IMG-LOGO
Nasional

Prodi Komputer Perguruan Tinggi NU Bentuk Asosiasi

Selasa 12 April 2016 10:0 WIB
Bagikan:
Prodi Komputer Perguruan Tinggi NU Bentuk Asosiasi

Probolinggo, NU Online
Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Jawa Timur membuat wadah Computer Society of Nahdlatul Ulama (CSNU). Asosiasi ini terbentuk atas pertimbangan bahwa jurusan atau program studi bidang komputer di bawah perguruan tinggi NU belum terorganisasi dengan baik.

Jurusan yang masuk dalam asosiasi bidang komputer ini meliputi Teknik Informatika (Ilmu Komputer), Sistem Informasi, dan Teknik Komputer. CSNU lahir dalam rangka mengeratkan kerja sama antar perguruan tinggi NU (PTNU), khususnya di bidang teknologi informasi.

CSNU dideklarasikan di Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, akhir pekan kemarin (10/4). Pada periode kepengurusan perdana ini, 2016-2019, KH Najiburrohman Wahid dari STT Nurul Jadid Paiton terpilih sebagai ketua CSNU.

Inisiasi pendirian CSNU ini bermula dari para pimpinan PTNU yang ada di Jawa Timur saat LPTNU Jatim mengadakan pendampingan klinik akreditasi dan penjaminan mutu perguruan tinggi di berbagai titik di Jawa Timur. Keberadaan asosiasi prodi dianggap sangat penting untuk saling menguatkan, bekerja sama, dan saling mendongkrak kualitas program studi yang ada di masing-masing perguruan tinggi NU.

Prodi bidang komputer menyambutnya dengan antusias sehingga diinisiasilah Musyawarah Nasional CSNU pada Ahad (10/4), di STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo, dengan anggota seluruh pimpinan prodi komputer yang ada di bawah LPTNU.

Musyawarah Nasional CSNU diawali oleh paparan data keberadaan akreditasi prodi komputer oleh Mohammad Zikky, Wakil Sekretaris LPTNU Jatim. Ia mengungkapkan bahwa musyawarah ini untuk meningkatkan mutu PTNU khususnya yang mempunyai prodi dalam bidang computer.

“Karena untuk daerah Jawa Timur saja yang merupakan basis PTNU, masih belum ada prodi atau jurusan komputer yang ter akreditasi A dan B. Pemetaan yang ditemui, semuanya rata-rata masih terakreditasi C,” ujarnya.

Kemudian agenda utama seperti ulasan bidang kerja asosiasi, pembentukan jurnal ilmiah, dan sidang pleno pembahasan program kerja dipimpin langsung oleh dewan pakar LPTNU Jawa Timur, Agus Zainal Arifin.

“PTNU yang ada ini, khususnya yang memiliki program studi atau jurusan di bidang komputer itu hendaknya bukan saling berkompetisi, melainkan harus saling berkolaborasi. Oleh karenanya, PTNU yang ada ini sangat diharapkan untuk saling membantu dan berkolaborasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di lingkungan NU,” ungkap Agus Zainal yang juga Dekan Fakultas Teknologi Informasi (FTIf) ITS Surabaya ini.

Beberapa keputusan penting yang dilahirkan dari musyawarah nasional CSNU ini antara lain adalah:

1. Tebitnya ADART CSNU yang salah satu poin penting di dalamnya adalah bahwa keanggotaan CSNU terdiri dari perorangan dan institusi pendidikan tinggi komputer di lingkungan NU.

2. Program kerja selama satu periode yang diputuskan bahwa satu periode kepengurusan berlangsung selama 3 tahun

3. Terbentuknya Jurnal bidang komputer dengan nama Nusantara Journal of Computers and Its Application. InsyaAllah akan terbit perdana pada bulan Juni 2016 ini.

4. Kepengurusan inti CSNU periode 2016-2019 telah terbentuk dengan komposisi sebagai berikut:

Ketua CSNU:
KH. Najiburrahman Wahid, MA (STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Wakil Ketua:
Muhammad Ainul Yaqin, SKom (STT Qomaruddin Gresik)

Direktur Eksekutif:
Kamil Malik, M.Kom (STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Sekretaris:
Achmad Saiful Rizal, S.Kom (Universitas Yudharta Pasuruan)

Bidang Akademik dan Kemahasiswaan:
Agung Santoso, M.Kom (UMAHA Sidoarjo)
Fuad Hasyim, M.Kom (STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo)
M. Noer Fadli Hidayat, M.Kom (STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Bidang Kerjasama:
Abd. Ghofur, M. Kom (AMIK Ibrahimy Sukorejo Situbondo)
Moh. Furqon, M. Kom (STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo)
Moh. Bachruddin, S.T (STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo)
Zaehol Fatah, M.Kom (AMIK Ibrahimy Sukorejo Situbondo)

Bidang Organisasi:
Subkhan Zamroni, S.Kom (Universitas Islam Raden Rahmat Malang)
Drs. Moch. Hatta (UMAHA Sidoarjo)
Isturom Arif, S.T., M.T (UMAHA Sidoarjo)
Andi Wijaya, M.Kom (STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo)
Zainal Arifin, M. Kom (STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Bidang Penerbitan Jurnal:
Akhlis Munazilin, S.Kom, M.T (AMIK Ibrahimy Sukorejo Situbondo)
Ghulpi Qorik O.P., M.Kom (STT Nurul Jadid Paiton Probolinggo)
Miftahul Walid, S.Kom.,M.T (UIM Pamekasan)
Rahmad Zainul Abidin, M.Kom (Universitas Yudharta pasuruan)

(Hanan/Mahbib)

Bagikan:
Selasa 12 April 2016 21:32 WIB
Akademisi Nilai Perlunya Standarisasi Materi Pelajaran Agama
Akademisi Nilai Perlunya Standarisasi Materi Pelajaran Agama
ilustrasi
Jakarta, NU Online
Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Dr Zubair MAg menilai perlu ada standardisasi materi pelajaran agama Islam yang didasarkan pada ajaran yang benar dan tidak dibatasi oleh panafsiran tertentu yang justru lebih tertutup dan tidak toleran.

"Selama ini monitor negara ke lembaga pendidikan lebih fokus ke masalah administrasi saja, tapi kurang melihat substansi materi yang diajarkan. Jadi harus ada akreditasi dalam pengajaran agama Islam," kata Zubair di Jakarta, Selasa.

Menurut Zubair, standardisasi materi pelajaran agama Islam diperlukan untuk meluruskan sekaligus mencegah penyebarluasan ajaran yang keliru di kalangan pelajar yang menumbuhsuburkan radikalisme.

"Saya rasa pencegahan lebih penting dalam mencegah masuknya paham radikal terorisme daripada kita kecolongan," kata Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama UIN Syarif Hidayatullah itu.

Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan rahmat, bukan agama yang mengajarkan kekerasan, apalagi menyakiti dan membunuh. Islam juga tidak pernah memaksa-maksa orang untuk mengikutinya. 

"Itu beda sekali dengan para pelaku terorisme yang selalu memaksa orang lain untuk mengikuti paham mereka. Ironisnya, mereka mengaku Islam, tapi paham Islam hanya sepotong-sepotong dan tidak melihat bahwa Islam itu agama yang rahmatan lil alamin," katanya.

Zubair mengakui bahwa terdapat banyak mazhab dalam Islam, tapi antarmazhab itu seragam tentang tujuan dan cita-cita Islam, yakni sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Meski demikian, menurut Zubair radikalisme dan terorisme tidak hanya disebabkan pemahaman agama Islam yang sepotong- sepotong, namun juga karena faktor ekonomi, sosial, psikologi, dan lainnya.

Hal senada diutarakan Rais Syuriyah PBNU Dr KH Zakky Mubarak MA. Menurutnya, radikalisme agama selain disebabkan kekeliruan dalam memahami ajaran agama juga disebabkan faktor nonagama.

"Sebagian lain ada yang menggunakan agama untuk kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, atau kepentingan politik. Dengan mengatasnamakan agama, mereka meyakini akan dapat mempengaruhi banyak orang, sehingga ambisinya dapat diwujudkan," katanya.

Menurut Zakky, pencegahannya adalah dengan jalan memberikan pemahaman agama secara utuh, integral, dan komprehensif sehingga ajaran agama itu tidak dipahami secara parsial yang mengakibatkan terjadi kesalahpahaman. 

"Langkah berikutnya adalah memberikan informasi kepada umat beragama agar tidak mudah diprovokasi oleh kelompok ini, sehingga rencana mereka akan gagal," kata Zakky.

Menurutnya, agama dan nasionalisme tidak dapat dipisahkan, karena agama memerlukan tanah air bagi para pemeluknya, dan tanah air juga memerlukan agama untuk membimbing rakyatnya. 

"Dengan rasa nasionalisme dan rasa keagamaan yang tinggi, akan saling menguatkan satu sama lain sehingga dapat membentuk kehidupan bangsa yang unggul, berkualitas, dan dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain," katanya. (Antara/Mukafi Niam)
Selasa 12 April 2016 21:4 WIB
Kemenag Akui, Tunjangan Guru Non-PNS Masih Kurang
Kemenag Akui, Tunjangan Guru Non-PNS Masih Kurang
ilustrasi: rmoljakarta
Mamuju, NU Online
Jajaran Kementerian Agama (Kemenag) RI, mengakui jika alokasi anggaran untuk membayar tunjangan guru agama non-Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun anggaran 2016 ini masih sangat kurang.

"Kami bersama Komisi VIII DPR terus berjuang untuk bisa membayarkan tunjangan guru non-PNS yang mengalami banyak hambatan. Itu terjadi karena jumlah guru agama non-PNS sangat besar dibandingkan jumlah alokasi anggaran yang tersedia. Hal ini akan kita cari solusinya," kata Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin saat berada di Mamuju, Senin.

Lukman mengatakan, sebagian tunjangan guru agama non-PNS telah dibayarkan secara bertahap, walaupun diketahui belum sepenuhnya terbayarkan karena alokasi anggaran yang tidak memadai.

Orang pertama di Kemenag RI ini yang ikut melantik Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) wilayah Sulbar, diharapkan mampu menjadi jembatan jika terjadi keluhan bagi guru-guru agama yang ada di daerah.

"Kita patut bersyukur karena PGMI Sulbar telah dikukuhkan. Kita berharap, teman-teman pengurus mampu akomodatif menampung aspirasi guru-guru agama yang ada di daerah," harap Lukman.

Ia menyatakan, aspirasi para guru-guru agama di daerah dapat disampaikan langsung ke Kemenag pusat untuk kemudian ditindaklanjuti sesuai prosedur yang ada.

Sehingga Lukman berharap, alokasi anggaran untuk tunjangan guru agama yang belum terelesaikan atau terbayarkan tahun ini, bisa ditunaikan pada tahun berikutnya. 

"Tunjangan yang belum terbayarkan itu beraneka ragam mulai dari tunjangan profesi, sertifikasi, inpassing yang tidak bisa dibayarkan akibat tidak ada anggaran," jelasnya. (Antara/Mukafi Niam)

Selasa 12 April 2016 12:0 WIB
SEABAD MADRASAH BAHRUL ULUM
KH Wahab Chasbullah Sempat Dimarahi Ayahnya, Apa Pasal?
KH Wahab Chasbullah Sempat Dimarahi Ayahnya, Apa Pasal?
Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas gelar lomba baca kitab Kuning dalam rangka peringatan satu Abad madrasah dan 191 tahun pondok pesantren.
Jombang, NU Online
Menempati serambi Masjid Pesantren Tambakberas Jombang, pada tahun 1915, KH Abdul Wahab Chasbullah mulai mengajar belasan santri mendalami pendidikan agama. Model belajar ala madrasah formal ini pertama kali diberi nama "Madrasah Mubdil Fan," dan menjadi cikal bakal Madrasah di Pesantren yang kini telah berusia hampir 2 abad, yakni 191 tahun.

Madrasah Mubdil Fan, didirikan KH Wahab sepulang dari belajar dari tanah suci Makkah. Dengan hanya menggunakan daun pintu sebagai papan tulis, putra KH Hasbullah ini mengajarkan berbagai disiplin ilmu agama, sharaf, Nahwu dan kitab kitab fiqih. "Model pendidikan madrasah yang dilakukan KH Abdul Wahab Chasbullah sempat dilarang dan dibubarkan kakek (KH Hasbullah), KH Wahab sempat dimarah-marahi. Alasannya, model pendidikan sekolah ini menyamai yang digunakan penjajah, Man syabbaha bi qaumin fahua minhum," tutur KH Hasib Wahab Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Senin (11/4).

Meski dilarang, tekad mengajar santri tidak hanya dengan sorogan, tetap dilakukan KH Wahab, Madrasah Mubdil Fan di pindah ke pondok yang berada di Barat Sungai Tambakberas, sekitar 300 meter dari masjid Tambakberas. "Sebanyak 15 santri KH Wahab, diboyong pindah ke Guthekan yang berada di barat sungai, sana, untuk belajar," tambahnya.

Karena kegigihannnya untuk menerapkan model pembelajar dengan sistem Madrasah ini, tampaknya membuat KH Hasbullah Pengasuh Pesantren Tambakberas saat itu luntur, setelah mendapatkan petunjuk melalui istikhoroh, akhrirnya memperbolehkan sistem madrasah digunakan di pesantren. " Bahkan Madrasah ini dibangunkan 3 ruang kelas baru disebelah masjid, agar KH Wahab kembali mengajar di lingkungan pesantren tambakberas ini,"imbuh putra pendiri NU ini menambahkan.

Dengan sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan ini, pondok pesantren Tambakberas semakin berkembang pesat. Bahkan pesantren yang kemudian diberi nama "Bahrul Ulum" (Lautan Ilmu) Tambakebras Jombang yang kini telah memasuki usia 191 tahun ini, sekarang memiliki ini puluhan lembaga pendidikan formal. Mulai dari Madrasah Ibtida'iayah (MI) didirikan tahun 1951, Madrasah Mu'alimin Mu'alimat (6 tahun) didirikan pada tahun 1956, Madarsah Aliyah Negeri (MAN) yang merupakan pengembangan dari MMA. "Dimadarasah ini banyak diajarkan nahwu shorof, kitab kitab kuning, disamping pelajaran umum. Seperti kegiatan ini, Lomba baca kitab kuning sekarang ini, sebagai memberikan motivasi santri lebih giat mendalami kitab kitab para ulama terdahulu," tambah salah satu ketua PBNU ini menambahkan.

Kemudian Madrasah Aliyah Bahrul Ulum, Madarsah Aliyah Wahab Chasbullah, MTsN Tambakberas, MTs Bahrul Ulum, bahkan hingga lembaga pendidikan perguruan Tinggi, Universitas Wahab Chasbullah, Pesantren ini juga memiliki pendidikan Playgroup, TK/ RA serta tetap mengelolah Madarsah Diniyah.

Pesantren ini telah mencetak ribuan alumni, yang kemudian juga melanjutkan mendirikan pesantren dan madrasah di daerahnya masing masing. Diantaranya adalah, KH Masruri, Pesantren Al Hikam Brebes, KH Baqir Pesantren Paciran, KH Djamaludiin Ahamad, Pesantren Al Muhibbin Tambakberas. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG