IMG-LOGO
Daerah

Forum Pesantren Se-Jateng Bahas Persoalan Kebersihan Pesantren

Selasa 1 Maret 2016 15:0 WIB
Bagikan:
Forum Pesantren Se-Jateng Bahas Persoalan Kebersihan Pesantren
Semarang, NU Online
Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) wilayah Jawa Tengah H Abu Choir selaku pembicara menegaskan, An-Nadhafatu minal iman (kebersihan adalah sebagian dari iman) merupakan etika santri. Kebersihan merupakan sunnah Nabi, pelajaran etika, dan lingkungan yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW. 

Kebersihan inilah yang menjadi pembahasan dalam Pembahasan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat (PBPS) menjadi diskusi antara ketua FKPP cabang se-Jawa Tengah, Senin (29/2).

"Kebersihan menjadi gerbang hadirnya kesehatan pesantren, baik jasmani maupun rohani," papar pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiyyah NU Jateng itu.
 
Bila kita tilik, tambahnya, dahulu para kiai mendirikan pesantren mengajarkan kebersihan sebagai laku utama. Petuah kiai mengajarkan bahwa bersih lingkungan dan suci batin menjadi identitas kaum santri. Ditambah nilai-nilai kebersihan di pesantren mengandung dimensi fisik, etik, estetik, dan spiritual.
 
Kalau dikaitkan dengan gerakan AyoMondok yang diusung berbagai elemen yang dimotori PP RMINU, hal ini bisa menjadi gerakan lanjutan untuk penguatan dari dalam bagi pesantren. Gerakan PBPS ini perlu ditindaklanjuti, karena efeknya akan cukup signifikan dalam membangun kepercayaan masyarakat.
 
PBPS ini terdiri atas pelatihan manajemen kebersihan, membentuk relawan kebersihan pesantren, sertifikasi manajemen PBPS oleh FKPP Jateng (ada bisyaroh bagi yang berhasil: sertifikat, fasilitasi, menjadi profil di website, dan rujukan pesantren lain). 

Selian itu, imbuh Abu Choir, gerakan cinta PBPS dengan mengunjungi pesantren atau kegiatan tertentu, melakukan aksi bersih-bersih bersama relawan kebersihan. Hal ini secara tidak langsung akan merubah paradigma yang berkembang di pesantren tentang kebersihan.
 
"Merubah maindset warga pesantren tentang kebersihan ditambah menemukan tips dan trik manajemen lingkungan dan kebersihan pesantren karena karakter tiap pesantren berbeda-beda," tutup Abu Choir. (M Zulfa/Fathoni)

Bagikan:
Selasa 1 Maret 2016 23:5 WIB
Banjir Surut, Relawan Muda NU Bersih-bersih Tempat Ibadah Muslim dan Nonmuslim
Banjir Surut, Relawan Muda NU Bersih-bersih Tempat Ibadah Muslim dan Nonmuslim
Sampang, NU Online
Relawan muda NU yang sejak kemarin, Senin (29/2) mencanangkan Gerakan Bersih-Bersih Tempat Ibadah. Aksi ini dilakukan menyusul banjir yang mulai surut di beberapa wilayah di Kota Sampang. Tampak para warga terdampak banjir mulai berbenah. Hal ini terlihat saat warga mulai membersihkan rumahnya dari kotoran sampah, endapan lumpur dan pasir yang dibawa oleh air banjir.

Aksi yang diinisiasi oleh PMII Sampang dan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sampang inidengan  melibatkan lebih 30 kader dari dua lembaga tersebut. Mereka membersihkan dan membenahi tempat-tempat ibadah umum yang terendam saat banjir.

"Aksi bersih-bersih tempat ibadah ini tidak hanya untuk tempat ibadah muslim seperti masjid, mushalla, dan langgar namun juga menyisir tempat ibadah nonmuslim," ujar Koordinator Aksi Lukman Hakim saat ditemui di posko.

Lukman menuturkan, dalam menjalankan aksi-aksi bersih ini relawan akan dibagi dalam 4 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 7-8 orang yang telah dibekali dengan peralatan pembersih lantai seperti swiper, alat pel, sapu, kain lap, sikat lantai dan cairan pembersih. Selain itu, dalam satu kelompok juga akan membawa 50 paket bantuan yang berisi nasi bungkus, mie instan, air kemasan, dan obat-obatan yang akan diberikan pada warga di sekitar tempat ibadah.

"Tugas relawan selain membersihkan lantai juga memenuhi kebutuhan korban dalam satu kali jalan. Jadi kami bantu orangnya, kami bersihkan tempat ibadahnya," tegas aktivis PMII Sampang ini.

Sebagaimana diketahui sejak banjir melanda Kota Sampang Sabtu kemarin (27/2), relawan yang tergabung dalam Posko Tanggap Banjir Kader Muda NU yang bertempat di Jalan Rajawali Nomor 10 Sampang ini telah banyak mendistribusikan bantuan di beberapa titik banjir. Bahkan ke depan mereka merencanakan gerakan pemenuhan gizi bagi bayi dan advokasi  hak-hak korban yang wajib dipenuhi oleh pemerintah. (Moh Sofwan/Alhafiz K)

Selasa 1 Maret 2016 22:2 WIB
Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo
Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo
Lampung Tengah, NU Online
Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Lampung Tengah melantik pimpinan komisariat sekecamatan Bangun Rejo di Gedung MWCNU setempat, Jumat-Ahad (26-28/2). Mereka mencoba menggerakkan organisasi pelajar NU di madrasah-madrasah dan pesantren.

Ketua panitia pelantikan dan Makesta Sulis Wahyuningsih mengatakan, kita sengaja mengadakan agenda kaderisasi IPNU dan IPPNU di Gedung MWCNU ini untuk menumbuhkan loyalitas. Kita ingin membangun kebanggaaan bahwa pelajar NU di wilayah kecamatan Bangun Rejo memakmurkan kegiatan ke-NU-an di gedung ini.

"Kita meminta sejumlah kader untuk mengisi materi terkait IPNU dan IPPNU," kata Sulis.

Ketua IPNU Lampung Tengah Edi Hermawaan mengaku sangat bangga. Ia memberikan apresiasi kepada PAC IPNU dan IPPNU Bangun Rejo atas istiqamah sekaligus kekompakan dalam mengadakan jenjang kaderisasi di tingkat pelajar.

"Saya berharap pengkaderan ini tidak hanya berhenti di Gedung MWCNU ini, tetap terus berjalan di tingkatan komisariat masing-masing. Saya berharap para kader terus mengibarkan panji-panji pelajar NU dan yang tak kalah penting merawat dan melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah," kata Edi. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Selasa 1 Maret 2016 21:1 WIB
Pernikahan Dini di Pacitan Tinggi, IPPNU Minta Pemerintah Turun Tangan
Pernikahan Dini di Pacitan Tinggi, IPPNU Minta Pemerintah Turun Tangan
Pacitan, NU Online
Angka pernikahan dini di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur akibat pergaulan bebas di kalangan pelajar, dalam dua bulan terakhir ini mencapai 12 permohon dispensasi pernikahan di bawah umur. Hal ini menimbulkan keperihatinan di kalangan masyarakat sebagai di kota yang dikenal adem ayem dari hiruk pikuk pengaruh budaya modern itu.

Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pacitan Dyan Wahyu Putri turut mengomentari situasi itu. Ia sangat menyayangkan terjadinya kasus ini. Manurutnya, kasus seks pranikah telah mencoreng nama baik Pacitan.

”Kami sebagai salah satu organisasi yang menaungi para pelajar turut perihatin dan menyanyangkan terjadinya kasus ini,” ungkapnya kepada NU Online di Pacitan, Selasa (1/3).

Menurut Dyan, terjadinya kasus kehamilan pra nikah dikalangan pelajar lebih diakibatkan beberapa faktor. Pertama, minimnya pengetahuan agama dan pendidikan karakter di kalangan pelajar.

Kedua, belum siapnya para pelajar terhadap perkembangan zaman yang semakin modern seperti mudahnya akses internet dan media sosial sehinga mereka mudah terbawa derasnya arus pergaulan.

Ketiga, kurangnya pengetahuan dan pemahaman pelajar mengenai kesehatan reproduksi dan bahaya seks pranikah.

“Para pelajar yang masih labil, biasanya rasa keingintahuanya sangat tinggi sehingga ada gejolak  ingin mencoba. Parahnya, mereka tidak berpikir tindakanya akan berakibat fatal bagi dirinya dan masa depanya,” jelasnya.

Untuk itu, IPPNU Pacitan meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan untuk segera turun tangan menyelesaikan fenomena ini. IPPNU meminta Dinas Pendidikan untuk lebih serius dalam mengoptimalkan sistem pendidikan yang berbasis karakter.

Sebab selama ini, materi pendidikan agama dan pendidikan karakter di sekolah dirasa masih kurang. Melalui pendidikan karakter, para pelajar kelak dapat membentengi dirinya dari pengaruh zaman yang semakin kompleks ini. Sehingga kasus seks pranikah di kalangan pelajar dapat dihindari.

Selain itu, Dinas Pendidikan diminta lebih mendukung organisasi pelajar berbasis agama untuk dijadikan sebagai tangan kanan pemerintah dalam membantu menyiapkan generasi  pelajar yang berkualitas dan bermoral.

“Pemerintah diminta lebih memperhatikan lembaga pendidikan berbasis agama seperti pondok pesantren dan juga sekolah swasta. Karena moral pelajar dibentuk dari lembaga yang berbasis agama,” ujarnya.

Dari data yang berhasil dihimpun, di Pacitan kasus nikah dini atau hamil pranikah di kalangan remaja tergolong tinggi. Tahun lalu dispensasi nikah dini jumlahnya mencapai 102 pasangan. Jumlah lebih banyak ditemui pada 2014 dengan 130 kasus nikah dini dan 126 kasus pada 2013.  Tahun 2015 lalu, pernikahan dini di Pacitan di atas rata-rata angka nasional yakni, mencapai 8 persen dari keseluruhan jangka usia pasangan yang menikah di bawah 17 tahun. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)





IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG