Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

“Hadratussyekh” Bukan Gelar Sembarangan

“Hadratussyekh” Bukan Gelar Sembarangan
Hadhratussyekh Hasyim Asy’ari (tengah) bersama KH Jazuli Utsman ayah Gus Miek (kiri) dan Mbah Dawam, penulis khath di atas mihrab Masjid Tebuireng.
Hadhratussyekh Hasyim Asy’ari (tengah) bersama KH Jazuli Utsman ayah Gus Miek (kiri) dan Mbah Dawam, penulis khath di atas mihrab Masjid Tebuireng.
Temanggung, NU Online
Jangan disangka kharisma dan ketokohan KH Muhammad Hasyim Asyari hanya diakui di Jawa.  Ia disegani pula para ulama dunia Islam sejak masih mukim di Haramain. Itulah mengapa pendiri Nahdlatul Ulama ini memiliki gelar atau predikat “hadratussyekh”. Gelar ini tidak disandang sembarangan ulama, kecuali bagi yang telah memenuhi kualifikasi keilmuan yang tinggi termasuk dalam bidang ilmu hadits.

Hal itu diungkapkan Kiai Muwafiq dari Yogyakarta saat ceramah dalam rangka Harlah ke-93 NU yang diselenggarakan PCNU Temanggung di area Kampus STAINU Temanggung, Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (21/4).

Kiai Muwafiq menjelaskan, dengan atribut “hadratussyekh” yang disandang sejak dari Mekkah ini, dipastikan KH Hasyim Asyari selain menguasai secara mendalam berbagai disiplin keilmuan Islam, juga hafal kitab-kitab babon hadits dari Kutubus Sittah yang meliputi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Bukhori Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i, Ibnu Majah.

Menurutnya, di antara kunci sukses KH Abdul Wahab Chasbullah ketika menjalankan misi penolakan agenda pembongkaran Makam Rasulullah SAW oleh pemerintah Arab Saudi yang dikuasai paham Wahabi tidak lepas dari faktor status Mbah Wahab sebagai murid Hadratussyekh Hasyim Asyari.

Kemasyhuran nama Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di kawasan Timur Tengah memuluskan langkah Kiai Wahab sebagai delegasi ulama Sunni Nusantara dalam menggalang kekuatan saat mengumpukan para tokoh ulama Sunni dan Syi'ah dari beberapa negara Islam untuk bersama sama menentang pembongkaran makam Rasulullah SAW tersebut.

Diperkirakan jika tidak mengaku sebagai muridnya Hadratussyekh Hasyim Asyari, tambah Gus Muwafiq,  KH Wahab Chasbullah akan kesulitan dalam mencari dukungan dari tokoh ulama lain dari beberapa ulama Sunni Mesir dan Syi'ah di Iran. Apalagi, waktu itu hubungan para tokoh ulama dari dua paham Sunni dan Syi'ah ini juga kurang harmonis. (M Haromain/Mahbib)

Posisi Bawah | Youtube NU Online