IMG-LOGO
Nasional

Kiai Penerjemah Kitab dari Ploso Kuning Berpulang

Kamis 4 Februari 2016 1:2 WIB
Bagikan:
Kiai Penerjemah Kitab dari Ploso Kuning Berpulang
KH Aliy As'ad dan KH Ali Ma'sum (sumber: KR Jogja)
Jakarta, NU Online
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..., Pengasuh Pondok Pesantren Nailul Ula Ploso Kuning, Yogyakarta, KH Aliy As'ad MM berpulang ke rahmatullah di RSUP Dr Sardjito pada Rabu (3/2) sekitar pukul 14.30 WIB.

Berita tersebut dibenarkan Ketua PBNU KH Imam Azis di gedung PBNU, Jakarta Rabu (3/2). “Kita mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Kiai Aliy As’ad,” katanya.  

Menuru Imam, Kiai Aliy adalah salah seorang tokoh NU di kota gudeg. Ia merupakan salah seorang pengelola majalah PWNU DIY pada zaman KH Ali Ma’sum masih hidup.

Tak hanya itu, ia juga menerjemahkan belasan kitab ke dalam bahasa Indonesia, di antara yang diketahui Imam adalah Alfiyah dan Fathul Wahab.

“Dua kitab itu yang saya tahu. Saya pernah bersama dia dalam sebuah mobil dan dia mengedit terjemahannya,” lanjutnya.

Kiai Aliy lahir di Kudus, Jawa Tengah. Kemudian tinggal di Yogyakarta. Di kota itu, selain aktif di NU, ia aktif juga di politik, pernah menjadi anggota DPRD dari PPP pada zaman Orde baru. Setelah Reformasi, ia pernah aktif di PKB dan menjadi anggota DPR/MPR RI periode 1999-2004.  (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 4 Februari 2016 19:4 WIB
PBNU Pertajam Rumusan Konsep Islam Nusantara
PBNU Pertajam Rumusan Konsep Islam Nusantara
Jakarta, NU Online
Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) mengangkat Islam Nusantara dari pelbagai sudut sebagai bahasan dua hari di Jakarta, Kamis-Jumat (4-5/2). Pengurus LBM PBNU sengaja membahas Islam Nusantara untuk menghasilkan rumusan baku terkait Islam Nusantara sebagai pedoman bagi warga NU dan masyarakat umum dalam memahami konsep yang menjadi tema Muktamar Ke-33 NU di Jombang.

“Sebagai strategi komunikasi kampanye Islam Nusantara sudah tercapai. Yang perlu dikembangkan ke depan adalah bagaimana merumuskannya secara operasional,” kata Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf di hadapan sedikitnya 30 kiai yang hadir.

Sejak diangkat sebagai tema muktamar, gagasan Islam Nusantara terus menjadi perbincangan publik hingga saat ini. Kontroversi, kesalahpahaman, dan juga apresiasi terhadap gagasan ini terus mengalir.

Forum ini dimaksudkan dalam rangka mengeluarkan sebuah rumusan yang berguna untuk mengerem laju kesalahpahaman sejumlah kalangan. Untuk internal NU sendiri baik pengurus maupun nahdliyin, rumusan ini bisa dijadikan pedoman.

Bahtsul masail ini mengarah pada kajian mendalam perihal Islam Nusantara. Dari forum ini, gagasan Islam Nusantara akan menjadi jelas di mana letak perbedaannya dengan gagasan lain seperti Pribumisasi Islam, Islam rahmatan lil alamin, atau gagasan besar lainnya.

Tampak hadir pengurus harian Syuriyah PBNU, pengurus LBM PBNU, dan sejumlah kiai pesantren. (Alhafiz K)
Kamis 4 Februari 2016 15:1 WIB
Islam Nusantara Tidak Mengubah Substansi Ajaran Islam
Islam Nusantara Tidak Mengubah Substansi Ajaran Islam
Rais Syuriyah PBNU, KH Ahmad Ishomuddin.
Jakarta, NU Online
Islam sebagaimana dimaklumi adalah agama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Untuk seluruh umat manusia sebagai rahmat untuk alam semesta (rahmatan li al-'alamin). Mula-mula Islam diturunkan di wilayah Arab yang kemudian disebarluaskan oleh para juru dakwah ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke wilayah Nusantara. 

Demikian disampaikan oleh Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin melalui akun Facebook pribadinya, Kamis (4/2/2016).

“Oleh karena itu, pada prinsipnya tidak ada perbedaan antara Islam yang diturunkan di wilayah Arab dengan Islam yang sampai ke Nusantara. Artinya, eksistensi konsep Islam Nusantara tidak dimaksudkan untuk mengubah Islam yang pernah diturunkan di Arab dan tidak pula anti-Arab,” ujar Gus Ishom.

Islam Nusantara, lanjutnya, mengupayakan terwujudnya ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Justru Islam Nusantara lahir karena watak Islam sendiri yang rahmatan li al-'alamin. Ajaran Islam--sebagaimana juga dimaklumi--secara garis besar terdiri dari tiga bagian besar. Pertama, aqidah yang merupakan fondasi dalam beragama, berisi tentang apa yang wajib diyakini dengan sebenar-benarnya. Kedua, syari'ah dan fikih. Ketiga, akhlak dan tashawwuf.

Ajaran Islam dalam kategori pertama yang berkaitan dengan akidah dan kategori ketiga yang berkaitan dengan akhlak/tashawwuf bukanlah ranah garapan Islam Nusantara, karena kesamaannya dengan yang berada di wilayah selain wilayah Nusantara.

Adapun syari'ah dan fikih yang pada hakikatnya terdiri dari dua bagian, yaitu: Pertama, hal-hal yang sifatnya tetap (al-tsawabit) dan tidak boleh mengalami perubahan, seperti tata cara peribadatan yang sama di kalangan muslim Nusantara maupun wilayah lainnya. Kedua, hal-hal berupa ajaran Islam yang bisa berubah (al-mutaghayyirat) karena pertimbangan waktu, tempat, kondisi dan adat istiadat. 

Bagian kedua ini, tambah Ishom, merupakan lapangan ijtihadiyyah karena dua sebab, yakni (1) keberadaan teks-teks suci baik berupa ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi SAW. Yang terbuka bagi penafsiran atau interpretatif (al-muhtamilat) dan (2) keberadaa persoalan kehidupan yang al-maskut 'anhu (tidak dijelaskan aturannya dalam teks suci), seperti suatu persoalan yang tidak ditemukan dalilnya, baik yang memerintahkan maupun yang melarangnya. “Jadi, wilayah bahasan subtantif Islam Nusantara terbatas pada ajaran Islam yang dimungkinkan berubah karena kedua faktor penyebab tersebut,” tuturnya.

Dengan demikian, imbuhnya, substansi Islam Nusantara diantaranya menyoroti gagasan tentang pentingnya nasionalisme religius yang di dalam terimplementasikan dua tugas pokok negara yakni menjaga eksistensi agama dan mengatur kehidupan dunia agar lebih aman, damai (tidak saling menumpahkan darah), harmonis dan makmur. 

Selain itu, juga menyoroti ajaran Islam yang secara moderat menghargai dan akomodatif terhadap adat istiadat dan budaya setempat terutama di wilayah Nusantata selama tidak dilarang dalam ajaran Islam, sesuai kaidah fikih yang dikemukakan oleh Ibn 'Uyainah, "la yanbaghi al-khuruju min 'adati al-nas illa fi al-haram".

“Pendek kata, Islam Nusantara adalah prototype ajaran Islam moderat yang ramah, yang rahmatan li al-'alamin dalam bingkai paham Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah yang berurat berakar di bumi Nusantara lagi patut menjadi teladan bahkan bagi umat Islam di wilayah Arab dan Timur Tengah yang hingga kini terus menerus bertikai dan berpecah belah,” pungkasnya. (Red: Fathoni)

Kamis 4 Februari 2016 7:2 WIB
Dukung Evan Dimas ke Spanyol, Menpora Berikan Sarung dan Tasbih
Dukung Evan Dimas ke Spanyol, Menpora Berikan Sarung dan Tasbih
Menpora Imam Nahrawi menyematkan sarung di leher pemain sepakbola berbakat Indonesia, Evan Dimas.
Jakarta, NU Online
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mendukung pemain sepakbola berbakat Indonesia, Evan Dimas yang akan ke Spanyol untuk menjalani trial di klub RCD Espanyol B selama empat bulan. Dukungan Menpora ditandai dengan memberikan sarung dan tasbih kepadanya.

"Kami dari pemerintah sangat bangga ketika anak bangsa seperti Evan Dimas ini mendapat kepercayaan dari klub besar di Spanyol untuk menjalani trial selama empat bulan di klub RCD Espanyol B. Saya berikan sarung dan tasbih agar Evan selalu ingat sama Tuhan YME dan tidak lupa untuk sholat," kata Menpora saat konfrensi pers di Media Center Kemenpora, Jakarta, Selasa (2/2), usai menerima Evan Dimas di ruang kerjanya.

Menpora mengaku sudah menyampaikan rencana Evan Dimas ke Spanyol kepada Presiden Joko Widodo. "Presiden sangat senang sekali, diharapkan ke depan lebih banyak lagi pemain-pemain muda Indonesia diberikan kesempatan untuk dapat berkembang dan berkarir di luar negeri. Semoga ilmu yang kamu dapat disana nanti bisa memberikan manfaat dan kebaikan untuk sepakbola Indonesia ke depan. Pemerintah akan terus berusaha yang terbaik untuk melakukan pembenahan terhadap sepakbola kita agar bisa menjadi wadah bagi pemain-pemain yang berpotensial seperti kamu," tambah Menteri asal Bangkalan Madura ini.  
 
Evan Dimas yang juga mantan kapten Timnas U-19 itu memohon doa restu dari masyarakat Surabaya dan Indonesia agar tidak mengecewakan selama trial di Espanyol B, empat bulan ke depan. Kepergian Evan ke Spanyol atas beasiswa dari La Liga yang disalurkan melalui Nine Sports. Pemain berusia 20 tahun itu sangat berharap bisa mendapatkan kontrak bersama Espanyol B. "Doakan saya bisa menjalani program ini dengan baik," tuturnya.
 
Evan sendiri sangat bersemangat, karena akan pergi ke Spanyol untuk menimba ilmu. Jaket, baju olah raga, sepatu bola merupakan barang wajib yang harus dibawa Evan. Bahkan dirinya merasa kaget dan senang ketika dibekali oleh Menpora sarung dan tasbih untuk mengingatkan saya agar tetap sholat ketika di sana. "Tadi dikasih sarung dan tasbih oleh Menpora, saya senang karena itu menjadi bekal bagi saya untuk sholat dan ingat kepada Allah," kata dia.  
 
Keluarga Evan juga mendukung penuh upaya pemain asal Jawa Timur ini untuk menimba ilmu sekaligus menapaki karirnya.  Meski tak tega melepas Evan ke 'Negari Matador' selama empat bulan, kedua orang tuanya tetap memberikan restu untuk di masa depan karier anaknya."Ya sebenarnya tak tega, tapi gimana lagi demi masa depan karier Evan Dimas ya harus merelakan kepergiannya, demi kepentingan Evan Dimas sendiri," tutur ibu Evan, Ana. (Hasanudin/Abdullah Alawi)
 
 


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG