IMG-LOGO
Opini
NGAJI FALAK (1)

Benarkah Belajar Ilmu Falak Sulit?


Kamis 14 Januari 2016 07:01 WIB
Bagikan:
Benarkah Belajar Ilmu Falak Sulit?

Oleh Khairurraji
Setiap kali mendengar kata atau kalimat yang menyangkut Ilmu Falak, selalu itu juga kita mempersepsikan suatu ilmu yang sulit dipelajari. Kita dengan tergesa mengindisikan diri merasa tidak mampu melakukan apa-apa. Padahal terkadang jika ditanya kesulitannya terletak di mana, kita tidak tahu di mana titik kesulitannya.

Kita lebih dini mengatakan sulit tapi kerap belum mencoba atau melakukan dan terjun di dalamnya. Lebih parah lagi mengatakan sulit hanya karena dengar-dengar dari orang lain. Pada hakikatnya segala ilmu pengetahuan itu adalah mudah selagi kita mau mempelajarinya. Kuncinya kesabaran.

Ketidaksabaran untuk menguasai suatu ilmu menyebabkan banyak kita membuat simpulan “ilmu ini sulit.” Padahal pelajaran itu memiliki tahapan-tahapan. Begitu juga mempelajari Ilmu Falak. Ada beberapa tahapan-tahapan yang harus kita pahami dimulai dari dasar, penggunaan istilah-istilah baru yang tidak begitu familiar, selanjutnya perhitungan-perhitungan, baik hisab (perhitungan) arah kiblat, waktu shalat, awal bulan, maupun terjadinya gerhana (matahari dan bulan), serta pengamatan di lapangan yang objek pengamatannya meliputi bulan, matahari dan bumi.

Sesudah mengetahui tahapan itu, jalan terang mulai terbuka. Hemat Penulis, mempelajari Ilmu Falak tidaklah sulit seperti yang dibayangkan kebanyakan orang karena sebelumnya Penulis juga sama sekali tidak mengetahui apa-apa terkait Ilmu Falak. Penulis bahkan belum pernah mendengar apa Ilmu Falak? Bagaimana mempelajarinya? Apa saja cakupannya?

Penulis akan mencoba memberikan penjelasan sederhana apa yang disebut Ilmu Falak. Ilmu Falak berasal dari kata "al-Falak". Kata ini di dalam al-Qur'an disebut dua kali, pertama di Surat al-Anbiya ayat 33. Kedua di Surat Yasin ayat 40. Secara bahasa, falak berarti orbit, lintasan, atau peredaran benda-benda langit. Jadi Ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan, orbit, peredaran benda-benda langit pada orbitnya untuk posisi benda-benda langit antara satu dan lainnya dapat diketahui. Dengan demikian waktu-waktu di permukaan bumi bisa diketahui.

Dalam perkembangannya Ilmu Falak disebut juga Ilmu Hisab karena ilmu ini mengunakan hitungan sebagai alat bantu seperti hisab awal bulan, dan sebagainya. Ilmu ini bisa juga disebut Ilmu Rashd karena memerlukan pengamatan terkait benda-benda langit (bumi, bulan, matahari dan lainnya). Nama lainnya adalah Ilmu Miqat karena ilmu ini digunakan untuk mempelajari waktu-waktu yang ditentukan terutama dalam hal ibadah, seperti masuknya waktu shalat, berbuka puasa dan seterusnya. Pada gilirannya ilmu ini disebut Ilmu Nujum karena pengaruhnya terhadap kehidupan di muka bumi, dan lebih dikenal dengan istilah Astrologi.

Ruang lingkup pembahasan Ilmu Falak dalam objek formalnya secara garis besar terbagi atas dua. Pertama, ilmu yang membahas tentang benda-benda langit baik teori maupun konsep, misalnya cosmogony (asal mula kejadian benda-benda langit serta perkembangan selanjutnya), cosmologi (bentuk dan tata himpunan benda-benda langit), cosmografi (gambaran peredaran benda-benda langit serta kelompok-kelompok bintang), astrometrik (ukuran benda-benda langit serta jarak antara satu benda dan lainnya serta merupakan dasar bagi penentuan sistem koordinat astronomi, lintasan dan gerak benda langit), astromekanik (gerak benda-benda langit serta gaya tarik antara satu dan lainnya), astrofisika (sifat dan unsur-unsur yang terdapat pada benda langit dari segi fisika yang bersandar pada telaah pancaraan yang diterima dari benda langit). Ilmu ini banyak dipersepsikan dengan Ilmu Astronomi.

Kedua, ilmu yang membahas lintasan benda-benda langit dengan melakukan perhitungan untuk mengetahui kedudukan dan posisi benda-benda langit antara satu dan lainnya secara umum disebut Ilmu Falak. Ilmu ini lebih khusus membahas masalah yang berkaitan dengan ibadah seperti, arah kiblat dan bayangan arah kiblat (rashd kiblat), waktu-waktu shalat, awal bulan, dan gerhana (matahari dan bulan).

Adapun kitab-kitab Ilmu Falak karya ulama Nusantara berkembang di Indonesia dalam Bahasa Arab. Karya-karya itu pada umumnya disajikan dalam bentuk tabel yang memuat data astronomis matahari dan bulan. Karya-karya ini masih digunakan di pesantren-pesantren bahkan menjadi acuan dalam penentuan awal bulan.

Sebut saja Badi’atul Mitsal karya KH Ma’shum bin Ali Jombang, Ittifaq Dzatil Bain karya KH Muhammad Zubair Gresik, Sullamun Nayyirain karya Guru Manshur Jembatan Lima Jakarta Barat, Khulashatul Wafiyah karya KH Zubair Umar al-Jailani Salatiga, Nurul Anwar karya KH Noor Ahmad SS Jepara, Irsyadul Murid karya KH Muhammad Ghozali MF Sampang dan banyak lagi kitab-kitab lainnya.

Sedangkan buku-buku Ilmu Falak yang berbahasa Indonesia banyak disajikan praktis dan sederhana sehingga mudah dipelajari oleh pelajar pemula. Buku ini banyak di pasaran. Buku-buku ini juga banyak digunakan mahasiswa di kalangan kampus terutama UIN Walisongo Semarang yang secara khusus membuka jurusan Ilmu Falak.

Buku-buku rujukannya adalah Ilmu Falak Jilid 1 dan 2 karya KH Slamet Hambali, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik karya KH Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Praktis karya KH Ahmad Izzuddin serta banyak lagi buku-buku yang lainnya.


* Khairurraji, staf harian Lembaga Falakiyah PBNU

Bagikan:
IMG
IMG