IMG-LOGO
Nasional

Menengok Perencanaan Strategis Majalah NU, AULA dan AULEEA


Rabu 27 Januari 2016 14:02 WIB
Bagikan:
Menengok Perencanaan Strategis Majalah NU, AULA dan AULEEA
Foto: Suasana kegiatan SWOT PT Aula Media Nahdlatul Ulama, 23-24 Januari 2016.
Pasuruan, NU Online
Selama dua hari yakni sejak 23 hingga 24 Januari 2016, pimpinan, staf dan karyawan PT Aula Media Nahdlatul Ulama melangsungkan kegiatan SWOT atau perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) di Finna Golf and Country Club Resort Pandaan Pasuruan, Jawa Timur. Acara ini sebagai wahana untuk melakukan evaluasi terhadap kiprah majalah AULA dan AULEEA sebelumnya, sekaligus proyeksi yang akan direngkuh untuk tahun mendatang.

Pada sambutan di acara pembukaan, H Arif Affandi selaku Pemimpin Umum media ini mengemukakan bahwa kekurangan yang harus segera ditutupi oleh NU adalah menjalankan usaha secara profesional. "Kegiatan selama dua hari ini hendaknya diikuti secara serius untuk membahas berbagai hal demi perkembangan Majalah AULA dan AULEEA di masa mendatang," kata mantan Wakil Walikota Surabaya ini. Arif, lanjutnya, juga mengingatkan bahwa segala hal yang selama ini terjadi dalam keseharian di kantor dan lapangan hendaknya dapat didiskusikan demi menemukan formula terbaik bagi perkembangan media.

Ketua PW Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Timur ini mengemukakan bahwa kesempatan mengikuti acara hendaknya dapat dioptimalkan untuk mencari tahu bagaimana mengelola media secara baik dan profesional.

Karena media kita sudah berbentuk Perseroan Terbatas atau PT, tambahnya, maka tidak ada pilihan lain bagi seluruh pimpinan dan karyawan untuk menjadikannya sebagai sarana bisnis. Ukuran bagi kelayakan bisnis adalah dikelola secara baik dan menguntungkan. Kendati demikian, bisnis yang diinginkan adalah bukan semata mencari keuntungan, namun juga membawa visi besar NU sebagai penyebar Islam rahmatan lil'alamin.

Mantan Pemimpin Redaksi Harian Pagi Jawa Pos ini kemudian memaparkan sejumlah fakta bahwa semakin banyak warga NU yang telah sukses menjadi profesional dengan berbagai usaha yang digeluti. "Oleh sebab itu, frame dalam pengelolaan media ini sangatlah jelas yakni harus profesional dan berorientasi bisnis," tegasnya.

Saling berbagi kritik dan masukan

Di hari pertama, yakni usai shalat Ashar berjamaah, setiap divisi diberikan kesempatan memberikan gambaran kondisi yang dialami. Demikian pula kendala yang dihadapi sembari menyampaikan proyeksi yang diharapkan pada tahun 2016.

Pada sesi pertama tampil Muhamad Jamil bersama Subhan dan serta Ahmad. Devisi periklanan ini memaparkan sejumlah perolehan iklan di Majalah AULA maupun AULEEA tahun 2015 sebagai penyumbang pendanaan media disamping oplah dan sejumlah ivent. "Kami berharap, ada sinergi antara semua pihak untuk mendongkrak iklan yang masuk di media kita," kata Abah Jamil, sapaan akrabnya. Karena berdasarkan evaluasi iklan yang masuk selama ini adalah buah kerjasama yang terjadi bagi semua pihak. "Baik di redaksi maupun kawan yang berada di devisi lain," katanya.

Saat sesi tanya tawab, catatan kritis diberikan terkait dengan prosedur mendapatkan iklan, materi iklan yang masuk serta eksekusi dalam penagihan. "Mohon ada koordinasi yang lebih intensif pihak yang memperoleh iklan dengan bagian tata letak sehingga tidak ada materi iklan yang terlewatkan," kata Johan dari bagian tata letak.

Demikian pula pihak iklan mendapat masukan untuk membuat jadwal waktu yang dapat dioptimalkan untuk mendapatkan tambahan iklan. "Seperti Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, serta hari besar lain yang bisa dimaksimalkan untuk memperoleh iklan dari berbagai pihak," kata Afif Amrullah.

Bapak Arif Affandi juga mengingatkan bahwa bila terdapat iklan partai politik, hendaknya dapat dicarikan perimbangan dari partai berbeda. "Agar tidak ada kesan bahwa majalah kita hanya dikuasai partai politik tertentu," pesannya. Pak Arif kemudian menceritakan saat pelaksanaan Pemilihan Presiden RI, yang mana akhirnya media ini berhasil mendapat iklan dari masing-masing kontestan Pilpres.

Usai devisi iklan memberikan paparan, giliran berikutnya adalah pemasaran. Karena bagian ini sebagai ujung tombak distribusi media hingga ke pelanggan dan agen, maka diskusinya lumayan panjang karena banyak masukan demi perbaikan layanan.

Baik Ibu Riamah (AULEEA) maupun Iwan Setiono (AULA) memberikan  paparan seputar perkembangan media ini sejak tahun lalu dan perkiraan capaian untuk tahun berikutnya. Sejumlah ikhtiar disampaikan oleh keduanya dalam upaya meningkatkan image media di mata masyarakat. Dari mulai menyelenggarakan ivent yang bekerjasama dengan sponsor, bergabung dengan para loper koran, agen majalah hingga terobosan lain yang dapat saling menguntungkan.

"Meskipun secara usia, Aula telah berumur lumayan lanjut, namun untuk pasar di sejumlah kota ternyata masih kurangmenggembirakan," kata Iwan Setiono. Karenanya, sejumlah terobosan harus dilakukan dalam rangka membangun image sebagai majalah kebanggaan dari NU yang juga diakui berbagai kalangan.

Hal yang sama juga dilakukan AULEEA yang memasuki satu setengah tahun. "Perlu kerja keras agar majalah life style muslimah ini dapat diterima pasar dengan baik," kata Ibu Riamah. Dan sejumlah perusahaan tidak serta merta berkenan memberikan support terhadap media cetak ini. Ada juga beberapa perusahaan yang justru lebih tertarik menyelenggarakan kegiatan bersama karena pertimbangan produknya dapat langsung dikenal konsumen.

Banyak masukan yang disampaikan peserta terkait pengembangan majalah di masa depan, khususnya kerjasama dengan sejumlah lembaga atau kepengurusan struktural NU. Bahkan bila memang dibutuhkan, akan diupayakan terbitnya surat himbauan kepada kepengurusan NU di seluruh wilayah di tanah air. "Surat tersebut bisa diupayakan oleh PBNU," kata Muhammad Rofii Boenawi.

Keharmonisan kerja dan koordinasi turut mendapat sorotan dalam upaya mengembangkan majalah. "Keluhan dari pelanggan hendaknya dapat direspon dengan cepat, serta dicarikan solusinya," kata Yudi Arianto. Seperti keterlambatan majalah ke tangan agen dan pelanggan, adanya petugas pemasaran saat pagi serta hari Sabtu dan keluhan lain.

Yang tidak kalah menarik adalah ketika Riadi Ngasiran (AULA) dan Hikmah Bafaqih (AULEEA) memberikan laporan terkait perkembangan majalah di pasaran dari sisi muatan atau isi yang selama ini diangkat menjadi bahasan.

"Tema-tema yang diangkat di Majalah AULA cukup merespons kecenderungan pasar dengan tetap dalam bingkai Islam rahmatan lil'alamin," kata Riadi Ngasiran, yang juga pemimpin redaksi.

Dan yang cukup fenomenal adalah rencana majalah yang terbit sejak tahun 1978 ini untuk melakukan tour Sumatera dalam rangkaian menggali Islam Nusantara. "Itu merupakan obsesi redaksi dalam menyambut 40 tahun majalah kita," kata Riadi. Ia juga menandaskan bahwa rencana tersebut sebagai upaya mengenalkan dan mengembangkan media agar semakin dikenal masyarakat luar, khususnya di luar Jawa, lanjutnya.

Upaya untuk menggebrak pasar turut dilakukan Majalah AULEEA. Hikmah Bafaqih selaku pemimpin redaksi kemudian menyampaikan fakta bahwa media yang dipimpinnya harus bersaing dengan majalah serupa yang sudah menasional. "Fakta bahwa AULEEA harus bersaing dengan media yang lebih lama eksis tentu membutuhkan strategi khususnya dari sisi konten," kata Ketua PW Fatayat NU Jatim tersebut.

Sepakat menjawab tantangan

Beberapa masukan yang disampaikan peserta SWOT telah diinventarisir untuk menjadi program bersama di tahun 2016 ini. Upaya mengejar banyaknya pelanggan yang di dalamnya diisi dengan penguatan sumber daya manusia dan kelengkapan pendukung telah menjadi pekerjaan bersama.

"Saya senang karena seluruh peserta antusias mengikuti kegiatan ini," kata Arif Afandi. Ia juga optimis bahwa baik AULA maupun AULEEA akan menjadi salah satu media yang berkembang lebih pesat di masa mendatang. Apalagi jumah warga NU mencapai angka jutaan orang. "Ini pangsa potensial yang harus digarap serius," pesan Arif.

Hal yang sama juga disampaikan Direktur Utama PT AULA Media Nahdlatul Ulama, H Ichwan Siswadi. "Prinsipnya, kami akan memberikan support bagi kebutuhan operasional seluruh kru demi meingkatkan oplah dan pemasukan untuk majalah," kata Abah Ichwan, sapaan akrabnya. Demikian pula, Wakil Bendahara PWNU Jatim ini akan terus mengupayakan peningkatan kesejahteraan bagi karyawan. Karena pemilik saham dari media ini adalah para karyawan sendiri, lanjutnya.

Demikianlah komitmen seluruh pihak yang terhimpun dalam media kebangaan NU Jatim ini. Kebersamaan yang telah terjalin selama dua hari menjadi modal bagi kemajuan media di masa mendatang. Tantangan media cetak memang tidak ringan, seiring dengan penetrasi media online dan elektronik lainnya. Tidak sedikit media cetak baik Koran maupun majalah yang dulunya beroplah besar dan menjadi referensi sejumlah kalangan akhirnya tumbang lantaran tidak bisa bersaing dengan baik.

Caruk pembaca dan potensi iklan bagi Majalah AULA dan AULEEA sebenarnya masih sangat besar. Jutaan warga NU yang tersebar di sejulah kawasan yang ditopang dengan kian meningkatnya taraf hidup masyarakat serta kemunculan reading society, menjadi salah satu alasan optimisme menejemen media ini dalam menghadapi tantangan. Hal ini tentu saja harus dijawab dengan profesionalitas di semua lini baik redaksi, pemasaran, iklan serta perusahaan secara umum. Mampukah? Semoga. (Ibnu Nawawi/Fathoni) 

Bagikan:
IMG
IMG