IMG-LOGO
Daerah

Takmir Masjid Se-DIY Diskusikan Radikalisme

Selasa 2 Februari 2016 18:30 WIB
Bagikan:
Takmir Masjid Se-DIY Diskusikan Radikalisme
Yogyakarta, NU Online
Sekarang ini, radikalisme menjadi fenomena global. Dan umat Islam menjadi kelompok yang dipecundangi karena sebagian pakar-pakar di dunia, mengatakan kalau Islam adalah biang radikalisme, padahal itu tidak benar.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Nurul Hak, M.Hum dalam Sarasehan Takmir Masjid se-DIY yang bertajuk Peran Masjid Menangkal Radikalisme, Ahad Pagi (31/1). 

Nurul Hak yang juga tercatat sebagai Dosen SKI Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tersebut mengatakan bahwa fenomena radikalisme muncul akibat adanya sekelompok umat Islam yang memahami Al-Qur’an hanya sebatas tekstualnya saja. 

Acara yang bertempat di Basecamp Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga tersebut, menghadirkan dua pembicara sekaligus, yakni pakar hukum dan politik UIN Sunan Kalijaga, Prof KH Yudian Wahyudi A. MA PhD dan Ketua Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) DIY, KH Abdul Muhaimin. 

KH Abdul Muhaimin yang mendapatkan kesempatan pertama untuk berbicara, menyampaikan fakta-fakta bahwa leluhur bangsa Indonesia telah akrab dengan toleransi, bukan sikap radikal. Oleh karena itu, lanjutnya, masjid masa depan harus mampu menyebarkan sikap toleransi tersebut.

“Proyeksi masjid masa depan adalah masjid yang ramah, yang santun dengan membangun harmoni sesama pemeluk agama,” ujarnya di hadapan puluhan takmir masjid. 

Sementara itu, Prof KH Yudian Wahyudi dalam kesempatan yang sama menguraikan tentang Islam Nusantara yang ramah terhadap budaya lokal. 

“Para Wali Songo, dulu berdakwah itu tidak asal-asalan. Mereka tidak menggunakan pedang. Tapi menggunakan pendekatan kebudayaan. Misalnya, Sunan Kudus ketika berdakwah di Kudus yang saat itu penduduknya mayoritas Hindu, mengharamkan menyembelih sapi. Karena apa? Sapi itu merupakan hewan yang suci bagi kalangan Hindu. Itu salah satu bentuk penghormatan Sunan Kudus kepada orang Hindu sekaligus sebagai strategi dakwahnya,” urainya panjang lebar. 

Oleh karena itu, lanjutnya, kita harus mempertahankan prestasi yang telah dicapai oleh para pendahulu kita. Jangan sampai, kita merusaknya dengan membiarkan gerakan-gerakan radikal semakin berkembang di negeri ini. 

“Prestasi yang dicapai oleh Islam Nusantara hari ini adalah pencapaian besar dunia Islam saat ini. Jangan biarkan dirusak oleh orang-orang yang berpaham radikal, yang tidak paham hakikatnya, Islam di Nusantara ini,” tandasnya. (Nur Rokhim/Mukafi Niam) 
Bagikan:
Selasa 2 Februari 2016 23:4 WIB
MWCNU Kebayoran Lama Ingin Terlihat, Bukan Hanya Terdengar
MWCNU Kebayoran Lama Ingin Terlihat, Bukan Hanya Terdengar
Jakarta, NU Online
Utusan lima ranting NU di Kecamatan Kebayoran Lama Kota Jakarta Selatan sepakat memilih Ustadz H Sakhori sebagai Ketua MWCNU Kebayoran Lama. Didampingi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Selatan, konferensi majelis wakil cabang NU Kebayoran Lama berlangsung sesuai AD/ART NU hasil Muktamar Ke-33 NU di Jombang 2015.

Sementara KH Maksum Nasuha diangkat oleh dewan Ahlul Halli wal Aqdi sebagai Rais Syuriyah MWCNU Kebayoran Lama. Tampak hadir Ketua PCNU Jakarta Selatan H Abdurrazak Alwi, Katib Syuriyah PCNU Jakarta Selatan KH Taufiq Rahman, dan Ustadz H Syaiful Amri dari kepengurusan PCNU Jakarta Selatan.

Ketua terpilih MWCNU Kebayoran Lama Ustadz H Sakhori menyatakan bahwa dirinya sebenarnya belum pantas untuk menerima amanah tersebut. Menurutnya, banyak orang di Kebayoran Lama lebih alim dan lebih gesit dari dirinya.

“Semoga kepengurusan MWCNU Kebayoran Lama ke depan lebih nyata dan terlihat, bukan hanya terdengar. Kepengurusan NU ke depan melakukan kerja-kerja konkret untuk keumatan. Saya memohon dukungan dari semua pihak,” kata Ustadz H Sakhori.

Konferensi ini dipandu oleh Ustadz H Irfan Zidni dari kepengurusan PCNU Jakarta Selatan. Pertemuan ini berlangsung penuh kehangatan antarpengurus. Forum ini mengamanahkan kepengurusan baru Kebayoran Lama dengan masa khidmah 2015-2016.

Pertemuan yang berlangsung di Kompleks Perguruan Al-Asyiratus Syafi’iyyah Jalan KHM Syafi’I Hadzami Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan pada Jumat (29/1) malam, mengamanahkan ketua dan rais syuriyah baru untuk membentuk tim formatur kepengurusan.

“Maret kita jadualkan pelantikan MWCNU se-Jakarta Selatan. Semoga kedekatan kita dengan makam muallim KHM Syafi’i Hadzami membawa berkah bagi pertemuan kita ini,” kata H Irfan Zidni. (Alhafiz K)

Selasa 2 Februari 2016 22:30 WIB
PMII ITS Napak Tilas ke Kantor PBNU Pertama di Harlah Ke-90 NU
PMII ITS Napak Tilas ke Kantor PBNU Pertama di Harlah Ke-90 NU

Surabaya, NU Online
Ahad, (31/1) merupakan hari bersejarah bagi Nahdliyyin di Nusantara. Hal itu bertepatan dengan 90 tahun kelahiran Nahdlatul Ulama. Tepatnya di Jalan Bubutan VI/2, Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 silam. Di tempat inil pula PBNU berkantor untuk pertama kali.

Beragam cara dilakukan Nahdliyyin dalam menyambut hari lahir ke-90 dari jam’iyyah ini. Begitu pula dengan yang dilakukan Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sepuluh Nopember ITS Surabaya.

Dalam menyambut harlah ini, PMII ITS yang dikomandani Muhammad Iqbal El-Ghiffary ini melakukan napak tilas dan Istighotsah di kantor PBNU pertama yang saat ini menjadi gedung PCNU Surabaya itu. Dipimpin langsung oleh sahabat Iqbal, Istighotsah berlangsung khusyuk dan khidmat.

“Alhamdulillah, telah terlaksana agenda napak tilas dan doa bersama sahabat PMII ITS. Semoga dengan dengan napak tilas ini, sahabat-sahabat bisa menghayati perjuangan serta mendoakan para masyayikh NU, dan tetap membawa semangat Sepuluh Nopember di setiap geraknya. Tentunya ini menjadi sebuah bentuk perwujudan kami untuk tetap berada di barisan para ulama,” ujarnya.

Di akhir kegiatan ini, mahasiswa Teknik Geomatika ITS angkatan 2012 ini juga berharap Nahdlatul Ulama bisa tetap menjadi perekat bagi warga seluruh element bangsa di Indonesia. “Selain itu, besar harapannya NU tetap dapat menjadi pengayom bagi semua elemen golongan dan tentunya bisa tetap menjaga nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin di bumi Nusantara,” tuturnya. (Ahmad Hanan/Mahbib)

Selasa 2 Februari 2016 21:3 WIB
Hadapi MEA, IPPNU Garut Luncurkan Produk Kreatif
Hadapi MEA, IPPNU Garut Luncurkan Produk Kreatif
Jakarta, NU Online
Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU) Garut menyambut baik kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang mulai berlaku pada Desember 2015. Kepengurusan pelajar NU Garut ini meresmikan tiga produk di jalan Cimanuk Kelurahan Muara Sanding Kecamatan Garut Kota, Sabtu (30/1).

Mereka mengembangkan tiga usaha kreatif yang dirintis IPPNU Garut sejak 2014 lalu. Tiga produk itu mencakup produk kuliner jajanan khas yang terkenal dengan pelbagai level pedasnya, Seblak Calawak, cemilan, dan juga karangan bunga.

Dari segi sajian tampak berbeda dari seblak pada umumnya, variasi kerupuk dengan aneka porsi yang ditawarkan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Setiap harinya Seblak Calawak habis sekira 80 cup ditambah pesan-antar untuk wilayah Garut Kota. Pelanggan dapat juga menjumpai jajanan seblak ini Jalan Cimanuk Kelurahan Muara Sanding.

Penanggung jawab umum usaha kreatif ini Sofa Siti Marwah mengatakan, “Ketiga usaha ini tidak berdiri tanpa hambatan, tetapi karena kekompakan pengurus dan keinginan pengurus IPPNU Garut kuat, usaha ini bisa terwujud sebagai kontribusi kami dalam mengahadapi MEA, dengan kualitas yang terbaik dan siap bersaing dengan negara-negara yang tergabung di dalam MEA.”

Produk lainnya Makring Calawak, cemilan ringan yang terdiri atas dua jenis produk, emplod dan keripik jagung. Menurut penanggung jawab produk ini Sella Farijah, keduanya merupakan jajanan khas Garut yang disajikan dengan varian rasa mulai dari Original, Calawak Seuhah, Calawak Ngacay, dan Calawak Jengkang.

Usaha ini sehari menghabiskan sekira 100 bungkus dengan pembeli dari beragam kalangan. Untuk membelinya bisa via pesan-antar atau langsung ke alamat yang sama dengan tempat Seblak Calawak.

Sementara produk terakhir karangan bunga yang terbuat dari kedebong pisang. Ketua tim unit usaha ini Siti Rohmah membuat kerajinan berupa variasi bunga seperti bunga mawar, bunga tulip dan berbagai bunga sesuai pesanan pembeli. Umumnya kerajinan ini belum terlalu familiar di kalangan masyarakat, tetapi justru disambut hangat karena dinilai memiliki daya tarik tersendiri.

Meski berbahan dasar kedebong pisang, daya tahannya bisa lebih lama karena dibuat seawet mungkin dengan bahan pendukung lainnya. Dengan demikian, pemesan tidak perlu khawatir cepat rusak jika disimpan sebagai hiasan rumah atau hiasan lainnya dalam waktu lama. (Red Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG