IMG-LOGO
Fragmen

Sanad Kitab 'Shahih Bukhari' KH Hasyim Asy'ari

Kamis 4 Februari 2016 14:1 WIB
Bagikan:
Sanad Kitab 'Shahih Bukhari' KH Hasyim Asy'ari
Shahih Bukhari merupakan kitab hadis yang menjadi rujukan para ahli hadis maupun lembaga pendidikan Islam di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, pendiri NU KH Hasyim Asy’ari merupakan jalur pertama dari sanad kitab hadis masyhur tersebut.
  
Berikut ini sanad Kitab Shahih Bukhari, dari KH Hasyim Asy’ari melalui jalur Syaikh Mahfud Termas sampai kepada penulis hadits, yakni Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari yang terdiri dari jalur pertama dan kedua:

Jalur pertama:
1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfud Termas. 
3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki. 
4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6. Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani
7. Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi
8. Dari Syaikh Muhammad Ad-Dafri
9. Dari Syaikh Salim bin Abdillah Al-Bashri
10. Dari ayahnya: Abdillah bin Salim Al-Bashri
11. Dari Syaikh Muhammad bin Alaudin Al-Babili
12. Dari Syaikh Salim bin Muhammad As-Sanhuri
13. Dari Najm Muhammad bin Ahmad Al-Ghaytho
14. Dari Syaikh Al-Islam Zakariya bin Muhammad Al-Anshari
15. Dari Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani
16. Dari Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi
17. Dari Abil Abbas Ahmad bin Thalib Al-Hajar
18. Dari Husain bin Mubarak Az-Zabidi Al-Hambali
19. Dari Abil Waqt Abdil Awwal bin Isa As-Sijzi
20. Dari Abil Hasan Abdul Rahman bin Mudzaffar bin Dawud Ad-Dawudi
21. Dari Abi Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Srakhsi
22. Dari Abi Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar Al-Firabri
23. Dari Penyusunnya (orang yang menghimpun hadits), yakni: Al-Imam Al-Hafid Al-Hujjah Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim Al-Bukhari

Jalur kedua:
1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfudz Termas
3. Dari Sayyid Husain Al-Habsyi
4. Dari Ayahnya Muhammad Husain Al-Habsyi
5. Dari Umar bin Abdul Karim Al-Attar
6. Dari Sayyid Ali bin Abdil Bar Al-Wina’i
7. Dari Abdil Qadir bin Ahmad bin Muhammad Al-Andalusi
8. Dari Muhammad bin Abdillah Al-Idirsi
9. Dari Al-Quthb Muhammad bin Alauddin An-Nahruwali
10. Dari ayahnya
11. Dari Abil Futuh Ahmad bin Abdillah At-Thawusi
12. Dari Baba Yusuf Al-Hirawi
13. Dari Muhammad bin Syadzikhat Al-Farghani
14. Dai Abi Luqman Yahya bin Ammar Al-Khuttalani
15. Dari Muhammad bin Yusuf Al-Farbary
16. Dari Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari

Demikianlah sanad Kitab Shahih sampai KH Hasyim Asy’ari. Dari KH Hasyim Asy’ari inilah kebanyakan para ulama Indonesia setelahnya menimba ilmu.

Sumber:
Kitab Kifayatul Mustafid li Ma Ala minal Asanid, Karya Syaikh Mahfud Termas.

(Ahmad Nur Kholis)

Bagikan:
Rabu 3 Februari 2016 17:1 WIB
Sanad Kitab 'Tafsir Jalalain' KH Hasyim Asy'ari
Sanad Kitab 'Tafsir Jalalain' KH Hasyim Asy'ari
Syaikh Mahfud Termas Pacitan, adalah salah satu ulama Indonesia Abad ke-18 yang dikenal dan masyhur namanya di dunia Islam timur tengah. Ia dikenal sebagai “sanad terakhir (the last link) Al-Bukhari”. Ia juga merupakan guru dari Hadlratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan merupakan guru yang turut mempengaruhi pola pikir dan tradisi KH Hasyim. Salah satunya adalah tradisi sanad yang dibawa oleh KH Hasyim Asy'ari dari Kiai Mahfud Termas ini.

Tradisi tersebut (yakni tradisi mengaji Hadits dan sanad) langsung saja menarik perhatian para ulama Nusantara waktu itu. Banyak para ulama dan santrinya yang mengaji pada KH Hasyim Asy'ari. Termasuk gurunya sendiri di waktu sebelumnya yakni KH Kholil Bangkalan.

Berikut ini sanad Kitab Tafsir Jalalain (2 bagian), melalui jalur Syaikh Mahfud Termas sampai kepada penulis tafsir, yakni Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Shuyuthi.

1. KH Hasyim Asy’ari.
2. Dari Syaikh Mahfud Termas. 
3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki. 
4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6. Dari Syaikh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi
7. Dari As-Syams Muhammad bin Salim Al-Hifni
8. Dari Syaikh Muhammad nin Muhammad Al-Badiri
9. Dari Syaikh Abi Dliya’ Ali bin Ali As-Syibramalisi
10. Dari Syakh Ali Al-Halabi
11. Dari Syaikh Ali Az-Zayyady
12. Dari Syaikh Yusuf Al-Armayuni
13. Dari Syaikh Jalaluddin As-Shuyuthi (penulis tafisr Bagian pertama)
14. Dari Dari Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli (penulis tafsir bagian ke-2)

Sumber:
Kitab Kifayatul Mustafid li Ma Ala minal Asanid, Karya Syaikh Mahfud Termas.

(Ahmad Nur Kholis)

Jumat 22 Januari 2016 14:2 WIB
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (2-Habis)
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (2-Habis)
Untuk membantu kesuksesan jalannya program “Missi Islam”, para kader dipersiapkan sebaik mungkin dengan dibekali berbagai pelatihan. Pembekalan biasanya dilakukan dengan memberikan kursus sentral selama empat puluh hari.

Latihan terdiri dari out door dan in door untuk melatih  para calon da’i agar mereka siap di segala medan. Bila mereka sudah siap, lalu dilakukan kontak dengan Pengurus Cabang NU setempat. Selanjutnya mereka dikirim ke tempat tugas, menetap di sana, dengan seluruh biaya hidup ditanggung oleh PCNU setempat.

Menurut salah satu kader yang terlibat dalam “Lembaga Missi Islam” di tahun 1960-an, H. Ahmad Syaibani Ilham, menuturkan kader yang siap untuk dikirim kemudian dibagi menjadi tiga tingkatan. Pembagiannya berdasarkan jenjang pendidikan yang mereka miliki.

“Tiga tingkatan tersebut, pertama Missi Muda (setingkat SMP), kemudian Missi Dewasa (setingkat SMA) dan terakhir Missionaris (taraf sarjana),” ungkap Syaibani, kepada NU Online, belum lama ini.

Ditambahkan pria yang pernah menjabat sebagai lurah Pucangan Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah itu, keberadaan “Lembaga Missi Islam” ini cukup membantu dakwah Islam, khususnya di daerah terpencil seperti Nias, Irian, Timor, NTT, dan sebagainya.

Sayangnya, keberadaan “Lembaga Missi Islam” ini tak dapat bertahan lama. Dalam perjalanannya, lembaga ini memang tidak pernah dibubarkan, tapi sejak tahun 1982 kegiatannya vakum.

Semasa Muktamar NU di Cipasung tahun 1994, “Missi Islam” pernah coba untuk dihidupkan, namun akhirnya mati kembali. Dalam Muktamar Lirboyo 1999, namanya malah hilang dari Anggaran Dasar NU. Meski demikian, aset-aset yang dimilikinya tetap menjadi milik NU. Bidang garap lembaga ini dialihkan pada LDNU (Lembaga Dakwah NU).

“Di zaman Pak Idham ada yang mau mengurus (Missi Islam,-red), tapi sekarang sudah tidak ada yang mengurusnya,” kata Syaibani, yang juga pernah mengemban amanah Wakil Ketua PCNU Sukoharjo tahun 1964. (Ajie Najmuddin)


Sumber:
- Wawancara H Ahmad Syaibani Ilham (2015)
- Antologi NU

Rabu 20 Januari 2016 13:0 WIB
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)
H Ahmad Syaibani Ilham (79).
Di tengah pembicaraan kami mengenai riwayat hidup dan pengabdiannya bersama NU, Syaibani (79 tahun) sedikit mengenang masa mudanya, kala ia pernah terlibat bersama kawan-kawannya dalam sebuah kegiatan yang dikenal dengan nama “Missi Islam”.

“Missi Islam ini didirikan oleh Pak Idham (KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU tahun 1952-1984, red) sekitar tahun 1961,” kenang Syaibani, saat ditemui di rumahnya, di daerah Pucangan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, belum lama ini.

KH Idham Chalid, sebagai pendiri lembaga Missi Islam menjadi ketua, didampingi H Anshary Syams (Sekretaris I) dan Danial Tandjung (Sekretaris II).

Missi Islam ini, lanjut Syaibani merupakan sebuah lembaga yang pendiriannya bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader muda NU untuk dikirimkan berdakwah ke daerah-daerah transmigrasi atau daerah-daerah minus Islam.

“Ketika itu saya sebagai staf pribadi KH Fattah Yasin, ditunjuk untuk menjadi salah satu koordinator. Gemblengan banyak dilakukan di pusat (Jakarta),” kata dia.

Tambahan data yang penulis peroleh dari sumber lain, angkatan pertama Missi Islam dikirim ke Irian Jaya, menjelang Pepera (1961), sebanyak 8 orang. Angkatan selanjutnya menyebar ke Sorong, Merauke, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Gorontalo, NTT, Nias, dan sebagainya, dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

“Beberapa dari para kader bahkan ada yang sukses mendirikan pesantren dan menetap di tempat ia dikirimkan,” ungkap Syaibani.

Banyak jasa yang berhasil ditorehkan lembaga ini. Di antara tokoh-tokoh NU yang pernah aktif di Lembaga Missi Islam adalah KH Idham Chalid, KH Saifuddin Zuhri, Anshary Syams, H. Danial Tanjung, Mr Suparman, Djawahir, Hisyam Zaini, dr Fahmi D Saifuddin, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Nuril Huda, Slamet Effendy Yusuf, Abdullah Syarwani, dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin)


Sumber: Wawancara H Ahmad Syaibani Ilham (2015)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG