dibukanya Pintu Penyebarangan Rafah.

"Sudah lebih dua bulan kami tertahan di sini (Rafah), entah kapan Rafah kembali dibuka agar kami bisa kembali ke rumah di Gaza lagi," ujar Fatimah kepada Antara di Rafah.

Wanita setengah baya itu sebelumnya mendapat izin resmi masuk Mesir untuk mengantar anaknya berobat di salah satu rumah sakit di Kairo. 

Fatimah sesekali menatap layar telepon genggam merek Samsung di tangannya dengan penuh harap.

Rapanya wanita berkerudung hitam dengan kostum panjang serba hitam itu setiap saat mengikuti berita di laman internet resmi yang dikelola Pemerintah Palestina di Gaza, "Al Shafhah Al Rismiya: Akhbar Mabar Rafah Al Barri" (Laman Remi: Pintu Penyebarang Darat Rafah)".

Laman internet berbahasa Arab bergambar mantan pemimpin Palestina Mendiang Yasser Arafat dengan kalimat kutipan perkataan Arafat "Anaa Laa Ansaak, Palestina" (Saya Takkan Melupakanmu, Palestina), itu secara khusus meng-update perkebangan terbaru Pintu Penyeberang Rafah-Gaza.

Laman itu juga mewanti-wanti kepada warga Gaza yang ingin masuk atau keluar dari Gaza untuk tidak mempercayai kabar burung mengenai pembukaan Pintu Penyeberangan, dan hendaknya menunggu pengumuman resmi dari pihak berwenang Mesir.

Belakangan ini berseliweran berita tidak resmi bahwa Pintu Penyeberangan sedianya dibuka hari Senin dan Selasa lalu (28-29/12), namun ditunda hingga Sabtu, 2 Junuari 2016.

Pihak berwenang di Rafah ketika dikonfirmasi, hanya mengangkat kedua tangan dengan bahasa tubuh mengesankan ketidakpastian.

Penyeberangan Rafah merupakan satu-satunya pintu perbatasan yang menghubungkan Gaza dan dunia luar. (Antara/Mukafi Niam)

Jumat 1 Januari 2016 21:2 WIB
Rafah, Kota Mati Saat Peringatan Tahun Baru
Rafah, Kota Mati Saat Peringatan Tahun Baru

Rafah, NU Online
Dua jam menjelang detik-detik malam pergantian Tahun Baru 2016, Rafah diguyur hujan cukup deras diiringi petir menggelegar di cakrawala kota perbatasan Mesir-Gaza, Palestina.
<>
Panorama kota Rafah amat cerah setelah hujan. Tepat pukul  24.00 seantero Rafah dari puncak sebuah apartemen tampak langit bersih bertabur bintang, namun jalan-jalan sepi, lampu penerang jalan dan rumah-rumah warga tampak redup di sana-sini, sunyi senyap laksana kota mati.

Di tengah keheningan, empat tank tempur tampak beriringan melintas dengan suara bising. Sesekali terdengar suara tembakan senjata berat di kejauhan sana.

Kondisi senyap Kota Rafah di Malam Tahun Baru 2016 ini sangat kontras dengan suasana di Ibu Kota Mesir, Kairo, yang gegap gempita dengan pesta kembang api.

Berbagai jaringan televisi nasional Mesir menyiarkan secara langsung perayaan malam pergantian tahun baru secara besar-besaran yang dipusatkan di Kompleks Piramida Giza, bagian barat Kairo.

Piramida dan Sphinx, yang merupakan salah satu keajaiban dunia, di malam itu bermandi cahaya kembang api aneka warna.

Kementerian Pariwisata Mesir memprakarsai perayaan malam Tahun Baru di Piramida itu dengan mengusung tema: "From Egypt to the World".

Hal berbeda di Rafah. Sekira setengah jam setelah lewat tengah malam, tiba-tiba byaarr pet!, listrik padam di Rafah. Hal itu berlangusng hingga terbit fajar. Hanya satu jam kembali hidup, listriknya padam lagi hingga menjelang azan menandai Shalat Jum’at.

Sepi senyapnya jalan-jalan di Kota Rafah itu terkait dengan pemberlakuan keadaan darurat, dengan berlakunya jam malam mulai pukul 19.00 sore hingga 06.00 keesokan harinya.

Warga Rafah kebanyakan mengatakan, jam malam itu resminya berlaku mulai pukul 19.00, namun pukul 17.00 tentara sudah mulai memperketat izin lalu lintas keluar-masuk Rafah.

Rafah merupakan satu-satunya kota di Mesir yang waktu pemberlakuan keadaan darurat terpanjang, sejak Agustus 2013, tak lama setelah tumbangnya Presiden Mohamed Moursi. Moursi sebelumnya menumbangkan kediktatoran Presiden Husni Mubarak yang memerintah pada 1981 hingga 2011.

Jam malam itu diberlakukan menyusul terbunuhnya belasan tentara dan polisi Mesir, akibat serangan kelompok garis keras yang diduga pendukung Presiden Moursi.

Serangan dan pembunuhan sporadis yang dilancarkan gerilyawan bersenjata dengan sasaran tentara dan polisi di Rafah itu terus berlangsung hingga kini.

Akibarnya, pemerintah Mesir di bawah Presiden Abdul Fatah Al Sisi memberlakuan jam malam di Rafah diperpanjang setiap tiga bulan sejak dua tahun silam. 

Presiden Al Sisi pada 25 Oktober 2015 kembali mengumumkan perpanjangan jam malam di Rafah, Sheikh Zuweid, dan Al Arish, bagian utara Semenanjung Sinai, untuk tiga bulan ke depan hingga Januari 2016.

Namun, di kota Al Arish, tetangga bagian barat Rafah, pemberlakuan jam malam lebih singkat dari pukul 00:00 hingga 06.00.

Selama ini banyak jalan di kota Rafah ditutup, kondisi jalan-jalan juga hancur akibat sehari-harinya dilewati tank-tank tempur.

Sejumlah jalan utama, bahkan sengaja dibuat berkelok-kelok dari tumpukan pasir, terutama dekat pos pemeriksaan keamanan. 

Di waktu siang, bila konvoi tank tempur lewat, tampak semua kendaraan sipil menepi di pinggir jalan.

"Ini hanya kesadaran sendiri oleh pengendara sipil menepi di jalan saat tank lewat, sebagai penghormatan terhadap tentara," kata Faiz Abdel Hamid, seorang supir taksi di Rafah, kepada Antara News.

Itulah jawaban manakala pendatang ingin tahu mengapa semua kendaraan sipil tiba-tiba saja harus menepi di jalan.

Kendaraan sipil juga diperiksa sangat ketat berulang-ulang di setiap pos periksaan. Pos-pos pemeriksaan itu berjarak sangat dekat yang mengakibatkan antrean panjang kendaraan.

Petugas pemeriksaan di Rafah itu hampir tak terlihat polisi, semuanya didominasi tentara dengan tentengan senjata siap tembak. 

Tidak seperti kota lainnya, di Rafah tidak ada fasiltas hotel.

Oleh karena itu, orang Indonesia termasuk delegasi DPR RI yang berkunjung ke Gaza, biasanya bermalam di kota Al Arish yang berjarak sekitar 50 kilometer arah barat Rafah.

"Rafah merupakan satu-satunya kota di Mesir yang tidak dikunjungi turis asing karena selain tidak ada fasilitas akomodasi hotel, juga keamanan tidak kondusif," kata Ashraf Abdel Maguid, agen wisata Masr Lil Siahah.

Di sisi lain, Rafah juga merupakan satu-satunya wilayah perbatasan Mesir yang diadakan zona penyangga di garis perbatasan dengan Gaza.

Mesir berdalih, zona penyangga itu tujuannya mengamankan wilayahnya dari penyusupan warga asing.

Zona penyangga sepanjang 13 km dan lebar 500 meter itu memaksa penggusuran 900-an rumah dan secara paksa relokasi lebih dari seribu penduduknya di sana.

Akhir bulan lalu, Amnesti Internasional menyerukan Pemerintah Mesir untuk menghentikan penggusuran warga dan mengutuk adanya zona penyangga. (Antara/Mukafi Niam)

Jumat 1 Januari 2016 20:20 WIB
Afganistan Berdoa untuk Perdamaian di Tahun Baru
Afganistan Berdoa untuk Perdamaian di Tahun Baru

Kabul, NU Online
Setelah tahun 2015 berlalu tanpa terobosan dalam pembicaraan perdamaian antara pemerintah dan Taliban, rakyat Afghanistan berdoa bagi kebangkitan kembali pembicaraan damai yang diharapkan bisa meredakan kekerasan di negara itu pada Tahun Baru.
<>
Gerilyawan Taliban belum lama ini meningkatkan serangan mereka terutama di provinsi bagian selatan negeri tersebut, bekas kubu Taliban, dalam upaya merebut lebih banyak wilayah yang telah menyulut pertempuran sengit selama bertahun-tahun antara pasukan pemerintah dan Taliban.

Taliban hampir merebut daerah Sangin yang secara strategis sangat penting dan Khansheen di Helmand di dekatnya. 

Namun, para petempur Taliban didesak mundur oleh pasukan pemerintah setelah kedatangan tentara bantuan.

Setelah situasi keamanan memburuk di negeri tersebut, masyarakat internasional telah bekerja keras untuk membawa kedua pihak ke meja perundingan.

Afghanistan dan Pakistan telah mengumumkan babak pertama pertemuan empat-pihak yang meliputi Pakistan, Afghanistan, Tiongkok dan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang akan berlangsung Januari untuk merancang peta jalan yang jelas dan menyeluruh guna memfasilitasi rekonsiliasi Afghanistan.

Semua mata sekarang tertuju pada pertemuan empat-pihak yang dipandang penting dalam mencari cara untuk membangkitkan kembali proses dialog antara Pemerintah Afghanistan dan Taliban.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Afghanistan Khairullah Azad pada Selasa (29/12) mengatakan pembicaraan yang diusulkan tersebut akan diselenggarakan dengan gerilyawan "yang tertarik pada perdamaian di Afghanistan".

"Menurut pendapat saya, semua warga Afghanistan menyambut baik penyelenggaraan pertemuan yang akan menyusun peta jalan bagi pembicaraan perdamaian. Saya optimistis upaya baru-baru ini oleh para pejabat Pemerintah Afghanistan dan Pakistan selangkah demi selangkah akan membawa hasil," kata analis lokal Nazar Mohammad Mutmaeen kepada publikasi lokal Tolo News, Kamis (31/12).

Beberapa analis lokal berpendapat bahwa biasa bagi kedua pihak yang berperang di mana pun untuk memperlihatkan kekuatan mereka dan prestasi di lapangan sebelum mereka dapat duduk di meja perundingan.

“Menurut pendapat saya, Taliban siap mengadakan pembicaraan perdamaian. Mereka telah mengetahui bahwa perang bukan solusi krisis. Mereka sudah tahu bahwa rakyat Afghanistan akan menyalahkan mereka jika perang dan pertumpahan darah berlanjut," kata Mutmaeen.

Babak pertama pembicaraan langsung antara Taliban dan pemerintah Afghanistan diselenggarakan di Pakistan Juli tahun lalu. 

Tapi proses itu dihentikan oleh pemimpin baru Taliban Mullah Akhtar Mohammad Mansoor setelah pemimpin lamanya Mullah Mohammad Omar dikonfirmasi tewas.

Pada Senin, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Raheel Sharif mengunjungi Kabul dan bertemu dengan Presiden Mohammad Ashraf Ghani dan Pemimpin Eksekutif Abdullah Abdullah. 

Mereka bertukar pandangan mengenai beragam isu termasuk bagaimana melawan terorisme dan melanjutkan proses perdamaian Afghanistan.

Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif baru-baru ini mengatakan bahwa Islamabad akan terus mendukung proses pembicaraan yang dipimpin dan dimiliki oleh Afghanistan.

"Sebagai tetangga, Pakistan berperan penting dalam pembangkitan kembali pembicaraan perdamaian dan membuatnya berorientasi pada hasil," kata pengamat politik Prof Sayed Jaffar Rastin kepada Kantor Berita Xinhua pada Rabu.

Para analis menyatakan perdamaian dan stabilitas Afghanistan akan membawa keuntungan bagi kawasan, meningkatkan kerja sama ekonomi antara Afghanistan dan negara-negara tetangganya.

"Partisipasi Tiongkok dan Amerika Serikat dalam pembicaraan akan mendorong proses perdamaian," kata Prof Rastin.

Secara umum, persepsi di antara warga Afghanistan adalah bahwa selama perundingan awal antara pemerintah dan Taliban, kedua pihak harus mengupayakan gencatan senjata dan Taliban harus menghentikan kekerasan dan memutuskan hubungan dengan kelompok bersenjata asing yang memerangi pemerintah bersama Taliban, demikian seperti dilansir kantor berita Xinhua. (Antara/Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG