IMG-LOGO
Daerah

Keikhlasan Santri dan Kiai untuk NKRI Tak Diragukan

Kamis 4 Februari 2016 4:1 WIB
Bagikan:
Keikhlasan Santri dan Kiai untuk NKRI Tak Diragukan
Bintan, NU Onlne
Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi mengatakan, sejarah membuktikan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak terlepas dari pendidikan pesantren.

“Pesantren mempunyai andil besar di negeri ini, maka tidak ada alasan pihak mana pun untuk tidak mendukung. Keteguhan dan keikhlasan santri dan kiai sudah tidak diragukan lagi,” katanya di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Bintan, Kepulauan Riau, Rabu (3/2).

Menurut dia, karena itulah kalangan pesantren pasti akan mempertahankan mati-matian untuk tegaknya NKRI.

Ia menyinggung tentang radikalisme agama yang harus dihentikan. Hal itu tentu dengan menghadirkan dakwah penuh kasih sayang dan kerendahan hari karena ekspresi beragama yang paling sederhana adalah kerendahan hati.

Seentara pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Kiai Nukhan mengatakan kegiatan seperti ini akan terus dilaksanakan sebagai benteng umat dari paham radikalisme yang mengarah pada terorisme.

Hadir pada kesempatan itu Mustasyar PCNU Bintan Indra Setiawan, Sekretaris GP Ansor Bintan Ahmad Kholil, tokoh NU lain dan warga NU. (Abdul Majid/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 4 Februari 2016 23:3 WIB
Ratusan Gus dan Lora Akan Ikuti Daurah Aswaja NU Jatim
Ratusan Gus dan Lora Akan Ikuti Daurah Aswaja NU Jatim
Surabaya, NU Online
Dalam waktu dekat ratusan gus dan lora akan mengikuti daurah Aswaja yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jawa Timur. Para penerus tampuk kepemimpinan di pesantrennya masing-masing ini akan mengikuti pendidikan keaswajaan NU awal Maret mendatang.

"Tujuan diselenggarakan daurah ini adalah sebagai sarana bagi terciptanya silaturahmi antargus atau lora," kata Ketua panitia daurah Ustadz Ahmad Nur Fauzi kepada NU Online (3/2).

Menurut Nur Fauzi, kegiatan ini menegaskan bahwa keberadaan para gus dan lora sangat penting bagi kerekatan hubungan di masa mendatang. "Karena mereka akan menjadi tumpuan masa depan pesantren dan masyarakat," kata Koordinator Daurah Aswaja di PW Aswaja NU Center Jatim.

Pihaknya sangat berharap bahwa para putra kiai dan pengasuh pesantren telah tertanam nilai-nilai Aswaja NU sejak usia muda. Ia mengajak para gus dan lora peduli, memberikan perhatian, dan menjadi pejuang loyal Aswaja. Dengan begitu mereka benar-benar merasa dilibatkan dalam menjaga Aswaja sejak dini.

Usai daurah, mereka diharapkan membumikan Aswaja NU di pesantren masing-masing baik dalam bentuk kajian maupun halaqah Aswaja, kata alumni Pesantren Sidogiri Pasuruan ini.

Selama daurah peserta akan dikenalkan dengan pengertian Aswaja, sejumlah amaliah Nahdliyah, dan kebangsaan. "Para gus dan lora akan diberikan gambaran seputar kemunculan sekte dalam Islam yang dibarengi dengan cara menyikapinya," kata Ustadz Fauzi.

Menurut rencana, daurah akan dilaksanakan pada 13 Maret mendatang. "Kami akan menggunakan ruangan Salsabila milik PWNU Jatim karena lebih mudah dijangkau dan representatif untuk kegiatan daurah," ungkapnya.

Sebaran penawaran kepesertaan telah dilakukan untuk didata lebih lanjut. Panitia sudah mengirimkan surat ke sejumlah pesantren di Jatim dan meminta kesediaan mereka dalam kegiatan yanga akan berlangsung hingga 8 Maret mendatang.

"Hal itu dilakukan agar panitia bisa melayani peserta yang jelas putra kiai dan pengasuh pesantren dengan baik," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alahfiz K)

Kamis 4 Februari 2016 22:3 WIB
GP Ansor Imbau Pemuda Kota Pariaman Dukung Keberadaan Dubalang
GP Ansor Imbau Pemuda Kota Pariaman Dukung Keberadaan Dubalang
Pariaman, NU Online
Pimpinan GP Ansor Kota Pariaman mengapresiasi rencana Pemerintah Kota Pariaman untuk melestarikan kehidupan bernagari serta membangkitkan silsilah kebudayaan Minangkabau yang sudah lama hilang. Untuk upaya ini, Pemkot mencoba mengaktifkan kembali Dubalang Adat.

"Ansor Kota Pariaman menilai ini adalah upaya Pemkot Pariaman untuk hadir di tengah masyarakat dalam menciptakan rasa aman dan menjamin terwujudnya ketertiban. Upaya ini harus didukung oleh semua pihak, terlebih lagi pemuda di Kota Pariaman," kata Ketua GP Ansor Kota Pariaman Ory Sativa Sakban, Kamis (4/2).

Dulunya Dubalang adalah pembantu ninik mamak. Barangkali sekarang, bisa diimplementasikan sebagai bentuk pembantu pemerintah dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban di lingkungan kaum, suku, dan korong kampuang dalam desa atau lurah. Dubalang bertugas menjaga setiap gangguan, ancaman keamanan, dan ketertiban yang datang dari dalam maupun dari luar, kata Ory.

Menurutnya, Ansor berharap kehadiran Dubalang di desa-desa dapat mengantisipasi dan mencegah masuknya paham radikalisme dan aliran yang menyimpang dari kaidah ajaran Islam, menjaga kerukunan hidup beragama, menjadi pioner deradikalisasi di tengah masyarakat, memutus mata rantai penyalahgunaan narkoba, mengawal kebijakan jam wajib belajar dan magrib mengaji, menjadi icon gerakan kembali ka surau, mengantisipasi segala bentuk perjudian di desa, menghentikan orgen tidak senonoh, mengawal terwujudnya perkampungan wisata, mengantisipasi keributan dan kericuhan dalam masyarakat.

Pada intinya menciptakan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat agar etika, moral, hukum dan undang-undang dapat berjalan dengan  baik,  dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat sebagaimana mestinya.

"Para Dubalang hendaknya dipilih dari mereka yang selama ini sudah menjadi panutan, harus berakhlak baik, dan memiliki kemampuan membela diri. Namun dalam menjalankan kato mandareh, Pemerintah harus membekali para Dubalang dengan pengetahuan ajaran agama Islam yang baik, rahmatan lil alamiin, pemahaman kaidah adat Minangkabau, ideologi Pancasila, Wawasan Nusantara dan bela negara, keterampilan yang dibutuhkan, serta pengetahuan tentang peraturan perundangan yang berlaku," tutur Ory.

Pemko Pariaman harus membekali Dubalang dengan peraturan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan ketika Dubalang sudah mulai dioperasionalkan. Seperti dubalang akan bertindak semena-mena, atau Dubalang yang menjadi biang keributan itu sendiri. Hal ini tidak kita inginkan. Besar harapan para Dubalang menjadi tokoh di kaum masing-masing yang disegani bukan ditakuti, panutan, sehingga wibawa ninik mamak, hukum dan pemerintah menjadi lebih baik.

"Ansor Kota Pariaman mengimbau seluruh kader Ansor, pemuda Kota Pariaman dan seluruh pihak ikut mendukung terwujudnya Dubalang yang baik," kata Ory.

Menjadi Dubalang, berarti ikut pengawal tegaknya etika, moral, hukum dan peraturan yang berlaku. Menjadi pahlawan terwujudnya keamanan, ketertiban, serta menjadi pembela Tanah Air dari segala macam ancaman yang datang, baik dari luar maupun dari dalam. Terwujudnya keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat adalah tanggung jawab dan cita-cita semua pihak, termasuk GP Ansor Kota Pariaman, katanya. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Kamis 4 Februari 2016 21:3 WIB
Jelang Lomba Rebana, Fatayat NU Ambarawa Barat Intensifkan Latihan
Jelang Lomba Rebana, Fatayat NU Ambarawa Barat Intensifkan Latihan
Semarang, NU Online
Pimpinan Ranting Fatayat NU Ambarawa Barat, Ambarawa, Semarang menambah intensitas latihan menjelang lomba menyanyikan Mars Fatayat dan rebana yang akan diselenggarakan pada Ahad (7/2). Mereka memanfaatkan Balai Pekon Ambarawa Barat sebagai tempat mereka mengasah kemampuan, Kamis (4/2) siang.

Ketua Fatayat NU Ambarawa Barat Siti Fadilah menyampaikan, bahwa latihan itu sudah dari jauh-jauh hari dilakukan dengan lokasi di kediaman salah satu pengurus. Pada hari ini pihaknya sengaja berlatih di Balai Pekon ini supaya tim kami dapat menguasai panggung yang akan digunakan pada lomba besok.

Perlombaan Mars Fatayat dan rebana diselenggarakan oleh Fatayat NU Ambarawa. Lomba ini rencananya akan diikuti oleh seluruh ranting Fatayat NU yang berjumlah 8 tim, ditambah tim rebana yang juga berjumlah 8 tim. Semua peserta berjumlah 16 tim dengan dua jenis perlombaan.

"Kami sudah lama latihan baik tim rebana maupun tim Mars Fatayat. Harapannya adalah agar kami bisa tampil maksimal pada saat lomba dilaksanakan," ujar Sekretaris Fatayat Ambarawa Barat Sugiarti.

Ambarawa Barat, kata Sugiarti, selain harus tampil maksimal juga harus menang sebab lokasi lomba berada di sini. Selain latihan suara, seragam dan segala macam aksesoris pendukungnya pun sudah kami persiapkan agar tampilan secara fisik dan suara bisa serasi dan bagus.

Lomba ini pertama kalinya digelar. Di samping sebagai pemicu semangat para anggotanya, lomba ini diharapkan dapat memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Fatayat NU Ambarawa yang baru dibentuk dan dilantik beberapa bulan yang lalu tampil eksis dan langsung bekerja.

Sayangnya saat dikonfirmasi mengenai hadiah, belum ada kabar pasti baik dari pihak anak cabang maupun ranting. “Mereka hanya memberikan informasi bahwa apapun hadiahnya, itu bukan tujuan utama kami. Tetapi bagaimana caranya agar Fatayat di desa kami bisa menjadi yang terbaik di antara desa-desa yang lain.” (Henudin/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG