Nikah Usia Anak Perlu Dilarang

, Nikah Usia Anak Perlu Dilarang
, Nikah Usia Anak Perlu Dilarang
Lasem, NU Online
Negara semestinya melarang perkawinan di usia anak yakni usia dini menurut batas umur dewasa. Pertimbangannya adalah mencegah kerugian atau kerusakan (mafsadat dan madlarat) yang  banyak menimpa. Perkawinan usia dini bisa menimbulkan pelanggaran hak primer atas perlindungan akal maupun hak perlindungan atas jiwa.

Batas minimal usia anak menurut UU perkawinan nomor 1 tahun 1974 yaitu untuk pria 19 tahun dan untuk wanita 16 tahun dipandang sudah baik. Tetapi perlu dipertimbangkan untuk menaikkan batas usia minimal tersebut atau ditambah dengan adanya sanksi bagi pelanggarnya.

Demikian simpulan dari halaqoh dan bahsul masail bertema Pernikahan Usia Anak yang diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren se-Indonesia (MP3I) yang diselenggarakan di Pesantren Kauman Lasem, Rembang, Sabtu (19/3) pagi hingga sore hari.

Forum ini terselenggara dengan dukungan dari Lembaga Plan Indonesia, Fitra Jateng, Pemkab Rembang, Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (Kemen PPPA), dan Kementerian Dalam Negeri.

Hadir sebagai narasumber Pengasuh Pesantren Al-Amin Sarang KH Fathurrahman, pakar Maqasidus Syariah Dr Arwani Syairozi, dan pakar fiqih perempuan KH Husein Muhammad. Pembahasan ini dipandu oleh Dr Abdul Jalil.

Peserta musyawarah bahstul masail pada pertemuan ini di antaranya KH Kamil Majid Sarang, KH Ahmad Badawi Kudus, Gus Rosih Sarang, Dr Jamal Makmur Asmani Pati, dan sejumlah kiai di Kabupaten Rembang.

Menurut mereka, tujuan perkawinan setidaknya adalah untuk syiar agama, membangun keluarga yang harmonis, melampiaskan hasrat seksual sesuai norma agama, menjaga keberlangsungan umat manusia, dan menjaga garis keturunan agar tidak terjadi kerancuan.

Untuk mencapai tujuan ini, sebuah perangkat yang bagus diperlukan di antaranya menyiapkan calon pengantin secara sempurna baik jasmani maupun rohani. Dari sana pengaturan pembatasan usia merupakan upaya menyiapkan mental dan fisik seseorang dalam menempuh hidup berumah tangga.

Dalam pandangan fiqih, terang Kiai Arwani Syaerozi, mengawinkan anak perempuan yang belum akil baligh (belum cukup umur) diperbolehkan. Perkawinannya sah. Namun si perempuan memiliki hak khiyar (hak memilih) ketika telah beranjak dewasa.

“Namun sebagian ulama menyatakan tidak boleh menikahkan anak yang belum akil baligh,” tuturnya.

Karena mempertimbangkan hak dasar anak untuk mendapat pendidikan, hak untuk menikmati masa kecil, dan agar sesuai dengan tujuan perkawinan, maka diharapkan negara melarang perkawinan usia anak.

Hadirin merekomendasikan perlu adanya work shop dan bahsul masail lanjutan untuk merumuskan lebih rinci mengenai aturan yang harus dibuat oleh negara. Terlebih jika hendak mau dimasukkan dalam peraturan perundang-undangan. (Ichwan/Alhafiz K)

BNI Mobile