IMG-LOGO
Seni Budaya

Film Mars: Kegigihan Perempuan dan Pendidikan

Sabtu 16 April 2016 14:3 WIB
Bagikan:
Film Mars: Kegigihan Perempuan dan Pendidikan
Mendengar kata Mars, mungkin ingatan kita cepat tertuju kepada nama sebuah planet dalam tatasurya. Mars pula yang menjadi judul film pertama yang disutradarai Sahrul Gibran, dan diproduksi Multi Buana Kreasindo.

Meski mengacu pada nama planet, film ini tidak akan bercerita terlalu banyak tentang planet itu. Tetapi adalah Sekar Palupi (Acha Septriasa), tokoh utama dalam film ini yang diharapkan oleh ibunya, Tupon (diperankan oleh Kinaryosih) menjadi bintang secerah Mars, yang biasa mereka lihat menggelantung di langit malam. Tupon dan Sekar menyebutnya lintang lantip (bintang yang cerdas).

Latar tempat di film ini, Gunung Kidul, Yogyakarta, diceritakan sebagai daerah yang belum mendapatkan akses listrik, serta masyarakatnya masih amat kental dengan hal-hal klenik atau mistis. Di daearah itu pula, kebanyakan orang tidak mendapatkan atau bahkan sangat jarang bisa berpendidikan hingga tingkat SMA.

Mars juga mengacu pada penyingkatan dari tagline film ini yang merupakan kepanjangan dari Mimpi Ananda Raih Semesta. Mars bercerita tentang kegigihan Tupon, seorang ibu miskin, buta huruf, tidak pernah bersekolah, bahkan tidak mengenal sekolah itu seperti apa. Meski begitu, Tupon selalu memberikan semangat kepada anaknya, dan melakukan apa saja supaya anaknya bisa sekolah.

Penulis skenario film ini adalah John D’Rantau. Cerita diadaptasi dari novel karya Aishworo Ang berjudul sama, dan diterbitkan Diva Press.

Pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Universitas Oxford, London, Inggris. Di London syuting dilakukan di Perpustakan Boedlein, lokasi yang juga dipakai untuk pengambilan gambar film Harry Potter. Dengan demikian Mars menjadi film Indonesia pertama dan film kedua dunia yang mendapatkan izin syuting di lokasi tersebut.

Syuting di Universitas Oxford dilakukan karena menyesuaikan kebutuhan cerita, di mana Sekar akhirnya mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di universitas tersebut.

“Film ini akan mengingatkan kita pada perjuangan ibu kita,” kata Ketua PP Fatayat NU, Anggi Ermarini saat dihubungi NU Online, Jumat (15/4).

Lebih lanjut, Anggi mengungkapkan warna Islami dalam film ini juga kental. Itu bukan saja karena Sekar dewasa mengenakan kerudung, tetapi bahwa menempuh pendidikan adalah juga perintah agama.

Anggi juga menyampaikan alasan mengapa PP Fatayat sebagai gerakan perempuan yang bernaung di bawah NU mendukung film ini. Ialah karena film ini menceritakan semangat pemberdayaan perempuan dan pendidikan. Faktor lainnya, karena bulan April (tanggal 24) adalah hari lahir Fatayat NU, dan Mei adalah momen Hari Pendidikan Nasional.

“Kami berdiskusi panjang lebar untuk mendukung film ini. Dari semangat itu (harlah Fatayat dan Hardiknas), kita dukung film ini. Kami terlibat sejak ide-ide pembuatan, promosi, dan bagaimana agar film ini bisa menginspirasi masyarakat,” imbuh Anggi.

Film Mars akan tayang di bioskop mulai 4 Mei 2016. Selain Acha Septrisa dan Kinaryosih, Mars juga didukung sejumlah bintang andal seperti Teuku Rifnu Wikana, Jajang C. Noor, Cholidi Asadila A, Ence Bagus, dan Chelsea Riansy.

“Ini film yang inspiratif karena menceritakan kecintaan seorang ibu kepada anaknya. Kita sebagai orang tua (ibu) harus memberikan semangat dan percaya bahwa anak kita mampu melampaui—tidak hanya mencapai—mimpinya,” tambah wanita yang berpembawaan enerjik itu. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Ahad 18 Oktober 2015 11:3 WIB
Inilah Film yang Berkisah Tentang Perjuangan Hidup Seorang Qori
Inilah Film yang Berkisah Tentang Perjuangan Hidup Seorang Qori

Jakarta, NU Online
Fakta ! Tak terbantahkan. Dunia sudah mengetahui dan Indonesia mengagumi potensi dari pulau Lombok yang menjadi kampung halaman para Qori-Qoriah terbaik dengan lantunan suaranya yang indah mengumandangkan Kalam-Kalam Langit.<>

Teringat tahun 1973, Provinsi Mataram menjadi kota penyelenggaraan MTQ Nasional ke-6 atau beberapa bulan yang lalu di ajang MTQ Internasional, sebanyak empat orang qori/qoriah asal Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menjadi duta Indonesia untuk mengikuti Majelis Tilawah Quran antarbangsa di Malaysia pada tanggal 25 Juni - 5 Juli 2015.

"Pantaslah dan kami dari PH Putaar Films sepakat dengan  Gubernur NTB Tuan Guru Bajang KH. M. Zainul Majdi, MA laiknya Pulau Belitung selepas syuting film Laskar Pelangi digadang-gadang jadi Pulau Laskar Pelangi, kami menyebut Lombok menjadi Pulau Kalam-Kalam Langit Di Negeri Seribu Masjid. Dunia dan masyarakat Indonesia harus tahu banyak santri terbaik yang menjadi Qori dan Qoriah asal pulau Lombok, demikian pula sosok Jafar (Dimas Seto) asal Lombok di film Kalam-Kalam Langit yang siap syuting hari ini," papar Dhoni Ramadhan selaku produser Putaar Films bersama dengan Eddy Wijaya-Executive Produser.

Dijelaskan bahwa ini adalah mahakarya prestisius dari DOP kondang Faozan Rizal setelah meretas dunia sinematografi melalui karya-karyanya Ayat-Ayat Cinta, Sang Pencerah, Habibie Ainun dan Soekarno.

Kali ini lewat rumah produksi bagi Film Indonesia yang Berkarakter & Inspiratif, Putaar Films Production menggandeng Tarmizi Abka sebagai sineasnya dan tentu saja selain DOP, Faozan yang kerap disapa om Pao juga sebagai penulis skenario yang siap menguras air mata penonton akan perjuangan Qori/Tahfidz, Jafar (Dimas Seto) sepeninggal sang ayah jadi jawara di ajang MTQ nasional.

Selain itu menarik untuk Anda ketahui keterlibatan para aktor seperti Dimas Seto sebagai Jafar, Elyzia Mulachela asal Pulau Lombok sebagai Anisa, Henidar Amroe sebagai ibu Jafar, Mathias Muchus sebagai ayah Jafar, Meriza Febriani sebagai Azizah, Ibnu Jamil sebagai Satori dan beberapa pemain asal Lombok, Mataram.

Apalagi keterlibatan aktor dan aktris cilik dari Lombok, Mataram yang memang jadi juara MTQ tingkat nasional yaitu Nasron Azizan sebagai Jafar kecil dan Anisa sebagai kecil diperankan Amira Syakira yang keduanya masih berusia 8 tahun.

"Film ini akan mengulas ajang MTQ Nasional dimana seluruh masyarakat di Indonesia sudah mengenal karena telah menjadi agenda tahunan sejak tahun 40-an dan sudah berlangsung 24 kali selain itu yang di lakukan oleh masyarakat di indonesia ini, apalagi ada di tingkat desa, tiap instansi pemerintah dan swasta, wartawan dan lainnya sehingga film ini mempunyai segmentasi penonton yang sangat besar sebagai film kebanggaan Indonesia," jelas Tarmizi Abka sebagai sutradara film Kalam-Kalam Langit.

Sementara itu Dimas Seto sebagai pemeran Jafar dewasa mengatakan bersyukur sekali dan sambil syuting bisa belajar agama lebih mendalam lagi. Saya harus berlatih membaca Al-Quran sesuai tajwid dan tartilnya. Ini menjadi film reliji yang ia nanti-nanti apalagi bisa syuting bersama dengan aktris dan aktor asal Lombok yang dikenal sebagai negeri seribu masjid dengan pemandangannya yang indah.

"Saya berharap semoga film ini menjadi tontonan yang menarik dengan kehidupan para santri yang ikut di ajang Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasioal. Dalam film ini saya akan melantunkan ayat fabiayyi alaa 'iraabikumaa tukadzdzibaann (maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan) dalam surah ArRahman yang disebut berulang-ulang menjadi ikhtibar manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan, kedua adalah manusia senantia kufur nikmat dan terakhir adalah melalui surah ini Allah SWT hendak memancing manusia agar berpikir tentang segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia," papar Dimas santun.

Lain lagi pendapat aktor kawakan Mathias Muchus yang berperan sebagai ayah Jafar."Saya takjub dengan pemeran Jafar kecil, Nasron Azizan atau kerap saya sapa Aziz berakting dengan hatinya lebih natural sebagai aktor cilik dari pulau Lombok sehingga berpotensi sebagai aktor besar atau paling tidak 15 tahun mendatang bisa jadi sutradara kondang asal negeri seribu masjid ini," paparnya saat ditemui redaksi di balai-balai pantai Desa Tempah Lombok Tengah sebelum menuju ke lokasi selanjutnya di Desa Pancor kawasan lain dari Pulau Lombok yang memesona.

Sinopsis:

Dikisahkan Jafar kecil (Nasron Azizan) telah punya potensi menjadi Qori cilik asal Lombok dan saat menjadi remaja diperankan Dimas Seto telah banyak memenangkan kompetisi antar pesantren di kota Cirebon.

Jafar tidak pernah mau dan mendaftar sendiri mewakili pesantrennya. Di pesantren ini, ia bersahabat dengan Annisa, Azizah dan Satori (Ibnu Jamil). Jafar sering terlihat dengan sepedanya pemberian Alm sang ibu (Henidar Amroe) sebagai anak Yatim dengan karakter sang ayah tegas dan disiplin diperankan oleh Mathias Muchus.

Setelah sang ayah juga meninggal dan Jafar menjadi Yatim Piatu, ia kembali ke kampung halaman, apa yang terjadi terhadap Jafar dan apakah jalinan cintanya dengan Azizah akan bertepuk sebelah tangan sementara Annisa diam-diam mencintai Jafar di saat yang sama Satori pun menyimpan benih-benih cinta dengan Azizah. 

Lebih dari kisah percintaan, pesona kota Lombok mengguratkan keutamaan Surah ArRahman akan nikmat berlimpah yang telah diberikan kepada Allah SWT agar kita sebagai manusia tidak kufur nikmat, bisa berfikir akan nikmat tersebut dan terpenting adalah sifat pelupa yang melekat di manusia itu sendiri.
Film ini akan putar perdana saat Syawalan Di Lebaran Idul Fitri 1437 H Mendatang......! Red: Mukafi Niam

Ahad 12 Juli 2015 14:6 WIB
“Surga yang Tak Dirindukan”, Potret Poligami yang Tak Hitam-Putih
“Surga yang Tak Dirindukan”, Potret Poligami yang Tak Hitam-Putih

Jakarta, NU Online
Tak ada yang menyangka Prasetya (Fedi Nuril) pria soleh yang hidup bahagia dengan istrinya Arini (Laudya Cynthia Bella) dan satu putrinya, akan berpoligami. 
<>
Setiap orang, termasuk sahabat dan keluarga Arini, menganggap mereka contoh keluarga harmonis nan ideal. Suami-istri penyayang dengan buah hatinya yang menggemaskan. 

Bagi Arini, Prasetya adalah satu-satunya pasangan yang membangun kebahagiaan surga di dunia dan akhirat kelak, sampai sebuah peristiwa membuat sang suami harus menikahi Meirose yang pernah hendak bunuh diri. 

Sejak itu impian Arini hancur. Dia tidak lagi merindukan surga bersama Prasetya. 

"Surga Yang Tak Dirindukan" diangkat dari novel karya Asma Nadia dan disutradarai Kuntz Agus dengan latar belakang Jogjakarta.

Selain diajak menikmati pemandangan khas Jogjakarta, penonton dibuat menahan haru, paling tidak menitikkan air mata, lewat plot mengaduk emosi. 

Saat membuat novelnya, Asma Nadia memang terinspirasi kisah nyata sehingga karakter yang dibuat pun tidak hitam putih. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan.

Penonton diajak bersimpati terhadap tiap karakter. 

Aktor utama Fedi Nuril menilai film ini menarik karena tidak ada karakter yang jahat.

Semua orang memiliki alasan kuat di balik segala tingkah lakunya. Prasetya tidak berniat poligami untuk memuaskan nafsu semata, Arini tetap ikhlas meski perasaannya tercabik-cabik, sementara Meirose sejak awal tidak berniat merusak rumah tangga orang lain. 

"Semoga film ini bisa memberitahu bahwa poligami tidak semudah itu dan tidak bisa sembarangan. Pras adalah pria baik tapi kewalahan juga," ungkap Fedi Nuril yang mengaku tidak berniat berpoligami saat menikah kelak. 

Aktris pendukung Zaskia Mecca mengutarakan hal senada dengan Fedi. 

"Kalau nonton film poligami biasanya akan menyalahkan satu pihak, sekarang saya enggak bisa nyalahin siapa pun. Luar biasa mbak Asma bikin situasinya," papar dia.

Asma Nadia berharap film ini mengembalikan lagi semangat sakinah dalam rumah tangga sehingga setiap rumah dapat menjadi surga bagi keluarga. 

Dia mengaku tidak bisa membayangkan bila karakter dalam bukunya diperankan oleh aktor dan aktris selain Fedi Nuril, Laudya Cynthia Bella dan Raline Shah

Asma puas padan hasil adaptasi buku yang telah terjual sekitar 100.000 eksemplar itu ke layar lebar. 

"Adaptasi ternyata bagus banget, enggak boring dan menyentuh," komentarnya. (Antara/Mukafi Niam)

Ahad 5 April 2015 8:59 WIB
Bisakan Kita Belajar Bijak dari Siluman?
Bisakan Kita Belajar Bijak dari Siluman?

Antara siluman (si jahat) dan manusia (si baik) kini tampaknya susah dibedakan. Dalam wujud manusia yang santun dan tampak religius, ternyata ada diantaranya yang merupakan penjelmaan siluman. Dan bahkan baru-baru ini pun pemerintah DKI Jakarta sempat heboh dengan anggaran siluman. <>
Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah mereka yang dianggap jahat bisa berubah baik dan apakah yang baik atau menganggap dirinya baik akan terus tetap baik? Inilah yang dicoba ditampilkan oleh teater Koma dalam pementasan Opera Ular Putih pada 3-19 April 2015 di Graha Bhakti Budaya Jakarta. 

Kisah Ular Putih merupakan cerita klasik asal Tiongkok yang sarat dengan nilai moral. Teater Koma, mampu mementaskannya sesuai dengan situasi kekinian secara apik dan bernas. Kisahnya dimulai dari siluman ular putih (Tinio) yang bertapa selama 1700 tahun sampai akhirnya keinginannya untuk menjadi manusia terkabul. Ia tidak ingin terus menerus menjadi siluman, tetapi ingin merasakan manjadi manusia dengan seluruh suka dan dukanya. Tak sampai di situ, si ular putih pun berkeinginan menikah dengan manusia dan memiliki keturunan. Dengan dukungan siluman ular hijau (Siocing) yang setia menemaninya, ia akhirnya menikah dengan seorang manusia bernama Hanbun.

Setelah menikah, mereka berdua mencurahkan seluruh hidupnya untuk membantu manusia sebagai tabib yang dikenal baik oleh seluruh penduduk kota. Sayangnya, para pembasmi siluman, penerima mandat dari langit datang mengobrak abrik kebahagiaan Tinio dan Hanbun. Pendeta Bahai dan muridnya, Peramal Gowi yang memandang segala sesuatu secara legalistik dan tekstual dalam menafsirkan ajaran agama tetap menganggap Tinio dan Siocing sebagai siluman. Mereka tidak peduli pada segala kebaikan yang telah dilakukan oleh Tinio.

Apakah cap siluman memang tidak bisa dibasuh dengan air jenis apapun? Apakah segala kebaikan yang dilakukan oleh mereka yang dianggap jahat, juga akan dikutuk sebagai kejahatan? Mampukan mata hati manusia membedakan mana manusia dan mana siluman? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus menggelayut. 

N Riantiarno, sutradara Teater Koma mengatakan, tak dapat lagi membedakan antara watak manusia dan siluman. Dengan kata lain, sekarang ini kita hidup diantara mereka yang sifatnya mungkin saja siluman. Mungkin juga dia manusia tapi siluman. Lalu siapa manusia.

“Mungkinkan kita bisa berharap ada manusia yang sifatnya betul-betul jujur dan mampu menangani hal-hal yang bersifat siluman? Maksudnya, apa ada manusia yang mampu mengusir siluman dan menjadikan kita semuanya manusia, yang jujur dan tidak korupsi? Atau tak adakah manusia semacam itu?”

Teater Koma sebenarnya sudah pernah mementaskan lakon Opera Ular Putih ini pada 21 tahun lalu, tepatnya pada 23 April hingga 8 Mei 1994. Anehnya lakon itu selalu menemukan cara yang bijak dan bagus sehingga bisa ditempatkan pada masa yang tepat. Dulu dan sekarang tentu saja berbeda. Jika dulu berbicara tentang kekuasaan, kini siapa lagi mampu membedakan antara watak manusia dan siluman. Siapa manusia, siapa siluman.

Kelompok teater ini selalu serius dalam menggarap segala sesuatunya. Dalam produksinya yang ke-139 ini, semuanya dirancang dengan cermat. Sesuai dengan konteks cerita yang berlatar belakang China, berbagai atribut budaya negeri tirai bambu ini sangat menonjol, tetapi N Riantiarno tetap memasukkan unsur lokal seperti motif batik dalam setiap pakaian yang dikenakan pemain. Ia juga menampilkan model ondel-ondel yang mencerminkan budaya Betawi. 

Musik, skenografi dan pencahayaan dalam Teater Koma selalu tampil secara memukau. Ditambah dengan dialog yang bernas, kadangkala sarkastik yang menyentil para penguasa kini menjadikan seluruh penampilan mereka menjadi suatu pesan moral yang disampaikan secara menghibur, yang membuat para penonton juga bisa tersenyum melakukan upaya reflektif atas perilakunya sendiri, apakah saya ini manusia, siluman, atau manusia sekaligus siluman.

Satu hal penting yang bisa dipelajari dari  Teater Koma bagi kelompok seni pesantren adalah kemampuan mereka dalam menjaga konsistensinya dalam berproduksi dan menghasilkan seniman-seniman berkualitas. Dakwah tak harus dilakukan secara vulgar dalam bentuk ceramah. Walisongo dengan wayangnya merupakan pendekatan yang sangat sukses dalam konteks zamannya. Keberhasilan seni pesantren, tergantung pada kemampuan berinovasi sehingga mampu menarik simpati masyarakat. (mukafi niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG