IMG-LOGO
Seni Budaya

Kalam-kalam Langit, Keluhuran Al-Qur'an dan Elegi Kisah Cinta

Ahad 24 April 2016 6:24 WIB
Bagikan:
Kalam-kalam Langit, Keluhuran Al-Qur'an dan Elegi Kisah Cinta
Oleh Syamsul Badri Islamy
Ada rasa sentimental saat menonton Kalam-kalam Langit. Setidaknya itu terasa ketika film bercerita tentang kehidupan pesantren. Termasuk elegi percintaan yang epic; muda-mudi yang saling berkirim surat. Bagian itu dikisahkan dengan pas dan ‘nyata’, tanpa ada kesan dibuat-buat sebagaimana ‘sinetron Islami’ yang justru akhirnya menjemukan.

Kalam-kalam Langit bertutur tentang niat, sesuatu yang ‘abstrak’ dan subjektif. Tentang Ja’far (Dimas Seto) yang mempunyai bakat di bidang tilawatil Qur’an dan memiliki kesempatan untuk mengikuti MTQ. Bakatnya terpantau sejak kecil, saat ia menjuarai MTQ tingkat madrasah. Tak heran sebetulnya, sebab ibunya dulu juga seorang qari’ah.

Namun, keahlian Ja’far di bidang seni baca Al-Qur'an ini terhenti karena ketidaksetujuan ayahnya yang melarang ia mengikuti pelbagai perlombaan. Alasannya, ia khawatir Ja’far akan terjebak pada niat yang salah. “Jangan menjual ayat suci hanya untuk mencari keuntungan atau popularitas,” kata ayah Ja’far yang diperankan Mathias Muchus. Saat itu, ibunya sakit-sakitan dan tak lama kemudian meninggal.

Lulus SD, Ja’far melanjutkan pendidikannya ke pesantren. Bersama dengan Nisa (Elyzia Mulachela), sahabat baiknya sejak kecil. Nisa tak hanya baik sebagai teman, ia juga sahabat yang andal dalam menghafalkan Qur’an. Di pesantren, Ja’far tetap berteman dengan Nisa. Tetapi kehadiran Azizah, putri Kiai Humaidi, sang pemimpin pesantren, di keseharian mereka membuat Nisa cemburu.

Ya, Nisa telah menyimpan rasa kepada Ja’far terutama sejak di pesantren. Alih-alih memahami perasaan Nisa, Ja’far justru meminta Nisa untuk menyampaikan surat cintanya kepada Azizah—tentu saja, karena cemburu, surat tersebut tak pernah ia sampaikan. Sementara, di sisi lain Azizah telah diincar oleh Syathori (Ibnu Jamil).

Bahkan di pesantren sekalipun, setidaknya dalam Kalam-kalam Langit, selalu ada ‘antagonis’ (yang kehadirnnya dengan atau tanpa sebab berkait dengan kebutuhan cerita). Bentuk dan skalanya variatif; mulai dari kecurangan dalam MTQ, hingga kasus pacaran, keluar dari pesantren tanpa izin, merokok, ghozob yang, diakui atau tidak, sering pula terjadi di pesantren.

Syathori, dalam visualisasi cambang yang lebat dan celak hitam yang mengitari matanya, nyalang berikrar ingin kembali mewakili Pesantren Al Amin dalam perlombaan MTQ. Selain terobsesi menjadi juara, ia punya motif lain: ingin mendapatkan Azizah. Motif itulah yang kiranya menjadi kekhawatiran ayah Ja’far.

Maka dalam satu adegan, orang tua Ja’far berpesan kepada putranya, "bacalah Qur’an atas nama Tuhanmu. Menata niat seperti itulah yang justru digambarkan menjadi kesulitan terbesar seorang qari’." Bahkan sampai saat itu, Ja’far masih terus belajar untuk memposisikan bacaan Qur’an-nya sebagai ‘dakwah’. Sementara Syathori telah tergelincir pada niatan yang salah.

Dan, antagonis selalu licik. Ja’far yang telah dipilih Kiai Humaidi untuk mewakili Al Amin, setelah sebelumnya dikuatkan KH Said Aqil Siradj, "Membaca Qur’an dengan suara yang enak dan merdu adalah bagian dari dakwah"—justru difitnah oleh Syathori dengan tuduhan yang sebetulnya ia lakukan sendiri.

Saat itu Ja’far pulang dan bolos belajar qira’ah kepada Kiai Humaidi lantaran ayahnya sakit dan harus segera dioperasi. Ia butuh uang untuk operasi. Nisa mendapat pinjaman dari Syathori dengan syarat Ja’far harus mengundurkan diri dari MTQ. Tanpa diduga, mentah-mentah ayahnya menolak bantuan itu. “Sejak kapan kamu bisa dibeli,” kata ayah Ja’far. “Kamu harus takut sama Gusti Allah.”

Maka Ja’far kembali ke pesantren dan mengembalikan uang pemberian Syathori dan mengikuti MTQ. Sayang, menjelang pengumuman, ada kabar bahwa ayah Ja’far meninggal. Ada keharuan yang menyeruak di benak dalam potongan-potongan adegan bagian ini. Tentang pertanyaan; apa lagi yang kau cari, yang bisa kau berikan dan banggakan kepada orang tua, bila mengaji saja tak bisa atau tak pernah?

Dan lantunan Ar-Rahman yang bertalu-talu membasahi jiwa yang kering kerontang. Menimbulkan getaran-getaran yang patut disyukuri, bahwa hati kita masih bisa lumer dan tersentuh dan tidak membantu saat dibacakan Kalam-Kalam Langit. Film ini sungguh nostalgia, bagi orang-orang yang telah lama meletakkan Qur’an di daftar bacaan terakhir setelah koran dan media sosial.

Perjalanan ‘sufistik’ Ja’far cukup panjang, hingga muncul pertanyaan pada diri sendiri: “Apakah ini jalanku menuju-Mu, atau hanya nafsu kemenangan?” Tapi ia selalu diingatkan pesan almarhum ayahnya, bacalah (hanya) atas nama Tuhanmu, dan untuk ibumu. Kesulitan menata niat bahkan bisa kita rasakan ketika perhelatan MTQ tingkat nasional...

Azizah menerima lamaran Syathori—hal yang cukup menyesakkan sebetulnya. Dan saat itu, ia meminta bertemu dengan Ja’far hanya untuk memintanya mengundurkan diri dari perlombaan. Suaminya, kata Azizah, sangat terobsesi menjadi juara. “Kalau kamu tidak mau melakukannya, lakukanlah demi aku,” kata Azizah.

Kalimat itu memberikan kita pelajaran: kita mesti memilih jodoh yang baik. Sebab, seperti halnya kebaikan, keburukan pun menular. Saat final, Ja’far mengedarkan pandangan ke seluruh hadirin. Kita merasakan betapa emosionalnya momen itu. Di depan Azizah, Ja’far bisa saja berkeinginan membuktikan bahwa ia lebih baik daripada Syathori.

Cerita berakhir dengan kemenangan. Ja’far mempersembahkan piala juara MTQ ke pusaran ibunya. Kemudian muncullah Nisa, yang terkesan buru-buru berujar: “Aku mencari imamku.”—terlampau menyederhanakan cerita. Ja’far memang tidak mendapat apa yang ia inginkan (Azizah), tetapi yang ia memperoleh apa yang ia butuhkan: Nisa. 

Penulis adalah Ketua LTN PCNU Kota Bekasi

Bagikan:
Sabtu 16 April 2016 14:3 WIB
Film Mars: Kegigihan Perempuan dan Pendidikan
Film Mars: Kegigihan Perempuan dan Pendidikan
Mendengar kata Mars, mungkin ingatan kita cepat tertuju kepada nama sebuah planet dalam tatasurya. Mars pula yang menjadi judul film pertama yang disutradarai Sahrul Gibran, dan diproduksi Multi Buana Kreasindo.

Meski mengacu pada nama planet, film ini tidak akan bercerita terlalu banyak tentang planet itu. Tetapi adalah Sekar Palupi (Acha Septriasa), tokoh utama dalam film ini yang diharapkan oleh ibunya, Tupon (diperankan oleh Kinaryosih) menjadi bintang secerah Mars, yang biasa mereka lihat menggelantung di langit malam. Tupon dan Sekar menyebutnya lintang lantip (bintang yang cerdas).

Latar tempat di film ini, Gunung Kidul, Yogyakarta, diceritakan sebagai daerah yang belum mendapatkan akses listrik, serta masyarakatnya masih amat kental dengan hal-hal klenik atau mistis. Di daearah itu pula, kebanyakan orang tidak mendapatkan atau bahkan sangat jarang bisa berpendidikan hingga tingkat SMA.

Mars juga mengacu pada penyingkatan dari tagline film ini yang merupakan kepanjangan dari Mimpi Ananda Raih Semesta. Mars bercerita tentang kegigihan Tupon, seorang ibu miskin, buta huruf, tidak pernah bersekolah, bahkan tidak mengenal sekolah itu seperti apa. Meski begitu, Tupon selalu memberikan semangat kepada anaknya, dan melakukan apa saja supaya anaknya bisa sekolah.

Penulis skenario film ini adalah John D’Rantau. Cerita diadaptasi dari novel karya Aishworo Ang berjudul sama, dan diterbitkan Diva Press.

Pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Universitas Oxford, London, Inggris. Di London syuting dilakukan di Perpustakan Boedlein, lokasi yang juga dipakai untuk pengambilan gambar film Harry Potter. Dengan demikian Mars menjadi film Indonesia pertama dan film kedua dunia yang mendapatkan izin syuting di lokasi tersebut.

Syuting di Universitas Oxford dilakukan karena menyesuaikan kebutuhan cerita, di mana Sekar akhirnya mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di universitas tersebut.

“Film ini akan mengingatkan kita pada perjuangan ibu kita,” kata Ketua PP Fatayat NU, Anggi Ermarini saat dihubungi NU Online, Jumat (15/4).

Lebih lanjut, Anggi mengungkapkan warna Islami dalam film ini juga kental. Itu bukan saja karena Sekar dewasa mengenakan kerudung, tetapi bahwa menempuh pendidikan adalah juga perintah agama.

Anggi juga menyampaikan alasan mengapa PP Fatayat sebagai gerakan perempuan yang bernaung di bawah NU mendukung film ini. Ialah karena film ini menceritakan semangat pemberdayaan perempuan dan pendidikan. Faktor lainnya, karena bulan April (tanggal 24) adalah hari lahir Fatayat NU, dan Mei adalah momen Hari Pendidikan Nasional.

“Kami berdiskusi panjang lebar untuk mendukung film ini. Dari semangat itu (harlah Fatayat dan Hardiknas), kita dukung film ini. Kami terlibat sejak ide-ide pembuatan, promosi, dan bagaimana agar film ini bisa menginspirasi masyarakat,” imbuh Anggi.

Film Mars akan tayang di bioskop mulai 4 Mei 2016. Selain Acha Septrisa dan Kinaryosih, Mars juga didukung sejumlah bintang andal seperti Teuku Rifnu Wikana, Jajang C. Noor, Cholidi Asadila A, Ence Bagus, dan Chelsea Riansy.

“Ini film yang inspiratif karena menceritakan kecintaan seorang ibu kepada anaknya. Kita sebagai orang tua (ibu) harus memberikan semangat dan percaya bahwa anak kita mampu melampaui—tidak hanya mencapai—mimpinya,” tambah wanita yang berpembawaan enerjik itu. (Kendi Setiawan)

Ahad 18 Oktober 2015 11:3 WIB
Inilah Film yang Berkisah Tentang Perjuangan Hidup Seorang Qori
Inilah Film yang Berkisah Tentang Perjuangan Hidup Seorang Qori

Jakarta, NU Online
Fakta ! Tak terbantahkan. Dunia sudah mengetahui dan Indonesia mengagumi potensi dari pulau Lombok yang menjadi kampung halaman para Qori-Qoriah terbaik dengan lantunan suaranya yang indah mengumandangkan Kalam-Kalam Langit.<>

Teringat tahun 1973, Provinsi Mataram menjadi kota penyelenggaraan MTQ Nasional ke-6 atau beberapa bulan yang lalu di ajang MTQ Internasional, sebanyak empat orang qori/qoriah asal Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menjadi duta Indonesia untuk mengikuti Majelis Tilawah Quran antarbangsa di Malaysia pada tanggal 25 Juni - 5 Juli 2015.

"Pantaslah dan kami dari PH Putaar Films sepakat dengan  Gubernur NTB Tuan Guru Bajang KH. M. Zainul Majdi, MA laiknya Pulau Belitung selepas syuting film Laskar Pelangi digadang-gadang jadi Pulau Laskar Pelangi, kami menyebut Lombok menjadi Pulau Kalam-Kalam Langit Di Negeri Seribu Masjid. Dunia dan masyarakat Indonesia harus tahu banyak santri terbaik yang menjadi Qori dan Qoriah asal pulau Lombok, demikian pula sosok Jafar (Dimas Seto) asal Lombok di film Kalam-Kalam Langit yang siap syuting hari ini," papar Dhoni Ramadhan selaku produser Putaar Films bersama dengan Eddy Wijaya-Executive Produser.

Dijelaskan bahwa ini adalah mahakarya prestisius dari DOP kondang Faozan Rizal setelah meretas dunia sinematografi melalui karya-karyanya Ayat-Ayat Cinta, Sang Pencerah, Habibie Ainun dan Soekarno.

Kali ini lewat rumah produksi bagi Film Indonesia yang Berkarakter & Inspiratif, Putaar Films Production menggandeng Tarmizi Abka sebagai sineasnya dan tentu saja selain DOP, Faozan yang kerap disapa om Pao juga sebagai penulis skenario yang siap menguras air mata penonton akan perjuangan Qori/Tahfidz, Jafar (Dimas Seto) sepeninggal sang ayah jadi jawara di ajang MTQ nasional.

Selain itu menarik untuk Anda ketahui keterlibatan para aktor seperti Dimas Seto sebagai Jafar, Elyzia Mulachela asal Pulau Lombok sebagai Anisa, Henidar Amroe sebagai ibu Jafar, Mathias Muchus sebagai ayah Jafar, Meriza Febriani sebagai Azizah, Ibnu Jamil sebagai Satori dan beberapa pemain asal Lombok, Mataram.

Apalagi keterlibatan aktor dan aktris cilik dari Lombok, Mataram yang memang jadi juara MTQ tingkat nasional yaitu Nasron Azizan sebagai Jafar kecil dan Anisa sebagai kecil diperankan Amira Syakira yang keduanya masih berusia 8 tahun.

"Film ini akan mengulas ajang MTQ Nasional dimana seluruh masyarakat di Indonesia sudah mengenal karena telah menjadi agenda tahunan sejak tahun 40-an dan sudah berlangsung 24 kali selain itu yang di lakukan oleh masyarakat di indonesia ini, apalagi ada di tingkat desa, tiap instansi pemerintah dan swasta, wartawan dan lainnya sehingga film ini mempunyai segmentasi penonton yang sangat besar sebagai film kebanggaan Indonesia," jelas Tarmizi Abka sebagai sutradara film Kalam-Kalam Langit.

Sementara itu Dimas Seto sebagai pemeran Jafar dewasa mengatakan bersyukur sekali dan sambil syuting bisa belajar agama lebih mendalam lagi. Saya harus berlatih membaca Al-Quran sesuai tajwid dan tartilnya. Ini menjadi film reliji yang ia nanti-nanti apalagi bisa syuting bersama dengan aktris dan aktor asal Lombok yang dikenal sebagai negeri seribu masjid dengan pemandangannya yang indah.

"Saya berharap semoga film ini menjadi tontonan yang menarik dengan kehidupan para santri yang ikut di ajang Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasioal. Dalam film ini saya akan melantunkan ayat fabiayyi alaa 'iraabikumaa tukadzdzibaann (maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan) dalam surah ArRahman yang disebut berulang-ulang menjadi ikhtibar manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan, kedua adalah manusia senantia kufur nikmat dan terakhir adalah melalui surah ini Allah SWT hendak memancing manusia agar berpikir tentang segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia," papar Dimas santun.

Lain lagi pendapat aktor kawakan Mathias Muchus yang berperan sebagai ayah Jafar."Saya takjub dengan pemeran Jafar kecil, Nasron Azizan atau kerap saya sapa Aziz berakting dengan hatinya lebih natural sebagai aktor cilik dari pulau Lombok sehingga berpotensi sebagai aktor besar atau paling tidak 15 tahun mendatang bisa jadi sutradara kondang asal negeri seribu masjid ini," paparnya saat ditemui redaksi di balai-balai pantai Desa Tempah Lombok Tengah sebelum menuju ke lokasi selanjutnya di Desa Pancor kawasan lain dari Pulau Lombok yang memesona.

Sinopsis:

Dikisahkan Jafar kecil (Nasron Azizan) telah punya potensi menjadi Qori cilik asal Lombok dan saat menjadi remaja diperankan Dimas Seto telah banyak memenangkan kompetisi antar pesantren di kota Cirebon.

Jafar tidak pernah mau dan mendaftar sendiri mewakili pesantrennya. Di pesantren ini, ia bersahabat dengan Annisa, Azizah dan Satori (Ibnu Jamil). Jafar sering terlihat dengan sepedanya pemberian Alm sang ibu (Henidar Amroe) sebagai anak Yatim dengan karakter sang ayah tegas dan disiplin diperankan oleh Mathias Muchus.

Setelah sang ayah juga meninggal dan Jafar menjadi Yatim Piatu, ia kembali ke kampung halaman, apa yang terjadi terhadap Jafar dan apakah jalinan cintanya dengan Azizah akan bertepuk sebelah tangan sementara Annisa diam-diam mencintai Jafar di saat yang sama Satori pun menyimpan benih-benih cinta dengan Azizah. 

Lebih dari kisah percintaan, pesona kota Lombok mengguratkan keutamaan Surah ArRahman akan nikmat berlimpah yang telah diberikan kepada Allah SWT agar kita sebagai manusia tidak kufur nikmat, bisa berfikir akan nikmat tersebut dan terpenting adalah sifat pelupa yang melekat di manusia itu sendiri.
Film ini akan putar perdana saat Syawalan Di Lebaran Idul Fitri 1437 H Mendatang......! Red: Mukafi Niam

Ahad 12 Juli 2015 14:6 WIB
“Surga yang Tak Dirindukan”, Potret Poligami yang Tak Hitam-Putih
“Surga yang Tak Dirindukan”, Potret Poligami yang Tak Hitam-Putih

Jakarta, NU Online
Tak ada yang menyangka Prasetya (Fedi Nuril) pria soleh yang hidup bahagia dengan istrinya Arini (Laudya Cynthia Bella) dan satu putrinya, akan berpoligami. 
<>
Setiap orang, termasuk sahabat dan keluarga Arini, menganggap mereka contoh keluarga harmonis nan ideal. Suami-istri penyayang dengan buah hatinya yang menggemaskan. 

Bagi Arini, Prasetya adalah satu-satunya pasangan yang membangun kebahagiaan surga di dunia dan akhirat kelak, sampai sebuah peristiwa membuat sang suami harus menikahi Meirose yang pernah hendak bunuh diri. 

Sejak itu impian Arini hancur. Dia tidak lagi merindukan surga bersama Prasetya. 

"Surga Yang Tak Dirindukan" diangkat dari novel karya Asma Nadia dan disutradarai Kuntz Agus dengan latar belakang Jogjakarta.

Selain diajak menikmati pemandangan khas Jogjakarta, penonton dibuat menahan haru, paling tidak menitikkan air mata, lewat plot mengaduk emosi. 

Saat membuat novelnya, Asma Nadia memang terinspirasi kisah nyata sehingga karakter yang dibuat pun tidak hitam putih. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan.

Penonton diajak bersimpati terhadap tiap karakter. 

Aktor utama Fedi Nuril menilai film ini menarik karena tidak ada karakter yang jahat.

Semua orang memiliki alasan kuat di balik segala tingkah lakunya. Prasetya tidak berniat poligami untuk memuaskan nafsu semata, Arini tetap ikhlas meski perasaannya tercabik-cabik, sementara Meirose sejak awal tidak berniat merusak rumah tangga orang lain. 

"Semoga film ini bisa memberitahu bahwa poligami tidak semudah itu dan tidak bisa sembarangan. Pras adalah pria baik tapi kewalahan juga," ungkap Fedi Nuril yang mengaku tidak berniat berpoligami saat menikah kelak. 

Aktris pendukung Zaskia Mecca mengutarakan hal senada dengan Fedi. 

"Kalau nonton film poligami biasanya akan menyalahkan satu pihak, sekarang saya enggak bisa nyalahin siapa pun. Luar biasa mbak Asma bikin situasinya," papar dia.

Asma Nadia berharap film ini mengembalikan lagi semangat sakinah dalam rumah tangga sehingga setiap rumah dapat menjadi surga bagi keluarga. 

Dia mengaku tidak bisa membayangkan bila karakter dalam bukunya diperankan oleh aktor dan aktris selain Fedi Nuril, Laudya Cynthia Bella dan Raline Shah

Asma puas padan hasil adaptasi buku yang telah terjual sekitar 100.000 eksemplar itu ke layar lebar. 

"Adaptasi ternyata bagus banget, enggak boring dan menyentuh," komentarnya. (Antara/Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG