IMG-LOGO
Opini

Maqasid Syariah, Solusi Cabut Akar Terorisme

Ahad 17 Januari 2016 14:53 WIB
Bagikan:
Maqasid Syariah, Solusi Cabut Akar Terorisme
Oleh A Fathurrohman Rustandi*

Ledakan bom di Sarinah kemarin, menjadi bukti nyata bahwa gerakan radikal, ekstremisme dan terorisme masih menjadi ancaman bagi Indonesia dan kemanusiaan, sudah tidak jelas lagi siapa targetnya.

Senjata bisa mengalahkan teroris, namun pendidikan bisa menghilangkan terorisme. Pendidikan menjadi titik pijak deradikalisasi jangka panjang. Bonus demografi kaum muda menjadi berkah sekaligus tantangan. Semangat religius orang muda saat ini semakin tinggi, namun sangat disayangkan ketika ghirah (semangat) ini timbul, banyak kelompok ekstremis yang memanfaatkannya. Dasar agama terbatas dan keluguan mereka dimanfaatkan sebagai ujung tombak ektremisme, radikalisme, dan terorisme. Dampak paling nyata atas salahnya memilih guru dan institusi pendidikan.

Menyikapi fenomena seperti ini, diharapkan para generasi muda yang mulai semangat belajar agama, agar lebih selektif memilih halaqah pengajian, organisasi, majelis ta’lim, sebaiknya yang berafiliasi dengan organisasi keislaman yang terbukti mampu merawat umat, seperti NU dan Muhammadiyah. Diharapkan para orang tua aktif memantau putra-putrinya. Jika mereka mengikuti organisasi keagamaan yang aneh dan mencurigakan, segera berikan pemahaman dan pengarahan untuk menghindarinya.

Maqasid Syariah, Solusi atas Terorisme

Tahir Ibn Asyur, Ahmad Ar-Raisuni dan Jasser Auda termasuk pemikir yang serius mengembangkan maqasid syariah. Usaha para ulama ini bukan tanpa alasan. Mereka ingin membumikan syariah melalui pemahaman komprehensif filsafat hukum Islam. Maqasid adalah ilmu yang didasarkan pada pertanyaan “kenapa?”. Kenapa ada anjuran jihad? Kenapa wajib zakat bagi orang kaya? Dan seterusnya. Kaum muslim diajak tidak hanya taqlid (mengikuti) buta pada hukum Islam, namun  harus mengerti landasan teoritis pembentukan hukum Islam tersebut. Sebagian ulama memasukan maqasid syariah di bawah munasabatul qiyâs atau maslahah mursalah dalam ilmu usul fiqih.

Pembacaan kembali atas maqasid syariah urgen saat ini karena semakin memahami syariah, harus mengerti pula mana yang prioritas dan non-priorias dalam agama, baik dan buruk, benar dan salah, karena syariah bersumber dari Tuhan untuk kemaslahatan umat manusia, mengandung hikmah, kasih sayang, cinta dan keadilan. Apabila keluar dari kasih sayang, keadilan, hikmah dan cinta, maka dapat dipastikan bukan bagian dari syariah.

Maqasid yang semula dimaknai sebagai penjagaan terhadap agama (hifdhud-din), jiwa, akal, harta dan keturunan, dalam adl-dlaruriyatul-khamsah (lima prinsip keniscayaan) dinarasikan ulang sebagai tujuan syariah mengembangkan dan memuliakan hak asasi manusia (HAM). Dengan memuliakan HAM maka segala bentuk kriminal yang membahayakan hak asasi dilarang oleh syariah.

Perlu merenungkan kembali standar syariah yang dirumuskan oleh Ibn Qoyyim Al-Jauziah: bahwa Syariah didasarkan pada kebijaksanaan demi meraih keselamatan manusia di dunia dan akhirat. Syariah seluruhnya terkait dengan keadilan, kasih sayang, kebijaksanaan dan kebaikan. Jadi, hukum apapun yang mengganti keadilan, kasih sayang, kemaslahatan, dan kebijaksanaan, maka hukum tersebut dapat dipastikan bukan bagian dari Syariah.

Koreksi terhadap pemahaman primordial ini hanya bisa dilakukan melalui pendidikan, karena permasalahan fundamental dalam problem terorisme adalah distorsi terhadap interpretasi teks suci. Meskipun, para fundamentalis pun mengklaim sedang menegakkan syariah menurut interpretasinya, membunuh orang lian yang dianggap kafir, dengan ribuan argumentasi atau ratusan buku untuk pembenarannya. Jika keluar dari prinsip standar syariah di atas, dapat dipastikan bukan bagian dari syariah.

Kelompok muda memungkinkan menerima ide kebaruan dari maqasid syariah, menciptakan paradigma inklusif, tanpa menghilangkan khazanah lama, memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Merawat anak muda urgen saat ini karena mayoritas gerakan intoleransi, radikalisme, dan terorisme dimotori oleh generasi muda. Jika lalai merangkul dan mendidik pemuda, mereka bisa hilang arah, masuk ke dalam gerakan Islam yang cenderung memilih jalan radikal dalam menyebarkan ideologi dan paham keagamaannya.

Di tengah budaya kekerasan atas nama agama yang terus meningkat secara sporadis. Hal ini memalukan dan mengkhawatirkan, memalukan karena agama tidak pernah mengajarkan kekerasan, dan mengkhawatirkan karena paksaan dalam agama berarti sudah kehilangan akal sehat. Mata menjadi tidak lagi berguna ketika pikiran sudah buta.

Maqasid dalam Konteks Kekinian

Indonesia saatnya mengambil peran sentral dalam mengalahkan terorisme dunia, menjadi contoh negara lain dalam menangani ancaman teror. Tragedi Sarinah kemarin jelas membuktikan bahwa kita sebagai bangsa yang besar tidak bisa di teror oleh kelompok kecil teroris. Hal itu terbukti hanya tiga jam pasca-ledakan bom, warga mampu keluar dari ancaman teror, kelompok terorisme seperti apapun tidak akan mampu mengalahkan dan menciptakan teror bagi kita sebagai bangsa yang besar jika bersatu dan tetap waspada.

Indonesia adalah bangsa besar, rumah bagi umat muslim terbesar di dunia, memiliki potensi dan piranti menjadi pusat peradaban Islam dunia, wacana Islam Nusantara bisa dijadikan sebagai entry point upaya menjadikan Indonesia sebagai poros kebudayaan Islam dunia. Mari melestarikan khazanah masa lalu dan mengakomodir khazanah masa kini yang efektif. Maqasid Syariah sebagai khazanah klasik bernuansa kekinian, layak dijadikan diskursus baru bagi para guru, ustad, kiai, ulama dan orang awam, agar membawa perubahan terhadap masyarakat, memahami syariah secara kaffah, sehingga terbebas dari intoleransi, radikalisme dan terorisme.

Masyarakat diajak memahami tujuan Tuhan, memberikan syariah kepada umat manusia, sebagai jalan hidup untuk kemaslahatan manusia. Daya kritis terhadap syariah harus dibangun, dan akhirnya ketika kelompok fundamentalis mengklaim sedang menegakkan syariah, kita dengan mudah menjawab, syariah yang mana? Syariahnya siapa? Karena Tuhan tidak pernah menghendaki kehancuran umat manusia, melainkan untuk menjaga hak hidup, beragama, dan kebaikan hambanya.

Yang tidak kalah penting budaya Islam Nusantara seperti mengaji kitab di surau, majelis ta’lim, Yasinan, Tahlilan yang terbukti telah merawat umat perlu dilestarikan. Kelompok teroris tidak suka dengan ini. Dengan melakukan tradisi Islam Nusantara, juga sebuah langkah nyata melawan terorisme.

* Peneliti Maqasid Syariah, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng

 

Bagikan:
Sabtu 16 Januari 2016 11:0 WIB
Dakwah yang Beradab
Dakwah yang Beradab
Oleh M. Haromain
Dakwah merupakan satu bagian yang tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan umat beragama. Dalam ajaran Islam, ia merupakan suatu kewajiban yang dibebankan oleh agama kepada pemeluknya, baik yang sudah menganutnya ataupun belum.

Syeikh Ali Mahfudh dalam kitabnya Hidayah al-Mursyidin, sebagaimana dikutip oleh KH Sahal Mahfudh, menetapkan definisi dakwah sebagai ”Mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk Allah, menyuruh orang mengerjakan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.

Sementara dakwah menurut Quraish Shihab adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi ataupun masyarakat.

Dalam merealisasikan kewajiban dakwah ini, para da’i atau muballigh menggunakan banyak media dan metode, misalnya ceramah, diskusi, bimbingan penyuluhan, penerbitan buku, majalah dan lain sebagainya.

Disini perlu ditegaskan bahwa masing masing media dan metode dakwah ini memiliki kelebihan, keistemewaan dan kekurangan, sehingga dibutuhkan kejelian penggunaan media dakwah tertentu sesuai dengan kondisi sasaran dakwah yang dihadapi. Ini dimaksudkan supaya kita tidak fanatik (ta’assub) kepada salah satu media dakwah dan menyepelekan kepada media dakwah lainnya.

Kegiatan dakwah dengan memahami dua definisi dakwah di atas, sepintas lalu tampak begitu mudah dan ringan bahkan nyaris tanpa hambatan. Tetapi kegiatan dakwah dalam tahap implementasi atau praktek di lapangan ternyata tidak sesederhana dan semudah itu.

Barangkali kalau sekadar menyampaikan materi atau pesan dakwah saja banyak yang mampu. Namun untuk mencapai keberhasilan atau kesuksesan dakwah, yang ditandai salah satunya lewat penerimaan secara sadar dari sasaran dakwah terhadap materi atau pesan dakwah yang kita sampaikan, maka di sinilah letak kesulitannya.

Hal itu membuktikan bahwa dalam menyampaikan materi atau pesan dakwah para juru dakwah terkadang tidak cukup hanya menyampaikan materi dakwahnya secara blak-blakan, lurus, dan transparan. Sebab penyampaian dakwah secara transparan (eksplisit) dan apa adanya ini kadang berpotensi besar menyudutkan tradisi, budaya, atau nilai-nilai yang diagungkan oleh masyarakat yang menjadi objek dakwah. Padahal sudah menjadi naluri manusia adalah tidak mau dipersalahkan. Dan orang akan mempertahankan diri secara emosional manakala mereka diserang atau dipojokkan secara psikologis. Bagaimana masyarakat bersedia menerima seruan dakwah jika mubalighnya tidak bisa menghargai mereka?

Ketika seorang da’i dakwahnya tidak mendapat simpati dari masyarakat, janganlah keburu ia menuduh masyarakat tersebut sebagai komunitas masyarakat yang bebal hatinya, tidak mempan oleh nasihat. Justru pertama kali yang harus dikoreksi oleh da’i tersebut adalah cara, sikap, dan strateginya dalam menyampaikan dakwah. Sudah tepat dan benarkah metode yang ia sampaikan?

Oleh karena itu, demi tercapainya keberhasilan dakwah, supaya pesan dakwah dapat diterima dan dipraktekkan oleh objek dakwah diperlukan seni, metode, dan pendekatan yang benar. Dan strategi yang sering menjadi pedoman golongan ahlussunnah wal jama’ah dan merupakan manhaj dakwahnya salafusshaleh  adalah metode dan cara pendekatan yang sangat bagus dan persuasif, yaitu dengan hikmah, mauidzah hasanah, dan diskusi atau dialog dengan cara yang lebih baik. Metode ini digali dari Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125.

KH Ahmad Shiddiq mengutip dari tafsir Al-Khazin menerangkan lebih detail tiga metode di atas. Mengajak dengan hikmah, artinya memberi keterangan yang mantap, kokoh, dan benar. Atau menggunakan dalil-dalil yang benar yang mengungkapkan kebenaran dan menghilangkan keragu-raguan.

“Mauidzah hasanah” artinya memberi petunjuk yang menggairahkan kepada kebenaran serta menunjukkan bahaya atau akibat perbuatan buruk, yang mengesankan rasa kasih sayangnya perawat bagi pasiennya. Metode dialog atau debat yang lebih baik artinya menggunakan pendekatan yang lemah lembut.

Kenapa penulis artikel ini mengatakan bahwa dakwah dengan ketiga metode diatas adalah metode terbaik dan persuasif? Karena dengan modal metode seperti itu, seperti apapun keadaan sasaran dakwah, sang da’i sedapat mungkin tetap menghargai meraka, memosisikan mereka sebagai manusia yang tidak hanya memiliki akal tetapi juga emosi dan perasaan yang tidak boleh diperlakukan seenaknya layaknya patung. Dan inilah istilah yang penulis sebut sebagai dakwah yang beradab.

Dengan demikian karena objek dakwah merasa dihargai dan diperlakukan selayaknya manusia lainnya, maka penerapan dakwah dengan metode hikmah, mauidzah hasanah dan mujadalah bi ahsan ini punya peluang lebih besar untuk diterima dan mendapat simpati dari masyarakat obyek dakwah.

Berbeda dengan metode dakwah yang disampaikan dengan jalan kekerasan, paksaan dan cara-cara yang bersifat sarkastik lainnya, alih-alih masyarakat akan bersimpati dan menerimanya, justru perlawanan dan permusuhanlah yang akan dikobarkan oleh mereka. Atau seandainya mereka mau menerima, besar dugaan penerimaan mereka itu karena keterpaksaan yang semu sifatnya, bukan penerimaan atas dasar kesadaran diri. Wallahu A’lam

*Penulis adalah alumnus MHM Lirboyo Kediri dan Unsiq Wonosobo
Jumat 15 Januari 2016 12:0 WIB
Politik Identitas vs Politik Kesejahteraan
Politik Identitas vs Politik Kesejahteraan

Oleh Amin Mudzakkir
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh para pemimpin daerah di era pasca-Soeharto adalah ketidakmampuan mereka dalam menegosiasikan “politik identitas” dan “politik kesejahteraan” secara baik. Politik identitas mengacu pada agama, etnisitas, bahasa, sejarah, dan isu-isu yang bersifat primordial lainnya, sementara politik kesejahteraan meliputi pembangunan ekonomi, penyediaan fasilitas umum, pembukaan akses pekerjaan yang layak,<> dan hal-hal yang terkait dengan penataan kehidupan publik umumnya. Sebagian besar pemimpin daerah lebih tertarik untuk mengurusi yang pertama, tetapi mengabaikan yang terakhir. 

Tentu saja jika ditelusuri lebih jauh, kecenderungan untuk mengutamakan politik identitas daripada politik kesejahteraan tidak dimulai hanya sejak Soeharto dan rezim Orde Barunya jatuh dari kekuasaan pada 1998. Hal ini juga bukan fenomena yang khas Indonesia, sebab terjadi juga di tempat lainnya. Dengan ungkapan lain, hal ini merupakan fenomena global yang dimulai setidaknya sejak awal tahun 1980-an ketika globalisasi secara perlahan tapi pasti menjadi kata kunci dalam tata bahasa politik dunia. Fenomena ini bersamaan dengan menguatanya paham neoliberal dalam berbagai konstelasi kebijakan negara di mana peranan pasar membesar daripada sebelumnya.

Kembali ke Indonesia, politik identitas telah diperagakan oleh Soeharto sendiri setidaknya sejak awal 1990-an. Berbeda dengan Soeharto sebelumnya yang lebih mengesankan diri sebagai seorang yang netral dalam beragama, sejak 1990-an Soeharto mematutkan dirinya menjadi seorang Muslim yang saleh. Selain naik haji ke Tanah Suci, dia juga mendukung terbentuknya organisasi-organisasi berbasis Islam, seperti Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Pada tataran pemerintahan, dia juga menunjuk beberapa menteri yang dikenal luas mempunyai ikatan dengan organisasi-organisasi (mahasiswa) Islam. Maka istilah “ijo royo-royo” pun muncul mengacu pada komposisi kabinet yang dianggap sangat bernuansa Islam. 

Tetapi rupanya perubahan tidak hanya terjadi pada diri Soeharto, melainkan juga berlangsung masif di masyarakat. Islamisasi tidak lagi merupakan konsep, tetapi telah menjadi praktik sosial. Lagi-lagi hal ini adalah fenomena global yang terjadi di mana-mana. Kepercayaan bahwa sekularisasi adalah jalan yang mesti ditempuh dalam modernisasi tidak lagi bisa dipertahankan. Agama, khususnya Islam, merangkak dari ruang privat ke ruang publik dalam berbagai bentuk mulai dari revolusi politik seperti terjadi Iran hingga perubahan gaya hidup. Di Indonesia, perubahan gaya hidup ini dimanifestasikan misalnya dalam praktik penggunaan jilbab yang sangat pesat sejak akhir dekade 1990-an. 

Ketika Soeharto akhirnya dipaksa mundur dari jabatan kepresidenan pada 1998, kondisi struktural dan kultural yang memungkinkan menguatnya politik identitas telah tersedia. Maka tidak heran setelah itu berbagai aspirasi berbasis identitas muncul ke permukaan mulai dari tuntutan masyarakat adat, jatah perempuan di parlemen, hingga pembuatan peraturan daerah “syariah”. Hal terakhir ini marak di berbagai kota mengiringi proses “pemekaran” daerah dan terus berlanjut mengikuti hiruk pikuk pemilihan kepala daerah langsung (pilkada) sejak 2004. 

Momen pilkada adalah ajang bagi penguatan politik identitas, khususnya agama, yang paling kasat mata. Para kandidat berlomba menampilkan diri sebagai Muslim yang saleh dengan menjanjikan pembuatan berbagai kebijakan dan inisiatif yang diklaim sebagai identitas Islam. Tidak jarang usaha tersebut berhasil. Mungkin masyarakat terpesona oleh penampilan para kandidat itu, mungkin juga karena memang tidak ada calon lainnya. 

Lebih lanjut, politik identitas keagamaan di daerah-daerah tersebut dipadatkan dalam konstruksi “kota santri”. Dengan mengaitkan diri pada peristiwa-peristiwa tertentu di masa lalu yang dikombinasikan dengan keberadaan pondok pesantren serta ribuan santrinya di masa sekarang, kontruksi kota santri seolah mendapat pembenarannya. Hal ini bisa dijumpai, misalnya, di Tasikmalaya, Situbondo, Jombang, dan beberapa daerah lainnya. Oleh para pemimpin daerah, konstruksi ini diolah sedemikian rupa menjadi semacam alat ukur keberhasilan kepemimpinannya. Lalu dibuatlah tugu, nama jalan, gedung, atau peraturan yang diidentikan dengan identitas kesantrian. Jika telah berhasil menyediakan hal-hal tersebut, biasanya segera muncul klaim bahwa pemimpin bersangkutan telah berhasil membangun daerahnya. 

Politik identitas, secara moral, tidak sepenuhnya keliru. Ia merupakan bagian dari aspirasi demokratis dan kebutuhan hak asasi manusia. Namun mengutamakan hal itu tetapi mengabaikan aspek politik kesejahteraan yang justru jauh lebih urgen adalah kesalahan. Kenyataan menunjukkan demikian. Di daerah-daerah di mana para pemimpinnya gemar menonjolkan politik identitas, politik kesejahteraan yang sesungguhnya merupakan inti dari politik itu sendiri karena mencakup pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat justru terabaikan. 

Kamis 14 Januari 2016 7:1 WIB
NGAJI FALAK (1)
Benarkah Belajar Ilmu Falak Sulit?
Benarkah Belajar Ilmu Falak Sulit?

Oleh Khairurraji
Setiap kali mendengar kata atau kalimat yang menyangkut Ilmu Falak, selalu itu juga kita mempersepsikan suatu ilmu yang sulit dipelajari. Kita dengan tergesa mengindisikan diri merasa tidak mampu melakukan apa-apa. Padahal terkadang jika ditanya kesulitannya terletak di mana, kita tidak tahu di mana titik kesulitannya.

Kita lebih dini mengatakan sulit tapi kerap belum mencoba atau melakukan dan terjun di dalamnya. Lebih parah lagi mengatakan sulit hanya karena dengar-dengar dari orang lain. Pada hakikatnya segala ilmu pengetahuan itu adalah mudah selagi kita mau mempelajarinya. Kuncinya kesabaran.

Ketidaksabaran untuk menguasai suatu ilmu menyebabkan banyak kita membuat simpulan “ilmu ini sulit.” Padahal pelajaran itu memiliki tahapan-tahapan. Begitu juga mempelajari Ilmu Falak. Ada beberapa tahapan-tahapan yang harus kita pahami dimulai dari dasar, penggunaan istilah-istilah baru yang tidak begitu familiar, selanjutnya perhitungan-perhitungan, baik hisab (perhitungan) arah kiblat, waktu shalat, awal bulan, maupun terjadinya gerhana (matahari dan bulan), serta pengamatan di lapangan yang objek pengamatannya meliputi bulan, matahari dan bumi.

Sesudah mengetahui tahapan itu, jalan terang mulai terbuka. Hemat Penulis, mempelajari Ilmu Falak tidaklah sulit seperti yang dibayangkan kebanyakan orang karena sebelumnya Penulis juga sama sekali tidak mengetahui apa-apa terkait Ilmu Falak. Penulis bahkan belum pernah mendengar apa Ilmu Falak? Bagaimana mempelajarinya? Apa saja cakupannya?

Penulis akan mencoba memberikan penjelasan sederhana apa yang disebut Ilmu Falak. Ilmu Falak berasal dari kata "al-Falak". Kata ini di dalam al-Qur'an disebut dua kali, pertama di Surat al-Anbiya ayat 33. Kedua di Surat Yasin ayat 40. Secara bahasa, falak berarti orbit, lintasan, atau peredaran benda-benda langit. Jadi Ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan, orbit, peredaran benda-benda langit pada orbitnya untuk posisi benda-benda langit antara satu dan lainnya dapat diketahui. Dengan demikian waktu-waktu di permukaan bumi bisa diketahui.

Dalam perkembangannya Ilmu Falak disebut juga Ilmu Hisab karena ilmu ini mengunakan hitungan sebagai alat bantu seperti hisab awal bulan, dan sebagainya. Ilmu ini bisa juga disebut Ilmu Rashd karena memerlukan pengamatan terkait benda-benda langit (bumi, bulan, matahari dan lainnya). Nama lainnya adalah Ilmu Miqat karena ilmu ini digunakan untuk mempelajari waktu-waktu yang ditentukan terutama dalam hal ibadah, seperti masuknya waktu shalat, berbuka puasa dan seterusnya. Pada gilirannya ilmu ini disebut Ilmu Nujum karena pengaruhnya terhadap kehidupan di muka bumi, dan lebih dikenal dengan istilah Astrologi.

Ruang lingkup pembahasan Ilmu Falak dalam objek formalnya secara garis besar terbagi atas dua. Pertama, ilmu yang membahas tentang benda-benda langit baik teori maupun konsep, misalnya cosmogony (asal mula kejadian benda-benda langit serta perkembangan selanjutnya), cosmologi (bentuk dan tata himpunan benda-benda langit), cosmografi (gambaran peredaran benda-benda langit serta kelompok-kelompok bintang), astrometrik (ukuran benda-benda langit serta jarak antara satu benda dan lainnya serta merupakan dasar bagi penentuan sistem koordinat astronomi, lintasan dan gerak benda langit), astromekanik (gerak benda-benda langit serta gaya tarik antara satu dan lainnya), astrofisika (sifat dan unsur-unsur yang terdapat pada benda langit dari segi fisika yang bersandar pada telaah pancaraan yang diterima dari benda langit). Ilmu ini banyak dipersepsikan dengan Ilmu Astronomi.

Kedua, ilmu yang membahas lintasan benda-benda langit dengan melakukan perhitungan untuk mengetahui kedudukan dan posisi benda-benda langit antara satu dan lainnya secara umum disebut Ilmu Falak. Ilmu ini lebih khusus membahas masalah yang berkaitan dengan ibadah seperti, arah kiblat dan bayangan arah kiblat (rashd kiblat), waktu-waktu shalat, awal bulan, dan gerhana (matahari dan bulan).

Adapun kitab-kitab Ilmu Falak karya ulama Nusantara berkembang di Indonesia dalam Bahasa Arab. Karya-karya itu pada umumnya disajikan dalam bentuk tabel yang memuat data astronomis matahari dan bulan. Karya-karya ini masih digunakan di pesantren-pesantren bahkan menjadi acuan dalam penentuan awal bulan.

Sebut saja Badi’atul Mitsal karya KH Ma’shum bin Ali Jombang, Ittifaq Dzatil Bain karya KH Muhammad Zubair Gresik, Sullamun Nayyirain karya Guru Manshur Jembatan Lima Jakarta Barat, Khulashatul Wafiyah karya KH Zubair Umar al-Jailani Salatiga, Nurul Anwar karya KH Noor Ahmad SS Jepara, Irsyadul Murid karya KH Muhammad Ghozali MF Sampang dan banyak lagi kitab-kitab lainnya.

Sedangkan buku-buku Ilmu Falak yang berbahasa Indonesia banyak disajikan praktis dan sederhana sehingga mudah dipelajari oleh pelajar pemula. Buku ini banyak di pasaran. Buku-buku ini juga banyak digunakan mahasiswa di kalangan kampus terutama UIN Walisongo Semarang yang secara khusus membuka jurusan Ilmu Falak.

Buku-buku rujukannya adalah Ilmu Falak Jilid 1 dan 2 karya KH Slamet Hambali, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik karya KH Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Praktis karya KH Ahmad Izzuddin serta banyak lagi buku-buku yang lainnya.


* Khairurraji, staf harian Lembaga Falakiyah PBNU

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG