IMG-LOGO
Nasional

Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan

Jumat 11 Maret 2016 14:30 WIB
Bagikan:
Calon Jamaah Haji Lansia Bisa Ajukan Percepatan Keberangkatan
Batam, NU Online
Kementerian Agama kembali menerapkan kebijakan untuk mempercepat keberangkatan jamaah haji lanjut usia (lansia). Karenanya, bagi jamaah yang berusia  minimal 75 tahun bisa segera mengajukan percepatan keberangkatan ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota tempat mendaftar haji (domisili).

“Tahun ini masih diberikan kesempatan bagi lanjut usia minimal 75 tahun untuk mengajukan percepatan keberangkatan. Sehingga diharapkan jamaah lansia mendapat prioritas mengingat kondisi fisik yang lemah,” kata Kasubdit Pendaftaran Haji M Noer Alya Fitra (Nafit), Kamis malam (10/03) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menurutnya, calon jamaah haji lansia yang ingin mendapat percepatan keberangkatan bahkan dapat didampingi oleh satu pendamping. “Prosedurnya dengan mengajukan ke Kemenag Kabupaten/Kota tempat pendaftaran,” tambahnya.

Selain prioritas lansia, Kementerian Agama juga telah menerbitkan  Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler yang membatasi pendaftaran haji minimal berusia 12 tahun. Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Ditjen PHU Ahda Barori mengatakan bahwa sebelumnya tidak ada aturan minimal usia untuk mendaftar haji.

“Antrian haji sudah terlalu lama di Indonesia sehingga dalam aturan yang baru, mendaftar haji harus sudah berusia 12 tahun,” terang Ahda. Bahkan,  antrian daftar tunggu haji di Sulawesi Selatan sudah mencapai 28 tahun.

Aturan lainnya,  lanjut Ahda, kuota haji diprioritaskan untuk jamaah yang belum berhaji. Kalau orang yang sudah pernah haji ingin berhaji lagi, dia baru boleh mendaftar kembali setelah sepuluh tahun dari keberangkatan terakhir.

Regulasi baru penyelenggaraan haji ini disosialisasikan kepada para kepala seksi pendaftaran haji seluruh Sumatera dan unsur Ditjen  Penyelenggaraan Haji Dan Umrah. Sebelumnya, sosialisasi telah dilakukan di Makassar untuk kawasan Indonesia Timur dan Yogyakarta untuk wilayah Jawa. Red: Mukafi Niam
Bagikan:
Jumat 11 Maret 2016 22:1 WIB
SEMINAR INTERNASIONAL
KTTI UI: Paham Takfiri Jadi Sebab Konflik Horisontal
KTTI UI: Paham Takfiri Jadi Sebab Konflik Horisontal
Ketua Prodi KTTI UI Dr Muhammad Luthfi, MA.
Jakarta, NU Online
Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam (KTTI) Universitas Indonesia (UI) Muhammad Luthfi menyatakan bahwa paham takfiri (saling mengafirkan) sesama muslim menjadi salah satu penyabab terjadinya konflik di Timur Tengah. Hal ini menjadi sorotan, karena kasus serupa (pengafiran) juga dewasa ini marak terjadi di Indonesia.

Luthfi menegaskan, kalau kita lihat dalam sejarah Islam, sebetulnya pengafiran merupakan kasus yang sangat tua sekali. Yaitu ketika Islam datang, syiah pada awal masa-masanya dan Sunni juga sama. Khususnya kalau Sunni ketika terjadi perang Shifin, itu sudah saling mengafirkan.

“Jadi ketika perang Shifin, kemudian terjadi perundingan antara tentara Muawiyah dan Sayyidina Ali, kelompok yang menamakan dirinya Khawarij itu keluar dari rombongan Ali dan mengafirkan para peserta perundingan tersebut karena dalam berijtihad dianggap salah,” ujar Luthfi dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Suriah Indonesia (Al-Syami), Kamis (10/3) di Gedung Pascasarjana UI Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Ijtihad yang salah dalam pandangan Khawarij, lanjut Luthfi, adalah dosa besar, sedangkan dosa besar menurut mereka adalah kafir dan kafir ba’da Islam adalah murtad. Sebab itu, boleh dibunuh. Akhirnya mereka mengirimkan empat pembunuh,” terangnya.

Jadi, imbuhnya, pengafiran itu sudah lama terjadi. Adapun jamaah takfiri dewasa ini juga menginduk pada pemikiran-pemikiran yang dulu pernah muncul.

Dalam kasus syiah juga sama, kata Luthfi, yaitu ketika mereka merumuskan ideologi mereka. Mereka mengatakan bahwa ketika Rasulullah wafat, para sahabat memilih untuk meninggalkan Nabi untuk merundingkan khalifah, sedangkan Nabi diurus oleh keluarganya, Ali, Fatimah, dan lain-lain. Di sini syiah mengafirkan para sahabat Nabi karena meninggalkan jenazah Nabi.

“Padahal dalam keyakinan Sunni, seorang yang telah wafat dan diurusi oleh sekelompok muslim itu sudah cukup karena hal itu merupakan wajib kifayah. Nah ini, syiah mengafirkan dalam hal itu,” papar Luthfi dihadapan para peserta seminar yang memadati ruangan.

Menurut Luthfi, itulah salah satu penyebab gejolak panjang di Timur Tengah. Sebab itu dia menyoroti kasus sektarisnisme yang selalu menjadi alasan perang dan konflik. “Dulu yang bisa menyulut adalah Arab melawan Persia. Sekarang judul itu tidak lagi, dibuatlah judul baru Sunni-Syiah. Akhirnya, Sunni-Syiah perang, antar-Sunni juga perang yang tidak termasuk mereka juga ikut perang. Jadi kondisinya sangat kacau,” tuturnya.

Hadir juga sebagai narasumber dalam kegiatan bertajuk ‘Peran Ulama dalam Meredam Krisis Politik dan Ideologi di Timur Tengah’ ini diantaranya, Ketua Persatuan Ulama Suriah Prof Dr Taufiq Ramadhan al-Buthi, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH Hasyim Muzadi, dan Duta Besar LBBP Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto, serta Ketua Al-Syami Fathir Hambali dan Sekretaris M Najih Arromadloni. (Fathoni)
Jumat 11 Maret 2016 21:2 WIB
BPJS Tawarkan Kerja Sama Kesehatan dengan NU
BPJS Tawarkan Kerja Sama Kesehatan dengan NU
Jakarta, NU Online
Direktur Utama (Dirut) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Fahmi Idris menyambangi Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Lantai 3 Gedung PBNU, Jumat (11/3). Sebagai orang yang baru memegang amanah dirut, ia meminta doa restu kiai untuk para direksi yang baru saja dilantik.

Selain itu, menurut Fahmi, kedatangannya ingin mengajak kerja sama dengan NU. “Kita ingin mengajak NU untuk ikut terlibat aktif dalam program-program BPJS,” jelas Fahmi.

BPJS baru berumur sekitar dua tahun dan masih butuh beberapa perbaikan. Sekarang jumlah peserta BPJS sekitar 170 juta orang. “Yang 90 juta merupakan masyarakat nir-poor atau rentan miskin. Sisanya berasal dari masyarakat yang mampu,” ucap mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia tersebut..

Ia menawarkan tiga program kerja sama kepada PBNU. Pertama, program pelayanan langsung kepada masyarakat, khususnya wara nahdliyin. “Kedua, program sosialisasi edukasi kesehatan. Program ini memiliki tujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait dengam kesehatan mulai dari pencegahan, pengobatan, dan juga sosialisasi pentingnya ber-BPJS. Dan yang ketiga adalah, kita juga mengajak warga NU untuk ikut menjadi peserta BPJS,” paparnya

KH Said Aqil Siroj yang lebih akrab disapa Kang Said, menyambut dengan terbuka kedatangan direksi BPJS tersebut. “Terima kasih atas kedatangannya,” ucapnya.

Kang Saif memaparkan bahwa sudah ada beberapa lembaga pemerintah yang menggandeng NU untuk bekerja sama. Program yang dikerjakansamakan dengan NU akan sukses.

“Insyaallah (programnya) akan sukses karena NU memiliki jaringan yang kuat dan luas dari atas sampai bawah. BNPT, BNN, dan pak Luhut juga sudah berkunjung ke PBNU untuk (melakukan) kerjasama,” jelas Pengasuh pondok As Tsaqofah tersebut.

Lebih lanjut, Kang Said menilai kalau selama ini pesantren belum mendapatkan perhatian yang sama dengan lembaga pendidikan formal. “Pesantren itu mandiri. Pesantren juga memiliki sumbangsih yang besar terhadap kemerdakaan Indonesia. Sudah semestinya pesantren diperhatikan (oleh pemerintah),” ujarnya.

“Yang ditawarkan BPJS tersebut bisa kita sinkronisasikan dengan LKNU, LKKNU, dan LAZISNU,” kata Bendahara Umum PBNU, Bina Suhendra.

Direksi baru BPJS Kesehatan tersebut dilantik presiden Joko Widodo pada Selasa, 23 Februari 2016 di Istana Negara, Jakarta. Adapun nama-nama dewan direksi BPJS Kesehatan adalah Fahmi ldris (Direktur Utama), Kemal Imam Santoso (direktur), Bayu Wahyudi (direktur), Maya Amiamy Rusady (direktur), Andayani Budi Lestari (direktur), Mira Anggraini (direktur), Mundi Harmo (direktur), dan Wahyuddin Bagenda (direktur). (Ahmad Muchlishon/Abdullah Alawi)  
   

Jumat 11 Maret 2016 17:4 WIB
Gerhana Matahari, PP GP Ansor Ajak Manusia Kembali Kepada Allah
Gerhana Matahari, PP GP Ansor Ajak Manusia Kembali Kepada Allah
Jakarta, NU Online
Puluhan kader dan pengurus harian PP GP Ansor melangsungkan shalat gerhana matahari di Masjid Abdurrahman Wahid, di bagian muka kantor sekretariat PP GP Ansor jalan Kramat Raya Nomor 65A, Jakarta Pusat, Rabu (9/3) pagi. Mereka shalat dan berzikir bersama mengagungkan asma Allah.

Menurut pengurus haria PP GP Ansor Hasan Basri Sagala, peristiwa gerhana matahari merupakan fenomena alam yang tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alamiah belaka. Fenomena alam ini harus disadari lebih dalam sebagai benarnya bukti-bukti dan tanda-tanda kebesaran juga kekuasaan Allah SWT.

Hasan menambahkan, fenomena ini mengisyaratkan secara konkret kepada manusia bahwa Allah telah menetapkan peredaran matahari dan benda-benda langit lainnya dengan teratur. Dari keteraturan ini semua benda raksasa bergerak mengikuti ketetapan yang Allah tentukan.

“Untuk manusia, gerhana matahari ini adalah bentuk peringatan agar kita semakin sadar bahwa kekuasaan Allah di atas segalanya,” kata Hasan Basri kepada NU Online di Jakarta, Kamis (10/3) malam.

Fenomena dahsyat itu, kata Hasan, bukti luar biasa kuasa Allah. Siapa saja bisa menyaksikan sendiri peristiwa luar biasa ini dengan kasat mata.

“Kita harus kembali kepada ketentuan dan peringatan dari-Nya,” pungkasnya. (Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG