IMG-LOGO
Nasional

Fiqih Sosial Institute IPMAFA Bahas Masa Depan Fiqih Indonesia

Jumat 29 Januari 2016 19:24 WIB
Bagikan:
Fiqih Sosial Institute IPMAFA Bahas Masa Depan Fiqih Indonesia
Pati, NU Online
Sebagai kampus riset berbasis nilai-nilai pesantren, Pusat Fiqih Sosial Institute (FISI) menggelar seminar nasional bertajuk ‘Fiqh Sosial: Masa Depan Fiqh Indonesia’ di aula kampus Institute Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, Jawa Tengah, Kamis (28/1/2016).

“Kegiatan ini untuk mempublikasikan hasil riset fiqih sosial Kiai Sahal yang selama ini dipandang sebagai fiqih yang bisa memberikan sumbangsih pemikiran kepada masyarakat, pesantren maupun dunia akademik,” ungkap Umdatul Baroroh selaku Direktur Pusat FISI.

Ia menambahkah, dalam seminar nasional sekaligus peluncuran buku FISI yang ketiga ini, untuk menemukan formula ijtihad Kiai Sahal dalam mendekatkan fiqih dengan isu-isu kekinian di masyarakat.

Sementara itu, KH Abdul Ghofur Maimun yang hadir sebagai narasumber menjelaskan bahwa Islam itu identik dengan fiqih, karena dalam memecahkan sebuah problem di masyarakat  yang menjadi referensi adalah fiqih. Maka fiqih ini harus lebih berkembang dan bisa memberikan solusi tepat dalam memecahkan masalah di masyarakat. Sehingga FISI ini harus mempunyai karakter dan ciri khas dalam menjawab isu-isu kekinian dan tantangan zaman saat ini, terangnya.

Sedangkan narasumber lain, KH Abdul Moqsith Ghazali menjelaskan, fiqih sebagai salah satu ilmu keislaman yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan intelektual baru, karena fiqih ini tidak hanya bermain dalam ranah ibadah. 

“Akan tetapi, juga berbicara mulai dari privat sampai pada soal publik. Kiai Sahal memiliki penguasaan yang mendalam terhadap persoalan furu’ (cabang) ushul (pokok). Ia mengerti fiqih secara mendalam dan menguasai ushul fiqih sebagai satu kecakapan intelektual yang jarang dimiliki para pembaharu fiqih lain,” ungkap Moqsith.

Dalam menyuarakan fiqih sosial, lanjut Moqsith, Mbah Sahal tidak hanya mengeluarkan pendapat fiqih terkait soal-soal kemasyarakatan, melain untuk menyediakan kerangka metodologi ushul fiqihnya. Sehingga melalui perjalanan yang sangat panjang, yang dilakukan Mbah Sahal melalui lima ciri fiqih sosial, serta kepekaannya terhadap kondisi sosial masyarakat.

“Harapannya fiqih sosial ini bisa menjadi masa depan fiqih Indonesia,” tambahnya. (Siswanto/Fathoni)

     

Bagikan:
Jumat 29 Januari 2016 18:30 WIB
Pagar Nusa Gelar Rapat Pimpinan Nasional di Jakarta
Pagar Nusa Gelar Rapat Pimpinan Nasional di Jakarta
Foto: Suasana Peringatan Harlah Ke-30 dan Rapat Pimpinan Nasional Pencak Silat NU Pagar Nusa
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa menyelenggarakan Rapat Pimpinan Nasional di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, 29-30 Januari 2016.

Forum yang dirangkai dengan peringatan hari lahir (harlah) ke-30 Pagar Nusa dan harlah ke-90 NU ini menjadi ajang konsolidasi organisasi, pembahasan program, dan evaluasi perkembangan Pagar Nusa di berbagai tingkatan.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan dihadiri Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, segenap pengurus PP Pagar Nusa, serta ketua dan sekretaris utusan berbagai Pimpinan Wilayah PSNU Pagar Nusa di Indonesia.

Ketua panitia penyelenggara, Taufiq mengatakan, forum yang berlangsung dua hari ini juga akan fokus pada agenda kejuaraan nasional (kejurnas) dan kejuaraan daerah (kejurda) yang belum terlaksana pada periode kepungurusan sekarang. Ia berharap berbagai pembahasan dapat tuntas dalam durasi waktu yang disediakan.

"Tentu andil dari pimpinan wilayah merupakan energi bagi kami untuk memecahkan permasalahan dan melaksanakan program-program di Pagar Nusa," tuturnya.

Plt Ketua Umun PP PSNU Pagar Nusa Ajengan Mimin Haeruman yang dilantik 23 Desrmbet lalu berkomitmen menyelesaikan sejumlah program yang belum terealisasi. "Saya atau kita semua bertekad dalam satu semester ini kejurda dan kejurnas akan terlaksana," tuturnya.

Ia juga mengingatkan, Pagar Nusa bertanggung jawab untuk menjaga ulama dan NKRI. Menurut Ajengan Mimin, pendekar Pagar Nusa mesti terus waspada mengingat ancaman ekstremisme sudah masuk ke hampir semua lini. (Mahbib)
Jumat 29 Januari 2016 17:22 WIB
PBNU Lantik Beberapa Rektor UNU
PBNU Lantik Beberapa Rektor UNU
Jakarta, NU Online
Sebagai wujud perhatian PBNU pada dunia pendidikan, Rais Aam PBNU bersama Ketua Umum PBNU kembali melantik beberapa rektor Universitas Nahdlatul Ulama di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya No 164 (29/01/16).

Adapun mereka yang dilantik adalah, Prof Dr HM Hadin Muhjad, MHum sebagai rektor UNU Kalimantan Selatan, Dr Rachmat Sahputra, MSi sebagai rektor UNU Kalimantan Barat, dan Prof Dr H Nasrudin Suyuti, Msi, yang dilantik sebagai rektor UNU Sulawesi Tenggara.

Dalam pengarahannya, Rais ‘Aam PBNU KH Ma'ruf Amin menyampaikan pentingnya produktifitas dalam pengelolaan organisasi, baik di NU secara umum, maupun tentunya di lingkungan universitas NU secara spesifik. Sebagai pencetak kader, UNU mempunyai minimal dua fungsi dalam pelaksanaan programnya, yaitu mencetak manusia yang mutafaqqihin atau generasi yang alim atau pintar dalam pengetahuan, sekaligus mutakhashishin, alias terampil dan ahli dalam berbagai bidang.

Para rektor hampir semuanya berasal dari luar pulau Jawa itu diambil sumpahnya oleh Ketum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA. Wajah mereka tampak sumringah setelah secara resmi dilantik. 

Hadir pula dalam pelantikan tersebut Ketua PBNU Hanif Saha Ghofur, Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Wasekjend Imam Pituduh dan Ishfah Abidal Aziz. (Red: Mukafi Niam)
Jumat 29 Januari 2016 16:2 WIB
Lesbumi PBNU Tekankan Pentingnya Menjaga Identitas dan Budaya Bangsa
Lesbumi PBNU Tekankan Pentingnya Menjaga Identitas dan Budaya Bangsa
Candra Malik, Agus Sunyoto, dan Jadul Maula (dari kiri ke kanan) saat memberi keterangan pers, Kamis (28/1/2016) malam di Media Center lantai 5 Gedung PBNU Jakarta.
Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Agus Sunyoto menyatakan bahwa globalisasi merupakan produk kapitalisme global yang berpotensi menggerus identitas bangsa, etnis, bahasa, budaya, agama, dan segala yang berciri lokal. Apabila suatu bangsa sudah tidak memiliki identitas bangsa, maka bangsa itu akan punah.

“Jika perubahan kekuasaan politik terjadi, maka suatu bangsa yang tidak memiliki identitas kuat akan hilang dari peradaban,” ungkap Agus saat Jumpa Pers usai Rakernas Lesbumi, Kamis (28/1/2016) di Media Center Gedung PBNU Lantai 5.

Ia menegaskan, suatu bangsa akan digiring oleh setting kapitalisme global menjadi masyarakat satu dunia yang memiliki satu identitas. Desain kapitalisme global yang telah disiapkan sejak abad ke-17 dirumuskan secara sistematis untuk memberikan persepsi bahwa bangsa barat merupakan bangsa superior.

“Mengapa budaya barat superior, sedangkan budaya lokal sendiri inferior. Sebenarnya Indonesia bangsa yang memiliki peradaban tinggi. Maka perlu kita perkuat tradisi lokal, jangan sampai kita menjadi bangsa inlander seperti yang dicita-citakan mereka,” tegas Agus didampingi pengurus Lesbumi lain, Candra Malik dan Jadul Maula. 

Ia menambahkan, lahirnya Islam Nusantara merupakan jawaban dari permasalahan kapitalisme global yang merongrong budaya lokal bangsa. Upaya untuk menangkal bahaya liberalisme dan fundamentalisme merupakan tujuan Islam Nusantara seperti Gerakan Non-blok menetralisir perang dingin blok barat dan blok timur.

“Proses Islamisasi di Indonesia disiarkan melalui kesenian bukan melalui pedang. Islam yang menyatu dengan budaya membentuk suatu peradaban yang khas. Hal itu yang membedakan Islam di Indonesia dengan bangsa lain,” pungkasnya. (Afifah Marwa/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG