IMG-LOGO
Trending Now:
Fragmen

Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI

Senin 18 Januari 2016 12:0 WIB
Bagikan:
Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI
Pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948 merupakan di antara tragedi yang sempat mengguncangkan stabilitas perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tempo itu masih jatuh bangun. Beberapa literatur menyatakan, dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama, dan rakyat yang dianggap tidak sehaluan dengan PKI dibunuh secara kejam. Sebelumnya PKI telah melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, menculik lawan-lawan politik, dan menggerakkan kerusuhan di berbagai tempat.

Terlalu banyak data yang menjadi bukti peristiwa di atas. Di antaranya Majalah Aula edisi Mei 2007, sedikit telah menyajikan fragmen-fragmen kekejaman PKI dan segenap simpatisannya seperti dimaksud. Tapi di sini kami hendak spesifik menyajikan fakta sejarah yang berhasil dicatat oleh sejarahwan NU, KH. Saifudin Zuhri tentang Kiai Abdul Wahab Chasbullah yang hampir saja tertangkap oleh simpatisan PKI andai saja beliau tidak bersiasat mengubah identitas penampilannya. Kisah itu diutarakan Kiai Saifudin Zuhri dalam buku "Guruku Orang-orang dari Pesantren". Berikut ini kesaksian mantan mentri agama di era presiden Sukarno tersebut:

"Aku laporkan bahwa menjelang pemberontakan PKI di Madiun, KH. A. Wahab Hasbullah, mengadakan latihan ulama di Ngawi. Aku baru pulang dari Ngawi 3 hari sebelum pecah pemberontakan PKI.

Ketika latihan ulama dibubarkan karena sudah selesai, tidak ada yang mengerti bahwa PKI mengadakan pemberontakan di madiun. Padahal jarak Ngawi dan Madiun dekat sekali. Para peserta latihan pulang ke daerahnya maing-masing.

KH Abdul Wahab Chasbullah pulang ke Jombang dengan naik kereta api. Perjalanan ke Jombang ini harus melewati Madiun. Ketika telah mendekati Madiun, beliau baru mengerti bahwa di Madiun ada pemberontakan PKI, tetapi beliau sudah terlanjur berada dekat stasiun Madiun. Agar orang tidak mudah mengenali siapa beliau, terpikir olehnya untuk menghilangkan identitasnya. Sorban dilipat dimasukkan ke dalam tasnya. KH Abdul Wahab Chasbullah berhasil berdiplomasi dengan salah seorang di stasiun untuk memperoleh peci hitamnya. Peci hitam pun ia kenakan. Dengan peci hitam ini, orang tidak mudah mengenali Kiai Wahab. Maka, selamatlah beliau hingga tiba di rumahnya, di Jombang. Jika saja PKI mengenali Kiai Wahab, pastilah beliau dijadikan tawanan golongan kakap, dan entah bagaimana nasib selanjutnya. Tetapi syukur alhamdulillah Tuhan tetap melindungi beliau.

Sebuah pesantren di Madiun, lanjut kiai Saifudin Zuhri, kalau tidak salah pesantren Takeran, adalah pesantren pertama yang dijadikan sasaran pengganyangan oleh PKI. Beberapa santri menjadi korban dan pesantren dibakar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sasaran utama PKI adalah orang-orang republikan, pegawai pemerintah, dan laskar-laskar Hizbullah-Sabilillah, barisan banteng, barisan pemberontakan, dan lain-lain yang pro pemerintah Yogya.

"Suasana kota Yogya diliputi oleh kemarahan rakyat terhadap PKI dan Belanda, yang belakangan ini terus-menerus melanggar gencatan senjata dan melakukan insiden-insiden di tapal batas. Korban banyak yang jatuh di kedua belah pihak. Yogya diliputi oleh awan gelap, penuh tanda tanya bagaimana keluar dari kegentingan yang mendalam ini. "Demikian fragmen cerita yang direkam KH. Saifudin Zuhri. (M Haromain)

Bagikan:
Jumat 25 Desember 2015 10:4 WIB
Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo
Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo

Menyimak sejarah kehidupan seorang tokoh besar itu sepertinya tiada habisnya, selalu mengalirkan inspirasi baru dan pelajaran penuh makna. Apalagi yang dibicarakan adalah tokoh ulama atau kiai besar. Satu di antara sekian banyak tokoh ulama di Indonesia itu adalah al-maghfurlah KH Mahrus Ali (wafat 1985),<> pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo generasi kedua, menantu dari KH Abdul Karim pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Artikel singkat ini hanya bermaksud menyajikan sepenggal fragmen kecil dari sekian banyaknya fragmen kehidupan KH Mahrus Ali yang meninggalkan begitu banyak keteladanan bagi generasi setelahnya. Oleh karena itu sesuai judul di atas, di sini sekadar hendak membabarkan bagaimana strategi atau metode belajar Kiai Mahrus Ali berdasarkan penuturan beberapa saksi sejarah yang masih menjumpai (menangi) beliau.

Salah satu murid dekat beliau, yaitu KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bercerita bahwa Kiai Mahrus Ali ketika belajar di pondok menggunakan sistem nazar. Misalnya, membuat komitmen pada diri sendiri, seperti, "saya tidak akan keluar kamar sebelum hafal Alfiah, saya tidak akan pakai baju, sebelum menguasai materi bab ini, dan begitu seterusnya".  

Almaghfurlah KH A Idris Marzuki saat diwawancarai tim penulis buku Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, tahun 2010, menguatkan pernyataan yang disampaikan Gus Mus di atas. Beliau menuturkan bahwa Kiai Mahrus Ali itu sangat kuat dalam memaksa dan menahan diri supaya bisa mempeng (sangat tekun belajar). Kiai Mahrus mereka-reka sendiri, menciptakan pula metode sendiri dalam belajar. Saat masih nyantri, Mbah Kiai Mahrus membangun sebuah kamar yang didesain supaya jika beliau sudah memasukinya akan kesulitan keluar dari ruangan itu. Hal tersebut ia lakukan agar benar-benar dapat fokus muthalaah dan belajar. Jadi model beliau menguasai suatu disiplin ilmu di antaranya seperti itu. Semua keinginan hawa nafsunya ditahan sedemikian rupa.

Selain itu, KH. Yasin Asmuni, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Tullab Petuk Semen Kediri, juga memiliki kenangan khusus saat ia dahulu ikut ngaji dengan Mbah Kiai Mahrus. Kiai Mahrus ketika mengaji, kata Kiai Yasin,  seperti halnya seorang syaarih (komentator kitab). Tidak jarang beliau mengatakan, wahadza dha'ifun, wa hadza mu'tamadun (pendapat ini argumentasinya lemahdan pendapat yang ini kokoh argumentasinya). Bahkan kala itu beliau kerap curiga dengan redaksi yang ada dan mengatakan la'alla showab begini.

Di lain sisi, tambah KH. Yasin Asmuni, setiap beliau menyebut nama mushannif (pengarang kitab), pasti doa rahimakumullah selalu beliau lantunkan. Itu menandakan betapa penghormatan Kiai Mahrus Ali pada seorang guru begitu besar.

Selanjutnya, Kiai Mahrus Ali dikenal juga sebagai kiai yang suka ikut ngaji pasaran di Bulan Ramadahan ke berbagai pondok pesantren. Bahkan budaya ikut ngaji pasaran ini tetap beliau jalankan meskipun sudah menjadi kiai kharismatik dan mempunyai anak.

Sementara itu, menurut KH Anwar Mansur, menantu Kiai Mahrus, keteladanan Mbah Kiai Mahrus yang perlu kita ikuti adalah kemempengannya (kesungguhannya) dan proporsionalitas serta konsistensi beliau dalam mengatur dan menggunakan waktu. Aktivitas keseharian beliau dijadwal secara teratur. Mulai waktu untuk istirahat, untuk shalat tahajud, waktu muthalaah (mengkaji ulang pelajaran), sampai waktu khusus yang dialokasikan untuk mengulang pelajaran sehabis shalat Subuh. Bagi Mbah Mahrus,waktu merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya, sehingga beliau seproporsional mungkin dalam mengatur waktu. Jadi ada waktu-waktu khusus yang beliau alokasikan seperti waktu untuk menghapal jam berapa, waktu nderes jam berapa, serta waktu istirahtpun beliau perhatikan.

Demikian selintas dari sebagian metode dan karakter KH Mahrus Ali ketika belajar dan mengaji. Salah satu nasihat bijak masyayiikh (guru-guru sepuh) menyatakan, "melihat seorang tokoh besar itu jangan cuma ketika ia telah menjadi tokoh besar (nihayah) saja, tetapi lihat pula bagaimana mereka saat menjalani proses panjang (bidayah) sebelum mereka sukses dan berhasil menjadi seorang tokoh." Spirit maqalah itu pula yang kami tuju dari tulisan pendek sederhana ini. 

 

Oleh M. Haromain, alumnus MHM Lirboyo 2010, dan anggota tim penulis buku “Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, terbit 2010 pada peringatan satu abad PP. Lirboyo. Data dalam tulisan ini diambil dari buku tersebut.

Selasa 22 Desember 2015 12:0 WIB
Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur
Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur

“Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Beginilah salah satu ungkapan sikap KHR As’ad Syamsul Arifin, sebagaimana dikutip media nasional beberapa hari pasca Muktamar NU ke-28 di Krapyak, 26 tahun lalu.<> Konon, KHR As’ad kecewa besar pada lima tahun kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. Gus Dur dianggap kebablasan. Pemikiran dan tindak-tanduk liberalnya diniliai sudah keluar dari rel Aswaja.

Dari berita yang dimuat di koran, pemikiran dan tindak-tanduk liberal yang dialamatkan pada Gus Dur antara lain terkait keikutsertaannya sebagai juri Festival Film Indonesia. KHR As’ad bahkan menyebut Gus Dur kiai ketoprak lantaran aksinya ini. Lalu terkait wacana Gus Dur mengubah salam “assalamu’alaikum” menjadi “selamat pagi”, dan beberapa kontroversi lain yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Gus Dur.

Puncak ketidakcocokan Ketua Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar NU ke-27 ini terjadi pada hari terakhir Muktamar Krapyak, Rabu siang, 29 Nopember 1989. Di hadapan media di arena Muktamar yang telah aklamasi memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini, lantang menyatakan diri mufaraqah (memisahkan diri).

Ketidakcocokan KHR As’ad dengan Gus Dur sebenarnya sudah lama. Keputusan mufaraqah bisa dibilang lebih merupakan kulminasi dari perselisihan panjang antarkeduanya. Perselisihan awal setidaknya sudah dimulai ketika pleno pertama PBNU hasil Muktamar Situbondo, di Pesantren Tebuireng, Jombang pada Januari 1985. Keputusan pleno menyatakan bahwa yang berhak mewakili NU keluar adalah Rais ‘Aam KH Ahmad Shiddiq, dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid. Keputusan ini dinilai membatasi gerak dan langkah ulama sepuh lain, terutama KHR As'ad yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan menteri-menterinya.

Beberapa kontroversi Gus Dur lainnya sepanjang 1984-1989 semisal; keterlibatan Gus Dur menjadi ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), kesediaan membuka Malam Puisi Yesus Kristus, dan kecenderungan membela Syi'ah, juga turut menjadi pemicu kerenggangan komunikasi antara KHR As’ad beserta kiai-kiai sepuh lain dengan Gus Dur. Hal ini berujung peristiwa ‘gugatan’ pada Gus Dur di Pesantren Darut-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, pada Maret 1989.

Sebuah fakta politik menarik, menyusul mufaraqah KHR As’ad, Gus Dur justru makin gencar melawan Orde Baru. Gus Dur makin aktif mendukung para aktivis melawan pemerintah. Menjelang pemilu 1992, di tengah kuatnya kekuasaan Soeharto, Gus Dur bahkan berani terang-terangan menolak penguasa negeri 32 tahun itu untuk dipilih kembali. Gus Dur terus menyerang Pak Harto hingga lengser ke prabon pada 1998.

Banyak literatur menyebut, KHR As’ad Syamsul Arifin adalah sosok wali quthub. Kesaksian KH Mujib Ridwan misalnya, menyebut jika KHR As’ad pernah menangis tersedu-sedu lantaran ‘kedoknya’ terbuka, usai dibacakan sebuah surat Al-Qur’an. KH Mujib Ridwan adalah putra KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU, yang lebih 20 tahun mengabdi pada KH As’ad Syamsul Arifin. Di luar kharisma keulamaannya, KHR As’ad adalah seorang guru dan pengamal 17 jenis tarekat. Meskipun demikian beliau tidak pernah memaklumkan diri sebagai seorang mursyid tarekat di depan umum. KHR As’ad juga mendalami ilmu kanuragan yang membuat banyak bajingan bertekuk lutut kepadanya. 

Konon, kewalian KHR As’ad inilah yang melatarbelakangi beberapa tindakannya sehingga tidak mudah dimengerti khalayak awam. Satu di antaranya menyangkut kerenggangan KHR As’ad dan Gus Dur. Kala itu tentu saja tak sedikit Nahdliyin di akar rumput yang kebingungan. Meski tak sampai menciptakan kubu-kubu yang saling berseberangan, konflik panjang dua tokoh beda generasi ini memunculkan pertanyaan di banyak pihak. Tak terkecuali rombongan Kepala Sekolah SLTP dan SLTA Ma’arif Kotamadya Surabaya. Suatu hari, pada 15 April 1987, mereka serombongan sowan ke ndalem KHR As’ad di kompleks Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Sesampai di ndalem, rombongan diterima langsung oleh KHR As’ad yang kala itu didampingi KH Mudjib Ridwan. Rombongan pun mendapat penjelasan langsung bahwa beliau mufaraqah dengan Gus Dur karena Gus Dur kiai ketoprak. Dengan menjadi juri FFI di Bali, Gus Dur dinilai sudah tidak sesuai dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari, dan penjelasan lain-lain seterusnya sebagaimana yang sudah beredar di media massa.

Dari Situbondo, rombongan meneruskan silaturahim berikutnya ke Jember ke ndalem KH Ahmad Shiddiq. Di hadapan Rais ‘Aam PBNU ini, disampaikanlah panjang lebar kebingungan-kebingungan mereka mengenai hubungan KHR As’ad dengan Gus Dur.

Dan beginilah dawuh KH Ahmad Shiddiq. “Kulo, dan sampean-sampean semua—seraya menunjuk satu persatu rombongan yang hadir—bukan levelnya. Bukan kelasnya menilai Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin.” Demikianlah yang pada intinya, Nahdliyin yang belum masuk levelnya, tidak pantas menilai sikap mufaraqah KHR As’ad dengan Gus Dur. Keduanya memiliki maqom (tingkatan spiritual) yang tinggi di atas kebanyakan.

Menyikapi friksi di tingkatan elit NU yang kian membingungkan ini, suatu ketika beberapa anggota Dewan Khas IPSNU Pagar Nusa dipimpin H. Suharbillah memutuskan sowan ke KH Khotib Umar, Pengasuh Pesantren Raudhatul Ulum Sumberwiringin, Sukowono, Jember. IPSNU Pagar Nusa kebetulan saat itu baru saja dideklarasikan. KH Khotib Umar adalah salah seorang ulama pejuang yang wara’ yang sangat disegani di kalangan Nahdliyin.

Kepada para pendekar Pencak Silat NU ini, KH Khotib Umar bertutur bahwa suatu waktu beliau menghadap pada KHR As’ad Syamsul Arifin bermaksud meminta penjelasan mengenai masalah dengan Gus Dur. Dan KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur. Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur di penjara oleh penguasa—karena sikap kritisnya­—lalu siapa yang akan membela? Demikian dawuh sang wali quthub. (Didik Suyuthi)

 

* Sebagian data diperoleh dari catatan pribadi DR KH Suharbillah

   

Ahad 20 Desember 2015 6:1 WIB
31 Tahun Deklarasi Khittah NU 1926 (2)
Panas Dingin Komisi Khitthah
Panas Dingin Komisi Khitthah

No.02/MNU-27/1984. Itulah nomer dokumen resmi tentang Khitthah Nahdlatul Ulama hasil Muktamar NU ke-27 yang fenomenal itu. Sejak saat itu, NU benar-benar kembali menjadi jam’iyah diniyah yang mengurusi dakwah dan pendidikan. Proses pengesahannya diwarnai ketegangan yang luar biasa. Berikut kisahnya.
<>
Tim Tujuh merampungkan tugasnya dengan baik. Rumusan tentang Pemulihan Khitthah NU 1926 berhasil disusun sebelum dilaksanakannya Munas Alim Ulama NU tahun 1983. Bahkan sebelum Munas itu dilaksanakan, mereka dibantu Kelompok G melakukan sosialisasi materi Khitthah NU 1926 melalui sebuah media bernama Jurnal Khitthah.  

Di antara pengelolanya adalah Slamet Effendi Yusuf, M Ichwan Sam dan Masdar Farid Mas’udi. Sedangkan proses cetak dan penyebarannya ke seluruh Indonesia ditangani oleh dr Fahmi D Saifuddin. Tujuan penyebarannya adalah untuk menyosialisasikan gagasan kembali ke Khitthah yang telah disepakati oleh majelis 24 maupun Tim Tujuh. Terbit setelah Tim Tujuh merampungkan tugasnya hingga berlangsung Munas Alim Ulama di Situbondo.

Pada akhir tahun 1983, dualisme kepemimpinan NU mulai menemui titik terang. Terutama setelah terjadinya islah antara kubu Situbondo dan kubu Cipete. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 11 September 1983 di rumah KH Hasyim Latief Sepanjang, Sidoarjo. Kedua belah pihak diundang oleh Nyai Hj Sholichah Bisri (ibunda Gus Dur) kemudian menjalin kesepakatan islah. Salah satu isi kesepakatannya adalah menggelar Munas Alim Ulama NU tahun 1983 dan Muktamar NU ke-27 tahun 1984.

Proses Lahirnya Khitthah

Di arena Munas Alim Ulama, pembahasan tentang Khitthah NU 1926 berlangsung tegang. Itulah Munas Alim Ulama pertama yang membentuk komisi baru bernama Komisi Khitthah. Cerita tentang bagaimana suasana pembahasannya dikisahkan dengan apik catatan hasil liputan H Sholeh Hayat yang waktu itu menjadi wartawan Majalah Aula dan meliput langsung ke Ponpes Salafiyah Syafi’iyah di Asembagus, Situbondo.

Komisi Khitthah diletakkan di dalam ruangan aula pondok putri. Lokasi gedung itu dipagari tembok setinggi 2,5 meter dengan pintu gerbang besi. Sejak pagi tanggal 19 Desember 1983, pintu depan ini dijaga oleh petugas keamanan dari GP Ansor berseragam lengkap. Siapapun yang tidak mengenakan tanda pengenal yang dikeluarkan panitia tak diperkenankan masuk. Memasuki pintu ruangan masih harus berhadapan dengan penjaga serupa. Tapi hanya peserta yang menyerahkan daftar hadir yang diizinkan masuk ke dalamnya. Lebih seratus orang mendaftarkan dalam komisi ini. 54 wartawan yang menyerbu tempat ini terpaksa hanya bisa masuk sampai halaman saja. Hanya beberapa menit para “kuli tinta” ini diberi kesempatan masuk untuk mengambil gambar. Itu pun sebelum acara sidang dimulai.

Sidang komisi ini memang bersifat tertutup. Yang dibahas menyangkut hal yang gampang dianggap rawan, yaitu masalah azas Pancasila, Mukaddimah AD-ART NU, dan pemantapan kembalinya NU ke Khitthah 1926. Bila jalannya sidang ini disiarkan (melalui pers) sebelum mencapai keputusan, bisa menimbulkan kegelisahan dalam masyarakat.

Pukul 09.15 acara dibuka oleh pimpinan sidang KH Chamid Mahmud (di luar komisi ini ia bernama Chamid Wijaya), Katib Am Syuriah PBNU. Komisi ini akan membahas makalah KH Achmad Siddiq tentang azas Pancasila yang sudah dibacakan pada sidang pleno sebelumnya dan rumusan Khitthah NU 1926 yang disusun oleh Tim Tujuh. Karena itu acara pertama membuka pendaftaran bagi mereka yang ingin mengajukan pendapatnya. Sebanyak 40 nama menyatakan maksudnya, untuk berbicara, tapi akhirnya enam orang mengundurkan diri.

Sebanyak empat belas orang mendapat giliran berbicara siang itu. Semuanya dengan nada keras, berapi-api, menambah panas siang yang memang berudara panas itu. Usaha untuk melokalisir suara dengan mematikan pengeras suara tak berhasil. Suara lantang tetap menggetarkan tembok aula pondok putri itu. Sidang itu dapat diikuti dengan jelas dari halaman. Tentu saja para wartawan memasang telinga dengan tekun dari arah ini.

Melihat keadaan ini pimpinan sidang segera mempersilakan para insan pers itu untuk meninggalkan halaman. Tapi bukan berarti dengan ini jalannya sidang sama sekali tak bisa diikuti pemburu berita ini. Buktinya, pagi harinya beberapa surat kabar bisa menceritakannya. Bukankah tidak mungkin menutup mulut peserta sejumlah lebih dari seratus itu?

Menyadari betapa rawannya masalah yang dibahas, sebagian besar peserta mengungkapkan pendapat dengan menggunakan Bahasa Arab, sehingga para wartawan dan intel yang ada di sekitar lokasi sidang tidak mengerti apa yang dibicarakan.Sidang berlangsung sampai malam. Nada bicara mulai menurun dan sekali-sekali terselip humor.

Tanggal 20 Desember malam, sidang ini berhasil menyelesaikan tahap inventarisasi pendapat. Dan Kiai Achmad diberi kesempatan memberikan tanggapan dan jawaban. Kiai Achmad meyakinkan kepada sidang bahwa makalah ini disusun bukan karena ketakutan atau karena “diiming-iming permen”. Dan masalah yang dibahas ini bukan sikap tergesa-gesa, tapi memang sudah tiba waktunya. Pemaparan argumen yang dilakukan Kiai Achmad diakhiri dengan kata-kata, “Namun kalau Anda ada yang punya pendapat lebih kuat dari ini dan berani mempertanggung-jawabkan umat di hadapan Allah, saya siap menarik makalah ini”.

Akhirnya seluruh anggota sidang semua tertunduk, hening dan seolah-olah kehilangan nafsu untuk mendebat lagi. Beberapa saat kemudian Kiai Achmad melanjutkan keterangannya, “Saya berani mempertanggung-jawabkan pendapat saya ini di Hadirat Allah”. Kata-kata ini seolah-olah merupakan klimaksnya. Dan setelah itu tinggal anti klimaksnya.

Ketika KH Chamid Mahmud, selaku pimpinan sidang, menawarkan kelanjutan sidang ini kepada majelis, peserta sidang nampak sudah lega setelah mendapat penjelasan Kiai Achmad. Tak ada maksud lagi untuk menambah pendapat. Tinggallah tahap perumusan. Untuk itu ditunjuk 25 orang

Dalam pelaksanaan berikutnya, Tim Dua Lima dibagi lagi ke dalam tiga sub tim, yaitu Tim Khitthah, Tim Mukaddimah dan Tim Deklarasi. Ketika sidang pleno terakhir digelar pada 21 Desember 1983,  para peserta resmi dan “romli” sudah berjejal menanti hasilnya di halaman pondok. Saat itu Komisi Khitthah baru menghapus keringat dan siap melaporkannya di sidang pleno kemudian menjadi keputusan resmi Munas Alim Ulama NU. Bahwa NU mendeklarasikan diri kembali ke Khitthah NU 1926.

Setahun kemudian, Muktamar NU ke-27 pada 8-12 Desember 1984 di Situbondo, kambali membahas hasil keputusan Munas Alim Ulama NU tahun 1983 tentang Azas Pancasila dan Khitthah NU 1926. Namun energi untuk memperdebatkan materi itu sepertinya sudah dituntaskan dalam Munas Alim Ulama. Sehingga Komisi Organisasi dalam muktamar itu berhasil mengesahkan keputusan No.02/MNU-27/1984 tentang Khitthah Nahdlatul Ulama.

Profil Tim Tujuh

1. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Pada tahun 1983, Gus Dur masih berusia 42 tahun. Beberapa tahun sebelumnya, Gus Dur baru pulang ke tanah air setelah belajar di Universitas Baghdad Iraq, kemudian mengajar di Universitas Hasyim Asy’ari Jombang.

Setelah Muktamar NU ke-26 pada 1979 di Semarang, Gus Dur masuk kepengurusan PBNU untuk pertama kali. Ia dipercaya menjadi Wakil Katib Syuriah PBNU atas permintaan dari Rais Am PBNU KH M Bisri Syansuri yang juga kakeknya sendiri. Sejak saat itu Gus Dur hijrah ke Jakarta dan bergaul dengan tokoh-tokoh muda NU lainnya.

2. M Zamroni

Ketika masih kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pria kelahiran Kudus 1935 ini adalah aktifis mahasiswa yang sangat disegani. Kiprahnya dalam gerakan mahasiswa sangat penting dalam masa transisi antara Orde Lama ke Orde Baru. Pada tahun 1965, dialah Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Pusat yang merupakan gabungan dari berbagai organisasi mahasiswa waktu itu. Tahun 1967, ia terpilih sebagai Ketum PB PMII kemudian aktif juga menjadi fungsionaris PP GP Ansor.

Setelah mentas dari dunia aktifis mahasiswa, Zamroni pernah menjadi Kepala Sekolah PGAN Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Kemudian pernah juga menjadi Anggota DPR RI dari PPP. Ketika ia menjadi Sekretaris Tim Tujuh, Zamroni juga menjabat Wakil Sekjen PBNU periode 1979-1984 sekaligus Wakil Sekjen DPP PPP.

3. Mahbub Djunaidi

Pria kelahiran Jakarta 1933 ini lebih populer sebagai penulis dan wartawan. Putra dari  KH M Djunaidi (Ketua Pengadilan Tinggi Jakarta) ini memang sejak remaja aktif di dunia pers. Bahkan ia pernah menjadi Ketua Umum PWI Pusat dengan Jacob Oetama sebagai sekretarisnya. Setelah itu ia menjadi kolumnis tetap Harian Kompas dan Tempo. Salah satunya adalah penulis rubrik Asal-Usul di Kompas selama 9 tahun tanpa jeda. Dan kumpulan tulisannya diterbitkan menjadi buku “Mahbub Djunaidi Asal-Usul” yang  berisi 100 tulisan lebih.

Selain itu, Mahbub Djunaidi adalah tokoh sentral berdirinya PMII pada tahun 1960 dan menjadi ketua umumnya yang pertama. Selain menulis, Mahbub juga sangat gemar dengan sastra. Karena itu wajar jika ia adalah pencipta lirik Mars GP Ansor dan Mars PMII. Di dunia politik, ia juga pernah menjadi Anggota DPR RI Fraksi NU hasil Pemilu 1971 dan Fraksi PPP hasil pemilu 1977. Setelah muktamar ke-26 tahun 1979 di Semarang, Mahbub dipercaya menjadi Ketua PBNU.

4. Said Budairy

Pria yang lahir di Malang 1936 ini juga dikenal sebagai wartawan. Pada era tahun 1970 dan 1980-an, Said bergelut dengan aktifitasnya di dunia pers melalui Duta Masyarakat, Harian Pedoman dan Harian Pelita. Ia juga aktif di kepengurusan PWI Pusat.

Sedangkan di NU, Said mulai aktif di IPNU Malang, kemudian menjadi Sekjen PMII pertama mendampingi Mahbub Djunaidi. Ia juga berperan menciptakan lambang PMII dan selanjutnya menjadi fungsionaris PP GP Ansor. Ia juga pernah menjadi Anggota DPR GR/MPR RI tahun 1963-1971. Ketika Tim Tujuh dibentuk, ia tercatat sebagai anggota BP MPR RI dan rumahnya menjadi “markas gerakan” yang dilakukan oleh Kelompok G.

5. Fahmi D Safuddin

Nama tengahnya memang selalu disingkat dengan D. Aslinya adalah Djakfar. Pria kelahiran Purworejo tahun 1942 ini adalah putra tokoh NU dan Menteri Agama RI, Prof Dr KH Saifuddin Zuhri.

Fahmi adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran UI dan University of Texas, Houston, Amerika. Setelah itu ia berprofesi sebagai dokter dan dosen di almamaternya. Bahkan ia pernah menjabat sebagai dekan dan Pembantu Rektor UI Bidang Riset dan Perpustakaan (1981-1982). Dengan profesi itu ia melanglang buana ke lebih dari 30 negara. Sedangkan di dunia gerakan mahasiswa, Fahmi juga aktif sebagai Sekretaris Umum PB PMII dengan M Zamroni sebagai ketua umumnya.

Fahmi adalah motor penggerak tokoh muda NU pada era tahun 1980-an. Ketua PBNU periode 1979-1984 inilah yang mempelopori terbentuknya Kelompok G hingga mengerucut menjadi Tim Tujuh.

6. Danial Tandjung

Kiprah Danial Tandjung begitu lekat dengan GP Ansor dan menjadi tokoh Pandu Ansor. Sebab, pria kelahiran Nias, Sumatera Utara, tahun 1934  ini memang aktif di GP Ansor sejak muda hingga masuk dalam kepengurusan PP GP Ansor. Danial Tandjung juga sangat akrab dengan KH Idham Chalid yang menjabat Ketum PBNU. Ketika Tim Tujuh terbentuk, Danial Tandjung menjabat sebagai Wakil Bendahara PBNU hasil Muktamar NU ke-26 tahun 1979. Dan berdasarkan hasil Pemilu 1982, ia duduk sebagai Anggota DPR RI dari PPP hingga 1987.

7. Ahmad Bagdja

Ahmad Bagdja lahir di Kuningan, Jawa Barat pada tahun 1945. Dialah anggota Tim Tujuh termuda. Ia adalah aktifis organisasi yang memulai kiprahnya di IPNU, GP Ansor dan PMII. Bahkan ia pernah menjadi Ketua Umum PB PMII pada periode 1977-1980. (A. Afif Amrullah, Redaktur Pelaksana Majalah Aula dan Dosen FAI Unsuri Surabaya)





IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG