IMG-LOGO
Nasional

“Jangan Jadikan Adzan Seperti Alarm!”

Ahad 7 Februari 2016 17:1 WIB
Bagikan:
“Jangan Jadikan Adzan Seperti Alarm!”
Pringsewu, NU Online
Jangan jadikan adzan seperti alarm. Demikian kata Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Lampung Ustadz Munawir melihat fenomena masyarakat yang sering mengabaikan adzan dan tidak menjadikannya sebagai bentuk panggilan dari Allah subhanahu wata’ala untuk melaksanakan shalat.

"Adzan hakikatnya adalah panggilan dari Allah yang bukan hanya difungsikan untuk mengingat-Nya namun untuk bertemu dengan Nya," tegas Gus Nawir, begitu Ia biasa dipanggil, di depan jamaah Jihad (Ngaji Ahad) Pagi di Gedung NU Pringsewu, Lampung, Ahad (07/02).

Sebab itu, ia mengharapkan agar umat Islam tidak menjadikan fungsi adzan seperti alarm, dalam artian menjadikannya hanya untuk menandai waktu saja. "Janganlah begitu, adzan selesai  tapi shalat tidak segera dilaksanakan," tegasnya.

Shalat Dhahir, Shalat Batin


Gus Nawir menambahkan bahwa jika kita selalu menanamkan di dalam hati bahwa adzan merupakan panggilan dari Allah dan kita akan menghadap Allah maka hal ini dapat menambah kualitas ibadah shalat kita. "Shalat itu ada dua, shalat yang bersifat dhahir dan shalat yang bersifat ruh atau batin," katanya mengutip Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin.

Menurutnya, selain syarat dan rukun shalat yang bersifat dhahir, yang terpenting adalah melakukan shalat yang bersifat batin. "Hadirkan jasad dan jiwa kita kepada Allah sehingga hasil dari shalat kita akan benar-benar tampak dalam kehidupan kita, yaitu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar," tuturnya.

Ia mengatakan, jika ada seseorang yang tampak rajin melaksanakan shalat namun tetap melaksanakan perbuatan keji dan munkar bisa dipastikan bahwa shalat yang dilaksanakannya masih sebatas shalat dhahir.

Oleh karenanya Gus Nawir yang juga sekretaris MUI Kabupaten Pringsewu ini mengingatkan seluruh jamaah untuk senantiasa belajar meningkatkan kualitas shalat dengan menghadirkan hati dalam shalat yang dilakukan.

"Sebelum shalat, sucikan diri dari sifat ujub, takabbur, riya dan sebagainya dan camkan bahwa kita sedang menghadap Allah subhanahu wata’ala. Insya Allah kualitas shalat kita akan baik, wal hasil kita tidak akan melakukan perbuatan keji dan munkar dalam kehidupan kita," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Bagikan:
Ahad 7 Februari 2016 20:6 WIB
Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya
Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya
Gunung Kidul, NU Online
Terminologi 'jilbab halal' menarik perhatian Ketua PBNU H Imam Aziz. Istilah ‘jilbab halal’ beserta sertifikat halal yang menyertainya bagus-bagus saja di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Islam. Hanya saja yang terbaik adalah edukasi halal itu sendiri, bukan sertifikatnya.

"Produk bersertifikat halal memang perlu, tapi yang lebih perlu dan penting itu edukasi halal, " ujar H Imam Aziz kepada NU Online, Ahad (7/2).

Menurut Imam, halal dan haram itu bukan labelisasi tetapi pendidikan kepada masyarakat agar mereka memahami halal dan haram sebagaimana yang diajarkan Islam.

"Selain itu, labelisasi itu berisiko karena setelah sebuah produk itu sudah dicap halal, jangan-jangan di tengah-tengah perjalanan produk tersebut sudah tidak halal lagi. Dikarenakan tidak setiap saat badan itu mengontrol produk yang telah dicap halal," jelas Imam.

Ia menambahkan, kalau edukasi itu berjalan dengan baik, sebuah produk itu akan halal li dzatih (Red. halal pada produk), maupun halal li ghairih (Red. halal pada pengguna)," pungkas Ketua PBNU tersebut. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Ahad 7 Februari 2016 12:0 WIB
Ketua PP Muhammadiyah: NU dan Muhammadiyah itu Satu
Ketua PP Muhammadiyah: NU dan Muhammadiyah itu Satu
(Kiri-kanan) Rektor UII, KH A Musthofa Bisri, H Syafiq, dan Moderator berpose bersama selepas Seminar Nasional Sinergi NU Muhammadiyah
Yogyakarta, NU Online
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah H Syafiq A Mughni mengatakan, NU dan Muhammadiyah keduanya dalam proses yang semakin mendekat yang mengarah pada pandangan yang sama dalam banyak hal. Mulai dari aspek fikih, tasawuf, sampai dengan akidah. Jika hal itu terjadi, maka akan ada sinergi yang luar biasa.

Ia mencontohkan, dalam berfikih, Muhammadiyah melandaskan secara langsung pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan sementara NU menggunakan pendekatan mazhab. Muhammadiyah memang tidak bermadzhab sebagaimana NU. Tapi, bukan berarti Muhammadiyah antimadzhab. 

Sebaliknya dalam hal bermazhab, NU juga semakin fleksibel seperti penggunaan talfiq atau berpindah mazhab karena kondisi yang tidak memungkinkan seperti ketika haji. Dalam pandangan NU, persentuhan laki-laki dan perempuan bukan muhrim merupakan hal yang diharamkan, tetapi saat berhaji, warga NU melakukan talfiq pada mazhab Hambaliyah yang mengizinkannya. 

Dalam persoalan akidah, perubahan tradisi juga terjadi. Jika dahulu warga Muhammadiyah tidak berziarah kubur, kini bukan hal yang asing lagi bagi warga Muhammadiyah berziarah. Muhammadiyah kembali ke hadits yang sahih yang mengizinkan ziarah kubur. Ia sangat setuju dengan adanya tulisan di sejumlah makam yang berbunyi "Dilarang meminta-minta kepada orang yang sudah meninggal dunia." 

Syafiq mengungkapkan hal itu dalam seminar nasional Sinergi NU dan Muhammadiyah yang digelar Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (UII) di Auditorium Kahar Muzakkir, kampus setempat, Yogyakarta, Sabtu (6/2). Hadir pula sebagai pemateri dalam kesempatan itu Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus).

Dalam masalah tasawuf, katanya, dulu Muhammadiyah jauh dari tasawuf dan tarekat. Karena itu, ada yang mengatakan, Muhammadiyiah antitasawuf dan tarekat. Tetapi dalam proses selanjutnya, meskipun bukan penganut, ada apresiasi yang sangat besar terhadap tasawuf dan tarekat. 

“Jadi instrumen-instrumen, wahana-wahana tradisional yang ada di masyarakat. Tradisi-tradisi yang baik itu bisa dimanfaatkan dalam rangka untuk dakwah Islamiyah,” katanya.

Dalam seminar bertema “Membangun Peradaban Rahmatan lil ‘Alamin” tersebut, Gus Mus menyampaikan, sinergi NU dan Muhammadiyah terlihat setidaknya dalam beberapa hal, di antaranya tradisi pendalaman ilmu Islam, kecintaan terhadap ibu pertiwi (hubbul wathan), dan kuatnya ruuhud da’wah (semangat berdakwah).

Seminar nasional ini dihadiri civitas akademik UII, beberapa pengurus lembaga NU dan Muhammadiyah di wilayah DI Yogyakarta dan sekitarnya, serta masyarakat secara umum. (Widiaturrahmi/Mahbib/Mukafi Niam)
Ahad 7 Februari 2016 8:0 WIB
Gus Mus: Beberapa Persamaan NU dan Muhammadiyah
Gus Mus: Beberapa Persamaan NU dan Muhammadiyah
(Kiri-kanan) Rektor UII Harsoyo, KH A Musthofa Bisri, H Syafiq, dan Moderator berpose bersama selepas Seminar Nasional Sinergi NU Muhammadiyah
Yogyakarta, NU Online
Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus menilai, ada sejumlah persamaan di antara dua ormas Islam terbesar di Tanah Air, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya mampu berhubungan secara sinergis.

Menurutnya, sinergi NU dan Muhammadiyah terlihat setidaknya dalam beberapa hal, di antaranya tradisi pendalaman ilmu Islam, kecintaan terhadap ibu pertiwi (hubbul wathan), dan kuatnya ruhud da’wah (semangat berdakwah).

Hal itu ia sampaikan dalam seminar nasional Sinergi NU dan Muhammadiyah yang digelar Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (UII) di Auditorium Kahar Muzakkir, kampus setempat, Yogyakarta, Sabtu (6/2).

“NKRI ini tidak lepas dari sejarah NU dan Muhammadiyah, sama seperti kampus UII ini di mana tokoh-tokoh dari NU dan Muhammadiyah diabadikan menjadi nama gedung fakultas di kampus ini, dilatarbelakangi sejarah dari kedua organisasi ini,” ujar Gus Mus.

Kedua ormas itu juga memiliki titik temu pada kedua pendirinya, yakni KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang belajar pada guru yang sama.

Seminar yang mengangkat tema “Membangun Peradaban Rahmatan lil ‘Alamin” tersebut dihadiri civitas akademik UII, beberapa pengurus lembaga NU dan Muhammadiyah di wilayah DI Yogyakarta dan sekitarnya, serta masyarakat secara umum. Turut menjadi pemateri Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah H Syafiq A Mughni. (Widiaturrahmi/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG