IMG-LOGO
Internasional

Peringati Harlah Ke-90 NU, PCINU Turki Napak Tilas Jejak Sejarah Islam

Rabu 3 Februari 2016 15:1 WIB
Bagikan:
Peringati Harlah Ke-90 NU, PCINU Turki Napak Tilas Jejak Sejarah Islam
Konya, NU Online
Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCINU) Turki mengadakan rangkaian kegiatan di Kota Konya, Turki dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) Ke-90 Nahdhatul Ulama, Selasa (2/2/2016). Dalam peringatan Harlah NU kali ini, Konya menjadi pilihan warga Nahdliyin Turki sebagai tempat refleksi dan napak tilas jejak dan nilai-nilai sejarah Islam sejak zaman Bani Saljuk (1077–1307).

Ziarah ke makam Maulana Jalaluddin Rumi mengawali kegiatan bertajuk ‘Cinta dari Konya untuk Nusantara’ ini. Nahdhiyin dari beberapa kota di Turki hadir, salah satunya Deo A Pramadhan yang menyempatkan hadir dari Kota Malatya. 

“Pesan-pesan Rumi tentang cinta dan perdamaian yang disampaikan dalam konteks konflik dan perpecahan antargolongan pada zamannya, sangat relevan dengan kondisi saat ini,” tutur Deo  yang sedang menyelesaikan Studi Teologi Islam di Universitas Inonu Turki. 

Di samping itu, pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah PCINU Turki (2016-2018) ikut menyemarakkan kegiatan ini. 

“Pesan cinta dan toleransi Rumi melalui puisi-puisinya, sangat sesuai dengan ajaran yang menjadi ciri NU sejak dilahirkan 90 tahun lalu yaitu sikap tasamuh (toleran) dan tawazun (seimbang). Menapaktilasi Maulana Rumi dan merawat pesan-pesannya sangat penting dan cocok dalam acara Peringatan Harlah 90 Tahun NU di tengah situasi potensi perpecahan umat Islam saat ini,” papar Katib Syuriyah Agung Anggoro, mahasiswa doktoral Universitas Selcuk Konya Turki.

Dalam peringatan kali ini, Nahdhiyin Turki diajak untuk terus merawat warisan tradisi NU. Membaca yasin, tahlil dan doa bersama khas Nahdliyin melengkapi rangkaian kegiatan setelah ziarah. Untuk mengingat perjuangan pendiri dan tokoh-tokoh NU, rangkaian kegiatan Harlah NU di Turki ini ditutup dengan nonton bareng film dokumenter berjudul Nahdlatul Ulama dan Sejarah Kebangsaan.  

“Kerinduan suasana tahlilan di Indonesia terobati dengan acara seperti ini. Kami ingin merawat tradisi-tradisi NU meski jauh dari Tanah Air,” kata ketua pantia kegiatan, Hari Pebriantok. (Bernando J Sujibto/Fathoni)

Bagikan:
Jumat 29 Januari 2016 23:30 WIB
Pemerintah Indonesia Serahkan Asrama Mahasiswa Kepada Al Azhar
Pemerintah Indonesia Serahkan Asrama Mahasiswa Kepada Al Azhar
ilustrasi: universitas Al Azhar
Kairo, NU Online
Pemerintah Indonesia melalui Duta Besar RI untuk Mesir, Dr Nurfaizi Suwandi, pada Kamis (28/1) di Kairo, menyerahkan empat gedung asrama mahasiswa kepada Universitas Al Azhar.

"Asrama itu merupakan hibah dari pemerintah Indonesia yang sepenuhnya akan dikelola oleh Universitas Al Azhar," ujar Dubes Nurfaizi kepada Antara Kairo usai penyerahan.

Dubes secara simbolis menyerahkan asrama tersebut kepada Wakil Syeikh Agung Al Azhar Prof Dr Abbas Shouman, yang didampingi Rektor Universitas Al Azhar, Prof Dr Ibrahim Al Hudhud.

Empat gedung asrama berkapasitas huni sebanyak 1.200 mahasiswa itu merupakan hibah Indonesia di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hibah berdasarkan Keppres No. 8 Tahun 2014 tersebut bernilai Rp54 miliar atau sekitar lima juta dolar AS sesuai kurs waktu itu.

Prof Shouman dalam sambutannya, mewakili Syeikh Agung Al Azhar Prof Dr Ahmed Al Tayeb, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Indonesia atas bantuan hibah berupa asrama tersebut.

"Al Azhar menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada pemerintah Indonesia atas hibah ini, yang pada gilarannya tidak saja memperkuat hubungan dengan Al Azhar, tapi juga mempererat hubungan bilateral Mesir dan Indonesia," ujar Prof Shouman.

Rektor Al Azhar Prof Ibrahim Hudhud pada kesempatan sama mengungkapkan, Indonesia adalah negara pertama yang membangun asrama di tanah milik Al Azhar dan menjadi contoh bagi negara-negara lainnya. 

"Bukanlah sesuatu yang mengherankan jika Indonesia menjadi negara asing pertama membangun asrama di tanah Al Azhar, mengingat mahasiswa asing pertama yang belajar di Al Azhar juga berasal dari Indonesia, yang dahulu kala disebut Al Jawy (Orang Jawa)," ujar Prof Hudhud.

Dubes Nurfaizi menjelaskan, sesuai pembicaraan antara Pemerintah Indonesia dengan Al Azhar, asrama tersebut akan ditempati oleh campuran mahasiswa Indonesia, mahasiswa Mesir dan dan mahasiswa asing lainnya. 

"Dengan pembauaran penghuni asrama dimaksud, diharapkan adanya peningkatan prestasi belajar dan saling interaksi budaya yang mengedepankan pemahaman Islam yang rahmatan lil alamin," ujar Dubes Nurfaizi yang akan mengakhiri tugas misi diplomatiknya di Mesir pada akhir Januari 2016 ini.

Nurfaizi menegaskan, Al Azhar merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter tokoh-tokoh Islam moderat di Indonesia.

Kepala Pelaksana Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Kairo yang pelaksana tugas sebagai Atase Pendidikan, Lauti Nia Astri Sutedja mengatakan, saat ini mahasiswa Indoensia di Al Azhar tercatat sekitar 3.200 orang.

Para mahasiswa itu selain kuliah di Al Azhar Pusat di Kairo, juga di cabang-cabang Al Azhar yang tersebar di sejumlah provinsi, seperti Mansoura, Tanta, Zakazik, Alexandria, Sharm El Sheukh, dan Tafahna. 

Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indoensia (PPMI) Mesir, abdul Gofur Mahmudin, mengharapkan kehadiran asrama tersebut.

"Ada dua hal menyangkut kehadiran asrama hibah Indonesia terebut, yaitu peningkatan prestasi akademi, dan kedua adalah memberi keamanan dan kenyamanan belajar bagi mahasiswa," ujar mahasiswa asal Pandeglang, Banten, itu.

Sebelumnya, asrama tersebut secara simbolis diresmikan oleh Presiden SBY pada 30 Oktober 2014, menjelang berakhirnya masa bakti sebagai Kepala Negara. (Antara/Mukafi Niam)
Jumat 29 Januari 2016 22:31 WIB
Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif”
Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif”
Ilustrasi: the daily sheeple
PBB, NU Online
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengecam kegiatan permukiman Israel sebagai "tindakan provokatif" yang memunculkan pertanyaan tentang komitmen Israel pada solusi dua-negara di tengah meningkatnya rasa frustrasi rakyat Palestina akibat pendudukan selama hampir 50 tahun.

Rakyat Palestina menginginkan suatu negara merdeka di Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur, wilayah-wilayah yang direbut Israel dalam perang 1967.

Putaran terakhir pembicaraan damai gagal pada April 2014 dan kekerasan antara Israel-Palestina telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir.

Israel menegaskan pada Kamis bahwa akan mencadangkan sebidang tanah luas yang subur di Tepi Barat, dekat Yordania, tempat Israel telah mempunyai banyak peternakan di permukiman yang dibangun di atas tanah yang akan dijadikan wilayah negara oleh Palestina. 
Ban juga mengatakan ia "sangat terganggu" dengan laporan bahwa pemerintah Israel yang telah menyetujui rencana pembangunan lebih dari 150 unit rumah baru di "permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki".

"Tindakan provokatif ini akan meningkatkan pertumbuhan populasi pemukim, lebih lanjut meningkatkan ketegangan dan merusak setiap prospek untuk langkah politik ke depan," kata Ban dalam Pertemuan Dewan Keamanan PBB di Timur Tengah.

"Kegiatan permukiman yang terus berlanjut merupakan penghinaan terhadap rakyat Palestina dan masyarakat internasional. Kegiatan itu benar-benar menimbulkan pertanyaan mendasar tentang komitmen Israel pada solusi dua-negara," ujar Sekjen PBB seperti dilansir kantor berita Reuters.

Ban mengatakan rasa frustrasi terus meningkat di kalangan warga Palestina. 

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Samantha Power mengatakan bahwa Washington sangat menentang aktivitas permukiman.

"Langkah-langkah yang bertujuan memajukan program permukiman Israel ... tidak sesuai dengan solusi dua negara dan menimbulkan pertanyaan legal tentang niat jangka panjang Israel," kata Power kepada Dewan Keamanan PBB.

Menurut data statistik pemerintah dan pusat kajian Israel, sekarang ini ada sekitar 550.000 pemukim Yahudi yang tinggal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Sementara itu, sekitar 350.000 warga Palestina tinggal di Yerusalem Timur dan 2,7 juta lainnya di Tepi Barat.

Kepala delegasi Palestina di PBB Riyad Mansour menyerukan Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan terhadap permukiman Israel.

"Tindakan itu harus melibatkan langkah-langkah dari semua negara dan seterusnya tidak memberikan bantuan agar dapat membuat Israel mempertanggungjawabkan tindakannya," kata Mansour kepada Dewan Keamanan PBB.

Utusan Israel untuk PBB Danny Danon menuduh Dewan Keamanan bersifat "munafik" karena telah mengutuk "serangan teroris" yang dilakukan di tempat lain di dunia tetapi tidak di Israel. Namun, dia tidak membahas tentang permukiman Israel.

"Jalan menuju perdamaian memang panjang dan sulit, tetapi Israel berkomitmen untuk melakukan setiap upaya," ujar Danon kepada Dewan Keamanan PBB.(Antara/Mukafi Niam)
Selasa 26 Januari 2016 14:0 WIB
Dibarengi Haul Gus Dur, Muskercab PCINU Korsel Hasilkan 3 Program Strategis
Dibarengi Haul Gus Dur, Muskercab PCINU Korsel Hasilkan 3 Program Strategis
Suasana Muskercab PCINU Korea Selatan.
Yeongcheon, NU Online
Ditengah cuaca musim dingin yang begitu ekstrim di Korea Selatan (Korsel), PCINU Korsel begitu semangat dan antusias mengadakan musyawarah kerja cabang (Muskercab) yang dibarengi dengan digelarnya Haul Ke-6 Gus Dur serta Haul Ke-2 Mbah Sahal Mahfudz akhir pekan lalu. Acara berlangsung begitu khidmat dengan dihadiri oleh para pengurus PCINU Korsel dan warga Nahdliyin.

Acara Haul Gus Dur dan Mbah Sahal dimulai dengan tahlil dan istighotsah. Diadakannya haul kedua tokoh besar NU ini diharapkan menjadi momentum untuk mengingat sejarah hidup Gus Dur dan Mbah Sahal. Pemikiran, ilmu, dan karya-karya mereka semoga bisa menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Setelah acara haul selesai dilanjutkan dengan Muskercab rutin PCINU Korsel. Hadir sebagai pembicara, Ketua PCINU Korsel yang baru terpilih beberapa bulan lalu, Zaenal Arifin.

Zaenal berpesan kepada para pengurus NU di Korsel untuk tetap menjaga NU. "Bukti kita cinta Rosulullah yakni dengan mencintai ulama, dan NU adalah wadah berkumpulnya para ulama Ahlussunah Wal Jamaah,” ujarnya.

“Kalau ada yang mengaku cinta Nabi tetapi tidak cinta ulama, maka dia telah berbohong besar," imbuhnya.

Dalam Muskercab tersebut, PCINU Korsel menghasilkan tiga  program strategis diantaranya:

1. Mengadakan pelatihan kepemimpinan dasar, mencakup kepemimpinan, keaswajaan, manajemen masjid dengan tujuan memperkuat akidah dan sarana dakwah, serta benteng dari paham-paham radikal.

2. Menerbitkan buku-buku saku yang berisi tentang dasar-dasar amaliyah warga NU yang akan dibagikan gratis untuk jamaah masjid dan musholla diseluruh Korea Selatan.

3. Pendatangan para dai NU dalam safari Ramadhan.

“Semoga acara tersebut dapat bermanfaat sebagai wadah silaturrahim antarwarga Nahdliyin di Korsel dan meningkatkan pelayanan PCINU Korsel dalam berkhidmah untuk umat melalui kegiatan-kegiatan tersebut. (Imam Sibaweh/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG