IMG-LOGO
Daerah

PMII Banda Aceh Gelar Seminar Tentang Perayaan Valentine Day

Rabu 10 Februari 2016 12:0 WIB
Bagikan:
PMII Banda Aceh Gelar Seminar Tentang Perayaan Valentine Day
Banda Aceh, NU Online
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Kota Banda Aceh menggelar seminar bertema "Kasih Sayang Tidak Harus di Hari Valentine", Senin (8/2/2016) di Aula gedung C Balai Kota Banda Aceh.

Ketua Pengurus Cabang PMII Banda Aceh Juara Begah mengatakan bahwa Valentine Day yang biasanya dirayakan non-Muslim pada 14 Februari, tidak boleh dirayakan umat Islam dan khususnya bagi masyarakat Banda Aceh.

"Secara tegas Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kota Banda Aceh mendukung penuh peraturan-peraturan pemerintah kota Banda Aceh yang berkaitan tentang pendangkalan akidah ataupun sejenisnya, termasuk tentang larangan untuk merayakan Valentines Day," kata Juara.

Sementara itu Ketua Panitia Pelaksana Fauzan mengatakan, seminar anti-Valentine Day digelar dalam rangka untuk memberikan pemahaman kepada muda-mudi Aceh, hukum dan efek dari perayaannya.

"Kita mengajak kepada peserta agar tidak ikut-ikutan merayakan hari-hari besar yang dilarang dalam Islam, peserta seminar ini juga diharapkan akan menjadi pelopor untuk melarang teman-temannya untuk ikut-ikutan dalam budaya non-Muslim," kata Fauzan.

Peserta berjumlah 120 orang, terdiri dari pelajar SMA di Kota Banda Aceh dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Kota Banda Aceh. Materi disampaikan Walikota Banda Aceh Hj. Illiza Sa'aduddin Djamal,  Akademisi UIN Ar-Raniry Samsul Bahri,M.Ag mewakili MPU Kota Banda Aceh dan Tgk. H. Muhammad Hatta, perwakilan PWNU Aceh, juga dihadiri Mabincab PC. PMII Banda Aceh Ust. Asnawi M. Amin.

Dalam seminar tersebut Walikota Illiza Sa'aduddin Djamal menyampaikan materi tentang peran pemerintah kota Banda Aceh dalam mengatasi masuknya budaya-budaya asing, diantaranya melaksanakan program penguatan akidah bagi masyarakat terutama kaum muda-mudi, memperkuat peran lembaga pendidikan mengeluarkan seruan larang perayaan Valentine Day baik melalui sosialisasi dan dakwah (sekolah, khutbah Jum'at). Red: Mukafi Niam
Bagikan:
Rabu 10 Februari 2016 23:1 WIB
Perdana, Fatayat Ikuti Diklat Terpadu Dasar Ansor Kaltim
Perdana, Fatayat Ikuti Diklat Terpadu Dasar Ansor Kaltim
Paser, NU Online
Selama 3 hari bertempat di Desa Kertabumi, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser Kalimantan Timur diadakan DTD (Diklat Terpadu Dasar) yang diikuti oleh 215 peserta. Di antaranya, kegiatan DTD kali ini diikuti juga oleh 18 personil Fatayat. Keterlibatan Fatayat merupakan hal yang baru di Kalimantan Timur.

Menurut Ketua PW GP Ansor Kaltim Gus Robi mengatakan bahwa Kaltim akan melaksanakan PKD maupun Diklatsar merata di seluruh daerah. Karena itu pihaknya akan menjalankan program serta visi misi organisasi diantaranya adalah penguatan sistem pengkaderan, yang diharapkan akan terbentuk kader yang memiliki wawasan serta militansi dalam mengemban tugas organisasi sesuai tupoksi yang ada.

“DTD adalah kegiatan pengaderan gabungan antara PKD di Ansor dan Diklatsar di Banser," ujarnya.

"Kami ingin semua potensi yang ada di Kaltim bersinergi dalam jenjang pengaderan yang ada, sehingga Aswaja di daerah semakin berkembang kuat," tambahnya.

Gus sholeh, penasihat Ansor dan Banser Kabupaten Paser menambahkan, setelah 10 tahun terakhir ini kegiatan hanya bertumpu pada rutinitas amaliyah, sudah saatnya berbenah di semua lini termasuk kader.

"Kami sudah rindu munculnya kebersamaan di antara kader muda dalam membangun NU ke depan. Bukankah sebagai bagian dari negeri ini kita Ansor dan Banser harus berkarya nyata di masyarakat," paparnya. (Heri/Fathoni)

Rabu 10 Februari 2016 22:1 WIB
LPBINU Jepara Latih Pelajar NU Evakuasi Korban di Air
LPBINU Jepara Latih Pelajar NU Evakuasi Korban di Air
Jepara, NU Online
Sebanyak 25 orang dari CPB-KKP PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Nalumsari Jepara mengikuti Pelatihan Penanggulangan Bencana di Air yang diselenggarakan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Jepara di pantai Teluk Awur Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara.

Ketua LPBINU Jepara, Dedi Irawan pada kegiatan Senin (8/2/2016) tersebut mengatakan kegiatan ini diselenggarakan untuk lebih memperkenalkan lembaga LPBINU kepada generasi muda, bahwa bencana tidak hanya menjadi urusan pemerintah saja, tapi juga menjadi domain masyarakat. Lembaga ini membawa misi kemanusiaan, menolong sesama manusia dengan tidak memandang status dan golongan.

Kegiatan yang dimulai pukul 14.00-16.00 WIB ini menghadirkan pemateri, Saiful Aziz (Direktur Departeman Pengurangan Risiko Bencana) yang memberi materi pengenalan Teknik pertolongan di air dan evakuasi korban. Pengenalan tersebut bertujuan agar peserta pelatihan bisa mengerti secara benar dalam melakukan pertolongan di air dan evakuasi korban.

“Pelatihan ini bertujuan menambah jumlah pasukan Tim Reaksi Cepat dalam menangani bencana di lingkunganmereka tinggal, dengan bekal ini diharapkan menambah pengetahuan dan pengalaman apayang harus dilakukan dalam menangani bencana di lingkungan sekitar mereka,” ujarnya. (Red: Fathoni)

Rabu 10 Februari 2016 21:0 WIB
Pesantren Jadi Ikon Brebes, Selain Bawang Merah dan Telor Asin
Pesantren Jadi Ikon Brebes, Selain Bawang Merah dan Telor Asin

Brebes, NU Online
Bupati Brebes Hj Idza Priyanti merangkul para ulama dan tokoh masyarakat untuk menyukseskan pembangunan daerah. Hal ini dilakukan guna tercapainya pembangunan yang seimbang antara pembangunan jasmani dan rohani. Brebes, katanya, layak menjadi negeri santri karena banyaknya pondok pesantren dan anak-anak yang menempuh pendidikan di pesantren.

“Saya bertekad akan menyeimbangkan pembangunan jasmani dan rohani,” ujarnya saat silaturahim dengan para kiai dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, di aula kecamatan setempat, Selasa (9/2).

Ia menjelaskan bahwa pesantren menjadi ikon Kabupaten Brebes selain bawang merah dan telor asin. Menurut Idza, Kabupaten Brebes terkenal karena banyaknya pesantren yang berkualitas. “Dari daerah lain di Indonesia maupun luar negeri, banyak yang berkunjung ke Brebes juga karena mondok, nyantri di Brebes,” ungkapnya.

Lebih dari dua ratus pondok pesantren tersebar di 17 Kecamatan se Kabupaten Brebes, baik yang besar maupun kecil dan masing-masing memiliki spesifikasi sendiri-sendiri. “Tanpa peran kiai, Kabupaten Brebes tidak maju,” ucapnya.

Oleh karena itu, kata Idza, Pemerintah Kabupaten Brebes memperhatikan dengan sepenuh hati keberadaan pondok pesantren, masjid, mushala, madrasah diniyah, pimpinan pondok pesantren, hafidz-hafidzah, maupun ustadz-ustadzah.

Pembangunan SDM, sambungnya, akan mampu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Brebes. Dengan kebersamaan antara ulama dan umara serta tokoh masyarakat, IPM Brebes yang tadinya pada posisi bontot bisa beranjak satu digit pada urutan ke-34.

Bupati juga meminta kepada para kiai dan tokoh masyarakat terus mendorong peningkatan semangat belajar di kalangan generasi muda. Dengan uluran tangan keikhlasan dari kiai dan tokoh masyarakat, kondisi Kabupaten Brebes akan kondusif. Di samping itu, generasi muda tidak akan mudah tergiur ajakan-ajakan yang menyesatkan sebagaimana telah dilakukan kelompok radikal dan ormas Gafatar.

Dirinya tidak ingin pembangunan Kabupaten Brebes hanya berkutat masalah fisik saja, tetapi harus merambah ke persoalan rohaniyah. Karena, menurutnya, kuatnya rohani akan mampu membuat bangunan yang tinggi menjulang. “Pembangunan infrastruktur tinggal 10 persen, selanjutnya diseimbangkan dengan pembangunan sumber daya manusia,” ujarnya. (Wasdiun/Mahbib)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG