IMG-LOGO
Fragmen

Sanad Kitab 'Tafsir Jalalain' KH Hasyim Asy'ari

Rabu 3 Februari 2016 17:1 WIB
Bagikan:
Sanad Kitab 'Tafsir Jalalain' KH Hasyim Asy'ari
Syaikh Mahfud Termas Pacitan, adalah salah satu ulama Indonesia Abad ke-18 yang dikenal dan masyhur namanya di dunia Islam timur tengah. Ia dikenal sebagai “sanad terakhir (the last link) Al-Bukhari”. Ia juga merupakan guru dari Hadlratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan merupakan guru yang turut mempengaruhi pola pikir dan tradisi KH Hasyim. Salah satunya adalah tradisi sanad yang dibawa oleh KH Hasyim Asy'ari dari Kiai Mahfud Termas ini.

Tradisi tersebut (yakni tradisi mengaji Hadits dan sanad) langsung saja menarik perhatian para ulama Nusantara waktu itu. Banyak para ulama dan santrinya yang mengaji pada KH Hasyim Asy'ari. Termasuk gurunya sendiri di waktu sebelumnya yakni KH Kholil Bangkalan.

Berikut ini sanad Kitab Tafsir Jalalain (2 bagian), melalui jalur Syaikh Mahfud Termas sampai kepada penulis tafsir, yakni Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Shuyuthi.

1. KH Hasyim Asy’ari.
2. Dari Syaikh Mahfud Termas. 
3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki. 
4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6. Dari Syaikh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi
7. Dari As-Syams Muhammad bin Salim Al-Hifni
8. Dari Syaikh Muhammad nin Muhammad Al-Badiri
9. Dari Syaikh Abi Dliya’ Ali bin Ali As-Syibramalisi
10. Dari Syakh Ali Al-Halabi
11. Dari Syaikh Ali Az-Zayyady
12. Dari Syaikh Yusuf Al-Armayuni
13. Dari Syaikh Jalaluddin As-Shuyuthi (penulis tafisr Bagian pertama)
14. Dari Dari Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli (penulis tafsir bagian ke-2)

Sumber:
Kitab Kifayatul Mustafid li Ma Ala minal Asanid, Karya Syaikh Mahfud Termas.

(Ahmad Nur Kholis)

Tags:
Bagikan:
Jumat 22 Januari 2016 14:2 WIB
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (2-Habis)
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (2-Habis)
Untuk membantu kesuksesan jalannya program “Missi Islam”, para kader dipersiapkan sebaik mungkin dengan dibekali berbagai pelatihan. Pembekalan biasanya dilakukan dengan memberikan kursus sentral selama empat puluh hari.

Latihan terdiri dari out door dan in door untuk melatih  para calon da’i agar mereka siap di segala medan. Bila mereka sudah siap, lalu dilakukan kontak dengan Pengurus Cabang NU setempat. Selanjutnya mereka dikirim ke tempat tugas, menetap di sana, dengan seluruh biaya hidup ditanggung oleh PCNU setempat.

Menurut salah satu kader yang terlibat dalam “Lembaga Missi Islam” di tahun 1960-an, H. Ahmad Syaibani Ilham, menuturkan kader yang siap untuk dikirim kemudian dibagi menjadi tiga tingkatan. Pembagiannya berdasarkan jenjang pendidikan yang mereka miliki.

“Tiga tingkatan tersebut, pertama Missi Muda (setingkat SMP), kemudian Missi Dewasa (setingkat SMA) dan terakhir Missionaris (taraf sarjana),” ungkap Syaibani, kepada NU Online, belum lama ini.

Ditambahkan pria yang pernah menjabat sebagai lurah Pucangan Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah itu, keberadaan “Lembaga Missi Islam” ini cukup membantu dakwah Islam, khususnya di daerah terpencil seperti Nias, Irian, Timor, NTT, dan sebagainya.

Sayangnya, keberadaan “Lembaga Missi Islam” ini tak dapat bertahan lama. Dalam perjalanannya, lembaga ini memang tidak pernah dibubarkan, tapi sejak tahun 1982 kegiatannya vakum.

Semasa Muktamar NU di Cipasung tahun 1994, “Missi Islam” pernah coba untuk dihidupkan, namun akhirnya mati kembali. Dalam Muktamar Lirboyo 1999, namanya malah hilang dari Anggaran Dasar NU. Meski demikian, aset-aset yang dimilikinya tetap menjadi milik NU. Bidang garap lembaga ini dialihkan pada LDNU (Lembaga Dakwah NU).

“Di zaman Pak Idham ada yang mau mengurus (Missi Islam,-red), tapi sekarang sudah tidak ada yang mengurusnya,” kata Syaibani, yang juga pernah mengemban amanah Wakil Ketua PCNU Sukoharjo tahun 1964. (Ajie Najmuddin)


Sumber:
- Wawancara H Ahmad Syaibani Ilham (2015)
- Antologi NU

Rabu 20 Januari 2016 13:0 WIB
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)
H Ahmad Syaibani Ilham (79).
Di tengah pembicaraan kami mengenai riwayat hidup dan pengabdiannya bersama NU, Syaibani (79 tahun) sedikit mengenang masa mudanya, kala ia pernah terlibat bersama kawan-kawannya dalam sebuah kegiatan yang dikenal dengan nama “Missi Islam”.

“Missi Islam ini didirikan oleh Pak Idham (KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU tahun 1952-1984, red) sekitar tahun 1961,” kenang Syaibani, saat ditemui di rumahnya, di daerah Pucangan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, belum lama ini.

KH Idham Chalid, sebagai pendiri lembaga Missi Islam menjadi ketua, didampingi H Anshary Syams (Sekretaris I) dan Danial Tandjung (Sekretaris II).

Missi Islam ini, lanjut Syaibani merupakan sebuah lembaga yang pendiriannya bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader muda NU untuk dikirimkan berdakwah ke daerah-daerah transmigrasi atau daerah-daerah minus Islam.

“Ketika itu saya sebagai staf pribadi KH Fattah Yasin, ditunjuk untuk menjadi salah satu koordinator. Gemblengan banyak dilakukan di pusat (Jakarta),” kata dia.

Tambahan data yang penulis peroleh dari sumber lain, angkatan pertama Missi Islam dikirim ke Irian Jaya, menjelang Pepera (1961), sebanyak 8 orang. Angkatan selanjutnya menyebar ke Sorong, Merauke, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Gorontalo, NTT, Nias, dan sebagainya, dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

“Beberapa dari para kader bahkan ada yang sukses mendirikan pesantren dan menetap di tempat ia dikirimkan,” ungkap Syaibani.

Banyak jasa yang berhasil ditorehkan lembaga ini. Di antara tokoh-tokoh NU yang pernah aktif di Lembaga Missi Islam adalah KH Idham Chalid, KH Saifuddin Zuhri, Anshary Syams, H. Danial Tanjung, Mr Suparman, Djawahir, Hisyam Zaini, dr Fahmi D Saifuddin, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Nuril Huda, Slamet Effendy Yusuf, Abdullah Syarwani, dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin)


Sumber: Wawancara H Ahmad Syaibani Ilham (2015)

Senin 18 Januari 2016 12:0 WIB
Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI
Detik-detik Kiai Wahab Chasbullah Nyaris Tertangkap PKI
Pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948 merupakan di antara tragedi yang sempat mengguncangkan stabilitas perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia yang tempo itu masih jatuh bangun. Beberapa literatur menyatakan, dalam aksi ini beberapa pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama, dan rakyat yang dianggap tidak sehaluan dengan PKI dibunuh secara kejam. Sebelumnya PKI telah melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, menculik lawan-lawan politik, dan menggerakkan kerusuhan di berbagai tempat.

Terlalu banyak data yang menjadi bukti peristiwa di atas. Di antaranya Majalah Aula edisi Mei 2007, sedikit telah menyajikan fragmen-fragmen kekejaman PKI dan segenap simpatisannya seperti dimaksud. Tapi di sini kami hendak spesifik menyajikan fakta sejarah yang berhasil dicatat oleh sejarahwan NU, KH. Saifudin Zuhri tentang Kiai Abdul Wahab Chasbullah yang hampir saja tertangkap oleh simpatisan PKI andai saja beliau tidak bersiasat mengubah identitas penampilannya. Kisah itu diutarakan Kiai Saifudin Zuhri dalam buku "Guruku Orang-orang dari Pesantren". Berikut ini kesaksian mantan mentri agama di era presiden Sukarno tersebut:

"Aku laporkan bahwa menjelang pemberontakan PKI di Madiun, KH. A. Wahab Hasbullah, mengadakan latihan ulama di Ngawi. Aku baru pulang dari Ngawi 3 hari sebelum pecah pemberontakan PKI.

Ketika latihan ulama dibubarkan karena sudah selesai, tidak ada yang mengerti bahwa PKI mengadakan pemberontakan di madiun. Padahal jarak Ngawi dan Madiun dekat sekali. Para peserta latihan pulang ke daerahnya maing-masing.

KH Abdul Wahab Chasbullah pulang ke Jombang dengan naik kereta api. Perjalanan ke Jombang ini harus melewati Madiun. Ketika telah mendekati Madiun, beliau baru mengerti bahwa di Madiun ada pemberontakan PKI, tetapi beliau sudah terlanjur berada dekat stasiun Madiun. Agar orang tidak mudah mengenali siapa beliau, terpikir olehnya untuk menghilangkan identitasnya. Sorban dilipat dimasukkan ke dalam tasnya. KH Abdul Wahab Chasbullah berhasil berdiplomasi dengan salah seorang di stasiun untuk memperoleh peci hitamnya. Peci hitam pun ia kenakan. Dengan peci hitam ini, orang tidak mudah mengenali Kiai Wahab. Maka, selamatlah beliau hingga tiba di rumahnya, di Jombang. Jika saja PKI mengenali Kiai Wahab, pastilah beliau dijadikan tawanan golongan kakap, dan entah bagaimana nasib selanjutnya. Tetapi syukur alhamdulillah Tuhan tetap melindungi beliau.

Sebuah pesantren di Madiun, lanjut kiai Saifudin Zuhri, kalau tidak salah pesantren Takeran, adalah pesantren pertama yang dijadikan sasaran pengganyangan oleh PKI. Beberapa santri menjadi korban dan pesantren dibakar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sasaran utama PKI adalah orang-orang republikan, pegawai pemerintah, dan laskar-laskar Hizbullah-Sabilillah, barisan banteng, barisan pemberontakan, dan lain-lain yang pro pemerintah Yogya.

"Suasana kota Yogya diliputi oleh kemarahan rakyat terhadap PKI dan Belanda, yang belakangan ini terus-menerus melanggar gencatan senjata dan melakukan insiden-insiden di tapal batas. Korban banyak yang jatuh di kedua belah pihak. Yogya diliputi oleh awan gelap, penuh tanda tanya bagaimana keluar dari kegentingan yang mendalam ini. "Demikian fragmen cerita yang direkam KH. Saifudin Zuhri. (M Haromain)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG