IMG-LOGO
Pesantren

Fiqh Sosial, Gagasan Khas Pesantren

Kamis 4 Februari 2016 5:1 WIB
Bagikan:
Fiqh Sosial, Gagasan Khas Pesantren
Pati, NU Online
Fiqh sosial perlu dideklrasikan sebagai gagasan khas pesantren. Itu dimaksudkan untuk perkembangan fiqh dan arah kemaslahatan umat Islam Indonesia. Karena saat ini berkembang fiqh berhaluan radikal di Indonesia.

Demikian disampaikan Rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) KH Abdul Ghaffar Rozin, dalam acara Seminar Nasional yang bertajuk “Fiqh Sosial: Masa Depan Fiqh Indonesia” di Aula kampus setempat, Kamis, (28/1) lalu.

“Fiqh sosial lahir dari keresahan Kiai Sahal terhadap kajian fiqh yang mengalami stagnasi. Dari itu, Kiai Sahal bertekad untuk melakukan terobosan sebagai upaya memecahkan berbagai persoalan masyarakat menggunakan fiqh,” ujarnya.

Sosok yang kerap disapa Gus Rozin ini melanjutkan, menemukan formula ijtihad oleh Kiai Sahal, merupakan poin penting dalam mendekatkan fiqh dengan isu-isu kekinian. Tawaran Kiai Sahal melalui lima prinsip pokok dalam Fiqh Sosial merupakan terobosan yang penting dalam pengembangan masa depan fiqh Indonesia. Selain itu, fiqh Indonesia ini juga untuk menghalau fiqh-fiqh radikal yang mulai bermunculan.

“Kaitannya dengan mashlahah, Kiai Sahal memilih ijtihad jama’i. Kedua hal ini seharusnya diteladani oleh masyarakat pesantren dari Kiai Sahal agar lebih dinamis dalam merespon isu-isu kekinian,” tegasnya.

Dalam Seminar itu turut hadir KH Abdul Ghofur Maimun dan Abdul Moqsith Ghazali sebagai narasumber. Di waktu yang sama ada peluncuran buku ketiga yang ditulis oleh para peneliti Pusat Studi Pesantren & Fiqh Sosial IPMAFA. (suhendra/abdullah alawi)

Bagikan:
Kamis 4 Februari 2016 10:0 WIB
Pondok Tremas Terima Kunjungan Mahasiswa Ilmu Kepolisian
Pondok Tremas Terima Kunjungan Mahasiswa Ilmu Kepolisian
Pacitan, NU Online
Sebanyak 10 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Jakarta melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Tremas Pacitan, Jawa Timur, Rabu (2/2/2016) sore. Kunjungan dilakukan dalam rangka sosialisasi tentang bahaya paham radikal kepada para santri.

Rombongan diterima dengan hangat oleh pengurus Pondok Tremas H Multazam Surur dan para santri di Aula Rusunawa Pondok Tremas. Turut serta dalam kunjungan tersebut, Kaur Bin Ops Binmas Polres Pacitan Ipda Agus Irianto dan beberapa personel Polsek Kecamatan Arjosari, Pacitan.

Ketua rombongan, AKP Ruliyan Syauri mengaku senang dapat bersilaturahmi dengan para kiai Tremas dan para santrinya. Ia bersyukur dapat mengunjungi pesantren yang telah melahirkan para alumni yang banyak berjasa bagi pembangunan Indonesia ini.

Dalam paparanya tentang bahaya paham radikal dan aliran sesat, AKP Ruliyan menjelaskan, paham radikal yang mengatasnamakan agama saat ini mulai menyasar masyarakat yang berpengetahuan agama rendah, baik yang berada di perkotaan maupun di pedesaan.

“Utamanya orang yang berada di bawah garis kemiskinan, ini akan mudah dipengaruhi untuk masuk dalam gerakanya,” katanya di hadapan para santri.

Oleh karena itu, lanjutnya, masyarakat utamanya para santri agar dapat membentengi diri dari pengaruh paham radikal dan aliran sesat yang saat ini mulai marak, dan disinyalir telah menyusup ke pesantren-pesantren.

“Jangan sampai pesantren menjadi sarang pembibitan paham radikal dan teroris,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, AKP Ruliyan juga menyampaikan seputar isu-isu kekinian yang sedang menjadi perhatian pihak kepolisian. Di antaranya peredaran narkoba dan penjualan organ manusia.

Para santri diharap untuk selalu menjaga kondusivitas lingkungan pesantren. “Mari kita bersama-sama menjaga lingkungan kita agar tetap aman, sehingga proses belajar di pesantren dapat berjalan baik,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengurus Pondok Tremas H Multazam Surur berharap, para santri dapat menyerap apa yang disampaikan oleh Kepolisin Republik Indonesia melalui mahasiswa STIK ini. H Multazam meminta polisi dan pesantren dapat bersinergi dalam menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat.

Kunjungan mahasiswa yang didampingi oleh dosen pembimbing, Kombespol Bambang Priambodo dan Yuni, salah satu dosen di STIK, adalah dalam rangka melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di wilayah Kabupaten Pacitan. Mereka adalah satu kelompok mahasiswa STIK ke-67. (ZaenalFaizin/Mahbib)
Kamis 4 Februari 2016 6:6 WIB
Pelajar Al-Abror Peringati Harlah NU dengan Pawai Obor dan Hadrah
Pelajar Al-Abror Peringati Harlah NU dengan Pawai Obor dan Hadrah
Para pelajar NU Al-Abror memperingati harlah NU ke-90 dengan pawai obor
Pamekasan, NU Online
Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU Al Abror, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan semarak memeringati harlah NU ke-90, mulai Ahad malam (31/1) sampai Senin (1/2). Mereka melakukan pawai obor diiringi tepukan hadrah.

Ketua PK IPPNU Al Abror Riris Sakinah menegaskan, pawai obor yang mengelilingi desa dimaksudkan sebawai wujud eksistensi NU yang terus menerangi gulita kehidupan.

"Di tengah merebaknya upaya menghitamkan ajaran Islam dan nilai kebangsaan negeri ini, NU secara istiqomah menebar nilai-nilai kebajikan. Inilah yang menginspirasi kami menggelar pawai obor dalam harlah NU kali ini," terang Riris Sakinah.

Sementara kehadiran musik tradisional hadrah, kata Ketua PK IPNU Al-Abror Thariq Al-Muaddam, ialah sebagai bentuk komitmen PK IPNU-IPPNU Al Abror untuk mempertahankan tradisi bersolawat tanpa menghilangkan nilai kesenian.

Pengasuh Pesantren Al-Abror KH Syatibi Sayuthi mengetengahkan kebanggaannya pada para pelajar NU Al Abror. Ia mendoakan semoga spirit melestarikan paham Ahlussunnah wal-Jama'ah terus ditekuni murid dan santrinya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Rabu 3 Februari 2016 9:3 WIB
KH Fuad Affandi Serukan Santri di Jawa Hijrah ke Sunda
KH Fuad Affandi Serukan Santri di Jawa Hijrah ke Sunda
KH Fuad Affandi
Bandung, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, KH Fuad Affandi menyerukan kepada para santri di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk hijrah di Jawa Barat. Ada beberapa alasan penting yang menurutnya hal itu dilakukan.

"Saya punya beberapa alasan untuk kemaslahatan bersama. Pertama, populasi santri di Jawa Timur dan Jawa Tengah itu sudah banyak. Di Jawa Timur pesantren merata. Di Jawa Tengah lumayan kuat. Sementara di Jawa Barat ini masih tergolong minim untuk sebuah populasi muslim terbesar dengan jumlah pesantren yang sedikit. Lihat saja data dari Kementerian Agama itu. Dari tahun ke tahun sama saja grafiknya. Karena itu, Jawa Barat sebenarnya butuh alumni-alumni pesantren dari Jateng dan Jatim agar hijrah di Jabar," tutur kiai yang murid Mbah Maksum Lasem tersebut kepada Senin, (1/2).

Alasan lain yang mendorong pernyataan tersebut adalah bahwa di Jawa Timur dan Jawa Tengah banyak pesantren yang anak-anak kiainya berjubel. Terkadang pesantrennya tidak berkembang tetapi jumlah kiainya dari keturunan tersebut sudah sangat banyak, belum lagi ditambah menantu dan keturunannya yang muda-muda.

"Itu sudah sering over sehingga seharusnya hijrah. Tidak perlu semua gus-gus itu menetap di rumahnya hanya karena alasan mewarisi pesantren abahnya. Selagi sudah cukup ada beberapa pewaris yang mengelola, maka tidak ada salahnya hijrah dengan niat yang tulus untuk mengamalkan ngelmunya. Mungkin di Jawa  Tengah atau Jawa Timur hanya jadi lapis kedua atau lapis ketiga, kalau pindah ke Jawa Barat bisa menjadi kiai nomor satu di masing-masing daerah," terangnya memotivasi.

Ilmu di wetan, Duit di Kulon
Menurut KH Fuad Affandi, ada sejumlah manfaat jika para anak-anak kiai di Jateng dan Jatim itu hijrah ke barat. Menurutnya, rezeki akan lebih banyak karena memang secara sosiologis ngelmu di wetan, duit di kulon. Kalau mencari ilmu agama rata-rata ke Jawa Timuran, maka mencari duit bisa di Jawa Barat.

"Orang Jawa, apalagi para santri, apalagi putra-putra kiai itu punya daya mental yang tangguh. Tapi tidak akan tangguh kalau menetap di kampung halamannya. Bisa kayak kodok. Kalau orang Jawa berani hijrah mengembangkan ilmunya, biasanya terhormat. Apalagi sekarang ini sudah modern. Jalinan silaturahmi melalui transportasi dan komunikasi mudah. Bapak dan emak tidak usah bersedih kalau ada anaknya pindah ke Jawa Barat. Gus-gus juga harus berani keluar kadang. Jangan jadi pecundang hanya berani menjadi kiai di kampungnya sendiri. Jangan hanya berani mewarisi, tetapi harus mau menciptakan warisan baru. Insya Allah Gusti Allah ijabahi," papar kiai yang juga pernah nyantri di Sarang Rembang dan Sunan Drajat Lamongan ini.

Pesan KH Fuad Affandi ini tentu saja merujuk pada calon-calon kiai yang belum menikah. Sebab kalau yang sudah menikah akan repot pindah. Karena itu bagi para kiai-kiai pemimpin pondok pesantren di Jawa Timur atau Jawa Tengah, sebaiknya juga merekomendasikan alumni-alumninya, terutama anak-anak kiai agar berkenan mencari jodoh di Jawa Barat dan berani membangun pesantren di Jawa Barat.

"Saya bisa bantu fasilitasi, sekadar mengarahkan. Cari jodoh di Jawa Barat, usaha di sini, kelola masjid mushola, rintis pelan-pelan pesantren di desa-desa. Banyak desa yang kosong dari keagamaan di Jawa Barat ini. Kosong dari keilmuan agama. Tapi semuanya kembali pada semangat perjuangan. Sulit itu biasa. Kalau santri takut kesulitan lebih baik jadi teroris saja hehe....." terangnya.

Dengan  gagasan itu pula KH Fuad Affandi  perlu mengatakan bahwa memeratakan dakwah ilmu pengetahuan kaum santri juga nantinya bisa mengikis paham-paham radikal di Jawa Barat.

"Kita pewaris Nahdlatul Ulama harus mampu menjawab tantangan. Sudahlah, para gus-gus, calon kiai, alumni pesantren, cobalah melakukan pembaharuan orientasi hidup ini. Kalau tidak di Jawa Barat ya bisa juga hijrah ke luar Jawa melalui programnya Mas Menteri Marwan Ja'far. Ayo kita ratakan kiai di seluruh negeri," jelasnya.[Ferli/Ismi/Alawi)

SEKILAS TENTANG KH.FUAD AFFANDI: Ia adalah seorang ulama. Pernah belajar di berbagai pesantren, antara lain di Pondok Al-Hidayah Lasem, Al-Anwar Sarang Rembang, Sunan Drajat Lamongan, dan Banjar Patroman Banjar. Dikenal sebagai ilmuwan nasional karena berbagai macam prestasi dan penghargaan untuk kaum tani dan lingkungan hidupnya. Pesantren Al-Ittifaq yang berada di Dusun Alam Endah, Ciburial, Rancabali Kabupaten Bandung itu telah dikenal sebagai pesantren yang mampu melahirkan alumni-alumni wirausahawan di bidang bisnis dan pertanian. Di pesantren itu, KH Fuad Affandi mengelola sekolah, madrasah, majelis taklim dan pertanian bersama masyarakat. Ia tergolong kiai langka karena kemampuannya mengubah tradisi kemasyarakatan yang kolot menjadi masyarakat yang berbudaya dan beradab. Sejak bukunya yang berjudul "Entreprenur Organik: Rahasia Sukses KH Fuad Affandi bersama Tarekat Sayuriahnya" beredar, banyak orang berkunjung ke pesantren Al-Ittifaq. Bahkan sekarang para kiai-kiai Jawa Timur dan Jawa Tengah sering secara khusus bersilaturahmi ke sana. Jejaring KH Fuad dalam urusan pemberdayaan pertanian dan wirausaha misalnya berlangsung dengan KHYusuf Chudlori Tegalrejo Magelang, dan KH Hasyim Affandi Temanggung Jawa Tengah. Untuk mengetahui kelengkapan informasi tentang KH Fuad Affandi dan Pesantren Al-Ittifaq, bisa menggali sumber berita dari Google.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG