IMG-LOGO
Daerah

Tebuireng Institute, Solusi Santri Raih Beasiswa di Kampus Ternama

Selasa 1 Maret 2016 2:3 WIB
Bagikan:
Tebuireng Institute, Solusi Santri Raih Beasiswa di Kampus Ternama
Jombang, NU Online
Banyak cara yang harus ditempuh untuk bisa bersaing di era global saat ini. Salah satunya membekali diri dengan penguasaan bahasa asing dan mencari kesempatan studi ke sejumlah kampus ternama, khususnya di luar negeri secara gratis. Tebuireng Institute (TI) memberikan kesempatan bagi santri yang ingin meraih kesempatan emas tersebut.

"Indonesia diprediksi akan menerima bonus demografi pada tahun 2020, yang akan berlangsung hingga tahun 2030. Bonus demografi ini merupakan keuntungan yang diterima suatu negara karena proporsi jumlah penduduk produktif yang lebih besar," kata Wakil Manajer TI Hafis Muaddab, Senin (29/2).

Alumnus Suandusit Rajabath University Thailand dan penggagas berdirinya TI ini menegaskan bahwa keuntungan ini bisa juga menjadi tantangan terbesar Indonesia. Kualitas sumber daya manusia perlu terus ditingkatkan. Salah satu upayanya melalui peningkatan kualitas pendidikan. "Jangan sampai bonus demografi menjadi bencana demografi, dan Tebuireng Institute dibentuk untuk mencegah bencana tersebut," ungkapnya.

Dalam pandangannya, tahun 2030 kelak Indonesia membutuhkan sebanyak 113 juta tenaga kerja terdidik. Sedangkan kini hanya memiliki sekitar 55 juta. Tenaga kerja terdidik tersebut akan mengelola peluang pasar yang berkembang di tanah air seperti bidang jasa, pertanian, industri, pertambangan, dan lainnya. "Jika dibandingkan dengan negara lain, jumlah penduduk Indonesia yang berpendidikan tinggi hingga jenjang S3 masih terbilang rendah," terangnya.

Tidak dipungkiri jika dalam beberapa program dan proyek, Indonesia masih mengandalkan tenaga kerja asing. Hal tersebut menjadi tantangan untuk mewujudkan percepatan pembangunan perekonomian di negeri ini. "Jika bonus demografi tidak dipersiapkan dengan baik sejak dini, perekonomian Indonesia tentu akan tertinggal," katanya.

Sejak berdiri pada 22 Oktober 2015, lembaga ini secara rutin memberikan bimbingan Test Of English as a Foreign Language (TOEFL) secara gratis bagi semua kalangan, terutama dari pesantren. TI merupakan lembaga yang digagas oleh Mohammad As'ad, Hafis Muaddab, dan Khudrotun Nafisah.

Dengan visi "sharing knowledge for overseas study" TI ingin mendorong semua kalangan untuk membudayakan bahasa Inggris dan semangat melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Terlebih peluang dari lembaga pemberi beasiswa baik dari dalam negeri seperti LPDP, Djarum Foundation, dan bahkan yang berasal dari luar negeri sungguh terbuka lebar.

Beberapa waktu berselang, TI menggelar TOEFL Prediction Test Angkatan I untuk sekitar 40 peserta sekaligus menyosialisasikan informasi mengenai beasiswa.

Peran TI menfasilitasi persiapan TOEFL yang menjadi prasyarat meraih beasiswa tersebut. "Beasiswa persiapan TOEFL Tebuireng Institute sejauh ini masih terbatas bagi yang memiliki nilai TOEFL di atas 450 karena minimnya pendanaan," terangnya.

Namun ke depan, TI optimis banyak pihak yang akan memberikan perhatian baik pendanaan atau pengetahuan. "Sehingga Tebuireng Institute membuka diri kepada siapapun yang berkenan selaku donatur, relawan, penulis dan pengajar," katanya sembari menyebut laman yang dapat dikunjungi yakni www.tebuirenginstitute.org.

Dukungan dari banyak pihak pun mengalir atas berdirinya lembaga yang berlokasi di Desa Tebuireng Gg V Cukir Jombang ini. Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid yang juga Rektor Universitas Hasyim Asy'ari (Unhasy) mengatakan, keberadaan TI dapat berperan dalam peningkatan kualitas SDM manusia dari semua kalangan baik pesantren atau di luar pesantren.

Pada saat yang sama, banyak pihak belum menyadari pentingnya kemampuan bahasa asing, khususnya di kalangan pesantren. "Oleh karena itulah peran Tebuireng Institute menjadi penting adanya," kata mantan Direktur Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT M Asad.

Untuk mencapai tujuannya, TI sejauh ini telah menjalin beragam kerja sama dengan Konsulat Jenderal Amerika dalam rangka Eastern Network Discussion untuk meningkat kemampuan TI sebagai lembaga berbasis sosial entrepreneurship serta pihak lain.

"Sebab selain pembinaan TOEFL dan konsultasi pendidikan luar negeri, TI juga menjalankan program sekolah juara untuk MTs maupun MA dan sederajat dan kelas intensif bimbingan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dengan dilengkapi rumah baca dan layanan jasa internet dan printer," kata peraih beasiswa program doktor LPDP di Radboud University Belanda ini.

Semua fasilitas ini diharapkan akan mempermudah akses pelajar atau mahasiswa yang bergabung dengan TI. "Mengingat tujuan utama Tebuireng Institute adalah turut membantu pemerintah dalam melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa," pungkas dosen Unhasy ini. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Bagikan:
Selasa 1 Maret 2016 23:5 WIB
Banjir Surut, Relawan Muda NU Bersih-bersih Tempat Ibadah Muslim dan Nonmuslim
Banjir Surut, Relawan Muda NU Bersih-bersih Tempat Ibadah Muslim dan Nonmuslim
Sampang, NU Online
Relawan muda NU yang sejak kemarin, Senin (29/2) mencanangkan Gerakan Bersih-Bersih Tempat Ibadah. Aksi ini dilakukan menyusul banjir yang mulai surut di beberapa wilayah di Kota Sampang. Tampak para warga terdampak banjir mulai berbenah. Hal ini terlihat saat warga mulai membersihkan rumahnya dari kotoran sampah, endapan lumpur dan pasir yang dibawa oleh air banjir.

Aksi yang diinisiasi oleh PMII Sampang dan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sampang inidengan  melibatkan lebih 30 kader dari dua lembaga tersebut. Mereka membersihkan dan membenahi tempat-tempat ibadah umum yang terendam saat banjir.

"Aksi bersih-bersih tempat ibadah ini tidak hanya untuk tempat ibadah muslim seperti masjid, mushalla, dan langgar namun juga menyisir tempat ibadah nonmuslim," ujar Koordinator Aksi Lukman Hakim saat ditemui di posko.

Lukman menuturkan, dalam menjalankan aksi-aksi bersih ini relawan akan dibagi dalam 4 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 7-8 orang yang telah dibekali dengan peralatan pembersih lantai seperti swiper, alat pel, sapu, kain lap, sikat lantai dan cairan pembersih. Selain itu, dalam satu kelompok juga akan membawa 50 paket bantuan yang berisi nasi bungkus, mie instan, air kemasan, dan obat-obatan yang akan diberikan pada warga di sekitar tempat ibadah.

"Tugas relawan selain membersihkan lantai juga memenuhi kebutuhan korban dalam satu kali jalan. Jadi kami bantu orangnya, kami bersihkan tempat ibadahnya," tegas aktivis PMII Sampang ini.

Sebagaimana diketahui sejak banjir melanda Kota Sampang Sabtu kemarin (27/2), relawan yang tergabung dalam Posko Tanggap Banjir Kader Muda NU yang bertempat di Jalan Rajawali Nomor 10 Sampang ini telah banyak mendistribusikan bantuan di beberapa titik banjir. Bahkan ke depan mereka merencanakan gerakan pemenuhan gizi bagi bayi dan advokasi  hak-hak korban yang wajib dipenuhi oleh pemerintah. (Moh Sofwan/Alhafiz K)

Selasa 1 Maret 2016 22:2 WIB
Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo
Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo
Lampung Tengah, NU Online
Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Lampung Tengah melantik pimpinan komisariat sekecamatan Bangun Rejo di Gedung MWCNU setempat, Jumat-Ahad (26-28/2). Mereka mencoba menggerakkan organisasi pelajar NU di madrasah-madrasah dan pesantren.

Ketua panitia pelantikan dan Makesta Sulis Wahyuningsih mengatakan, kita sengaja mengadakan agenda kaderisasi IPNU dan IPPNU di Gedung MWCNU ini untuk menumbuhkan loyalitas. Kita ingin membangun kebanggaaan bahwa pelajar NU di wilayah kecamatan Bangun Rejo memakmurkan kegiatan ke-NU-an di gedung ini.

"Kita meminta sejumlah kader untuk mengisi materi terkait IPNU dan IPPNU," kata Sulis.

Ketua IPNU Lampung Tengah Edi Hermawaan mengaku sangat bangga. Ia memberikan apresiasi kepada PAC IPNU dan IPPNU Bangun Rejo atas istiqamah sekaligus kekompakan dalam mengadakan jenjang kaderisasi di tingkat pelajar.

"Saya berharap pengkaderan ini tidak hanya berhenti di Gedung MWCNU ini, tetap terus berjalan di tingkatan komisariat masing-masing. Saya berharap para kader terus mengibarkan panji-panji pelajar NU dan yang tak kalah penting merawat dan melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah," kata Edi. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Selasa 1 Maret 2016 21:1 WIB
Pernikahan Dini di Pacitan Tinggi, IPPNU Minta Pemerintah Turun Tangan
Pernikahan Dini di Pacitan Tinggi, IPPNU Minta Pemerintah Turun Tangan
Pacitan, NU Online
Angka pernikahan dini di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur akibat pergaulan bebas di kalangan pelajar, dalam dua bulan terakhir ini mencapai 12 permohon dispensasi pernikahan di bawah umur. Hal ini menimbulkan keperihatinan di kalangan masyarakat sebagai di kota yang dikenal adem ayem dari hiruk pikuk pengaruh budaya modern itu.

Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pacitan Dyan Wahyu Putri turut mengomentari situasi itu. Ia sangat menyayangkan terjadinya kasus ini. Manurutnya, kasus seks pranikah telah mencoreng nama baik Pacitan.

”Kami sebagai salah satu organisasi yang menaungi para pelajar turut perihatin dan menyanyangkan terjadinya kasus ini,” ungkapnya kepada NU Online di Pacitan, Selasa (1/3).

Menurut Dyan, terjadinya kasus kehamilan pra nikah dikalangan pelajar lebih diakibatkan beberapa faktor. Pertama, minimnya pengetahuan agama dan pendidikan karakter di kalangan pelajar.

Kedua, belum siapnya para pelajar terhadap perkembangan zaman yang semakin modern seperti mudahnya akses internet dan media sosial sehinga mereka mudah terbawa derasnya arus pergaulan.

Ketiga, kurangnya pengetahuan dan pemahaman pelajar mengenai kesehatan reproduksi dan bahaya seks pranikah.

“Para pelajar yang masih labil, biasanya rasa keingintahuanya sangat tinggi sehingga ada gejolak  ingin mencoba. Parahnya, mereka tidak berpikir tindakanya akan berakibat fatal bagi dirinya dan masa depanya,” jelasnya.

Untuk itu, IPPNU Pacitan meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan untuk segera turun tangan menyelesaikan fenomena ini. IPPNU meminta Dinas Pendidikan untuk lebih serius dalam mengoptimalkan sistem pendidikan yang berbasis karakter.

Sebab selama ini, materi pendidikan agama dan pendidikan karakter di sekolah dirasa masih kurang. Melalui pendidikan karakter, para pelajar kelak dapat membentengi dirinya dari pengaruh zaman yang semakin kompleks ini. Sehingga kasus seks pranikah di kalangan pelajar dapat dihindari.

Selain itu, Dinas Pendidikan diminta lebih mendukung organisasi pelajar berbasis agama untuk dijadikan sebagai tangan kanan pemerintah dalam membantu menyiapkan generasi  pelajar yang berkualitas dan bermoral.

“Pemerintah diminta lebih memperhatikan lembaga pendidikan berbasis agama seperti pondok pesantren dan juga sekolah swasta. Karena moral pelajar dibentuk dari lembaga yang berbasis agama,” ujarnya.

Dari data yang berhasil dihimpun, di Pacitan kasus nikah dini atau hamil pranikah di kalangan remaja tergolong tinggi. Tahun lalu dispensasi nikah dini jumlahnya mencapai 102 pasangan. Jumlah lebih banyak ditemui pada 2014 dengan 130 kasus nikah dini dan 126 kasus pada 2013.  Tahun 2015 lalu, pernikahan dini di Pacitan di atas rata-rata angka nasional yakni, mencapai 8 persen dari keseluruhan jangka usia pasangan yang menikah di bawah 17 tahun. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)





IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG